Menghadapi Kritik



Menghadapi Kritik

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera



Mereka mencela orang yang duduk diam,
mereka mencela orang yang banyak bicara
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak dicela.
(Dhammapada XVII, 7)


Saat ini kita bersama mempelajari salah satu dari empat hari raya agama Buddha yang cukup penting yaitu hari Asadha. Sebenarnya Asadha adalah nama bulan dalam penanggalan yang dipergunakan di India. Pada jaman Sang Buddha ketika bulan purnama di bulan Asadha Sang Buddha untuk pertama kalinya membabarkan Dhamma kepada dunia. Pada waktu itu Sang Buddha mengajarkan kepada lima pertapa tentang intisari Ajaran Beliau yang disebut dengan Empat Kesunyataan Mulia. Kita dapat membayangkan betapa pentingnya saat Asadha tersebut. Bayangkan saja andaikata Sang Buddha walaupun telah terlahir dan telah mencapai kesucian namun Beliau tidak berkenan membabarkan Dhamma! Dunia akan tetap diselimuti oleh awan kegelapan batin. Kita sekarang dapat mengenal agama Buddha justru karena Sang Buddha berkenan mengajarkan Dhamma. Hari ini kita dapat mempelajari dan berdiskusi Dhamma adalah karena jasa besar Sang Buddha. Hampir 3000 ribu tahun yang lalu Beliau memberikan Ajaran Luhur tentang kehidupan kepada dunia. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu memiliki suatu prestasi. Anak-anak sekolah mendapat rapor bagus. Ini prestasi. Saudara-saudara yang sudah bekerja memperoleh gaji. Itu juga bagian dari prestasi. Apa pun juga yang telah dilakukan dengan sebaik-baiknya di dalam kehidupan itulah prestasi. Ibu-ibu mencuci baju, anak-anak membantu orang tuanya adalah merupakan hal yang terbaik yang mampu dikerjakan. Tetapi, hasil yang dikerjakan – baik oleh kita maupun orang lain – biasanya akan menimbulkan pandangan umum : pujian dan kritikan. Misalnya, setelah mengikuti suatu upacara sebagian orang yang hadir dan menganggapnya baik, maka ia akan memuji : “Hebat, acaranya juga bagus.” Atau anak yang rapornya bagus dipuji ibunya : “Hebat, rapornya bagus.” Masakan seorang istri setelah dicicipi oleh suaminya dipuji, “Enak sekali masakannya.” Suami yang membawakan oleh-oleh untuk istrinya di rumah yang telah menunggu berhari-hari dipuji istrinya : “Engkau sungguh baik. Engkau pasti sangat mencintai saya.” Kita pasti senang bila dipuji seperti itu. Jadi, bila memperoleh pujian tidak akan menimbulkan masalah dalam diri kita.

Sebaliknya kita tidak gampang berlapang dada untuk menerima kritikan. Misalnya dikatakan : “Upacara hari ini sungguh jelek. Berantakan. Semrawut.” Telinga kita bisa segera menjadi panas mendengar kritikan semacam itu. Ketika buku rapor dibuka, kritik pun muncul : “Sungguh jelek rapornya.” Emosi kita akan naik. Ibu sudah bersusah payah memasak dikritik, “Masakannya tidak enak.” Ibu tadi akan timbul kejengkelan. Sudah susah-susah membelikan oleh-oleh untuk istri dikritik, “Oleh-oleh seperti ini saja harus beli dari tempat yang jauh.” Emosi dapat meledak! Sekarang bagaimanakah cara kita menghadapi kritikan sesuai dengan Dhamma? Dalam Anguttara Nikaya IV, 190 telah dikelompokkan macam-macam reaksi orang yang dikritik. Sewaktu kita memperhatikan reaksi-reaksi yang dijelaskan oleh Sang Buddha, tidak akan ada kata lain yang dapat diucapkan selain : “Sang Buddha memang psikolog yang hebat sekali.”

Kita semua pasti akan termasuk salah satu kelompok yang telah dijelaskan oleh Sang Buddha tersebut. Diterangkan dalam Anguttara Nikaya IV, 190 itu, reaksi pertama menghadapi kritikan, paling gampang, paling sederhana adalah bila dikritik kita kemudian berlagak pilon, berlagak bodoh atau memang bodoh sungguh-sungguh. Contoh paling jelas adalah bila ada seorang pengemudi yang langsung memotong jalan tanpa memberikan tanda sebelumnya. Ia seakan tidak ingat bahwa di belakangnya atau di sampingnya masih banyak terdapat kendaraan lain. Akibatnya banyak orang yang dengan gugup berusaha menghindari tabrakan. Bila tabrakan telah dapat dihindari maka biasanya dengan geram orang itu akan dimaki : “Hei, monyet buta!” Namun si pengemudi sembrono yang diomeli tadi akan berlagak pilon, tenang-tenang saja, tidak mau melihat kiri maupun ke kanan, santai-santai seakan tidak terjadi apa-apa. Itulah sikap yang paling enteng menghadapi kritikan : berlagak bodoh. Atau bila orang yang dikritik hendak menunjukkan sedikit reaksi dapat pula ia berkata : “Maaf, lupa.” Bila ada orang yang ditanya : “Kenapa kamu tidak pergi ke vihara?” “Saya lupa”, jawabnya singkat. Mengucapkan kata ‘lupa’ itulah alasan yang paling gampang. Atau kalau tidak, ia akan berlagak pilon. “Kenapa kamu tidak pergi ke vihara?” “Ada acara apakah di vihara?” Pokoknya ia berlagak pilon. “Bagaimanakah ini? Rapor jelek sekali?” Ia akan menjawab: “Rapor begitu sudah termasuk bagus.” Istri yang dikritik juga dapat bereaksi seperti itu. Sudah bersusah payah memasak tetapi masih dikritik: “Masakannya tidak enak” Maka jawabnya: ” Sungguhkah tidak enak? Setahuku sudah enak!” Padahal memang masakannya tidak enak. Tetapi itulah reaksi spontan yang paling gampang. Suami yang hampir kelupaan membelikan hadiah untuk istri, ia membeli barang secara sembarangan dan diberikan pada istrinya. Bila istrinya mengkritik: “Barangnya kurang baik” Sang suami akan mengelak dengan bertanya: “Apakah barang seperti itu jelek?” Inilah reaksi menghadapi kritikan: berlagak pilon. Inilah kelompok pertama. Kita dapat melihat dalam diri kita sendiri bagaimana reaksi kita bila menerima kritikan. Sudah beberapa kali kita juga sudah berlagak pilon.

Kelompok kedua adalah orang yang bila dikritik, reaksinya marah-marah. Bila dikritik kita akan segera berseru: “Apakah hakmu mengatakan demikian?” Misalnya acaranya perayaan ini kacau dan semrawut, lalu ada yang mengatakan: “Acaranya kacau.” Maka reaksinya adalah pertanyaan penuh emosi: “Kamu termasuk panitia atau bukan? Bila bukan panitia maka tidak perlu banyak bicara!” Dengan penampilan galak serta keras tersebut membuat si pengkritik hilang semangatnya dan kita pun dapat segera terbebas dari kritikan lainnya. Sungguh enak bila berlagak marah. Kalau dicela, “Rapornya jelek” Jawabnya: “Mama jangan sok tahu! Guru saya saja tidak mengatakan demikian! Mama tidak berhak mengatakan hal itu.” kritikan, “Masakanmu tidak enak.” Mendapat reaksi, “Ibuku dahulu malah memuji bahwa masakanku enak! Kamu memang tidak tahu selera masakan, kamu tidak berhak mengkritik saya.” Dicela dengan, “Oleh-olehmu jelek.” Dijawab: “Dasar seleramu rendah. Kamu memang tidak sebanding dengan saya.” Inilah kelompok kedua.

Kelompok ketiga lain lagi. Jikalau kita dikritik orang, kita cari teman. Hal ini juga umum sekali. “Mengapa acara hari ini sangat kacau?” Dijawab: “Kamu belum tahu kalau tahun lalu acaranya lebih kacau lagi.” Kita cari teman. “Rapormu sungguh jelek.” Ada yang lebih jelek daripada ini, Ma.” “Masakanmu tidak enak.” Dibantah: “Kemarin masakannya lebih tidak enak, kenapa kamu tidak protes.” “Oleh-olehnya tidak bagus” “Biasanya kamu mendapat yang lebih jelek dari ini juga tidak pernah banyak komentar!” Kita selalu berusaha mencari teman supaya kita terbebas dari kritikan.

Kelompok keempat dalam menghadapi kritikan lain lagi reaksinya. Jenis ini sungguh hebat. Jurusnya, cuek bebek, tidak perduli apapun yang dikatakan orang lain. ‘upacara ini jelek.’ Ditanggapi dengan satu kata saja: ‘Biarin!’ Dan lebih parah, lain kali kesalahan itu diulang kembali. ‘Rapormu jelek.’ ‘Jelek?! Tidak apa-apa.’ Orang jenis ini modalnya hanya satu saja: Pokoknya cuek, jalan terus, tidak perduli segala kata dan nasehat orang lain.

Jadi, dalam menghadapi kritikan terkadang kita berusaha unjuk kemarahan, kadang kala kita bersikap cuek, tetapi kita juga bisa ngambek atau patah arang. Inilah kelompok kelima. ‘Upacaranya jelek’ Ditanggapi dengan wajah sinis sambil berkata: ‘Ya sudah, lain kali saya tidak akan membantu lagi.’ Sebenarnya perbuatannyalah yang dikritik, hasil kerjanya yang dikritik tidak bagus, tetapi jawabannya lain. Sikap ini jelas-jelas keliru. Seharusnya dia memperbaiki diri, bukan malah tidak mau ke vihara. ‘Mengapa kamu terlambat datang ke vihara?’ ‘Ya sudahlah. Lain kali saya tidak datang lagi.’ Ini namanya ngambek, tidak memperbaiki suasana malahan ngawur. ‘Rapornya jelek.’ ‘Ya sudah, lain kali saya tidak akan berangkat ke sekolah lagi. Malas, dikritik terus.’ ‘Masakannya tidak enak.’ ‘Ya sudah, saya tidak akan memasak lagi.’ Begitulah jawaban keras tipe orang yang suka ngambek.

Dari beberapa jenis reaksi menghadapi kritikan yang telah disebutkan tadi, sikap manakah yang paling sering kita lakukan? Jangan-jangan malah semua sering kita kerjakan?! Saudara, peringatan-peringatan hari raya agama Buddha sebenarnya ditujukan untuk mengingatkan kita akan keluhuran pribadi Sang Buddha. Pribadi Sang Buddha itu sungguh luar biasa. Salah satunya adalah sikap Beliau dalam menghadapi kritikan.

Peraturan kebhikkhuan berbeda dengan peraturan yang para umat lakukan. Para umat biasa cukup melaksanakan Pancasila Buddhis atau lima sila: menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan serta mabuk-mabukkan. Pada hari-hari tertentu, misalnya tanggal satu dan lima belas menurut penanggalan bulan (Imlek), umat dapat melaksanakan Atthasila atau delapan sila, yaitu lima sila yang telah disebutkan di atas dengan ditambah berpuasa setelah jam 12 siang, tidak mengenakan perhiasan maupun wangi-wangian, serta tidak duduk atau berbaring di tempat yang mewah. Para bhikkhu memiliki 227 peraturan. Peraturan yang sedemikian banyak hampir semuanya muncul karena adanya kritikan para umat. Misalnya umat melihat seorang bhikkhu yang sedang bersiul-siul. Umat segera menyampaikan kritik dan rasa keberatannya kepada Sang Buddha: ‘Sungguh tidak pantas untuk bhikkhu bersiul’ Dalam menghadapi kritikan semacam ini reaksi Sang Buddha tidak negatif seperti yang telah disebutkan di atas. Beliau justru menanggapi kritikan dengan penuh pengertian. Dengan kekuatan batinNya, Sang Buddha dapat mengerti bahwa memang benar ada seorang bhikkhu yang bersiul. Kemudian Beliau merumuskan sebuah peraturan baru. ‘Mulai sekarang para bhikkhu tidak diperbolehkan bersiul.’ Ada hal lain. Ketika umat melihat para bhikkhu suka berenang di sungai maupun di danau para umat kemudian mengkritik: ‘Sungguh tidak pantas bagi para bhikkhu untuk berenang.’ Kemudian setelah menganalisa kebenaran kritikan para umat tersebut, Sang Buddha merumuskan sebuah peraturan: ‘Mulai sekarang para bhikkhu tidak diperkenankan untuk berenang.’

Ada sebuah cerita yang menarik di jaman Sang Buddha. Pada waktu itu, terdapatlah seorang saudagar yang kaya raya. Dia ingin menguji apakah di daratan India masih ada para pertapa yang sakti. Ia juga ingin mengetahui apakah masih ada pertapa yang telah mencapai kesucian dan melatih meditasi dengan baik serta tekun. Oleh karena itu, sebagai ujian kemampuan para pertapa ia menggantungkan sebuah mangkok emas di sebatang bambu kecil yang tinggi. Bambu tadi diolesi minyak seperti kalau jaman sekarang pada lomba panjat pinang berhadiah. Hanya saja pada waktu itu ia menggunakan sebatang bambu kecil dengan mangkok emas di ujungnya. Pedagang yang kaya raya ini mengatakan: ‘Saya hendak melihat pertapa atau bhikkhu manakah yang mampu mengambil mangkok emas itu? Ia yang berhasil mengambilnya adalah pertapa yang sungguh sakti dan suci.’ Karena mangkoknya terbuat dari emas, banyak pertapa yang berusaha memanjatnya. Namun karena bambunya licin dan juga kecil, maka hampir tidak mungkin ada yang mencapai ujungnya, apalagi mengambil mangkok emasnya. Sampai tengah hari masih belum ada orang yang mampu mengambil mangkok emas tersebut. Tetapi di antara kerumunan para penonton lomba terdapatlah seorang bhikkhu murid Sang Buddha yang telah memiliki kesaktian. Melihat cara para peserta lomba berusaha memanjat batang bambu, bhikkhu itu ingin ikut lomba pula. Setelah tiba gilirannya maka dengan kesaktiannya ia memerintahkan batang bambu itu untuk melengkung ke bawah. Setelah batang bambu itu melengkung, ia dengan santainya mengambil mangkok emas itu. Semua orang kagum dan bertepuk tangan, termasuk pedagangnya tadi. Mereka semua memuji kehebatan murid Sang Buddha. Mereka baru percaya bahwa memang murid Sang Buddha telah melatih meditasi dengan baik, memiliki kesaktian yang luar biasa dan juga telah mencapai kesucian. mereka sungguh baru percaya akan hal itu. Segera kata pujian menyebar ke seluruh kota. Semua kagum dengan Sang Buddha dan para muridNya. Namun ketika Sang Buddha mendengar hal itu, Beliau malahan merumuskan sebuah peraturan baru: ‘Mulai hari ini para bhikkhu tidak diperkenankan menunjukkan kesaktiannya.’ Peraturan itu dibuat untuk menghindarkan kelompok umat yang hanya tertarik pada kesaktian para bhikkhu. Umat hendaknya tertarik karena keluhuran Ajaran Sang Buddha. Inilah beberapa contoh sikap Sang Buddha yang sungguh bijaksana dalam menghadapi kritikan.

Oleh karena itu, kalau kita mengingat kehidupan Sang Buddha, kita akan dapat melihat cara Sang Buddha menghadapi kritikan dengan bijaksana. Sangat berbeda dengan sikap-sikap yang telah disebutkan dalam Angutara Nikaya IV, 190 tadi. Sikap negatif menghadapi kritikan memang lajim bagi orang yang belum mengenal agama Buddha. Tetapi bagaimanakah sikap kita menghadapi kritikan setelah kita mengenal agama Buddha?

Sang Buddha suatu ketika pernah ditanya oleh salah seorang siswaNya: ‘Bagaimanakah sikap kita bila ada orang memuji? Mungkin ia memuji Ajaran Sang Buddha yang sedemikian luhur.’ Sang Buddha memberikan pengarahan bahwa hendaknya menghadapi pujian semacam itu kita harus memiliki batin yang tenang. Bila kita terlalu senang dengan pujian maka akan sulit bagi kita untuk membedakan apakah pujian itu sungguh-sungguh ataukah palsu. Kalau itu hanyalah pujian palsu, kita dapat menanggapinya dengan: ‘Maaf, hal itu tidaklah seperti yang dikatakan tadi.’ Sebaliknya bila memang pujian itu sungguh-sungguh, maka kita dapat menjawab: ‘Memang demikianlah kenyataannya.’

Sebaliknya bagaimana sikap kita bila dikritik? Sang Buddha juga mengarahkan agar kita hendaknya jangan cepat-cepat emosi. Kalau kita emosi maka kita akan sulit membedakan kritikan itu sebagai usaha menjatuhkan mental kita ataukah usaha untuk memperbaiki prestasi kita. Akibatnya, kritikan orang yang berniat baik malah kita tolak. Kita berarti akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, apabila mendapat kritikan yang membangun kita dapat mengatakan: ‘Terima kasih, saya akan terus berusaha memperbaiki prestasi.’ Namun bila kita mendapat kritikan yang tujuannya menjatuhkan mental kita maka kita dapat menanggapi: ‘Maaf, kenyataan sesungguhnya tidak seburuk yang tadi dikatakan.’ Inilah seharusnya sikap kita sebagai umat Buddha, tahan terhadap pujian serta tahan terhadap kritikan. Seharusnya kita bahagia kalau mendapatkan banyak kritikan. Namun kebanyakan orang hanya senang memperoleh pujian, tidak suka bila mandapat kritikan. Padahal, memperoleh kritikan adalah sama dengan memperoleh perhatian. Kadang-kadang walaupun kritikan itu kelihatannya sepele tetapi sebenarnya orang itu telah memperhatikan kita. Hanya saja cara memperhatikannya yang mungkin agak kasar, misalnya: ‘Kancing bajumu tidak rapi, seperti anak kecil saja.’ Bila diambil nilai positifnya berarti dia sampai memperhatikan urusan kancing baju kita juga. Coba bayangkan bila kancing baju kita tidak rapi dan kemudian kita pergi ke pesta. Malu nanti jadinya.

Dahulu ada seorang guru yang sangat galak. Ia memelihara kumis yang lebat. Suatu pagi, sehabis minum susu segar dia terburu-buru berangkat ke kantor. Ia tidak menyadari bahwa kumisnya yang lebat itu masih berlepotan susu segar, putih warnanya. Tidak ada orang yang berani mengkritiknya. Dengan tenang ia masuk ke kelas untuk mengajar. Semua murid berusaha menahan tawa mereka, apalagi para muridnya memang nakal-nakal. Semuanya tertawa cekikikan bila ia sedang membelakangi kelas, tetapi tetap tidak ada seorangpun yang berani memberitahukan ketidakberesan ini kepadanya. Padahal bila ada orang yang mau mengkritiknya, berarti ada orang yang mau memperhatikannya pula. Sebetulnya hanya dengan satu kali usapan ringan saja maka masalah di kumisnya akan beres! Jadi, sekali lagi, orang yang mengkritik kita sesungguhnya ia telah memperhatikan kita walaupun dengan cara yang agak kurang halus. Oleh karena itu, tanggapilah kritikan yang kita terima secara positif. Tanggapilah kritikan itu sebagai perhatian orang kepada kita. Kemudian, seperti yang telah dicontohkan oleh Sang Buddha, renungkanlah sendiri apakah kritikan itu memang benar? Apakah memang sikap kita salah sehingga dia mengkritik kita? Kalau memang kita salah dan kritikannya benar, kita harus bertekad: ‘Saya akan berusaha memperbaiki diri saya.’

Jadi, apabila kita mendapat kritikan: ‘Upacaranya semrawut’, kita harus merenungkannya dahulu. Bila memang demikian, kita hendaknya menjawab: ‘Terima kasih, saya akan berusaha memperbaikinya.’ Jangan kita berlagak pilon, jangan ngambek, jangan marah dan jangan emosi. Kita harus memperbaiki segala kekurangan kita. ‘Rapormu jelek’ Tanggapilah dengan kata-kata: ‘Jelek di bagian mana? Akan saya perbaiki di masa mendatang.’ ‘Masakanmu tidak enak.’ ‘Tidak enaknya bagaimana? Kalau terlalu asin, atau terlalu manis, akan saya tambahi bumbu yang lain.’ ‘Oleh-olehmu tidak baik.’ Kita harus merenungkan kembali bahwa kita mungkin belum mengerti seleranya. Dengan demikian, maka segala macam kritikan yang kita terima dapat kita gunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Jadi, kalau gaya bahasa kita dikritik, tingkah laku kita dikritik, sebetulnya teman yang mengkritik itu menginginkan agar kita dapat lebih baik daripada saat ini. Bila tidak ada orang yang berani memberikan kritikan kepada kita, apakah berarti kita telah sempurna? Justru makin sulit kehidupan kita nantinya!

Sebuah contoh lagi, misalnya kita memiliki seorang anak. Anak itu sangat dimanja. Anak yang dimanja berarti anak yang tidak pernah dikritik orangtuanya. Apabila dia besar nantinya, ia akan hidup dalam penderitaan. Begitu dia menjumpai orang yang mengkritiknya, dia langsung mengalami stress, menangis. Apabila tidak tercapai keinginannya, dia stress, menangis. Tetapi bila anak tidak dimanja, dia dikritik jika bersalah. Merusak barang, dilarang. Berlarian di tempat yang licin dilarang… maka dia akan menjadi anak yang tabah menghadapi kesulitan hidup. Sesungguhnya, dalam kehidupan kita, bila kita berbicara akan dicela, kita diam pun akan dicela. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari celaan!

Satu contoh lagi. Pada setiap hari Minggu kita pergi ke vihara. Dalam pikiran kita, hal itu adalah termasuk perbuatan baik. Tetapi orang dapat menganggapnya sebagai perbuatan yang tidak baik. ‘Mengapa hari Minggu harus ke vihara? Bukankah lebih enak ke luar kota untuk acara keluarga. Kenapa pula harus bersibuk-sibuk di vihara? Lebih baik di rumah menyaksikan siaran televisi! Bukankah kita telah lelah selama 6 hari kerja, sekarang hari Minggu sebaiknya di rumah saja, santai-santai bersama keluarga.’ Kita ada kemungkinan memperoleh kritikan semacam itu. Sebaliknya bila kita pada hari Minggu tetap tinggal di rumah maka orang lain akan memberikan kritikannya pula: ‘Kenapa hari Minggu tinggal dalam rumah? Pergilah ke vihara, manfaatkanlah waktu dengan belajar dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha.’ Sekali lagi kita terkena kritikan. Itulah sebabnya Sang Buddha mengatakan bahwa jika kita diam akan dikritik, berbicara pun akan dikritik. Tidak akan ada orang yang terbebas dari kritikan.

Oleh karena itu, dalam menghadapi kritikan yang terpenting adalah sikap batin kita. Kita harus siap menghadapi kritikan. Kita hendaknya juga mampu bersikap netral terhadap kritikan. Tumbuhkanlah dalam perenungan kita bahwa orang yang mengkritik kita sesungguhnya adalah orang yang memperhatikan kita. Kemudian hendaknya kita juga mampu memisahkan antara kritik yang membangun atau menghancurkan. Jadi, bila kita dikritik: ‘Sering pergi ke vihara agar tampak suci,kan?’ Ini adalah kritikan yang tidak benar. Bila dikritik: ‘Kenapa harus pergi ke vihara? Berjudi saja lebih bermanfaat.’ Ini juga merupakan kritikan yang tidak sehat. Biarkan saja. Sebaliknya, bila ada orang yang mengatakan: ‘Mengapa kamu berjudi? Lebih bermanfaat kalau pergi ke vihara.’ Kritikan ini sebaiknya kita ikuti. Jadi kita harus mampu memilah-milah sendiri.

Dengan demikian, hendaknya kita jangan takut dikritik, tetapi juga jangan semua kritikan yang kita terima kemudian kita ikuti. Dengarkanlah dahulu, renungkanlah dahulu. Bila kritikan itu membawa manfaat, gunakanlah kritikan itu untuk mengubah sikap hidup kita. Tetapi bila kritikan itu tidak bermanfaat, lupakanlah kritikan itu sebagai angin lalu, kemudian buktikanlah bahwa kita tidak sejelek yang dikritikkan tadi.

[Dikutip dari website Samaggi-phala WWW.samaggi-phala.or.id ]

Posted on 18 September 2010, in Ceramah Dhamma, Perspektif Buddhis, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: