Batin Kita Menjadi Sejuk Karena Dhamma

 
Batin Kita Menjadi Sejuk Karena Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Cittaguna
 

Sabbam Rasam Dhammaraso Jināti, Sabbam Ratim Dhammaratī Jinatiti.

Rasa Kebenaran mengalahkan segenap rasa lainnya. Kegembiraan dalam Kebenaran mengalahkan segenap kegembiraan lainnya. (Dhammapada. 354) 

Sesuai dengan ajaran penyejuk rohani yang kita tekuni selama ini, sebagai pengikut yang setia, kita selalu menemukan bisikan-bisikan rohani yang membujuk kita untuk selalu sadar setiap saat. Mengapa demikian? Sebab, apabila kita tidak memperhatikan dan menyadari akan diri kita sendiri, kita cenderung mengambil sikap yang kita anggap baik dan benar namun sesungguhnya keliru. Mari kita telusuri dengan baik apa yang akan kita temukan di dalam uraian ini.

Batin tidak mengenal Dhamma jadi panas.
Jika seseorang tidak mengenal bahkan tidak mau mengenal dan justru cara hidupnya bertentangan dengan Dhamma, maka itulah yang menyebabkan dia tidak pernah hidup bahagia. Bagaimana bisa merasakan kesejukan Dhamma, cara untuk meraih dan menikmati kabahagiaan hidup itu sendiri tidak diketahuinya. Karena tidak dikenalnya cara yang sesungguhnya (cara yang baik dan benar) untuk mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan, maka orang menempuh cara yang salah supaya bisa memiliki dan merasakan apa yang diinginkannya. Kalau ini yang terjadi, berarti orang semacam itu tidak mengetahui tentang kebenaran dan kenyataan bahwa hidup ini terjadi karena dikondisikan oleh pikiran. Pikiran yang tidak pernah dilatih dan tidak dikendalikan, akan menyebabkan pikiran itu sendiri menjadi liar sehingga semakin sulit untuk mengenal dan merasakan kepuasan.

Karena tidak pernah tersentuh oleh siraman air Dhamma sedikitpun, maka dapat kita bayangkan betapa panasnya pikiran manusia dalam kondisi seperti itu. Apabila kondisi yang panas tersebut tidak pernah diperhatikan dan tidak dibantu dengan memberikan kondisi yang baru dan dingin, maka kebakaran dan kehangusan terjadi di dalam sampai ke seluruh tubuh.

Seseorang yang memiliki kondisi seperti di atas tidak suka memberi, anadikata mau juga hanya memberi sesuatu yang dia sendiri terlebih dahulu sudah nikmati (sisa). Jadi dia mengembangkan sesuatu yang tidak baik. Di dalam bukunya, “Human Life and Problems”, halaman 208, Bhante Dr. K. Sri Dhammananda Mahānāyaka Thero mengatakan, “Banyak orang yang harus mengalami frustrasi dan gangguan urat syaraf sebab mereka tidak pernah melatih pikirannya untuk merasakan kepuasan. Mereka hanya mengembangkan nafsu keinginan (tanha) demi kepuasan indria saja. Bagi mereka, pengembangan adalah hanya pengambangan tañha”.

Untuk merasakan kegembiraan, orang seperti ini mengalami kesulitan dengan munculnya berbagai hambatan, tantangan dan gangguan yang bertubi-tubi. Meraih kesegaran batin jauh dari harapan yang mungkin ada pada dirinya.

Batin Sejuk karena Siraman Air Dhamma
Kita mengetahui bahwa di waktu kita merasa haus dan kepanasan, mengharapkan ada air minum dan air untuk mandi. Demikian pula bahwa kita bisa mengerti sesungguhnya batin kita setiap saat memerlukan siraman air Dhamma untuk mengkondisikan timbulnya kesegaran rohani. Kalau batin kita sering dikondisikan dengan diisi kebutuhan-kebutuhan yang dapat menyegarkan batin itu sendiri, maka kesejukan siraman air Dhamma akan dapat dirasakan sehingga kondisi baru yang sejuk dan segar itu akan membantu memper-tahankan ketenangan pikiran. Jika pikiran bisa bertahan dalam keadaan tenang cukup lama, maka ini pertanda bahwa pikiran itu sejuk.

Dengan kondisi yang sudah dalam keadaan sejuk dan tenang, dan tetap dilatih serta dikendalikan dengan penuh pengertian, maka pikiran akan bisa diajak untuk berpikir dan bersikap menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Seseorang akan bisa melakukan berbagai bentuk perbuatan baik bilamana pikirannya tidak kering lagi dengan siraman air Dhamma. Ia akan dapat dengan mudah mencerna berbagai hal yang perlu diproses dalam pikiran yang jernih dan akan dengan mudah pula mengambil keputusan yang sesuai. Oleh karena itu, ia dapat merasakan kesejukan Dhamma yang menjadi sumber keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup yang sangat sulit untuk diperoleh. Semua itu memang timbulnya dari dalam diri sendiri yang bersumber dari pikiran tenang, bersih dan jernih, tanpa noda.

Dapat menikmati keindahan Dhamma
Dhamma yang kita pelajari, yang diwariskan oleh guru agung kita Buddha Gotama adalah indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya. Artinya, Dhamma itu tidak pernah timbul kemudian bertahan dan lenyap. Dhamma bersifat universal. Buddha hanya menemukan Dhamma itu kemudian mengajarkannya kepada umat manusia dan makhluk lain di alam semesta ini. Jadi, walaupun tidak ditemukan oleh Buddha, Dhamma itu tetap ada. Dhamma itu bisa kita kenal karena ditemukan dan diajarkan oleh Buddha. Dhamma, yang dikatakan hanya dapat dimengerti oleh orang bijaksana itu, telah dibuktikan oleh orang bijaksana pula, yaitu para Ariya Sangha. Itulah sebabnya mengapa kita, sebagai umat atau pengikut Buddha, harus menyatakan berlindung kepada Tiratana, Buddha, Dhamma dan Sangha.

Supaya kita dapat menikmati keindahan Dhamma, memang kita harus mengenal Tiratana itu dengan baik dan sungguh-sungguh. Kita menjadi penganut Buddha Dhamma yang benar-benar, kalau kita bisa mengerti konsep yang sesungguhnya tentang Tiratana dan bisa melaksanakannya pula dengan sungguh-sungguh. Kita sebenarnya bisa berbuat baik seperti Buddha, walaupun sedikit demi sedikit, dengan mempelajari dan mengerti serta dapat mempraktekkan Dhamma Ajaran Beliau.Semua hal yang berkaitan dengan Dhamma yang ditemukan Buddha dapat dipelajari melalui guru Dhamma (para bhikkhu sangha) sekaligus tuntunan cara prakteknya yang baik dan benar.

Jadi, kalau kita ingin meraih kebahagiaan kita harus mencoba terlebih dahulu untuk memiliki batin yang sejuk. Untuk memiliki batin yang sejuk kita harus bisa menciptakan kondisi yang dapat menimbulkan ketenangan pikiran. Setelah itu baru kita akan dapat merasakan keindahan Dhamma sampai akhirnya pada tingkat kebahagiaan sejati.

Pikiran tenang, Pikiran sejuk, Pikiran bahagia.

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi 31 Januari 1999 ]


Posted on 16 Februari 2011, in Bhikkhu Cittaguna, Ceramah Dhamma. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: