Kenapa Umat Buddha Masih Banyak Yang Pindah Agama?

Kenapa Umat Buddha Masih Banyak Yang Pindah Agama?
Oleh Pandita Aryananda. S.



Mempelajari Ajaran (Dhamma) Sang Buddha jangan hanya kulitnya saja; kupaslah intisarinya; disana kita akan menemukan Kebenaran dan Kebahagiaan tertinggi.

Di negara kita dewasa ini terdapat lima agama besar yang mengalami perkembangan pesat. Dan kita tidak asing lagi mendengar masing-masing umat dari agama tersebut “menyeberang” ke agama lain atau kita kenal dengan pindah agama. Salah satu diantaranya adalah agama Buddha. Meskipun banyak kemajuan dan perkembangan, masih tetap ada kendala-kendala yang harus dihadapi umat Buddha sendiri, seperti adanya sebagian orang yang mengaku dirinya beragama Buddha tetapi sama sekali tidak mengenal Ajaran Sang Buddha. Dari sini dapat dimaklumi bila mereka masih belum yakin sepenuhnya pada Ajaran Sang Buddha, sehingga mudah tergoda untuk “menyeberang” dan memeluk agama lain.

Ada lagi yang mengatakan bahwa agama Buddha mengajarkan hal-hal yang suram, dan tidak mengenal kebahagiaan duniawi. Mereka menganggap umat Buddha memandang hidup ini secara pesimis; mereka sungguh memerlukan penjelasan yang tepat dan benar.

Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha juga menguraikan tentang kebahagiaan hidup berumah tangga, disamping kebahagiaan orang yang meninggalkan kehidupan duniawi; baik kebahagiaan dalam keterikatan maupun kebahagiaan karena terbebas dari ikatan-ikatan; kebahagiaan jasmaniah dan kebahagiaan bathin.

Seorang umat Buddha akan menemukan kenyataan bahwa segala kebahagiaan (duniawi) diatas bersifat sementara (Anicca). Jadi jelaslah bahwa agama Buddha tidaklah pesimis seperti anggapan orang, melainkan bersifat realitis, aktual dan memandang hidup ini secara wajar atau apa adanya.

Di kalangan generasi muda juga sering ditemukan kendala-kendala, yang menghambat karma baik mereka untuk mengenal Buddha Dharma. Mereka sering terikat pada kesenangan semata, tanpa memperdulikan Kebahagiaan sejati. Apabila harapan mereka tidak tercapai mereka akan kecewa, frustasi dan tenggelam lebih jauh di dalam jurang kebodohan.

Salah satu kendala yang sering terlihat adalah bila seorang umat Buddha kebetulan memadu kasih dengan seorang penganut agama yang berbeda. Sering umat Buddha itu dengan mudahnya pindah agama, agar tetap bisa melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya.

Agama Buddha tidak pernah menarik umat dengan janji-janji muluk, pun tidak melarang umatnya untuk pindah agama. Seseorang bebas, dan berhak memilih agama yang dianggapnya paling benar dan sesuai dengan kepribadiannya. Tetapi apakah dengan pindah agama, urusan akan selesai?

Kita sering mendengar ajaran Sang Buddha yang membahas tentang Anicca, yang menyatakan segala sesuatu yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur bersifat tidak kekal, selalu berubah. Kehidupan manusia juga begitu, suatu saat kita pasti akan berpisah dengan apa yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, selalu berubah-ubah, menuju kehancuran.

Sang Buddha mengajarkan kita “Ehipassiko”, yaitu undangan untuk dating dan melihat. Bila seseorang datang dan melihat (membuktikan) kebenaran Dharma dengan cara mempraktekkannya, ia akan menerapkan dan menjadikan ajaran Sang Buddha sebagai pedoman hidupnya. Dalam ajaran Sang Buddha tidak pernah dikatakan kepada kita datang hanya untuk percaya, tetapi datang untuk menyelidiki dan membuktikan kebenarannya. Menyelidiki dan membuktikan ajaran Sang Buddha tidak merupakan karma buruk atau berdosa seperti dalam ajaran agama lain, malahan hal itu dianjurkan oleh Sang Buddha sendiri, seperti yang Beliau katakan dalam Kalama Sutta:

“Jangan menerima sesuatu hanya karena wahyu,
Jangan menerima sesuatu hanya karena tradisi yang turun temurun,
Jangan menerima sesuatu atas dasar khabar angin,
Jangan menerima sesuatu hanya karena kitab suci,
Jangan menerima sesuatu hanya berdasarkan logika,
Jangan menerima sesuatu hanya karena pertimbangan nalar,
Jangan menerima sesuatu hanya karena sesuai dengan gagasan,
Jangan menerima sesuatu hanya karena sipembicara orang baik,
Jangan menerima sesuatu hanya karena hal itu disampaikan oleh seorang guru,
Tetapi setelah diamati dan di periksa dengan teliti, kemudian engkau temukan hal itu sebagai sesuatu yang beralasan, berguna dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain maka terimalah dan jadikanlah hal tersebut sebagai pedoman hidup”.

Jika ada orang yang menghina agama Buddha janganlah kita marah atau membencinya, sebab dari zaman Sang Buddha sampai saat ini dalam perkembangannya agama Buddha tidak pernah menggunakan kekerasan yang menimbulkan penderitaan bagi umat manusia dan mahkluk-makhluk lainnya. Jangan kita samakan agama Buddha dengan agama lain yang mendapat hinaan dari orang lain, lantas marah, benci, emosi bahkan dapat terjadi pertumpahan darah. Dalam agama Buddha tidak ada istilah “perang suci”, karena bagaimanapun perang akan membawa penderitaan seperti korban pembunuhan dan penganiayaan.

Sang Buddha dengan sifat welas asih-Nya mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa apabila ada yang merendahkan diri-Nya (Buddha), Dhamma dan Sangha maka janganlah marah, emosi, tersinggung atau benci, sebaliknya jika ada yang memuji diri-Nya janganlah bahagia, bersukacita. Jika kedua hal itu dilakukan maka akan merugikan diri kita sendiri dan akan menghambat diri kita untuk mencapai tingkat kesucian. Marilah kita lihat khotbah Sang Buddha dalam Brahmajala Sutta ;

“Para bhikkhu, bilamana orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha; janganlah karena hal itu kamu membenci, dendam, atau memusuhinya. Bilamana karena hal itu kalian marah atau tersinggung, maka akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau buruk?”

“Tidak demikian, Sang Bhagava”

“Tetapi, bila mana ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami dan bukan kami.”

“Tetapi, para bhikkhu, bilamana ada orang yang memuji Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira, dan bersuka cita. Bila kalian bersikap demikian, maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Bilamana orang lain memuji Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha maka kalian harus menyatakan apa yang benar dan menunjukkan faktanya dengan mengatakan, berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu memang benar, hal itu ada pada kalian dan benar pada kalian.”

Umat sering memandang, bahwa agama Buddha sangat terikat pada karma; dan didorong oleh ketakutannya akan Hukum Karma, ketakutan dalam menghadapi kenyataan dan tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, sehingga ia pindah ke agama lain. Apakah masalahnya akan selesai begitu saja? Apakah setelah pindah agama lantas ia tidak menderita lagi?

Sang Buddha mengajarkan kepada kita bahwa suatu perbuatan akan menghasilkan karma apabila adanya cetana atau kehendak untuk melakukannya. Sabda Sang Buddha ini terdapat dalam Anguttara Nikaya III : 415 :

“O bhikkhu, kehendak berbuat (cetana) itulah yang Kunamakan karma.” Ada agama lain yang tidak percaya pada Hukum Karma tetapi mereka percaya pada balasan dari Tuhan. Sebenarnya balasan dari Tuhan itulah sebenarnya Hukum Karma (Hukum perbuatan). Dari sinilah penulis berpendapat, bahwa secara tidak langsung agama lain pun meyakini Hukum Karma, disamping masih percaya dan berpegang teguh pada takdir, sehingga meskipun pindah agama, Hukum Karma masih tetap berlaku pada kita.

Jika seorang umat Buddha mengatakan bahwa ia tidak pernah bahagia dalam agama Buddha kemudian pindah ke agama lain, maka hal ini adalah wajar-wajar saja. Jika umat tersebut mengatakan demikian apakah ia mengenal ajaran Sang Buddha atau sekedar agama Buddha KTP atau Tradisi? Penulis yakin jika umat yang belajar Dharma dengan tekun dan rajin serta sering mengikuti kebhaktian maka dia tidak akan pernah dapat dipengaruhi untuk pindah agama. Hanya umat Buddha KTP dan tradisilah yang paling sering pindah ke agama lain karena janji yang muluk-muluk dari agama tersebut.

Ada agama yang menyebarkan ajarannya dengan bujuk rayu dengan janji-janji muluk. Bahkan penyebarannya dari rumah-kerumah, demikianlah mereka mencari umat dengan cara mengobral ke sana-sini tanpa mengenal lelah. Jika ada umat Buddha yang tidak berpengetahuan tentang agama Buddha, akan mengikuti agama mereka.

Agama Buddha tidak pernah mengobral ajaran Sang Buddha ke sana-sini dengan tujuan mencari umat, karena agama Buddha meyakini Hukum Karma, jika orang tersebut mempunyai kaitan karma dengan agama Buddha maka ia akan datang dan tidak akan beralih lagi.

Penulis berpendapat bahwa umat Buddha yang mudah pindah agama disebabkan oleh :

  1. Kurangnya pengetahuan tentang agama Buddha. (Umat Buddha KTP & Tradisi).

  2. Tidak menggunakan logikanya atau akal sehat terhadap janji-janji muluk.

  3. Terpaksa (misalnya umat Buddha sakit dan ingin berobat atau pinjam uang ke orang beda agama, orang tersebut akan meminjamkan uang bahkan akan membantunya jika si sakit pindah ke agamanya).

Seorang umat Buddha yang baik harus mempunyai prinsip dan tidak mudah tergoyahkan oleh isu-isu yang merusak. Jika ada informasi-informasi yang mencemarkan agama Buddha, buktikan dan selidikilah sesuai yang tercantum didalam Kalama Sutta. Sang Buddha juga menyatakan dalam Dhammapada tentang prinsip sesorang bijaksana; Dhammapada ; Bab VI : 81, Orang Bijaksana, “Laksana sebuah batu karang yang tak tergoyahkan angin, maka demikian pula para bijaksana tak tergoyahkan oleh celaan dan pujian”.

Saya harapkan kepada seluruh umat Buddha , pada zaman sekarang ini banyak sekali cara-cara yang digunakan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mempromosikan ajarannya dengan janji yang muluk-muluk dan mencaci maki ajaran yang lain. Semua ajaran itu tidak akan mempengaruhi kita jika kita menerimanya dengan analisa yang lebih mendalam. Yakinlah saudara-saudari se-Dharma bahwa tidak ada ajaran yang dapat membuat kita suci tanpa usaha dari kita sendiri. Walaupun ajarannya bagus tetapi kita malas mempraktekkannya juga sia-sia. Suci atau tidaknya adalah tergantung pada diri kita sendiri. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam Dhammapada Bab XII : 165 tentang Diri Sendiri ;

“Oleh diri sendiri Kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda,
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci,
Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri,
Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain.”

Jika ada ajaran yang mengatakan dengan ditisarana atau dibaptis bisa langsung suci, kaya dan sebagainya tanpa melalui usaha, ini adalah omong kosong.

Demikianlah naskah ini saya buat. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Semoga semua makhluk hidup dalam keadaan tenang, tentram, sejahtera dan berbahagia.

Sabbe satta averahontu, Sabbe satta bhavantu sukkhitatha…

Sadhu…Sadhu,….Sadhu,…..

[ Dikutip dari Majalah Manggala edisi 40 tahun 1993 ]

Posted on 2 September 2010, in dasar agama Buddha, inspirasi, renungan, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: