Menuju Kehidupan Baru



Menuju Kehidupan Baru

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro



Walau seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat Kebenaran Luhur (Dhamma),
sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat Kebenaran Luhur.
Semua insan di dunia ini, mendambakan kehidupan yang damai, tenang, sejahtera dan bahagia. Kesemua ini teraktualisasi dalam usaha dan perjuangan mereka dalam aktivitas perjuangan sehari-harinya. Manusia, yang pada dasarnya merupakan makhluk berakal budi atau memiliki kesadaran (sati) yang baik, tidak senang dengan kekacauan dan keributan. Tetapi mereka dicengkeram oleh nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya (tanha), sehingga menyuburkan adanya kebencian (dosa), keirihatian (issa), keserakahan (lobha), pandangan salah (micchaditthi) dan kegelapan batin (moha). Maka muncullah tindakan-tindakan negatif sebagai manifestasi batin seseorang yang diselubungi oleh tanha.

Di dalam kotbah pertamanya yang disebut “Khotbah Pemutaran Roda Dhamma” (Dhammacakkappavattana Sutta) Sang Buddha menjelaskan bahwa tanha adalah sumber dari penderitaan. Dan Beliau-pun menerangkan supaya kita terbebas dari dukkha, maka kita harus dapat mengikis dan melenyapkan tanha dengan mempraktekkan Jalan Tengah (Majjimā patipadā). Jalan Tengah yang merupakan Jalan Ariya berunsur delapan (Attha Ariya Magga) yang diringkas menjadi Sīla (moralitas), Samādhi (pengembangan batin) dan Pañña (kebijaksanaan) adalah merupakan satu-satunya jalan yang dapat membebaskan kita dari penderitaan hidup.

Dewasa ini demonstrasi mahasiswa maupun masyarakat khususnya di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya, merupakan cerminan dari gejolak nurani atau batin manusia yang ingin bebas dari tekanan penguasa yang lalim atau intinya adalah ingin bebas dari penderitaan dan kesulitan hidup. Gejolak batin inilah yang dewasa ini diaktualisasikan dalam slogan yang cukup menarik untuk kita cermati bersama dengan tulisan, “Menuju Indonesia Baru.” Slogan tersebut adalah wujud dari keinginan umat manusia agar kehidupannya berubah menjadi lebih baik dari yang telah dilaluinya, apakah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun kehidupan secara individu. Tetapi sangat disayangkan, sebab kebanyakan orang tidak mengerti dari mana mereka harus memulai untuk melakukan perubahan tersebut supaya menuju kehidupan baru ? Mungkin mereka justru berpikir, oh, untuk melakukan perubahan hidup itu gampang, kita bangun rumah-rumah baru, beli mobil, pakaian, televisi, handphone dan sarana lain yang baru. Maka dengan demikian kehidupan kita langsung berubah menjadi hidup yang baru. Pola pikir demikianlah yang dewasa ini, menyelimuti pandangan hidup seseorang. Memang tidak sukar untuk mendapatkan sarana materi yang serba baru, tetapi perubahan yang demikian adalah sangat sementara dan tidak hakiki. Justru bila kita tidak hati-hati dengan perubahan tersebut kita bisa dibelenggu dan dihancurleburkan oleh materi.

Maka dari itu, uraian Dhamma pada kesempatan ini mengetengahkan judul “Menuju Kehidupan Baru”. Dengan uraian ini kita akan membahas metode yang harus ditempuh guna mewujudkan perubahan hidup yang sesungguhnya atau hakiki. Perubahan hidup yang hakiki adalah perubahan yang ada dalam diri seseorang yakni perubahan karena kematangan, kedewasaan dan kebijaksanaan batin seseorang.

Dalam Dhammapada ayat 1 dan 2, Sang Buddha bersabda, “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Dan sebaliknya bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya bagikan bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan bendanya.” Hal ini sangat jelas bahwa perubahan di dalam merupakan kunci utama untuk menuju kehidupan baru.

Sekarang yang menjadi pemikiran kita adalah bagaimana cara membentuk batin kita supaya menjadi dewasa, sehingga batin kita menjadi pemimpin, pelopor dan pembentuk, bukan uang yang menjadi pemimpin? Untuk membentuk supaya batin kita menjadi dewa dan bijaksana, maka kita harus memiliki yatha bhuta ñanadassana (kemampuan pikiran untuk dapat mengerti dan menyadari kebenaran sebagaimana adanya). Mengapa sering terjadi pertengkaran, perkelahian dan percekcokan dalam kehidupan kita ? Jawabannya adalah karena tidak adanya kemampuan pikiran kita untuk dapat mengerti dan menyadari kebenaran sebagaimana adanya, sehingga kita terbawa nafsu belaka. Kemampuan untuk mengerti pada kebenaran hidup adalah yang utama, sebab kehidupan ini akan menjadi penuh problem bila kita tidak menyadari tentang arti hidup yang sebenarnya. Di dalam Sabassava Sutta, Sang Buddha menjelaskan bahwa problem atau derita hidup dapat dihilangkan dengan cara melihat (Passati/passana). Apakah hal-hal yang harus diperhatikan ? Hal-hal yang harus diperhatikan adalah segala sesuatu yang tidak menyebabkan munculnya dukkha baru atau bertambahnya dukkha yang sudah ada yang berasal dari nafsu indera kekurangan dan ketidaktahuan. Oleh karena itu, dengan mengerti dan menyadari segala sesuatu sebagaimana adanya maka batin kita akan menjadi dewasa dan dukkha tidak ada lagi.

Batin akan menjadi dewasa dan bijaksana bilamana seseorang memiliki pengendalian diri terhadap indrianya (saṁvara). Banyak orang terjerumus dalam jurang penderitaan karena tidak dapat menahan nafsu indrianya. Dunia materi memang indah dan menyenangkan bagi indria mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan pikiran yang tidak terkendali. Tetapi dunia materi akan menjadi sesuatu yang tidak indah dan menyenangkan lagi dan hanya merupakan tumpukan tanah, lelehan air, gerakan udara dan kepulan asap api bagi orang yang dapat mengendalikan indrianya. Maka dengan mengerti kebenaran materi sebagaimana adanya batin seseorang akan menjadi dewasa, tidak merengek-rengek karena materi dan dukkha kehidupan menjadi hilang.

Kebijaksanaan batin seseorang dapat pula berkembang dengan cara penghapusan terhadap segala hal-hal yang muncul karena nafsu indria (vinodana). Mengapa ada orang yang bertindak tanduk buruk bahkan mereka sampai tega melakukan tindakan yang lebih jahat lagi ? Sebab mereka tidak memiliki kemampuan untuk menghapus nafsu indria, sehingga kemunculan nafsu indria yang dari saat ke saat menjadi itikad jahat yang maha dahsyat yang siap menghancurkan kehidupannya sendiri maupun orang lain. Maka dengan cara menghapus setiap kemunculan nafsu indria, tumpukan benci, emosi, marah, jengkel, dan lain yang merupakan bom waktu dapat dihilangkan.

Dengan membentuk batin yang dewasa dan bijak inilah kita dapat melakukan perubahan hidup, yang akan membawa pada kehidupan yang damai, sejahtera dan bahagia.

(Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi 13 Pebruari 2000)

Posted on 29 Oktober 2010, in Ceramah Dhamma, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: