Manusia Dan Spiritual



Manusia Dan Spiritual

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro



Sebagai makhluk yang memiliki predikat manusia adalah makhluk yang berakal budi, yang memiliki daya pikir, kecerdikan, kepandaian, kemampuan, ingatan, perasaan dan kesadaran. Tetapi, karena dosa, lobha dan moha (kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan) maka orang yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan justru menjadi sebaliknya, kejam, sadis, garang, bengis; suka merusak, menganiaya, menyakiti, membunuh; tidak ada cinta kasih, kasih sayang, simpati dan kebijakan serta sama sekali tidak ada sifat kemanusiaan.

Peristiwa di Sampit-Kalimantan Tengah, tiga minggu yang lalu adalah wujud dari hilangya sifat manusiawi. Memang peristiwa tersebut demikian transparan dan jelas sekali sehingga mungkin orang akan dengan mudah mengatakan begitu kejam dan sadisnya orang itu sampai tega melakukan pembunuhan kepada sesama manusia.

Perbuatan itu terjadi secara massal sehingga demikian transparan, namum sesungguhnya, sikap dan perbuatan yang mencerminkan ketiadaan nilai kemanusiaan itu hampir setiap hari kita jumpai. Penindasan atau intimidasi dari yang besar kepada yang kecil, yang kuat kepada yang lemah, yang mayoritas kepada yang minoritas; perampokan, perampasan, penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan dan lainnya adalah cermin dari hilangnya sifat kemanusiaan dan hal ini dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita semua menyadari bahwa perkembangan dan kemajuan kehidupan yang dewasa ini sedang bergulir memiliki dampak yang negatif dalam kehidupan umat manusia. Secara tanpa sadar banyak orang yang terperangkap dalam belaian atau cengkraman tangan-tangan baja materi. Pola pikir dan pandangan hidupnya menjadi materialistis. Segala hal dan urusan ditakar atau diukur dengan nilai materi, mereka tenggelam dalam kegemerlapan dan keindahan materi, dibuat terkagum-kagum atas perkembangan dan kemajuannya yang begitu pesat. Tetapi harus diingat bahwa kemajuan yang tidak seimbang itu harus dibayar mahal, yaitu merosotnya nilai spiritual pada diri umat manusia. Oleh karena itu, kita sangat menghargai dan salut kepada para samanera yang minggu lalu memohon untuk di Upasampada menjadi bhikkhu, hidup mengabdikan diri sebagai seorang samana/pertapa (hidup dengan kesederhanaan), menghayati dan menyelami kebenaran (Dhamma), mengembangkan nilai-nilai spiritual dan menjunjung tinggi norma kemanusiaan walau ditengah-tengah gencarnya orang-orang mencari dan menyanjung kegemerlapan materi.

Dua ribu lima ratus tahun yang lampau, Sang Guru Buddha Gotama bertanya kepada seorang Samanera Sopaka Arahat (samanera yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi). Apakah yang satu itu? (eka nama kiṁ) Samanera menjawab, semua makhluk hidup memerlukan makanan (sabbe satta ahara thitika). Memang semua makhluk hidup membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Tetapi harus dimengerti bahwa makanan itu tidak hanya satu ialah materi yang merupakan makanan badan jasmani. Bukan berarti, bila yang dimaksud dengan yang satu itu adalah makanan kemudian kita hanya mengutamakan tentang pentingnya mendapat makanan, tanpa mengindahkan norma spiritual. Makhluk manusia adalah terdiri dari beberapa unsur atau kelompok kehidupan, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya sudah tentu sesuai dengan kebutuhan hidup kelompoknya. Ada empat macam makanan, yaitu:

  1. Kabalimkahara (makanan yang berbentuk atau berupa materi atau benda).
    Makanan ini sangat dibutuhkan oleh badan jasmani untuk menopang dan memenuhi kebutuhannya sehingga jasmani menjadi berkembang sehat, kuat dan tidak mudah rusak.
  2. Phassahara (makanan yang berupa obyek-obyek indria).
    Makanan ini diperlukan untuk menumbuhkembangkan indria-indria, sehinga menjadi kuat, jeli dan tangguh. (Contoh, anak kecil yang belum bisa membaca dan menulis, tetapi karena dilatih untuk mengenali aksara dengan terus menerus akhirnya ia bisa membaca dan menulis, yang berarti indria mereka semakin kuat).
  3. Vibbanahara (makanan yang berbentuk obyek kesadaran).
    Makanan ini sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kesadaran sehingga menjadi kuat, cerdas dan jeli untuk menuju kekesadaran sempurna. Tetapi hal ini harus dimengerti bahwa makanan obyek kesadaran yang dibutuhkan adalah obyek-obyek yang positif. Misalnya, obyek kesadaran dalam meditasi yang senantiasa diarahkan menuju kesadaran yang bersih bebas dari itikat jahat, kebencian, marah, jengkel, kesal, emosi, egois, sombong dan selalu mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang (metta-karuna), kesabaran (khanti), semangat (viriya), dan pengertian benar (samma-ditthi).
  4. Mano-sacetanahara (makanan yang berupa kehendak atau kemauan).
    Makanan ini juga diperlukan guna mendorong terwujudnya suatu cita-cita yang diinginkan. Misalnya, orang harus ada kemauan untuk bekerja guna memperoleh kesuksesan; seseorang harus ada kehendak untuk merubah sikap dan pola pikir agar tidak terjerat pada pandangan salah dan mencapai kehidupan yang damai dan bahagia, terdapat kata mutiara yang berbunyi “Kesuksesan bukan tergantung pada besarnya pengetahuan dan keterampilan, tetapi kesuksesan berada pada besarnya kemauan”. Hal ini menunjukkan bahwa begitu pentingnya makanan tersebut demi meraih keberhasilan, pencapaian hingga kebebasan sempurna sebab kebutuhan itu merupakan penopang, penggerak dan motivator.
Jelas sudah bahwa apa yang dimaksud dengan makanan, bukan hanya kebutuhan yang diperlukan oleh jasmani melainkan secara lengkap, yaitu; makanan yang berupa materi dan makan yang berupa kebenaran (Dhamma) yang merupakan kebutuhan batin. Dengan memenuhi kebutuhan hidup yang lengkap, maka moral spiritual yang merupakan urat nadi dari sifat kemanusiaan akan tumbuh dan berkembang.

Dengan menghayati dan menyelami cinta kasih dan kasih sayang, kesabaran dan pengertian benar, maka orang beragama tidak hanya retorika dan ritualis belaka, tetapi orang akan menjiwai dan meresapi agama sebagai pedoman hidup. Dengan penyelaman Dhamma dengan baik maka spiritualitas berkembang dengan kokoh dan nilai kemanusiaan akan menjadi bagian dari realisasi dan hasil dari penyelaman Dhamma.

Posted on 21 Oktober 2010, in renungan, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: