Kebingungan Di Zaman Modern


Kebingungan Di Zaman Modern

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nayake Mahathera



Zaman modern sekarang ini ditandai dengan perubahan cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan terjadi begitu cepatnya, sehingga dunia yang berputar dan terpencar-pencar tidak sempat kita lihat dengan mata kepala sendiri. Dunia tidak lagi berada dalam ketenangan seperti pada masa lalu. Hal ini adalah wujud zaman di mana masyarakat tradisional terancam hancur berhadapan dengan misteri dari modernisasi.

Perubahan terjadi sangat cepat mengikuti perkembangan zaman. Perubahan pada masa lalu akan memakan waku ratusan atau bahkan ribuan tahun, namun kini telah berubah sedemikian cepatnya hampir seperti kasus Ricky Galant yang menderita progenia. Ia meninggal dunia pada bulan Maret 1967 di Kanada, pada usia 11 tahun. Ricky menderita gejala usia tua, pengerasan urat nadi, kebotakan, kulit yang kendur, dan keriput. Ciri khas orang yang telah berusia 90 tahun terjadi pada dirinya yang masih berusia 11 tahun.

Seratus tahun kehidupan umat manusia belakangan ini, berubah sangat besar, yang dimulai dari negara-negara berkembang meluas ke seluruh dunia.

Kita menyaksikan ledakan penduduk dunia; cepatnya pertumbuhan industri ekonomi dan urbanisasi; perkembangan pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya; perkembangan teknologi yang begitu cepat; pengikisan nilai tradisional serta perkembangan maupun hilangnya norma baru beserta sub kebudayaan.

Perubahan dalam lingkungan ini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap dimensi sosial kebudayaan. Perubahan cepat yang tak terelakan membuat perubahan bentuk masyarakat yang besar-besaran, membawa ketidak-teraturan dan kekacauan pada semua tingkat pengalaman maupun kebiasaan manusia; perseorangan, keluarga, masyarakat serta semuanya.

Kebingungan Tingkat Perorangan

Sekarang ini, hampir tidak mengherankan bahwa apa yang disebut masyarakat yang sangat maju diliputi oleh keserakahan, ketakutan, kebencian. Bertambahnya jumlah orang yang mengalami kegelisahan, frustasi, iri hati, dan kemarahan. Banyak, terutama kaum muda yang dibesarkan dalam lingkungan kekayaan dan kemewahan, hidupnya menjadi tidak berarti.

Karena kemarahan dan frustasi, mereka bergabung dengan gerakan protes terhadap segala sesuatu. Mereka menentang cara konvensional yang dilakukan oleh “penguasa” dan membantu terjadinya proses kemerosotan, standar moral, kehancuran kehidupan keluarga, dan pemujaan yang berlebih-lebihan terhadap seni, dansa, dan mode dalam masyarakat mereka.

Tak dapat disangkal lagi, dengan perubahan dan kemakmuran yang demikian, orang menjadi kesepian dan bosan. Ini bukan merupakan suatu hal yang janggal bahwa di dunia yang berpenduduk lebih dari 4,5 milyar, orang masih dapat merasa kesepian. Sampai taraf tertentu, memang demikian adanya. Tetapi sendirian bukan berarti seseorang merasa kesepian. Seorang meditator mungkin sendirian di dalam hutan, namun ia menggunakan waktunya untuk mengambangkan pikirannya. Seseorang dapat berada di tengah-tengah pesta, meskipun di tengah keramaian, namun ia sangat dikuasai perasaan kesepian yang kuat.

Seperti dikatakan orang, “Ketika sendirian, saya tidak kesepian karena saya bebas melakukan apa yang saya suka. Seringkali bila saya bersama orang lain dalam masyarakat, saya mengalami kesepian dan merasa asing dan curiga terhadap diskriminasi, formalitas, tata cara dan tradisi di mana masyarakat kita yang penuh dengan hal-hal tersebut”.

Kebosanan

Ikatan yang dekat dengan kesepian adalah kebosanan. Kebosanan merupakan keadaan jiwa yang mengganggu manusia dalam berbagai tingkat. Sebagian orang hampir tidak pernah merasakan kebosanan, sementara yang lainnya merasa kebosanan merupakan ciri pembawaannya. Yang terakhir mungkin mempunyai segalanya —kekayaan, kekuasaan, bahkan kesuksesan namun tetap merasakan kebosanan.

Mereka melihat hidupnya hampa, diisi dengan pekerjaan rutin dan kurang mempunyai arah hidup. Mereka berusaha mengatasi kebosanan dengan melakukan hal-hal yang kurang pantas seperti berpakaian menyolok atau tata rambut yang seronok, berjudi, terlibat pencurian dan perkelahian yang memalukan, yang sesungguhnya hanyalah untuk menciptakan kesenangan dalam hidup mereka. Tetapi karena mereka asyik dengan diri mereka sendiri dan keinginan yang serakah, untuk mengalihkan usaha mereka ke arah kebaikan, namun kebosanan itu tetap berlanjut tanpa mereda. Seperti suatu usaha yang sia-sia, mencoba menimbun jurang tanpa dasar dengan segenggam batu kerikil.

Kadang-kadang keluar dari jurang kebosanan,orang beralih pada alkohol untuk menghilangkan kebosanan maupun kesepian mereka. Sayangnya alkohol tidak dapat membersihkan kesulitan seseorang; malah hanya memperburuk persoalan, bagaikan menuang bensin ke dalam api.

Penyalahgunaan Obat Bius

Penyebab utama lain dari kemerosotan jasmani dan batin manusia adalah penyalahgunaan obat bius seperti heroin, kokain, dan mariyuana. Penggunaan narkotik telah menciptakan momok bagi dunia karena kecanduan obat bius, menimbulkan pribadi kasar dan masalah sosial. Akibat dari penyalahgunaan obat bius lebih serius dan mematikan daripada alkohol. Kematian dapat terjadi karena penggunaan obat bius yang berlebihan, seperti anak senator Robert Kennedy yang meninggal pada usia sekitar 20 tahunan. Pencurian, perampokan, kejahatan seksual, penipuan dilakukan karena obat bius.

Ibu-ibu yang menggunakan narkotik dan alkohol mempunyai resiko yang tinggi mempunyai bayi yang cacat. Akibat dari obat bius, orang tua tidak mengindahkan anak-anaknya, saudara laki-laki melawan saudara perempuannya, istri melawan suami. Sekali seseorang ketagihan obat bius, kesempatan untuk menghentikannya dan tidak mengulangi lagi mendekati angka nol.

Pemerintah menghabiskan dana yang sangat besar untuk merehabilitasi pecandu obat bius dan menjalin kerja sama internasional untuk menghentikan lalu lintas obat bius, bisnis yang bernilai miliaran dollar. Negara kehilangan sumber tenaga kerja karena manusia menjadi tidak produktif, sehingga tidak dapat menyumbangkan tenaga untuk kesejahteraan nasional. Pengeluaran untuk penjagaan dan pencegahan kejahatan semakin ditingkatkan seiring dengan meningkatnya sindikat kejahatan obat bius.

Sebagai warga negara yang baik adalah tugas kita untuk membantu dengan cara yang dapat kita lakukan, paling tidak melalui lembaga keagamaan dan sosial pendidikan untuk mencegah anak-anak kita dan anggota masyarakat lainnya jatuh ke dalam perangkap obat bius. Kita harus melindungi mereka dari hal-hal yang berhubungan ketagihan obat bius, yang sama artinya dengan neraka dan siksaan dunia. Jauhkan dari ancaman obat bius dan bantulah yang lain melakukan hal ini; ini pasti merupakan suatu cara membantu yang sangat baik bagi umat manusia.

Kebingungan di Dalam Keluarga

Di zaman perubahan sosial budaya yang pesat ini, mungkin tidak ada lembaga yang berubah begitu radikal seperti suatu keluarga. Dalam masyarakat pertanian, keluarga lebih besar daripada di daerah perkotaan, karena anak-anak merupakan sumber tenaga kerja yang murah dalam pertanian. Ayah adalah pencari nafkah dan pasti adalah kepala keluarga. Perceraian jarang terjadi pada keluarga yang dilengkapi dengan ekonomi yang memadai, bekal agama dan pendidikan cukup baik. Ketidakcocokan bukanlah merupakan alasan retaknya suatu perkawinan yang baik.

Karena modernisasi masyarakat, banyak fungsi-fungsi yang ada dalam keluarga bergeser pada lembaga-lembaga lainnya. Sekolah mengambil alih fungsi pendidikan dan keluarga tidak lagi merupakan suatu unit ekonomi. Sukses di dalam perkawinan lebih banyak diukur dengan hubungan emosional dan kurang diukur dari kriteria keadaan ekonomi.

Sekarang ini, orang menikah karena “cinta yang romantis”, persahabatan, dan “kebahagiaan” daripada untuk kepuasan standar kehidupan. Jika anda menikah karena “cinta”, apa yang akan terjadi —kira-kira— bila suatu saat cinta itu hilang.

Perceraian

Dahulu, suatu perkawinan mungkin berakhir dengan kematian pasangan hidup. Perceraian kelihatannya tidak hanya kurang baik di mata masyarakat, tetapi juga timbulnya kesulitan yang semakin besar. Tetapi, dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya standar hidup, orang cenderung hidup lebih panjang dan kebosanan rupanya perlahan-lahan merayap dalam kehidupan perkawinan mereka.

Banyak orang bercerai untuk menghindari kebosanan. Dalam masyarakat industri, separuh dari perceraian terjadi setelah menikah selama delapan tahun dan seperempatnya setelah menikah selama lima belas tahun. Dalam kehidupan mereka, banyak perceraian tidak hanya sekali tetapi berkali-kali.

Statistik menunjukkan perceraian lebih tinggi terjadi pada mereka yang terlibat show bisnis. Orang teater seperti Joan Fontaine, menikah berkali-kali, mengatakan bahwa perkawinan benar-benar suatu omong kosong dan orang bijaksana dapat saja hidup dan bercinta lebih baik tanpa ikatan perkawinan. Seorang bintang film terkenal dengan bangga mengumumkan kepada pemirsa TV diiringi dengan tepuk tangan hadirin yang antusias, bahwa ia mempunyai lima belas suami. Tentu saja ini adalah kemerosotan moral umat manusia, memuji gagalnya usaha seorang wanita untuk hidup dan membangun kehidupan keluarga bahagia bersama dengan lima belas mantan suami.

Sementara, orang selalu mengharapkan perkawinan yang bahagia untuk melengkapi seluruh hidup mereka. Harapan ini tidak selalu dapat terpenuhi. Dalam hiruk pikuk pengejaran cinta, pernikahan demikian kelihatannya kurang mampu menjanjikan kehidupan cinta yang panjang. Banyak orang yang memasuki ikatan perkawinan mengetahui bahwa hubungan seperti itu mungkin tidak panjang. Banyak orang memasuki apa yang dalam istilah sosiologi disebut sebagai “poligami berseri”, mereka mengganti pasangan nikah seperti perusahaan mengganti mobil.

Dengan bertambahnya tingkat perceraian, timbullah masalah sosial lainnya. Anak-anak terluka secara emosional atau bahkan secara kejiwaan, menjadi trauma akan pengalaman perceraian orang tuanya. Kenakalan remaja sering dapat ditelusuri pada keluarga yang tidak bahagia pada pengalaman masa kanak-kanak. Cara yang dipakai orang untuk memuaskan kekurangpuasan mereka menciptakan masalah tidak hanya untuk mereka sendiri tetapi juga keturunan mereka dan orang lain.

[ Dikutip dari Majalah Jalan Tengah edisi No. 60 Tahun ke-5, Judul Asli: Confusion in the Modern Age; Voice of Buddhism, Malaysia Vol. 29, No. 2, Desember 1991; Alih Bahasa: Joe Hoey Beng, SE; Editor: Nani Linda, SH ]

Posted on 2 September 2010, in buku buddhis, Ceramah Dhamma, dasar agama Buddha, inspirasi, renungan, Therawada. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: