Cerpen Buddhis: Keiko

 Keiko
Oleh Deliana Yin

Mama, aku pulang,” dengan sedikit teriak kegirangan, kugeser grendel pintu pagar besi rumahku .
“Mama… “ panggilku lagi saat memasuki ruang tamu.

“Iya. Ada apa, sayang?” Aahh, akhirnya terdengar juga suara yang paling merdu dan lembut sedunia. Sesosok wanita, yang sudah terlihat sedikit tua termakan usia separuh bayanya namun tetap anggun tersebut, keluar dari balik kain tirai pemisah ruang tamu dengan ruang dapur, ruang favoritnya.

“Mama, aku diterima jadi reporter di TV STAR.” Sambil memeluknya, aku mengabarkan kabar gembira tersebut dengan tak sabar.

“Selamat ya, anakku. Akhirnya cita-citamu sejak kecil bisa tercapai juga.” Ucap Mama sambil membelai lembut rambutku.

“Ma, ntar malam kita makan di restoran ya buat merayakannya. Nanti aku telepon Papa buat ngabarin.”
“Tidak perlu, sayang. Kita makan di rumah saja, ya?”

“Kenapa, Ma? Nanti aku yang traktir, lho?” tanyaku keheranan.

Mama tersenyum mendengar jawabanku. “Bukan soal duitnya. Tapi buat apa kita bermewah-mewahan makan di restoran, sementara uang itu bisa dipakai untuk tujuan yang lebih baik.”
“Misalnya?” desakku.

“Ya..seperti berdana kepada panti asuhan atau kepada para korban bencana banjir kemarin itu, ingat kan, yang beritanya ada di televisi?”

“Oke, Ma. Mama emang yang paling hebat. Nanti aku bantuin deh. Sekarang aku mandi dulu ya, Ma” kupeluk lagi idola kesayanganku itu sambil mengecup pipinya yang sudah mulai sedikit keriput itu. Ucapan Mama selalu penuh dengan kata-kata nasihat yang menuntunku ke jalan kebenaran.

Oya, perkenalkan namaku Keiko. Aku baru saja lulus dari bangku kuliah. Kata Mama, terkadang aku masih suka bersikap sedikit manja di usiaku yang ke 23 ini. Maklum, namanya juga anak emas, anak semata wayang alias tunggal, hehe. Mama, seorang ibu rumah tangga biasa yang selalu sabar penuh dengan cinta merawat dan mengurus kami. Setiap hari Minggu, Mama beserta beberapa ibu-ibu lainnya selalu setia di belakang dapur wihara menyiapkan masakan untuk para umat yang datang ikut kebaktian dan juga untuk beberapa teman-teman yang kurang mampu. Sedangkan Papa, seorang karyawan swasta dengan penghasilan yang tidak tergolong besar. Namun berkat kesadaran untuk tetap hidup sederhana, kami bisa dikategorikan keluarga yang cukup makmur karena kami selalu mensyukuri setiap rezeki yang kami terima. Dan kami bahagia karenanya.

>>>

“Keiko…”

“Iya, Bu. Ada apa?”

“Bulan depan ada kegiatan sosial besar yang diadakan oleh Yayasan Bunda Metta. Donor darah massal. Ibu mau kamu yang meliputnya. Ibu juga jadi salah satu pendonor lho.” Kata Ibu May, atasanku. Beliau orang yang tegas. Bu May sering mengutusku untuk meliput berita yang bersifat sosial dan aku selalu senang menerima tugas itu. Ada suatu kebahagiaan tersendiri bagiku dapat menyebarkan berita kebajikan.

“Sepertinya kali ini kamu juga harus ikut jadi pendonor, Kei.”

“Tapi, Bu..” belum selesai aku bicara, Ibu May sudah memotong. “Kamu sendiri sudah tahu manfaat dari berdonor darah, kan?”

“Iya, emang sih Bu.”

“ Selain dapat membantu orang lain yang membutuhkan, juga baik untuk tubuh kita karena nantinya tubuh secara otomatis akan memproduksi sel-sel darah baru untuk menggantikan darah yang sudah kita donorkan.” Lanjut Bu May tanpa memberiku kesempatan membela diri.

“ Tenang saja. Nanti pada saatnya giliranmu, Ibu akan menemani di sampingmu deh.”

Banyak orang bilang Bu May itu cerewet tapi menurutku beliau orang yang baik hatinya. Senang menolong sesama yang sedang kesusahan.

Sebenarnya aku paling takut dengan jarum suntik, gak tau kenapa. Sejak kecil, kalau sakit aku selalu tidak pernah mau disuntik. Bagaimanapun cara Mama dan Papa membujuk, aku selalu punya cara sendiri untuk menolaknya sehingga tidak disuntik.

“Iya, Bu. Mungkin ini saatnya kesempatan bagiku berbuat bajik lewat donor darah ya.” Sahutku.

>>>

Hari Minggu yang cerah, tidak terlalu terik, pikirku. Cuaca yang sangat mendukung untuk berkegiatan di luar ruangan. Hari H telah tiba. Dengan mantap kulangkahkan kakiku turun dari mobil.

“Rame ya, Pak Wil. Biarpun acaranya baru akan mulai setengah jam lagi tapi sudah banyak orang yang datang.” Kataku kepada Pak William, yang sudah setia menjadi kameraman ku selama 5 tahun sejak aku bergabung dengan stasiun tv ini.

“Iya, Cil” sahut Pak Wil. Beliau punya panggilan tersendiri buatku, si Kecil. Itu karena ukuran tubuhku yang memang sedikit lebih kecil daripada teman-teman rekan kerja wanita yg lainnya. Itu sebabnya kenapa dulu aku kegirangan banget sewaktu diterima jadi reporter karena sebenarnya ukuranku masih di bawah standard. Beruntung banget ya aku haha…

“Masuk yuk, Pak!” diiringi Pak Wil dan beberapa kru lainnya kami memasuki lapangan tempat kegiatan donor darah massal berlangsung. Rupanya Ibu May juga sudah datang beserta dengan keluarganya.
Sebelum acara dimulai, aku sudah terlebih dahulu mewawancarai beberapa orang panitia dan para pendonor juga tentunya. Saat tengah meliput kegiatan yang sedang berlangsung, terdengar suara Bu May memanggilku dari belakang. “Keiko, sudah giliranmu tuh.” Aku berpaling, tiba-tiba kurasakan pandangan mataku menjadi kabur. Kepalaku terasa sangat sakit dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap.

>>>

Kubuka mataku, terasa berat. Aku sedang terbaring di sebuah ruangan yang serba putih. Sepi.
“Halo, cie-cie. ” Ternyata di sebelahku berbaring seorang anak gadis, wajahnya pucat pasi, kepalanya botak, matanya sendu namun senyumannya cukup manis. Kelihatannya dia baru berumur sekitar 14 tahun. Dengan kepala yang terasa masih sangat berat, aku mencoba membalas senyumannya, “Halo juga”. Aku sadar, aku sedang berada di rumah sakit.

Tak berapa lama, Mama muncul. “Sayang, kamu sudah sadar ya.”
“Aku kenapa, Ma?” tanyaku dengan suara yang lemah.
“Kamu pingsan di acara donor darah kemarin.”

Iya, aku ingat. “Ternyata aku parah banget ya, Ma. Saking takutnya mau mendonorkan darah, aku malah pingsan jadinya.” Aku mencoba untuk tertawa namun sangat berat rasanya. Kepalaku terasa seperti dipukul dengan palu, sakit.
“Dokter sudah mengambil sampel darahmu dan sekarang sedang diperiksa. Sepertinya ada sesuatu di kepalamu. Hasilnya baru akan diketahui besok.” Mata Mama kelihatan sedikit sembab, pasti habis menangis karena mengkhawatirkan aku.

>>>

Sore ini, Papa dan Mama menemaniku. Seorang suster masuk ke kamar, “Maaf, orang tuanya Keiko. Bisa ikut saya sebentar ke ruangan dokter, ada yang ingin dokter bicarakan dengan Bapak dan Ibu.”
Sekitar satu jam kemudian, Papa dan Mama kembali. Wajah mereka sangat kusut, air mata terlihat masih menggenang di pelupuk mata mereka. Apa yang terjadi padaku, pikirku.

“Ada apa, Pa, Ma? Apa yang dikatakan dokter?” Tanyaku tak sabar.

Mama tidak sanggup menahan air matanya lagi. Beliau menangis sambil memelukku. Aku merasa keheranan. Melihat mama menangis, aku juga tidak sanggup menahan air mataku. Papa juga kelihatannya sangat cemas. Setelah beberapa saat, setelah Mama sudah dapat menguasai dirinya kembali, Papa mulai berbicara.
“Keiko sayang, maafkan Papa dan Mama ya. Sebenarnya kami sangat tidak tega mengatakan hal ini kepadamu. Tapi juga sangat tidak adil bagimu kalau kami tidak mengatakannya. Karena ini adalah tubuhmu jadi kamu berhak untuk mengetahui tentang keadaan tubuhmu.” Papa menarik napas untuk mengatur suaranya yang terdengar sedikit gemetar.

“Dokter mengatakan kalau kamu mengidap kanker otak, sudah stadium 3.” Papa berhenti lagi. Tangannya yang masih kokoh menggenggam tanganku.

Aku terhenyak, tidak kupercaya apa yang baru saja kudengar tadi. Kanker otak stadium 3. Duniaku kembali gelap, semuanya kabur. Hatiku sakit dan air mataku kembali mengalir, cukup deras. Mama kembali memelukku dan menangis sesenggukan.

“Jadi, berapa lama lagi aku akan bertahan hidup?”, aku teringat akan cerita-cerita yang pernah kubaca atau film-film yang pernah kutonton. Setiap penderita kanker pasti akan divonis tidak mempunyai sisa hidup yang lama lagi. Apalagi ini, kanker otak.

“Kata dokter beberapa bulan lagi. Dokter bilang kasusmu ini tidak bisa ditangani dengan operasi. Tapi kalau kamu menjalani kemo, kemungkinan besar kamu bisa bertahan di atas 1 tahun atau bahkan lebih lama lagi.” Papa berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. Aku tahu di dalam hatinya, dia merasakan kehancuran yang amat sangat. Sama seperti yang aku dan juga yang pasti Mama rasakan.

“Apakah selama ini kamu sakit, anakku? Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada Mama?” Tanya Mama dengan sesenggukan. Memang sudah hampir 1 tahun belakangan ini aku sering merasakan sakit kepala, terkadang hanya ringan, namun terkadang sangat sakit juga. Aku juga sering merasa mual-mual. Kupikir itu hanya karena aku terlalu lelah bekerja dan aku mengatasinya hanya dengan meminum obat sakit kepala yang dijual di pasaran. Aku memang paling tidak suka kalau harus berobat ke dokter.

Ruangan yang putih itu tiba-tiba saja menjadi hitam dalam pandanganku. Semuanya sepi, yang terdengar hanya isakan tangis Mama. Kenapa, kenapa ini terjadi padaku? Selama ini aku banyak membaca buku Dhamma. Lahir, tua, sakit dan mati. Aku mengetahui bahwa setiap makhluk yang terlahir pasti akan mengalami semua hal itu. Kupikir aku telah dengan baik memahaminya. Tapi pada saat aku mendengar tentang penyakitku dan vonis yang dijatuhkan padaku, aku baru sadar ternyata aku belum cukup memahaminya untuk dapat menerimanya dengan hati yang terbuka.

“Maafkan aku, Ma, Pa.” hanya itu yang sanggup terucap dari bibirku.

>>>
Sinar matahari menyeruak masuk melalui jendela ruangan. Mama sedang menyusun buah-buahan yang dibawa oleh beberapa kerabat yang datang menjengukku semalam. Aku melihat ke tempat tidur di sebelahku. Kosong. “Ma, Luna kemana? Sudah boleh pulang ke rumah ya?”

Mama menghentikan kegiatannya dan duduk di kursi di samping tempat tidurku. Beliau membelai rambutku, lembut. “Luna meninggal dunia kemarin malam, anakku. Agar kamu bisa beristirahat dengan lebih tenang, infusmu diberi obat tidur. Kamu tidak tahu kejadian semalam karena kamu tertidur sangat pulas.”

“Kasihan dia” ucapku tanpa sadar. Seorang gadis remaja, yang seharusnya masih menikmati masa-masa indah sekolah, harus pergi meninggalkan kehidupannya yang sekarang karena penyakit leukemia yang dideritanya 3 tahun yang lalu. Orang tuanya memintanya untuk menjalani kemoterapi. Dia tahu bahwa dia tidak akan sanggup untuk bertahan hidup lebih lama lagi, tetapi karena cintanya kepada orang tuanya dan tidak ingin mengecewakan mereka maka dia rela menuruti permintaan mereka. Sekarang dia sudah pergi, penderitaannya pada kehidupan saat ini sudah berlalu. Selamat jalan, Luna. Semoga kamu bisa terlahir kembali di alam yang lebih bahagia, doaku di dalam batin.

“Mama, maafkan aku ya.” Kataku memecah kesunyian. “Untuk apa, sayang?”

“Ma, aku memutuskan tidak mau menjalani kemoterapi” Wajah Mama sedikit menegang dan cemas mendengar ucapanku.

“Kenapa, sayang. Kata dokter kamu masih punya harapan kalo dikemo.” Mata Mama berkaca-kaca.
“Bukannya aku tidak percaya dengan dokter dan bukannya aku tidak ingin hidup lebih lama lagi saat ini.”
Air mata Mama mulai mengalir “Jadi kenapa kamu tidak mau dikemo, sayang?”

“Ma, kemo membutuhkan biaya besar. Aku tidak ingin menjadi beban Mama dan Papa.”

“Mama dan Papa akan melakukan apapun untukmu, sayang. Kamu tidak usah memikirkan soal biaya.” Isak Mama. Aku terdiam sejenak. Aku tahu, setiap orang tua pasti akan melakukan hal yang sama untuk anak-anaknya seperti halnya juga orang tua Luna.
“Bukan hanya itu, Ma. Aku juga tidak ingin menghabiskan sisa waktuku di rumah sakit dan tempat tidur.”
“Tapi, sayang..”

“Ma, ijinkan aku menjalani sisa hidupku dengan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat semampuku, bagi diriku maupun bagi orang lain. Aku mohon, Ma. Kabulkanlah permintaan terakhirku.” Aku mengenggam tangannya. Mama masih terisak. Sepertinya keriput di wajahnya bertambah beberapa hari ini.
Ruangan kembali sepi. Setelah berhasil menguasai dirinya kembali, sambil meremas kembali tanganku, Mama berkata “Baiklah, anakku. Mama akan membicarakannya dengan Papa nanti. Ingatlah sayang, apapun yang kamu lakukan, pintu hati kami selalu terbuka untukmu.”

“Terima kasih, Ma” aku memeluknya dan rasanya tidak ingin kulepas pelukanku dari wanita yang paling kucintai ini.

>>>

Beberapa bulan berlalu. Aku menghabiskan lebih banyak waktuku di rumah. Terkadang aku bersyukur, sekarang aku jadi punya lebih banyak waktu untuk bermeditasi, memperhatikan tubuh dan pikiranku yang dulu sering kuabaikan karena kesibukanku bekerja. Kalau kondisi fisikku agak fit, aku akan menyempatkan diri untuk ikut dalam ajang bakti sosial yang sering diadakan oleh wihara. Kami sering mengunjungi panti-panti asuhan dan juga panti-panti jompo. Membagi kebahagiaan dengan mereka juga membawa kebahagiaan bagi diriku sendiri. Terkadang saat melihat mereka tersenyum bahagia, aku jadi lupa dengan penyakitku.

Hari ini kami pergi berkunjung ke panti asuhan tuna rungu. Saat melihat anak-anak di panti itu, hatiku teriris. Kasihan mereka, terlahir dengan kemampuan yang sedikit berbeda dan sedihnya lagi orang tua mereka tidak menginginkan mereka sehingga harus tinggal di panti ini.

Aku memergoki seorang gadis kecil, yang sedari tadi memperhatikan kami dari sudut ruangan. Kelihatannya dia lebih pemalu dibanding teman-temannya yang lain., karena dia tidak mau bergabung dengan mereka yang sedang menerima bingkisan dari kami. Dengan membawa sebuah bingkisan, aku menghampirinya. “Hai, adik kecil.” Aku tahu dia tidak bisa mendengar ucapanku, tapi kuharap dia bisa mengerti bahasa isyarat tubuhku. Aku melambaikan tangan sesaat. Dia masih diam tak bergerak. “Hai! Ini untukmu.” Aku menyerahkan bingkisan dari tanganku. Dia terlihat masih ragu-ragu.
“Ambil aja, tidak apa-apa kok.” Akhirnya dia mengambil bungkusan itu. Dia mulai menangis tanpa suara. Itu pasti tangisan haru, pikirku. Aku juga tidak sanggup menahan airmataku. Dengan sedikit jongkok aku memeluknya. Gadis cilik manis yang kurang beruntung, batinku. Saat hendak berdiri, kepalaku terasa sangat berat dan semuanya menjadi gelap dalam sekejap.

>>>

Saat kubuka mata perlahan, aku kembali mendapati kalau aku sedang terbaring di ruangan serba putih. Tapi kali ini tidak sepi. Ada Mama Papa, beberapa kerabat dan juga teman-teman karibku.

“Mama, Papa.” Suaraku lemah, sangat lemah. Aku juga merasakan ternyata sekujur tubuhku juga sangat lemah. Mungkin ini sudah hampir tiba waktuku.Meski aku menyadari bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, namun aku masih merasakan sedikit ketidakrelaan meninggalkan semua orang-orang yang kucintai saat ini. Sepertinya saat ini aku harus benar-benar bisa melepas.
“Semuanya….maafkan aku ya. Aku selama ini sudah banyak merepotkan kalian.” Aku ingin mengatakan semua isi hatiku sebelum aku pergi, walau hanya tersisa sedikit tenagaku untuk melakukannya.
“Maafkan juga semua kesalahanku ya. Terima kasih karena kalian sudah menjadi bagian terhebat dalam hidupku.” Aku berkata dengan terbata-bata. Tak ada yang bersuara, hanya tatapan sendu dan airmata yang  kudapati.

“Ma, Pa. Maafkan aku tidak bisa berbakti kepada kalian lebih lama lagi.”

“Jangan berkata begitu, Nak” sahut Papa. Mama hanya bisa menangis.
“ Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menjalani hidupku dengan lebih bermakna. Terima kasih untuk segalanya. Aku berharap semoga di kehidupan yang akan datang, kita bisa berkumpul kembali menjadi sebuah keluarga.” Lanjutku.

Mama yang dulu terlihat selalu ceria sekarang terlihat sangat lemah. Papaku yang kelihatan kuat juga tidak sanggup menahan air matanya. “Mama dan Papa juga bangga punya anak seperti kamu, sayang. Kami sangat mencintaimu.”

“ Aku juga sangat mencintai Mama dan Papa.”

Posted on 29 Oktober 2010, in cerpen Buddhis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: