Lima Kesempatan


Lima Kesempatan

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Santamano



Appamado ca dhammesu, Etammangalamuttamanti
Tekun melaksanakan Dhamma, itulah Berkah Utama.

Melalui banyak jalan kita melewati proses kehidupan ini. Segala problem dan rintangan yang datang kepada kita diselesaikan dengan cara damai maupun peperangan, akhirnya pun akan kembali kepada tanggung jawab kita semua. Seandainya kita berusaha ingin melepaskan peranan kita di masyarakat atau hubungan antara individu dengan individu lainnya, maka akan terdapat sesuatu yang ganjil. Banyak sekali perbuatan bermanfaat yang harus kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari, dan perbuatan baik itu tak mungkin bisa ditunda atau ditinggalkan begitu saja.

Pada zaman modern yang penuh persaingan sekarang ini, banyak ditemui prilaku yang menghalalkan segala cara yang tidak sesuai lagi dengan kaidah kemoralan. Hal ini juga dapat mempengaruhi seseorang atau kita untuk berbuat seperti kelaziman di sekitar kita berada. Sebagai contoh banyak sekali perilaku konsumtif atau kegiatan yang menggunakan materi hanya untuk memuaskan kesenangan saja. Hal ini tentunya tidak dilarang oleh orang lain ataupun ada peraturan untuk menggunakan kekayaan kita. Namun semua yang kita lakukan itu akan ada batas akhirnya.

Untuk mencapai suatu keberhasilan, tentunya kita harus melakukan usaha yang giat dan setiap usaha akan disertai dengan pengorbanan baik materi ataupun nonmateri. Oleh sebab itu tidak semua orang mau bahkan mampu dalam mewujudkan cita-citanya itu. Selagi masih berusia muda, seringkali kita mengabaikan tutur kata yang bijak dari orang-orang tua yang banyak mengalami manis asamnya garam kehidupan. Kita beranggapan bahwa waktu dan umur kita masih panjang, sehingga perilaku bermalas-malasan dan menunda-nunda suatu pekerjaan/perbuatan (yang bermanfaat) itu menjadi ciri khas pemikiran dan kebiasaan seseorang dalam hidupnya. Jika kita tidak mengerjakannya selagi kita mampu dan memiliki potensi untuk berkarya, apakah yang akan kita harapkan di kemudian hari?

Memiliki usia muda dan produktif ialah modal bagi kesejahteraan di masa mendatang. Rajin bekerja dan banyak berbuat baik tentu akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan di hari tua, ini adalah yang pertama untuk diperhatikan.

Yang kedua ialah jasmani yang sehat. Kesehatan adalah keuntungan utama, di saat kesehatan sedang memburuk, baru kita akan sadar bahwa materi hanya mampu menyenangkan kita untuk sementara. Tetapi demi kesembuhan tubuh dari penyakit, kita mengeluarkan biaya atau uang dan kekayaan yang tidak sedikit untuk berobat. Bahkan kita merelakan sebagian tubuh untuk dipotong (amputasi) demi keselamatan dan hidup ini.

Yang ketiga, hidup yang berkecukupan dengan merasa puas terhadap yang didapat dari usaha yang dilakukan pasti akan membuat ketenangan dan kepuasan di dalam batin. Agama Buddha tidak menentang seseorang memiliki kekayaan yang melimpah. Kita bisa membaca bahwa donatur terbesar Anathapindika yang hidup di zaman Sang Buddha, adalah seorang umat awam yang bukan hanya mampu mengelola dan mengembangkan kekayaannya, namun Anathapindika juga memiliki keyakinan yang besar terhadap Sang Buddha. Dengan harta yang melimpah itu digunakannya untuk kemajuan Buddha Dhamma. Anathapindika memang seorang Sotapanna atau telah menjadi pengarung arus kesucian pertama, maka tidaklah mengherankan jika ia selalu melayani atau menyokong kehidupan brahmacari (suci) para pertapa siswa Sang Buddha.

Selama kehidupan yang tidak kekurangan dan semua orang memiliki pekerjaan yang pantas, di situ sangat sulit ditemukan pelanggaran-pelanggaran Hukum Kebenaran (Dhamma) dan khususnya Kemoralan (Sila). Adanya kekacauan yang terjadi selalu membawa ketakutan (trauma kejiwaan) dalam hidup seseorang.

Oleh karena itu pemimpin yang bersih dan bijaksana sangat diperlukan untuk mengatur kehidupan semua rakyat di dalam bermasyarakat dan bernegara. Pemimpin yang berperilaku sesuai pada kebenaran (Dhamma) akan membawa negeri yang makmur, tentram dan aman.

Hal yang ke empat adalah keadaan yang saling bersahabat, rukun, damai-harmonis antara seseorang dengan lainnya, golongan dengan golongan lainnya dan semua komponen masyarakat, keadaan seperti ini tentu menimbulkan kesejahteraan dan kemajuan. Mengeluarkan ucapan yang menyejukkan hati, tidak mengharapkan kejatuhan/kehancuran dari keuntungan orang lain, membina pergaulan yang baik, maka di lingkungan seperti itu akan berkembang kesejahteraan juga keberhasilan.

Dan unsur kelima yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki keyakinan yang sama (sama-dana). Ialah mempunyai kebijaksanaan dalam melaksanakan kebajikan-kebajikan. Sesungguhnya kebahagiaan itu datang dari hasil meninggalkan kejahatan (Dhammapada 333).

Selalu waspada terhadap kemungkinan di hari mendatang bukanlah karena dorongan ketakutan, melainkan kita betul-betul mengenal dan memahami semua kondisi dan perbuatan yang sesuai untuk dilakukan. Telah dijelaskan oleh Guru Agung kita, bahwa kebaikan akan membuahkan kebahagiaan. Lima Saat/Usaha Yang Tepat Yang Harus Kita Lakukan Untuk Menunjang Tumbuhnya Semangat Hidup Dan Berbuat Kebajikan, seperti di dalam Aṅguttara Nikaya III; 65 ini perlu kita pertimbangkan sebagai kompas menuju keberhasilan dan Pantai Kebebasan. Semoga semua makhluk bahagia.

[,Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi 3 Oktober 1999 ]

Posted on 2 September 2010, in Ceramah Dhamma, renungan, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: