Kunci Suksesnya Pergaulan


Hari ini kita akan mencoba melihat Dhamma, ajaran Sang Buddha dari berbagai segi yang mungkin bermanfaat. Kalau sebagai generasi muda kita sudah bisa mengenal Dhamma, ini memang bahagia. Mengapa demikian? Karena Dhamma ajaran Sang Buddha, ibaratnya seperti supermarket. Di supermarket itu kalau kita mau cari tusuk gigi sampai linggis, ada! Mau cari korek kuping sampai cangkul, ada! Dhamma ajaran Sang Buddha juga demikian. Kita mau cari apa saja, ada. Karena Dhamma, dikatakan oleh Sang Buddha, adalah segala sesuatu yang bisa kita pikirkan dan yang tidak bisa kita pikirkan. Coba kata-kata ini direnungkan, Dhamma adalah segala sesuatu yang bisa kita pikirkan dan yang tidak bisa kita pikirkan”. Itu adalah Dhamma! Jadi semua yang saudara pikirkan, misalnya saudara pikir tusuk-gigi itu juga Dhamma. Saudara pikir cangkul, juga Dhamma; saudara pikir buku, itu Dhamma; saudara pikir pohon itu Dhamma; semua adalah Dhamma, tidak ada yang lain.

Karena itu saudara sebagai generasi muda, mestinya saudara juga harus bertanya apakah ada Dhamma, ajaran Sang Buddha yang sesuai dengan kehidupan kita sebagai anak muda? Ini penting. Seperti tadi malam kita berdiskusi tentang teknik-teknik berorganisasi, itu pun ada di dalam Tripitaka. Bagaimana cara membuat peraturan, juga ada. Jadi kalau mau membuat peraturan, kita berpedoman pada cara Sang Buddha saja, karena bukankah kita ini muridnya Sang Buddha. Sang Buddha kalau membuat peraturan, demikian: Seandainya ada seorang bhikkhu yang bersalah, misalnya sore-sore ia makan. Tapi waktu itu belum ada peraturan, kemudian ada umat yang melihat dan melaporkan kepada Sang Buddha: “Wah Bhante, bhikkhu sore-sore kok makan, rasanya tidak pantas, seperti umat”. Lalu Sang Buddha pikir-pikir: “Iya betul, tak pantas”. Maka dibuatlah peraturan: “Mulai sekarang, para bhikkhu kalau sore tidak boleh makan”. Tetapi yang makan terakhir itu jangan dimarahi. Karena apa? Karena hal itu dilakukan sebelum ada peraturan. Jadi ini tidak berlaku surut, tapi maju. Sang Buddha mengatakan, sumber yang membuat peraturan ini tidak perlu dikenakan peraturan. Kalau peraturan sudah dibentuk, orang-orang yang melakukan berikutnya itu baru kena peraturan. Bhikkhu makan sore, “Nah, kamu kena salah!” demikian.

Beberapa peraturan, misalnya voting atau menyelesaikan permasalahan, persengketaan, itu ada di dalam Tripitaka bahkan di dalam peraturan Vinaya bhikkhu. Kalau sekarang ada permasalahan, bagaimana cara mengatasinya? Bisa dengan menemukan kedua belah pihak itu untuk ditanya, bisa juga dengan diadakan voting. Jadi semua problem kehidupan kita, pemecahannya ada di sana. Mengenai rumus-rumus ekonomi misalnya, juga ada. Saudara jangan mengira bahwa ajaran Sang Buddha itu hanya untuk para bhikkhu. Pernah ada seorang saudagar pada masa Sang Buddha yang bertanya, “Bhante, bagaimana agar saya bisa mengembangkan usaha saya?” Dijawab oleh Sang Buddha demikian: “Kalau kamu punya keuntungan, anggap saja keuntungan kamu ini 100% maka yang 25% kamu gunakan untuk makan atau kebutuhan sehari-hari, 50% kamu gunakan untuk menambah modal, 25% yang berikutnya digunakan untuk saat-saat darurat, misalnya kalau ada kejadian yang mendadak. Artinya disimpan, kalau nanti kamu sakit tidak bisa kerja, ambillah simpanan ini, misalnya rumah kamu bocor, butuh pemugaran, kamu ambil dari simpanan ini”. Nah, ini sudah ada teori ekonominya, cara membagi keuntungan, cara membagi hasil yang kita miliki. Jadi semuanya ada.

Bahkan dikatakan kalau mau memperluas wawasan, menggalang persatuan pun ada rumusnya. Mungkin sebagian dari saudara sudah pernah mendengar tentang hal ini, tapi ini perlu saya jelaskan lagi karena manfaat mendengarkan Dhamma sesungguhnya bermacam-macam. Manfaatnya yakni: bagi yang belum pernah mendengar, akan menambah wawasan baru. Bagi yang sudah pernah mendengar tapi belum jelas, bisa tambah jelas. Yang dulunya lupa, sekarang ingat, sehingga bisa menghilangkan keragu-raguan, bisa menambah kemantapan dan keyakinan.

Karena itu saya akan uraikan tentang bagaimana Dhamma ajaran Sang Buddha dapat diterapkan oleh saudara-saudara dalam memperluas wawasan dan menggalang persatuan. Artinya bagaimana? Kalau saudara sebagai pengurus atau pimpinan, agar saudara bisa mengatur dan mengendalikan anak buah; para staff supaya bisa saling bekerjasama. Atau kalau nanti saudara sudah perlu, misalnya: “Sekarang saya sudah kuliah, umur sudah sekian, sekarang saya perlu memperoleh pasangan hidup”. Cara ini juga bisa dimanfaatkan.

Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa menggunakan Dhamma ini? Caranya mudah. Kalau saudara membutuhkan teman, membutuhkan anak buah agar menurut, membutuhkan kawan akrab, cara yang pertama yang harus saudara lakukan adalah mempunyai yang disebut dengan KERELAAN. Kerelaan artinya ikhlas, rela. Artinya saudara tidak memaksakan kehendak saudara sendiri. Contohnya misalnya seorang ketua atau pimpinan. Sebetulnya seorang ketua atau pimpinan itu bukan mengepalai, bukan mengatur, bukan menjadi boss tetapi justru menjadi pelayan, menjadi pengabdi. Siapa yang diabdi? Yaitu semua anggota atau anak buahnya. Kalau dirinya sebagai pelayan, sebagai pengabdi maka tugasnya apa? Yaitu membuat “boss-bossnya” berbahagia. Itu kuncinya.

Tidak hanya ketuanya, tapi wakil ketuanya, para sekjennya dengan staff-staffnya, pokoknya yang duduk sebagai pengurus, itu sesungguhnya adalah pengabdi bagi organisasi atau perusahaannya. Karena sebagai pengabdi maka harus mau berkorban, yaitu dengan adanya KERELAAN.

Kalau misalnya saudara mempunyai keinginan, “Saya ingin Waisak nanti upacaranya bisa meriah”, ternyata kemeriahannya tak sesuai dengan apa yang saudara inginkan maka saudara jangan kecewa. Saudara harus mengecek diri sendiri, mungkin teknik yang saya gunakan kurang tepat. Teknik pendekatan saya mungkin kurang bagus. Demikian juga seandainya saudara mau mencari teman, kerelaan ini penting. Kalau saudara misalnya tahu minggu depan ada acara di Borobudur, saudara bisa mengeluarkan ide baik saudara, “Bagaimana kalau kita ke Borobudur sama-sama?” Ini adalah suatu kerelaan, rela bensinnya habis, rela olinya berkurang, rela bannya tambah tipis. Jangan seperti Yahudi, dimana perhitungannya, kalkulatornya jalan: “Kalau bensin saya berkurang sekian, hasilnya harus sekian, karena dengan pengorbanan sesedikit mungkin, bila perlu mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya”. Ini teori Yahudi, saudara. Kalau demikian caranya, saudara bisa repot, teman pun menjadi susah didapat. Saudara mau menaksir si A, tetapi Hari Valentine saudara tidak kirim apa-apa. Saudara bilang, “Kirim-kirim roti toh yang pakai semut!” Nah, ini lalu bagaimana? Susah saudara! Jadi semuanya harus ada modal. Seperti kalau kita mau memancing ikan, harus ada umpannya. Kalau Yahudi, memancing ikan tidak pakai umpan, kalau perlu tidak usah pakai kail, ikannya datang sendiri, itu Yahudi. Kalau umpannya besar, ikannya besar, kalau umpannya teri, ikannya ya kecil. Kalau saudara pada hari Valentine kirim kepada 10 orang, masa satu pun dari 10 orang itu tidak ada yang kena? Kalau tidak kena, saudara betul-betul tidak ada hoki, tidak ada peruntungan. Karena itu adalah teori kemungkinan, “probabilitas”. Kalau misalnya saudara mau melempar botol pakai gelang-gelang rotan, kalau melemparnya satu demi satu maka akan cenderung meleset, probabilitasnya fifty-fifty, tapi kalau saudara melempar sekaligus dengan 10 buah, masa tidak ada satu pun yang masuk? Kalau tak ada, itu namanya saudara tak ada “hoki”.

Hidup bersama di masyarakat juga begitu, kalau saudara ingin mencari teman, kerelaan itu penting. Seperti contohnya pada hari Valentine saudara kirim 10 paket kepada 10 orang. Kalau misalnya ada kebaktian di vihara, yang datang kok sedikit terus? Saudara bisa berpikir dan mencari ide kerelaan apa yang bisa diperbuat. Jangan jadi Yahudi, tapi harus dipikir “umpannya” apa. Misalnya kita berikan undian saja, setiap kali datang ke vihara umat diberi kupon undian. Setiap kali datang, diberi tanda-tangan; lima kali datang, berhak mendapat undian sepeda BMX, misalnya. Wah, itu pasti meriah, pasti rame yang datang ke vihara. Nah, sebetulnya ini adalah salah satu pancingan, umpan!

Kalau saudara berkesempatan pergi ke suatu tempat untuk mendengarkan khotbah Dhamma, hal tersebut juga bisa dijadikan umpan. Kalau selesai itu saudara pulang, saudara bisa laporan dengan teman-teman di vihara yang tidak ikut, “Sayang kamu tidak ikut, tidak dapat mendengarkan bagaimana caranya menggalang persatuan memperluas wawasan”, misalnya begitu! Ini pancingan besar, saudara! Kalau saudara bisa praktikkan hal ini saja, kerelaan ini saja, maka teman saudara akan banyak. Bila malam Minggu saudara kesepian, saudara bisa buat umpan: “Ayo teman-teman satu kost, ini saya panggilkan penjual bakso, silakan beli semua, nanti saya yang bayar”. Pasti temannya banyak. Modal…modal…! Jangan jadi Yahudi! Ini dasar pertama saudara. Jadi istilahnya, semua membutuhkan kerelaan kita.

Kerelaan tidak hanya berupa materi, tetapi kerelaan juga berwujud cara berbicara yang baik, karena kita bisa memperoleh teman apabila kita mempunyai tata bahasa ataupun kata-kata yang baik. Misalnya kalau kita mau menyuruh orang untuk memasang lampu neon. Kalau misalnya kita menyuruhnya: “Hei, pasangkan lampu!” Mungkin orang itu malah berkata begini: “Apa kamu, nantang ya! Memangnya saya pembantumu, kamu beri saya gaji berapa suruh pasang-pasang!” Tapi kalau cara perintahnya dengan kerelaan mengatur kata-kata yang lebih baik, “Ini lampunya kok gelap, saya ada lampu neon, tapi saya ada pekerjaan lain, bagaimana ya?” kalau sudah begini pasti ada yang menawarkan, “Ya sudah, sini saya yang betulin”. Kebetulan, saudara bisa kerja yang lain, bukankah begitu?! Kita tidak memaksa dia. Bekerja juga begitu. Kalau saudara mau mengatur teman untuk bekerja, mengubah kata-kata seperti ini akan lebih bermanfaat. “Tolong ya, altarnya dibersihkan”, misalnya. Itu lebih bermanfaat daripada: “Eh, ini dibersihkan! Kotor begini kayak kamarmu saja, acak-acakan!” Orang itu pasti mengomel. Tapi kalau, “Tolong ya, ini dibersihkan, biar seperti kamu, kamu kan selalu rapi”, maka langsung dibersihkan dengan senang hati. Dengan kata-kata begitu saja orang sudah senang, ini sudah modal, orang itu bisa menurut sama kita.

Kalau saudara perhatikan, sebetulnya seorang bhikkhu itu tidak pernah menyuruh atau memerintah. Kalau bhikkhu menyuruh itu caranya lain, ini bahasa Dhamma. Saudara ingin tahu? Caranya begini: Karena bhikkhu tidak pegang uang maka dia tidak terlibat dalam hal jual maupun beli, termasuk mengeluarkan kata-kata, misalnya “Coba beli hio”. Tidak ada! “Coba beli lilin”, tidak ada! Tapi ia pakai bahasa Dhamma, “Tolong dicarikan lilin ya”. “Bagaimana ya kamar kita kok gelap, padahal kita mau berkaca”. Maka umat akan berkata, “Oh, ini bhante, silakan dipakai baterai atau lilin ini”. Itu caranya, sehingga umat merasa bahwa ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa dilakukannya.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, pengaturan kata-kata ini penting. Kalau saudara melihat penampilan teman saudara tidak mutu, misalnya ke vihara pakai celana pendek, padahal menurut peraturan tata kesopanan etika persembahyangan peribadatan umat Buddha, celana pendek itu “haram” masuk vihara. Bagaimana cara peringatannya? Mudah! Saudara jangan mengatakan “Eh, yang pakai celana pendek tidak boleh masuk, ini anak di bawah 5 tahun!” Bukan begitu. Caranya dengan berkata: “Saudara-saudara, memang zaman sekarang ini zaman serba susah, banyak malapetaka, apalagi akhir-akhir ini, bencana alam terjadi di mana-mana, kota Semarang banjir. Sepertinya di rumah bapak itu juga banjir di atas lutut”. Kita tak usah pakai kata “celana pendek”. Nanti orang itu bisa merasa sendiri, “Kok saya dikatakan kebanjiran, oh mungkin karena celana saya mini”. Mungkin di lain waktu hal tersebut tidak diulangi lagi. Ini sebetulnya adalah kerelaan, keikhlasan mengenai ucapan.

Kalau para pengurus organisasi mempunyai keikhlasan berbuat yang lebih banyak, yang lebih tekun, yang lebih dalam maka hasilnya para anggotanya akan memperoleh kebanggaan. “Wah, pengurus ini hebat!” Kalau saudara ikhlas berjuang, ikhlas berbuat untuk kampus, misalnya, kampus juga akan menilai bahwa saudara bermanfaat, tidak hanya menghabis-habiskan tempat saja. Ini sesungguhnya adalah teknik kita.

Kalau saudara punya teman, juga begitu. Pulang dari vihara, apa salahnya saudara boncengkan teman saudara. Ada teman yang tidak datang ke vihara, apa salahnya saudara datang menengok ke rumahnya. Orang tidak membawa buku paritta, tidak bisa membaca paritta, apa salahnya saudara bukakan buku paritta, sehingga keakraban saudara lewat tata kata, tutur bahasa dan lewat perbuatan saudara, akan selalu menarik untuk menjadi sahabat orang lain. Ini adalah dengan cara kerelaan saja. Oleh karena itu, kunci keberhasilan yang perlu kita jalankan di dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah KERELAAN.

Kerelaan dibagi dua macam, yaitu kerelaan dalam bentuk materi dan kerelaan yang bukan materi. Kerelaan yang bersifat materi, misalnya dengan berdana. Kerelaan yang bukan materi adalah berupa kata-kata yang baik dan perbuatan yag baik, yang bermanfaat untuk pihak lain. Kalau semua ini saudara jalankan maka yakinlah, saudara akan sukses di dalam pergaulan saudara.

[Dikutip dari Mutiara Dhamma IX ]

Posted on 2 September 2010, in Ceramah Dhamma, inspirasi, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: