Menimbun Harta Sejati



Menimbun Harta Sejati

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Sri Subalaratano Mahathera



Yadisam labhate bijam, tadisam labhate phalam
Sesuai dengan benih yang ditanam, maka begitu pula buah yang diperoleh
Bilamana kita menanam pohon, maka langkah awal adalah memilih bibit yang baik dan unggul. Karena kita sadar bahwa bibit yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula. Di samping itu, kita juga perlu memberi perawatan dan pupuk agar bibit itu tumbuh subur dan kemudian berbuah banyak.

Tidak berbeda bila kita melakukan kebajikan dengan berdana. Agar kebajikan itu berbuah yang baik maka diperlukan faktor pendukung yang baik, disebut cetana-sampatti, yang terdiri dari : pubba-cetana, munca-cetana dan aparapara-cetana. Ketiga cetana ini saat timbul harus bersih dari lobha (serakah), dosa (benci) dan moha (tidak mengerti). Tiga akar kejahatan ini sesungguhnya yang menjadi penghalang besar bagi setiap orang dalam usaha untuk mencari dan menemukan kebahagiaan hidup. Terutama moha (tidak mengerti/bodoh/tolol/pikiran sama sekali tidak menyentuh apa sebenarnya yang baik sebagai yang baik, yang buruk sebagai yang buruk, yang benar sebagai yang benar dan yang salah sebagai yang salah). Tidak mengertinya pikiran terhadap kenyataan tersebut justru kentara sekali dengan sikap dan gerak-gerik dalam perbuatan seseorang. Jika seseorang ingin melakukan perbuatan baik, hendaknya ia mengerti terlebih dahulu semua hal yang menyangkut atau berkaitan dengan perbuatan baik yang ingin dilakukannya itu.

Pubba-Cetana, ialah pada saat timbul pikiran “niat” untuk berdana bisa berupa amisa (barang), abhaya (memberi maaf) atau Dhamma (nasihat). Jadi pada saat itu pikiran telah memiliki kesiapan mental untuk melakukan kebajikan “melepas” sesuatu dari dirinya untuk membantu orang lain. Hal ini dilakukannya dengan penuh pengertian, dan bukan dengan moha. Seseorang akan mulai memilih sesuatu tersebut untuk dilepas yang berupa sesuatu yang terbaik agar menjadi bibit unggul (Panitam-deti) dari miliknya yang diperoleh secara Dhamma, halal, (Sucim-deti). Barang yang diberikan juga harus merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi yang menerimanya (Kappiyam-deti).

Dengan adanya kesiapan dan didukung oleh Saddha (Keyakinan Dhamma) maka ia akan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat kebajikan (Kalena-deti). Agar persembahan ini benar-benar tepat waktunya, tidak menjadi sia-sia, maka semua persiapannya telah dilakukan mulai dari kesiapan pikiran penuh dengan pengertian benar untuk bisa benar-benar mengerti apa yang akan dilakukan adalah bukan perbuatan untuk menambah lobha, mengembangkan dosa dan memupuk moha. Justru seharusnya perbuatan yang dilakukannya itu adalah untuk mengikis lobha, dosa dan moha.

Munca-Cetana, pikiran seseorang ketika sedang melakukan persembahan dana. Dengan keyakinan dan pengertian yang benar (nanasam-payutta) ia menjaga jangan sampai ada pikiran lobha atau dosa yang menodainya, sehingga dengan bahagia dilakukannya kebajikan tersebut secara berulang-ulang (abhinam-deti). Dengan tercapainya “niat” untuk melakukan kebajikan, maka pikirannya akan merasa puas, bebas dan bahagia (dadam cittam pasadeti). Karena persembahan tersebut telah diberikan kepada orang atau kelompok (sangha) yang telah dipilihnya dengan bijak (vicceya-deti).

Aparapara-Cetana, pikiran setelah melakukan kebajikan berdana, merupakan hal yang sangat menentukan karena waktunya yang lama. Dalam waktu yang panjang tersebut bisa muncul pikiran-pikiran yang tidak bijaksana atau tidak suci seperti lobha atau dosa yang akan mengurangi buah (phala) dari kebajikan. Maka sangat perlu dijaga agar pikiran tetap bersih tanpa pamrih, tenang dan bahagia (datva atamano hoti). Bilamana muncul pikiran lobha atau dosa setelah melakukan kebajikan maka nilainya menjadi omaka-kusala (rendah). Tetapi kalau bisa bertahan pikiran tetap tenang, bahagia tanpa pamrih maka nilainya menjadi ukkata-kusala (tinggi).

Jadi bilamana suatu kebajikan dilakukan dengan dukungan delapan faktor di atas, Dhamma menjamin bahwa buah (phala) kebajikan itu sangat besar dan merupakan tumpukan harta sejati seorang manusia. Tidak akan hilang atau lenyap dan akan terbawa walaupun kita meninggal dunia.

Selamat Kathina-Puja, TiRatana selalu melindungi kita semua.

(Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi Edisi 21 Nopember 1999)

Posted on 4 Oktober 2010, in Ceramah Dhamma, renungan, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: