Arsip Kategori: Perspektif Buddhis

Warga negara yang baik dalam Buddhisme

Warga negara yang baik dalam Buddhisme

Oleh Ari Mariyono, S.Ag   
 
Komponen suatu negara merupakan bentuk bagian yang sangat majemuk yang mana terdiri dari berbagai jenis budaya, adat istiadat yang membentuknya. Dalam hal ini tidaklah terlepas dari Peran Sumber Daya Manusia yang menempati bagian negara tersebut, yaitu kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bangsa itu dapat dikondisikan oleh Sumber Daya Manusia yang menempatinya. Peran warga negara untuk memajukan bangsa dan negara merupakan kewajiban sepenuhnya yang harus dipatuhi oleh semua penduduk sebuah negara tersebut. 
Kewajiban Menjadi Warga Negara 
Pada hakikatnya setiap warga negara memiliki kewajiban dalam pembelaan tanah air serta wajib menyampaikan pendapatnya untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara serta wajib mematuhi peraturan yang ada dalam negaranya. Hal ini diatur dalam undang-undang yang berlaku dalam kenegaraannya masing-masing. Di Indonesia hal tersebut diatur dalam UUD 1945 (Kansil, 2004: 50-54) yaitu terdapat dalam pasal-pasal dalam Undang Undang dasar yaitu: 
Pasal 27 ayat tiga, Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
Pasal 28 ayat 3 poin kesatu, Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Pasal 28 ayat 3 poin kedua, Setiap warga negara berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Pasal 30 ayat 1, Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
Pasal 30 ayat 2, Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung. 
Pasal-pasal tersebut merupakan sarana untuk warga negara dalam menyumbangkan kemampuan, bakat, serta kepandaian dalam memajukan serta mengabdikan diri pada bangsa dan negara. 
Pandangan agama Buddha terhadap peran sebagai warga negara dimulai dari membangun individu manusia yang bermoral baik, menjalankan norma yang ada dalam masyarakat dan agama serta mentaati peraturan yang ada dalam suatu negara. Dhammananda (2003: 416) menekankan bahwa kedamaian suatu negara atau dunia akan tercapai jika setiap indivudu dapat mengamankan dirinya sehingga kedamaian dapat dimulai dari diri sendiri dan berkembang dalam lingkungan yang lebih luas. Dengan dimulai dari individu yang baik maka dapat diterima dalam masyarakat, sehingga mampu memberikan ide atau gagasan untuk diterima di dalam masyarakat. Gagasan atau ide yang diterima tentunya memiliki manfaat untuk kemajuan bersama. Tindakan sederhana demikian merupakan contoh peran sebagai warga negara. 
Selain itu Buddha menekankan bahwa seseorang harus memiliki suatu keahlian sehingga dapat menghidupi dirinya sendiri dan memberikan manfaat terhadap makhluk lain, maupun dapat berperan dalam kepentingan banyak orang. Buddha bersabda dalam Ma?ggala sutta, Khuddakapatha (?anamoli, 2005: 146) bahwa seseorang yang memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan merupakan berkah utama. Untuk mewujudkan manusia yang mempunyai keahlian serta keterampilan, Buddha dalam Angutara Nikãya (Hare, 2001: 188) menekankan manusia untuk: 
(1) menjadi rajin dan terampil, 
(2) menjaga harta kekayaan, 
(3) memiliki dan menjadi teman yang baik, serta 
(4) memiliki mata pencaharian yang benar. Nasihat ini jika diterapkan pada setiap individu, maka akan tercipta warga negara yang memiliki kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab yang tinggi sehingga kedamaian dan ketenteraman dapat terwujud dengan adanya peran yang aktif dari warga negaranya.
Dalam agama Buddha warga negara dilihat dari cara menjalani kehidupan terdiri dari dua kelompok besar (Rashid,1997: 23) yaitu:
1. Gharavasa (umat awam) adalah orang yang menjalani hidup berkeluarga atau tidak berkeluarga yaitu mempunyai pekerjaan, seperti: petani, pedagang, militer dan lain-lain yang memberikan penghasilan untuk biaya kehidupan mereka.
2. Pabbajita adalah orang yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, keduniawian, dan menjalani hidup suci (brahmacari). Pabbajita terdiri dari bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri (Panjika 2004: 341 dan 372) bhikkhu adalah rohaniawan agama Buddha laki-laki, bhikkhuni adalah rohaniawan agama Buddha perempuan, samanera adalah calon bhikkhu, samaneri adalah calon bhikkhuni.
Dilihat dari dua cara kehidupan tersebut masing-masing mempunyai peran dalam upaya pembelaan negara. Dalam hal ini umat awam lebih bebas dalam mengekpresikan dirinya dalam kehidupan bernegara jika dibandingkan dengan para pabbajita. Dalam Buddhisme, umat Buddha perumah tangga dapat berpartisipasi dalam semua aspek kehidupan politik, termasuk menguasai dan mempergunakan kekuasaan politik. Selain itu menurut Dammananda (2003: 419) umat Buddha (khusus umat awam) diperbolehkan ikut dalam peperangan, hal ini seperti yang diceritakan bahwa suatu ketika Sinha, seorang jenderal angkatan bersenjata, menghadap Buddha dan menanyakan tentang peperangan untuk alasan yang benar diperbolehkan. 
Dalam Dhamma menegaskan jika terdapat seseorang yang patut menerima hukuman harus dihukum. Dan ia yang patut diberi hadiah harus diberi hadiah. Jangan melukai makhluk hidup apapun, tetapi berlakulah adil, penuh cinta, dan kebaikan. Orang yang dihukum atas kejahatannya akan terluka bukan dari niat buruk hakimnya tetapi melalui tindakan jahat itu sendiri. Dalam hal ini Buddha mengajarkan bahwa semua peperangan di mana manusia mencoba membantai saudaranya sangat disayangkan. Terkecuali jika tidak ada cara lain mereka yang terlibat perang untuk memelihara kedamaian dan keteraturan, setelah menghabiskan segala cara untuk menghindari konflik. 
Dalam Dhamma menekankan bahwa jika seseorang yang berjuang demi kedamaian dan kebenaran akan mendapatkan ganjaran besar: bahkan kekalahannya akan dianggap sebagai kemenangan. Namun dalam hal ini Buddha tetap lebih mengutamakan bentuk penyelesaian masalah dengan perdamaian karena perdamaian merupakan kemenangan sepenuhnya.
Sebagai warga negara para pabbajita mempunyai peran dalam mengabdikan dirinya dalam kenegaraan. Menurut Dhammananda (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdammadtl.phpidhalcontbuddhism_politik.htmlpathhmid) peran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Para pabbajita dapat mendidik para raja dan menteri (para politisi) dengan mengajarkan Dharma kepada mereka, menjadi penengah dalam berbagai permasalahan politik dan melindungi hak-hak para warga negara pada saat diperlukan. 
2. Para pabbajita tidak terlibat sebagai pribadi dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Mereka tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik. Dengan kata lain, para pabbajita boleh terlibat dalam politik tetapi harus dibatasi misalnya para pabbajita hanya boleh diminta untuk memberikan pertimbangan atau nasihat dalam pengambilan keputusan, tetapi para pabbajita tidak boleh menjadi politisi. 
Dalam pembahasan ini Dhammananda berbicara tentang tidak ada kerugian bagi para pabbajita berpartisipasi dalam politik artinya para pabbajita berbicara tentang pendidikan Dhamma dan menjadi penengah dalam permasalahan politik namun bukan ikut dalam perebutan kekuasaan politik. Hal ini berdasarkan alasan-alasan yang tepat, seperti (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdammadtl. phpidhalcontbuddhism_politik.htmlpathhmid):
(a) Hal itu disebabkan oleh sejarah politik sosial seperti dalam kasus para Dalai Lama di Tibet.
(b) Mereka yang tidak mempunyai pilihan lain karena lingkungan politik tempat mereka berada. Misalnya, apabila mereka dipilih oleh pihak-pihak yang berwenang untuk menjabat sebagai menteri, wakil rakyat, anggota badan legislatif, dan lainnya.
Sebagai warga negara keteladanan Buddha sangatlah luas yaitu terbukti bahwa telah memberikan ajaran moral kepada umatnya. Setelah mencapai Kebuddhaan, Buddha menempuh perjalanan ke banyak tempat di India untuk membabarkan Dhamma. Selama proses pembabaran Dhamma, Buddha terlibat dalam berbagai peristiwa yang berkenaan dengan politik. Buddha menyelesaikan perselisihan serta memberikan pendidikan nilai-nilai spiritual kepada para raja dan menteri. Buddha tidak terlibat dalam pengendalian dan pelaksanaan kekuasaan politik. Buddha juga tidak terlibat dalam pergulatan kekuasaan politik, tetapi Buddha peduli terhadap situasi kesejahteraan negara. Sebagai contoh dalam Dhammapada Atthakatha Buddha berperan dalam mendamaikan perang saat suku Koliya dan Sakya memperebutkan air sungai, Buddha memberi nasihat kepada mereka agar tidak melakukan peperangan. 
Buddha bersabda “Demi keperluan sejumlah air, yang sedikit nilainya, kalian seharusnya tidak mengorbankan hidupmu yang jauh sangat berharga dan tak ternilai” (Setyabudi dan Tim Penerjemah Vidyãsenã, 1997: 318). Jika Beliau tidak menghentikan peperangan maka pertumpahan darah akan terjadi. 
Penutup
Jika semua manusia mengamalkan ajaran moral dari Buddha maka kedamaian seluruh dunia akan terwujud. Di mana setiap warga negara dapat menyelesaikan segala permasalahan dengan sikap damai, tanpa peperangan dan bentuk konfik apapun, dengan demikian akan tercipta keadaan harmonis dan keseimbangan di semua bidang dan masing-masing individu berperan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. 
Referensi
Dhammananda, Sri. 2003. Keyakinan Umat Buddha. Terjemahan oleh Ida Kurniati. 2005. Jakarta: Yayasan Penerbit Karania.
——————-. 2008. Agama Buddha dan politik (Online) (http://www.samaggiphala.or.id/naskahdamma_dtl.phpid306hal3contbuddhism_politik.htmlpathhmid diakses 12 April 2008). 
Hare, E. M. (Ed.). 2001. Thebook of Gradual Sayings, vol III (Anguttara Nikaya). Oxford: The Pali Texts Society. Kansil. 2004. Sekitar UUD 1945 Dewasa Ini. Jakarta: Perum Percetakan Negara Republik Indonesia. 
Nyanamoli. (Ed.). 2005. The Minor Reading (Khuddakapatha). Oxford: The Pali Texts Society. 
Panjika. 2004. Kamus Umum Buddha Dhamma. Jakarta: Tri Sattva Buddhis Center.
Rashid, Teja SM. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Buddhis Bodhi.
Setyabudi, Dharmakusuma, dan Tim Penerjemah Vidyãsenã. 1997. Dhammapada Atthakatha. Jogyakarta: Vidyãnenã

Buddhisme Dan Politik

Buddhisme Dan Politik

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nayaka Mahathera
 


Sang Buddha berasal dari sebuah kasta ksatria dimana Beliau banyak bergaul dengan para raja, pangeran, dan menteri.Walaupun demikian, Beliau tidak pernah memaksakan pengaruh kekuatan politik untuk memperkenalkan ajaranNya. Ataupun memperbolehkan ajaranNya disalahgunakan untuk memperoleh kekuatan politik. .Tetapi saat ini banyak politisi mencoba menyeret nama agama Buddha ke dalam politik dengan memperkenalkan Beliau sebagai komunis, kapitalis, atau bahkan seorang imperialis. Mereka telah lupa bahwa filosofi politik baru sebagaimana yang telah kita kenal benar-benar berkembang di dunia barat, jauh setelah masa Sang Buddha.

Usaha untuk mencampuradukkan agama dengan politik pun sering terjadi. Padahal, kalau dilihat agama berdasarkan pada moralitas, kemurnian, dan keyakinan, sedangkan dasar politik adalah kekuatan. Dilihat dari sejarah masa lalu, agama telah sering digunakan untuk memberi hak bagi orang-orang yang berkuasa. Agama digunakan untuk membenarkan perang dan penaklukan, penganiayaan, kekejaman, pemberontakan, penghancuran karya~karya seni dan kebudayaan.

Ketika agama.digunakan sebagai perantara tindakan-tindakan politik, agama tidak lagi dapat memberikan keteladanan moral yang tinggi dan derajatnya direndahkan oleh kebutuhan-kebutuhan politik duniawi.

Tujuan Buddha Dhamma tidak diarahkan pada penciptaan lembaga-lembaga politik baru dan menyusun rencana-rencana politik. Pada dasarnya, agama mencari pendekatan masalah-masalah kemasyarakatan dengan memperbaiki individu-individu dalam masyarakat tersebut dan menganjurkan beberapa prinsip umum untuk dituntun ke arah nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Memperbaiki kesejahteraan anggota-anggotanya dan lebih adil dalam membagi sumber daya-sumber daya.

Sistem politik dapat menjaga kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat, tapi ada batasannya, Bagaimanapun idealnya suatu sistem politik, tidak dapat menimbulkan kedamaian dan kebahagiaan selama orang-orang dalam sistem tersebut dikuasai keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Sebagai tambahan, tidak peduli sistem politik apa yang diambil, ada faktor-faktor universal tertentu yang harus dialami anggota-anggota masyarakat, yaitu pengaruh-pengaruh kamma baik dan buruk, kurangnya kepuasan sejati atau kebahagiaan abadi dalam dunia yang bersifat dukkha (ketidakpuasan), anicca (ketidakkekalan), anatta (tanpa keakuan). Bagi umat Buddha tiada tempat dalam samsara di mana ada kebebasan sejati bahkan tidak di surga-surga atau dunia para Brahma.

Meskipun suatu sistem politik yang baik dan adil menjamin hak asasi manusia dan mengawasi keseimbangan, penggunaan kekuatan adalah suatu kondisi penting bagi suatu kehidupan bahagia dalam masyarakat. Masyarakat seharusnya tidak membuang-buang waktunya dengan pencarian tanpa akhir bagi sistem politik muktahir di mana manusia dapat bebas sepenuhnya. Karena kebebasan penuh tidak dapat ditemukan dalam sistem apapun melainkan hanya dalam batin yang bebas. Untuk menjadi bebas, orang-orang harus mencari ke dalam pikiran mereka sendiri dan bekerja ke arah pembebasan diri mereka sendiri dari belenggu kebodohan dan keinginan.

Kebebasan dalam arti sebenarnya hanya mungkin ketika manusia menggunakan Dhamma untuk mengembangkan sifatnya melalui perkataan, perbuatan yang baik dan melatih pikirannya sedemikian rupa untuk mengembangkan potensi mentalnya dan mencapai tujuan akhir yaitu penerangan.

Sementara mengetahui manfaat memisahkan agama dari politik dan keterbatasan sistem politik dalam menimbulkan kedamaian dan kebahagiaan. Ada beberapa aspek dari ajaran Sang Buddha yang mempunyai hubungan dekat dengan perencanaan politik masa kini.

Pertama-tama, Sang Buddha berbicara tentang kesamaan dari semua manusia jauh sebelum Abraham Lincoln. Dan kelas-kelas juga kasta~kasta adalah pembatas buatan yang didirikan oleh masyarakat. Satu-satunya klasifikasi manusia, menurut Sang Buddha, adalah berdasarkan pada kualitas perbuatan moral mereka.

Kedua, Sang Buddha mendorong jiwa kerjasama sosial dan partisipasi aktif dalam masyarakat modern.

Tiga, karena tak seorang pun ditunjuk oleh Sang Buddha sebagai penerus, anggota-anggota Sangha dituntun oleh Dhamma dan Vinaya, atau singkatnya, Aturan Hukum. Hingga hari ini setiap anggota Sangha mematuhi Aturan Hukum yang menentukan dan menuntun perbuatan mereka.

Keempat, Sang Buddha mendorong jiwa konsultasi dan proses demokrasi. Ini diperlihatkan dalam kelompok Sangha yang semua anggotanya mempunyai hak untuk memutuskan masalah-masalah umum. Ketika.suatu pernyataan serius timbul dan membutuhkan perhatian, persoalan-persoaian dihadapkan kepada para bhikkhu dan dibahas dalam sikap demokrasi sistem dewan perwakilan rakyat yang digunakan masa kini. Prosedur pemerintahan ini mungkin meqgejutkan bagi banyak orang yang mengetahui bahwa dalam majelis agama Buddha di India lebih dari 2500 tahun yang lalu dapat ditemukan dasar praktek dewan perwakilan rakyat mesa kini. Seorang petugas khusus serupa dengan “Tuan Pembicara” ditunjuk untuk menjaga martabat majelis. Petugas kedua, yang berperan serupa dengan kepala penggerak dewan perwakilan rakyat, juga ditunjuk untuk melihat apakah kuorum terjamin. Masalah-masalah diajukan dalam bentuk suatu mosi yang terbuka untuk diskusi. Dalam beberapa kasus hal itu dilakukan satu kali, dalam kasus lain tiga kali. Demikian praktek dewan perwakilan rakyat, suatu rancangan dibaca tiga kali sebelum menjadi hukum. Jika diskusi memperlihatkan suatu perbedaan pendapat, hal itu harus diselesaikan dengan pengambilan suara mayoritas melalui pemungutan suara.

Pendekatan agama Buddha terhadap politik adalah moralisasi dan tanggung jawab penggunaan kekuatan masyarakat. Sang Buddha mengkotbahkan Tanpa Kekerasan dan Kedamaian sebagai pesan universal. Beliau tidak menyetujui kekerasan atau penghancuran kehidupan dan mengumumkan bahwa tidak ada satu hal yang dapat disebut sebagai suatu perang ‘adil’. Beliau mengajarkan, “Yang menang melahirkan kebencian, yang kalah hidup dalam kesedihan. Barang siapa yang melepaskan keduanya baik kemenangan dan kekalahan akan berbahagia dan damai”. Sang Buddha tidak hanya mengajarkan Tanpa Kekerasan dan Kedamaian, Beliau mungkin guru agama pertama dan satu-satunya yang pergi ke medan perang secara pribadi untuk mencegah pecahnya suatu perang. Beliau menguraikan ketegangan antara suku Sakya dan suku Koliya yang siap berperang atas air Sungai Rahini. Beliau juga meminta Raja Ajatasattu supaya jangan menyerang Kerajaan Vajji.

Sang Buddha mendiskusikan penting dan perlunya suatu pemerintahan yang baik. Beliau memperlihatkan bagaimana suatu negara dapat menjadi korup, merosot nilainya dan tidak bahagia ketika kepala pemerintahan menjadi korup dan tidak adil. Beliau berbicara menentang korupsi dan bagaimana suatu pemerintahan harus bertindak berdasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan.

Suatu kali Sang Buddha berkata, “Ketika penguasa suatu negara adil dan baik para menteri menjadi adil dan baik; ketika para menteri adil dan baik, para pejabat tinggi adil dan baik; ketika para pejabat tinggi adil dan baik, rakyat jelata menjadi baik; ketika rakyat jelata menjadi baik, orang-orang menjadi adil dan baik”. (Anguttara Nikaya)

Di dalam Cakkavatti Sihananda Sutta, Sang Buddha berkata bahwa kemerosotan moral dan kejahatan seperti pencurian, pemalsuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat timbul dari kemiskinan. Para raja dan aparat pemerintah mungkin menekan kejahatan melalui hukuman, tetapi menghapus kejahatan malalui kekuatan, takkan berhasil.

Dalam Kuradanda Sutta, Sang Buddha menganjurkan pengem’bangan ekonomi sebagai ganti. Kekuatan untuk mengurangi kejahatan. Pemerintahan harus menggunakan sumber daya negara untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara. Hal itu dapat dimulai pada bidang pertanian dan pengembangan daerah pedalaman, memberikan dukungan keuangan bagi pengusaha dan perusahaan, memberi upah yang cukup bagi pekerja untuk menjaga suatu kehidupan yang layak sesuai dengan martabat manusia.

Dalam Jataka, Sang Buddha telah memberikan10 aturan untuk pemerintahan yang baik, yang dikenal sebagai “Dasa Raja Dhamma”. Kesepuiuh aturan ini dapat diterapkan bahkan pada masa kini oleh pemerintahan manapun yang berharap dapat mengatur negaranya. Peraturan-peraturan tersebut sebagai berikut :

  1. Bersikap bebas/tidak picik dan menghindari sikap mementingkan diri sendiri.
  2. Memelihara suatu sifat moral tinggi.
  3. Siap mengorbankan kesenangan sendiri bagi kesejahteraan rakyat.
  4. Bersikap jujur dan menjaga ketulusan hati.
  5. Bersikap.baik hati dan lembut.
  6. Hidup sederhana sebagai teladan rakyat.
  7. Bebas dari segala bentuk kebencian.
  8. Melatih tanpa kekerasan.
  9. Mempraktekkan kesabaran, dan
  10. Menghargai pendapat masyarakat untuk meningkatkan kedamaian dan harmoni.

Mengenai perilaku para penguasa, Beliau lebih lanjut menasehatkan:

  • Seorang penguasa yang baik harus bersikap tidak memihak dan tidak berat sebelah terhadap rakyatnya.
  • Seorang penguasa yang baik harus bebas.dari segala bentuk kebencian terhadap rakyatnya.
  • Seorang penguasa yang baik harus tidak memperlihatkan ketakutan apa pin dalam penyelenggaraan hukum jika itu dapat dibenarkan.
  • Seorang penguasa yang baik harus memiliki pengertian yang jernih akan hukum yang diselenggarakan. Hukum harus diselenggarakan tidak hanya karena penguasa mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan hukum. Dan.dikerjakan dalam suatu sikap yang masuk akal dan dengan pikiran sehat, (Cakkavati Sihananda Sutta)

Dalam Milinda Panha dinyatakan: Jika seseorang yang tidak cocok, tidak mampu tidak bermoral, tidak layak, tidak berkemampuan, tidak berharga atas kedudukan sebagai raja, telah mendudukkan dirinya sendiri sebagai seorang raja atau seorang penguasa dengan wewenang besar, dia akan menjadi sasaran penyiksaan. Menjadi sasaran berbagai macam hukuman oleh rakyat. Karena dengan keberadaannya yang tidak cocok dan tidak berharga, dia telah menempatkan dirinya secara tidak tepat dalam kedudukannya. Sang penguasa seperti halnya orang lain yang kejam dan melanggar moral etika dan aturan dasar dari semua hukum-hukum sosial umat manusia, adalah sebanding sebagai sasaran hukuman dan lebih lagi, yang pantas menjadi kecaman adalah penguasa yang berbuat sendiri sebagai seorang perampok masyarakat. Dalam suatu cerita Jataka, disebutkan bahwa seorang penguasa yang menghukum orang yang tidak bersatah dan tidak menghukum orang telah melakukan kejahatan, tidak cocok untuk mengatur suatu negara.
Raja yang selalu memperbaiki dirinya sendiri dan secara hati-hati memeriksa tingkah lakunya baik perbuatan, ucapan dan pikiran, mencoba untuk rnenemukan dan mendengar pendapat publik apakah dia telah bersalah atau tidak atas kesalahan atau kekeliruan dalam mengatur kerajaannya. Jika ditemukan bahwa dia telah mengatur secara tidak benar, masyarakat akan mengeluh bahwa mereka telah dihancurkan oleh penguasa yang jahat dengan perlakuan yang tidak adil, hukuman, pajak, atau tekanan-tekanan lain termasuk korupsi dalam segala bentuk, dan mereka akan bereaksi menentangnya dalam satu atau lain cara. Sebaliknya, jika seorang penguasa mengatur dengan cara yang benar mereka akan memberkahinya dengan “Panjang umur Yang Mulia” (Majjhima Nikaya)
Penekanan Sang Buddha pada tugas moral dari seorang penguasa untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat telah mengilhami Raja Asoka pada abad ketiga Sebelum Masehi untuk berbuat demikian. Raja Asokaa, contoh seorang raja berhasil dengan prinsip ini, berketetapan untuk hidup menurut Dhamma dan mengkhotbahkan Dhamma serta melayani rakyatnya dan semua umat manusia. Dia mengajarkan tanpa kekerasan kepada tetangga-tetangganya, meyakinkan mereka dan mengirim utusan kepada para raja membawa pesan perdamaian dan tanpa agresi. Dengan penuh semangat mempraktekkan kebajikan moral, .kejujuran, ketulusan, welas asih, kebaikan hati, tanpa kekerasan, penuh perhatian dan toleransi terhadap semua manusia, tidak tinggi hati, tidak tamak, dan melukai binatang. Beliau mendorong kebebasan beragama dan secara berkala.membabarkan Dhamma kepada orang-orang di pedalaman. Beliau menangani pekerjaan kebutuhan masyarakat, seperti: mendirikan rumah sakit-rumah sakit untuk manusia dan binatang, memasok obat-obatan, menanam hutan-hutan kecil dan pohon-pohon di tepi jalan, menggali sumur-sumur, dan membangun tanggul-tanggul air dan rumah-rumah peristirahatan. Beliau juga melarang bertindak kejam terhadap binatang-binatang.
Kadang-kadang Sang Buddha dikatakan sebagai pembaharu sosial. Antara lain Beliau mencela sistem kasta, memperkenalkan persamaan manusia, berbicara akan kebutuhan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi, memperkenalkan pentingnya pembagian kekayaan yang lebih pantas diantara yang kaya dan yang miskin, meningkatkan status wanita, menganjurkan memasukkan kemanusiaan dalam pemerintahan dan administrasi, dan mengajarkan bahwa suatu masyarakat harus dijalankan tanpa keserakahan. Tetapi dengan penuh pertimbangan dan welas asih bagi rakyat.
Meskipun demikian, kontribusiNya terhadap umat manusia jauh lebih besar. Karena Beliau mulai pada titik yang tidak pernah dilakukan oleh pembaharuan sosial lain, yaitu, dengan masuk ke akar yang terdalam dari penyakit manusia yang ditemukan dalam batin manusia. Hanya di dalam batin manusia pembaharuan sejati dapat berpengaruh. Pembaharuan yang dipaksakan mempunyai usia yang .sangat pendek karena tidak mempunyai akar atau pondasi. Tetapi pembaharuan yang bersemi sebagai hasil transformasi kesadaran dalam (diri) manusia tetap berakar. Sementara cabang-cabangnya menyebar keluar, menarik makanan dari sumber yang tak pernah gagal yaitu bawah sadar yarig penting seka!i bagi aliran kehidupan itu sendiri. Jadi pembaharuan muncul ketika pikiran manusia telah menyiapkan jalan untuk mereka, dan mereka hidup selarna manusia menghidupkannya kembali dengan sumber cinta mereka sendiri akan kebenaran dan keadilan, terhadap sesama manusia.
Doktrin yang dikhotbahkan Sang Buddha tidak berdasarkan pada filosofi politik. Bukan pula sebuah doktrin yang mendorong manusia menuju kesenangan duniawi. Doktrin tersebut menyiapkan jalan ke Nibbana. Dengan kata lain tujuan akhirnya adalah untuk mengakhiri keinginan (tanha) yang membuat manusia tetap terikat pada dunia. Sebuab bait dari Dhammapada (75) menyarikan dengan baik pernyataan ini, “Jalan yang menuntun kepada perolehan duniawi adalah satu, dan jalan-jalan yang menuntun ke Nibbana (dengan menjalani suatu kehidupan agama) adalah lain”.
Betapapun, ini tidak berarti bahwa agama Buddha tidak dapat atau harus tidak terlibat dalam proses politik, yang merupakan suatu realitas sosial. Bagaimanapun kehidupan anggota masyarakat dibentuk oleh hukum-hukum dan peraturan-peraturan, aturan-aturan ekonomi, lembaga-lembaga, yang dipengaruhi oleh penataan politik dari masyarakat tersebut. Namun, jika seorang umat Buddha berharap untuk terlibat dalam politik, dia harus tidak menyalahgunakan agama untuk memperoleh kekuatan politik. Juga tidak dianjurkan bagi mereka yang telah melepaskan kehidupan duniawi untuk menjalani suatu kehidupan agama yang murni untuk secara aktif terlibat dalam politik.
Sumber: What Buddhist Believe, Kuala Lumpur, Buddist Misionary Society, 1987, pp 229-236.
Diterjemahkan dari Buddhism and Politics, Buddhist Digest English Series 25 Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda.
Dimuat di dalam Majalah “Buddha Cakkhu” No. 05/XVII/96. 

[Sumber: What Buddhist Believe, Kuala Lumpur, Buddist Misionary Society, 1987, pp 229-236. Diterjemahkan dari Buddhism and Politics, Buddhist Digest English Series 25 Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda. Dikutip dari Majalah "Buddha Cakkhu" No. 05/XVII/96. ]  

Buddha Dharma Dan Kecantikan

Buddha Dharma Dan Kecantikan 
Oleh: Jo Priastana S.S, M. Hum.

Sudah menjadi kodrat bahwa setiap orang suka akan kecantikan. Karena realitas dalam diri manusia dan juga masyarakat adalah senang akan kecantikan. Wanita yang cantik disukai pria, diburu periklanan, dijadikan bintang sinteron, dan wanita akan selalu merasa dan mengusahakan agar dirinya senantiasa menjadi cantik.

Tetapi apakah sesungguhnya kecantikan itu? Mengapa pria memburu wanita yang cantik dan kerap bertekuk lutut di kerling matanya? Mengapakah wanita mengusahakan kecantikan dirinya, tidakkah mereka itu korban dari stereotipe, citra, mitos, ideal, atau definisi kecantikan yang dikonsepsikan justru bukan oleh kaumnya sendiri, melainkan entah itu oleh masyarakat, budaya, ideologi kaum patriarkhi (lelaki), pedagang, atau industri kapitalis.

Benarkah kecantikan itu ada secara kodrati, obyektif, dan universal; atau kecantikan itu relatif, subyektif, dan hasil konstruksi sosial semata? Apakah kecantikan hanya sebatas kulit, atau lebih dari sebatas permukaan kulit, namun jauh menjangkau lebih dalam lagi (inner beauty) yang menyelusup sampai kepada kepribadian dan intelegensia?

Konstruksi Kecantikan

Apakah cantik? Pertanyaan sederhana ini sulit jawabnya. Setiap orang -atau juga sekelompok orang- punya definisi sendiri tentang cantik. Yang pasti, industri kecantikan tumbuh subur dengan memanfaatkan kebutuhan orang untuk tampil cantik. Dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarangpun, urusan untuk tampil cantik, cantik fisik yang ikut mendongkrak rasa percaya diri tetap saja tidak kunjung surut.

Memang kecantikan selalu dikejar wanita dan menjadi problem psikologis banyak wanita yang kurang percaya diri. Hal ini terjadi karena kecantikan tidak lepas dari konstruksi sosial. Majalah, film, televisi, dan periklanan, sering menyajikan perempuan dengan bentuk tubuh yang dikonstruksikan ideal, karenanya Industri kecantikan seperti pelangsingan tubuh dan perawatan awet muda tumbuh menjadi industri milyaran dollar.

Kecantikan tampaknya relatif, karena tiap masyarakat punya definisinya tentang cantik. Tubuh yang subur pernah menjadi citra kecantikan wanita Jawa seperti tampak pada relief candi Borobudur, begitu pula masyarakat Fiji di Pasifik. Para perempuan suku Dayak di Kalimantan mengenakan anting-anting yang makin banyak jumlahnya. Sampai paruh pertama abad 20, perempuan di Cina yang kakinya kecil dianggap cantik.

Sepanjang peradaban manusia, apa yang disebut cantik selalu berubah menurut apa yang dikonstruksikan oleh masyarakat itu. Pandangan tentang cantik berubah bersama perkembangan teknologi. Di Barat, semenjak Revolusi Industri terjadi perubahan konsep kecantikan. Dimulainya era industrialisasi membuat banyak perempuan bekerja di luar rumah dan independen secara material.

Keadaan ini, seperti yang diungkapkan Naomi Wolf, aktivis gerakan perempuan dalam bukunya The Beauty Myth, mendorong perempuan membelanjakan uangnya, menjadi konsumen demi kecantikan yang sejalan dengan penciptaan mitos cantik secara massal oleh kaum industri kapitalis; seperti misalnya: tubuh yang ramping cenderung kurus, muka cantik, bersih, dan kulit kencang.

Karena mitos dan kriteria cantik itu, banyak wanita tergoda terhadap tawaran paket mempercantik diri yang kini banyak bertebaran. Mulai dari melangsingkan tubuh, memutihkan kulit, mentato alis mata, membentuk bokong atau payudara, membuat lesung pipit, sampai mendandani “organ paling intim”. Paha, pinggul, lengan, dan perut adalah tidak bagus kalau terlihat gemuk sehingga ada paket sedot lemak untuk merampingkannya. Tampaknya di mata bengkel kecantikan, selalu ada saja bagian tubuh yang dianggap tidak indah, dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai bagian terdalam.

Citra kecantikan dikonstruksikan oleh kaum industri kapitalis kecantikan seperti yang ditawarkan iklan dalam media massa. Padahal menurut Wendy Chapkins dalam Beauty Secrets, Women and the Politics of Appearance (1986), kecantikan seperti yang ditawarkan itu akan mengubah bentuk wajah dan tubuh seseorang menjadi apa yang ingin dicitrakan suatu merk kosmetika atau suatu program kecantikan.

Banyak orang mengejar citra cantik seperti yang telah dikonstruksikan secara sosial, agar tetap terlihat muda, kulit yang kenyal dan halus seperti bayi, khususnya para wanita separuh baya. Padahal usia tetap merambat dan sebenarnya tidak ada yang dapat melawan hukum alam anicca bahwa tidak ada yang kekal di dunia, semua akan menjadi tua dan mati.

“Jika bumi, gunung semeru, dan samudra hancur oleh kobaran api dari tujuh matahari, dan tak ada sebutir debupun yang tersisa, lalu kenapa berpikir bahwa manusia yang begitu lemah adalah abadi?” (Nagarjuna dalam Suhrleka).

“Akhir yang pasti dari tubuh adalah berubah menjadi debu, mengering, dan membusuk; dan adalah tumpukan tulang kotor yang tidak memiliki apa-apa, organ-organ tubuh akan rusak dan membusuk. Ketahuilah bahwa tubuh memiliki sifat akan terurai.” (Nagarjuna dalam Suhrleka).

Dewasa ini, kecantikan yang dicitrakan dan dikonstruksikan secara sosial itu berkaitan dengan modus ekonomi. Padahal mungkin saja kecantikan memang terletak pada mata orang yang melihat dan subyektif sifatnya. Kita menyebut sesuatu cantik, indah, atau bagus, bila hal itu menyukakan atau menyenangkan kita dengan cara tertentu. Apa yang menyenangkan seseorang tidak berarti juga menyenangkan orang lain. Itulah sebabnya kadang-kadang dikatakan bahwa kecantikan itu hanya ada pada orang yang melihat.

Tetapi mengapakah kecantikan bisa juga dikatakan untuk orang yang sama, dan banyak orang memburu wanita-wanita yang dikatakan cantik. Selain subyektif, tidakkah ada nilai yang obyektif sehingga banyak orang dapat mengatakan bahwa dia itu, entah Lady Di almh., Paramita Rusady, Dessy Ratnasari, Megawati, Hartati Murdaya, Julia Roberts, atau Kwan Ce Lin memang cantik.

Thomas Aquinas (1225-1274) dan Immanuel Kant (1724-1804) mengajarkan kita bahwa keindahan seperti kecantikan misalnya mengandung aspek subyektif dan obyektif. Kenikmatan estetis yang diberikan obyek-obyek tertentu kepada pengamat (subyek) bersangkutan dengan nilai-nilai intrinsik yang ada dalam obyek itu sendiri. Jadi selain memang orang itu cantik, subyektifitas seseorang juga menentukan. Bagi suami, istrinya tentulah dianggap cantik.

Kecantikan Luar

Memang ada yang bilang kecantikan itu relatif, namun ada juga yang memberikan ukuran bahwa kecantikan merupakan perpaduan harmoni, keseimbangan, dan keselarasan. Ada kecantikan luar (outer beauty) yang menyangkut fisik, seperti kulit, wajah, dan bentuk; tetapi yang lebih penting lagi adalah kecantikan dalam (inner beauty) yang berhubungan dengan seluruh kepribadian dan dimensi psikis-rohani dan lebih abadi sifatnya.

Kendati begitu, baik kecantikan luar (outer beauty) maupun kecantikan dalam (inner beauty) memiliki nilainya sendiri dan tidak perlu diabaikan, karena keseluruhan kecantikan wanita terletak pada sifatnya yang tidak terduga. Wanita adalah makhluk yang kaya akan dimensi. Karena itu wanita sudah sewajarnya merawat dan memperhatikan tubuhnya, memiliki kosmetik atau melakukan perawatan kecantikan sekedarnya agar dapat muncul semua kepribadian dan kecantikan dalamnya.

Kecantikan luar memang lebih langsung menonjol dan tampak, misalnya pada wajah, paras, bentuk, dan kulit. Karenanya, kulit, terutama kulit wajah banyak yang memperlakukannya bagaikan sebuah tanaman: perlu dipelihara, disiram, diberi pupuk supaya subur, dengan cara memakai kosmetik atau pergi ke klinik bedah kosmetik. Banyak wanita mengusahakan kecantikan dirinya dengan tidak sewajarnya melalui berbagai cara, bahkan pergi ke paranormal, orang pintar, dukun, dan sebagainya untuk pemasangan susuk agar dirinya terlihat cantik dan suaminya tidak pernah meninggalkannya.

Tetapi darimanakah asal usul sebab musababnya seseorang itu cantik, cantik sejak lahirnya, cantik meski dibungkus oleh pakaian yang butut atau tidak terhias aksesoris perhiasan. Tidak hanya cantik, mungkin juga disertai kepintaran dan berada dalam keluarga yang kaya. Sedangkan sebaliknya, ada mereka yang miskin, tidak cantik, atau tidak cerdas. Atau ada yang cantik, cerdas, tetapi miskin; dan kaya, bodoh, tetapi cantik.

Mallika seorang perempuan miskin bersahaja dan tidak menarik pernah bertanya kepada Sang Buddha, apa sebabnya ada wanita yang buruk rupa, miskin, tanpa wibawa dan pengaruh? Ada pula wanita yang buruk rupa, tetapi kaya raya, sangat berwibawa dan berpengaruh. Ada wanita yang cantik, tetapi miskin, tanpa wibawa dan pengaruh. Lainnya wanita yang cantik, sekaligus kaya, berwibawa dan berpengaruh.

Menurut Sang Buddha, perbuatan wanita dalam kehidupan di masa lalu itulah yang menentukan, misalnya cepat marah menghasilkan wajah yang buruk, dan sifatnya yang kikir mengakibatkan kemiskinan dalam kehidupan berikutnya. (Anguttara Nikaya IV, 20 :197)

Kecantikan merupakan pahala dari perbuatan baik dan kemurahan hati dalam kehidupan sebelumnya. “Wajah yang cantik, suara yang merdu, kegantengan, dan kebijaksanaan, kekuasaan, serta mempunyai banyak pengikut, semua ini dapat diperoleh sebagai pahala perbuatan baik.” (Nidhikhanda Sutta)

Memang, kulit yang halus dan sehat adalah dambaan setiap wanita. Bukan apa-apa, kulit adalah bagian tubuh yang langsung terlihat, sehingga setiap kejanggalan pada kulit akan menarik perhatian. Dalam pergaulan, hal itu akan membuat seseorang merasa kurang percaya diri. Di samping kulit yang halus, sebagian wanita juga mendambakan kulit yang cerah.

Tetapi, kulit setiap orang itu memang tidak sama. Dan itu dapat disebabkan karena faktor internal seperti ras, keturunan, dan genetik, maupun faktor eksternal yang meliputi kebiasaan seseorang, misalnya merokok, terbakar sinar matahari (ultraviolet), minum obat antibiotik, maupun akibat pemakaian kosmetik secara berlebihan.

Memang kulit merupakan etalase kecantikan fisik. Bahkan Sang Buddha sendiri dalam rangka untuk menyadari kerelatifan kecantikan, ketidakkekalan tubuh yang bagaimanapun moleknya dan agar tidak melekat terhadap kecantikan yang hanya bentuk luar itu, melukiskan kecantikan fisik itu tidak lebih hanya sebatas kulit.

“Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, kemolekan tubuh seorang wanita adalah tidak murni, punya sembilan lubang, seperti bejana bau busuk dan sulit diisi; dan dari sudut pandang lainnya sebuah selubung kulit yang dihiasi.” (Nagarjuna dalam Suhrleka).

Ratthapala, seorang murid Sang Buddha melukiskan wanita (penggoda) sebagai berikut: “Lihatlah tubuh itu khayali, membalut seperangkat rangka, penuh luka, berpenyakit, dan menuntut banyak pikiran. Baginya tiada yang pernah tetap, tiada abadi. Lihatlah wujud khayali, walaupun dalam pakaian gemerlap, dengan cincin dan perhiasan, tulang belulang bersarungkan kulit. Kuku diwarnai cat, wajah dipulas bedak, cukup memperdaya si dungu, namun tidak bagi pencari kekekalan. (Majjhima Nikaya 82)

Bila Buddha mengingatkan bahwa kecantikan fisik itu hanyalah sebatas kulit, dan tidaklah perlu tergantung atau melekat kepadanya, maka filsuf Yunani Plato mengungkapkan bahwa kecantikan tidak pernah menempel pada sesuatu yang berdaging; karena itu sia-sialah semua upaya manusia untuk mempertahankan kecantikannya. Kecantikan Platonik yang memuja keabadian ini mengingatkan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat bentuknya dari wajah, kaki, tangan, tubuh, dan dari segala sesuatu yang berdaging.

Kecantikan Dalam

Sesungguhnya mereka yang memang cantik tak perlu kuatir terhadap aksesoris luar tubuhnya. Pakaian yang indah belum tentu bisa mengangkat rupa seseorang yang memang tidak cantik. Mengapa mesti menyembunyikan bentuk tubuh yang tidak indah di balik pakaian yang mewah. Cinderella, biarpun pakaiannya butut tetap saja tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Akhirnya diketahui dan dipersunting pangeran. Akan tetapi, orang cantik yang suka berteriak-teriak, memaki-maki, berperilaku buruk; maka ia sama sekali tidak cantik di dalamnya.

Kecantikan itu yang penting dari dalam. Tidak usah grogi ketika usia bertambah dan kulit wajah mulai berkerut. Kecantikan abadi itu muncul dari dalam diri, dari hati dan pikiran yang tenang. Bukankah usia tak dapat mencegah pudarnya kecantikan. Tetapi, apa yang dihimpun, dipupuk dalam rohani akan menambah kekuatan, kekayaan, dan bahkan juga bisa menambah kemudaan dan kecantikan. Kecantikan dalam ini (inner beauty), sebagaimana ungkap Plato, tidak pernah menempel pada sesuatu yang berdaging. Karena itu, sia-sialah semua upaya manusia untuk mempertahankan kecantikannya. Menurut Plato, kecantikan dalam itu tidak pernah datang dan tidak pernah pergi, tidak pernah berkembang dan tidak pernah layu, sesuatu yang dalam pandangan siapiapun sama (tetap cantik), di manapun, sekarang dan sampai kapanpun.

Karena itu, bila kemudaan kulit telah memudar seiring dengan bertambahnya usia, mereka yang bijaksana tentu tidak harus cemas dan takut. Justru dengan menjadi tua dan rohani terisi, seseorang akan bertambah matang dan bijaksana.

Keriput yang muncul merupakan warna-warni pelangi hukum anicca yang tidak bisa dihindari, ibarat garis-garis senyuman (smile lines) cermin dari kematangan dan kebijaksanaan. Anggukan kepala, senyuman, dan tatapan matanya bagaikan sinar matahari yang mencerahkan dan menentramkan bagi anak cucu yang datang bersimpuh menanti belaiannya. Karena itu, mengapa harus takut menjadi tua?

Sang Buddha mengatakan bahwa kecantikan adalah hasil dari perbuatan baik dan kemurahan hati. Sejalan dengan itu, maka resep untuk menjadi cantik di bawah ini (dimuat dalam Kompas, 7 Mei 2000) kiranya sangat bermanfaat dan patut dilakukan.

“Untuk mendapatkan bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan; untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada diri setiap orang; untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan…

Untuk mendapatkan tubuh yang indah, berjalanlah dengan ilmu pengetahuan… Kecantikan perempuan tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada kehalusan wajah dan bentuk tubuhnya… tetapi pada matanya: cara ia memandang dunia, karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.”

 

Asal Usul Bumi Dan Manusia Menurut Agama Buddha

Asal Usul Bumi Dan Manusia Menurut Agama Buddha
Oleh: Corneles Wowor, M.A



Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abhassara (alam cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Pada waktu itu (bumi kita ini) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, ….. laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.

Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. Kemudian Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang memiliki sifat serakah (lolajatiko) berkata : ‘O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari ….. mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak ….. siang dan malam ….. terjadi.

Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk ….. maka sari tanah itupun lenyap ….. ketika sari tanah lenyap ….. muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko). Cara tumbuhnya seperti cendawan ….. Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ….. (seperti di atas). Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul ….. warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni …..

Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu ….. maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk ….. Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap.

Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap ….. muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, pada keesokkan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin ………

[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala ]

Empat Kebenaran Mulia, Sebuah pendekatan Modern

The Four Noble Truths
Empat Kebenaran Mulia
Sebuah pendekatan Modern
Oleh : Willy Yandi Wijaya

Salah satu pilar ajaran Buddha yang mendasari cara berpikir Buddha adalah seperti yang tersirat di dalam Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya sacca). Di berbagai bagian Sutta Pitaka[1] dapat kita temukan cara berpikir analisis seperti yang terdapat pada konsep Empat Kebenaran Mulia. Cara berpikir tersebut adalah:
  1. Memahami Suatu Masalah dan menganalisa masalah tersebut
  2. Menyadari dan menemukan ada penyebab masalah tersebut
  3. Mengetahui bahwa masalah dapat teratasi dan mencari cara penyelesaiannya
  4. Menemukan cara mengatasi masalah tersebut dan Menjalankan caranya
Hal tersebut menunjukkan kecerdasan Sang Buddha dan cara berpikir yang logis. Empat Kebenaran Mulia disadari oleh Buddha Gautama ketika beliau mencapai pencerahan :
“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap dan mencapai keadaan tak terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan tentang hancurnya noda-noda[2]. Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah penderitaan’, ‘Inilah asal mula penderitaan’, ‘Inilah berhentinya penderitaan’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan’; Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah noda-noda’, ‘Inilah asal mula noda-noda’, ‘Inilah berhentinya noda-noda’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya noda-noda’”[3]
Empat Kebenaran Mulia ini adalah ajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Sang Buddha dalam khotbah pertamanya di Benares[4]. Selain itu Empat Kebenaran Mulia juga adalah ajaran khusus para Buddha[5], yang berarti setiap Buddha selalu mengajarkan 4 Kebenaran Mulia ini walaupun dengan bahasa yang berbeda atau sistematisasi pembagian ajaran yang berbeda.

Empat Kebenaran Mulia tersebut adalah  sebagai berikut:

  1. Kebenaran Mulia tentang adanya ‘penderitaan’ (dukkha)
  2. Kebenaran Mulia tentang penyebab penderitaan
  3. Kebenaran Mulia tentang lenyapnya penderitaan
  4. Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan

Di sini akan dibahas masing-masing perbagian sesuai dengan sutta-sutta[6] dalam Tripitaka, khususnya Sutta Pitaka.

The Four Noble Truths and Eightfold Path
Diagram 4 kebenaran mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan

Kebenaran Mulia tentang Adanya ‘Penderitaan’ (dukkha)

Kata penderitaan yang digunakan di sini mewakili kata dukkha, walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili makna kata dukkha. Sebelum lebih lanjut membahas tentang penderitaan (dukkha), kita akan melihat definisi dukkha yang ada di dalam Kitab Suci Tripitaka.
“Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan) dan keputusasaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan (dukkha).”[7]
Definisi dukkha (penderitaan) di dalam Kitab Tripitaka terdapat di dalam beberapa sutta. Pengulangan yang berkali-kali menunjukkan betapa pentingnya pemahaman terhadap Empat Kebenaran Mulia, salah satunya memahami bahwa hidup itu diliputi dukkha (penderitaan)

Memang jika diterjemahkan sebagai penderitaan, kata dukkha akan membuat seolah-olah bahwa agama Buddha memandang hidup adalah pesimis. Namun, dukkha bukan hanya berarti penderitaan dalam artian biasa. Penderitaan disini yang dimaksud adalah penderitaan dari ketidakpuasan seseorang terhadap suatu hal, padahal apapun pasti berubah. Dukkha bisa diartikan sebagai penderitaan karena tidak bisa menerima perubahan.
Sebelum membahas lebih jauh tentang dukkha, perlu diketahui bahwa ciri semua hal yang ada di dunia ini bersifat ‘selalu berubah’. Ini adalah sesuatu yang pasti. Perubahan selalu terjadi, entah disadari atau tidak, diakui atau tidak. Perubahan itu kemudian lebih lanjut dijabarkan dalam kerangka buddhisme sebagai tilakkhana (tiga corak umum). Tiga corak umum mempunyai arti bahwa tiga hal tersebut pasti dan selalu berlaku, yakni ketidakkekalan (anicca), penderitaan atau ketidakpuasan (dukkha), dan tidak ada diri/sesuatu yang tetap (anatta). Ketiganya tak lain mewakili realitas dunia yang selalu berubah.
Jadi dukkha sebenarnya adalah cara pandang manusia terhadap perubahan itu. Dukkha adalah penderitaan atau ketidakpuasan karena manusia tidak bisa hidup kekal (anicca). Konsep perubahan diwujudkan dari 3 sisi pandang yaitu:
  1. Bagi alam atau benda mati dikatakan sebagai anicca (tidak kekal)
  2. Bagi cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri dikatakan sebagai dukkha (menderita karena merasakan perubahan)
  3. Bagi manusia atau mahkluk hidup dikatakan sebagai anatta (tidak ada diri yang tetap abadi tanpa perubahan atau roh/jiwa yang kekal tanpa perubahan)
Jadi dukkha di sini menjadi jelas jika memandangnya dari sudut manusia terhadap diri sendiri dan itu berarti dukkha lebih tepat dikatakan sebagai penderitaan karena cara pandang yang salah terhadap kenyataan. Dengan kata lain dukkha terjadi karena manusia masih bersifat subjektif dalam memandang realitas segala sesuatu, yaitu perubahan.


Kebenaran Mulia tentang Penyebab Penderitaan

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa perasaan tidak puas karena kehilangan atau perubahan itulah yang dinamakan dukkha. Dengan pemahaman terhadap penderitaan (dukkha) seperti itu, kita dapat melihat bahwa penderitaan tersebut diakibatkan oleh ‘perasaan tidak puas’. Di dalam konteks buddhis, dinamakan tanha. Tanha adalah nafsu keinginan yang melekat. Melekat artinya jika tidak mendapatkan, maka akan menderita. Kita perlu memahami dengan jelas keinginan biasa dan keinginan yang melekat. Contohnya adalah seorang anak kecil yang ingin mainan. Ia terus ingin dan ingin padahal faktor penunjang untuk mendapatkan mainan tersebut tidak ada. Akhirnya anak tersebut menangis dan ia merasa menderita. Seandainya anak tersebut hanya ingin, namun ia sadar bahwa kenapa orang tuanya tidak membelikannya, keinginannya menjadi hal yang wajar dan tidak melekat. Sama seperti Sang Buddha yang masih ingin makan, namun tidak melekat pada makanan. Sang Buddha tidak menderita ketika tidak mendapat makanan, namun bukan berarti Sang Buddha tidak ingin makan. Seandainya Sang Buddha tidak ingin makan, maka proses makan tidak akan ada dan akan merugikan dirinya sendiri.
Akar dari keinginan yang melekat adalah ketidaktahuan (avijja). Ketidaktahuan (avijja) adalah ketidaksadaran pada suatu momen (saat ini) akan realitas dunia ini yang selalu berubah. Contohnya adalah anak kecil yang ingin mainan tersebut. Seandainya anak kecil tersebut mengerti bahwa keinginannya hanya sesaat dan belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa mainan tersebut lama-kelamaan akan membuatnya bosan juga, ia akan terbebas dari keinginan yang melekat. Jadi ketika keinginan datang menghampiri, kita harus hati-hati untuk tidak  terikat kepadanya. Pikiran dan renungkan dengan bijak apakah keinginan tersebut betul-betul kita butuhkan atau hanya untuk memuaskan keserakahan kita.

Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Penderitaan

Di dalam sammaditthi sutta[8] dikatakan berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu keinginan. Jadi Sang Buddha mengajarkan bahwa keinginan berlebihan yang melekat dapat dihilangkan dari pikiran kita. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.
Nibbana sebagai kedamaian atau kebahagiaan sejati adalah ketika penderitaan lenyap, ketika akar penderitaan yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) telah lenyap. Itulah Nibbana, kebahagiaan sejati yang saat ini dapat kita alami karena sifat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin dapat kita hancurkan saat ini juga dengan ketidakserakahan atau ketidakmelekatan (berdana), ketidakbencian atau cinta kasih dan welas asih, serta dengan kebijaksanaan sejati.
Sang Buddha mengatakan bahwa beliau hanyalah seorang penunjuk jalan menuju kebahagiaan sejati (nibbana). Beliau mengajarkan bagaimana melatih diri untuk mengendalikan sifat-sifat negatif. Buddha tidak bisa membawa sesorang ke Nibbana karena nibbana hanyalah sebuah kondisi batin (pikiran, perasaan) yang berbeda pada setiap orang. Yang dapat membuat diri kita mengalami nibbana (kebahagiaan sejati) adalah diri sendiri dengan melatih seperti yang diajarkan beliau yakni Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jadi berhentinya penderitaan (dukkha) sama artinya dengan tercapainya nibbana.

Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan

Sang Buddha memberikan gambaran akan realitas kehidupan, yakni ketidakpuasan atau penderitaan, penyebabnya dan setiap orang dapat mencapai kebahagiaan sejati (nibbana) saat ini juga dengan melenyapkan penderitaan (dukkha). Untuk dapat mencapai kebahagiaan sejati, Buddha mengajarkan suatu cara yang dapat dilakukan setiap orang. Cara tersebut dinamakan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Inilah jalan yang akan membawa siapapun kepada kebahagiaan sejati jika telah sempurna dilaksanakan dan telah menjadi bagian dari setiap tindakan yang dilakukan seseorang baik dari agama, ras, suku apa pun juga. Jadi ketika cara pandang seseorang serta tindakannya sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan—baik ia seorang beragama atau tidak—pasti kebahagiaan sejati akan dialaminya.

Kedelapan bagian dari kesatuan jalan yang saling terjalin tersebut adalah pandangan benar, pikiran atau niat benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian atau penghidupan benar, upaya benar, perhatian atau perenungan benar, dan konsentrasi atau kesadaran benar. Kita memandang kedelapannya sebagai satu kesatuan seperti seutas tali yang terjalin yang saling memengaruhi. Kita melihatnya sebagai sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika suatu perbuatan yang dilakukan baik, hal tersebut berarti pikirannya baik. Ketika sebuah ucapan seseorang bermanfaat, berarti pikirannya dipenuhi oleh cinta kasih. Pikirannya benar (positif) karena pandangannya benar. Sehingga kedelapannya adalah satu kesatuan dengan pusat talinya adalah pandangan benar.

Daftar Pustaka
Kitab suci agama buddha. 2004. Majjhima Nikaya 1. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab suci agama buddha. 2005. Majjhima Nikaya 2. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab suci agama buddha. 2006. Majjhima Nikaya 3. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab suci agama buddha. 2002. Petikan Anguttara Nikaya 2. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan DHAMMAGUNA.
Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

http://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca1/index.html

Catatan Kaki
[1] Sutta Pitaka adalah bagian dari Tripitaka (Kitab Suci Agama Buddha)
[2] noda-noda=tiga akar kejahatan yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan atau kebodohan-batin (moha)
[3] Dapat ditemukan di dalam Majjhima Nikaya (MN) 4.31 atau MN 36.42 (dua-duanya persis sama)
[4] MN 141.2
[5] MN 56.18
[6] Sutta adalah ucapan Buddha Gotama yang tertulis di dalam Kitab Suci Tripitaka
[7] Definisi ini dapat ditemukan di dalam Anguttara Nikaya (AN) VI,63 atau MN 9.15 atau MN 28 atau MN 141.1 atau Samyutta Nikaya (SN) 56.11 (semuanya sama persis)
[8] MN 9.17

Sumber: http://willyyandi.wordpress.com/2008/04/12/empat-kebenaran-mulia/ 

Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita

Tanggung Jawab Universal dan Lingkungan Global Kita
Oleh H. H. Dalai Lama
Penerjemah : Rudi Agus Widono
Editor         : Tim AB
©2010 Artikel Buddhis (AB)
Anda dipersilahkan menyalin, merubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apapun, dengan syarat:
(1) Tidak diperjualbelikan;
(2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan
(3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.
Ketika berakhirnya abad ke-20, kita menemukan bahwa dunia telah semakin mengecil. Manusia di dunia telah hampir menjadi satu komunitas. Politik dan Aliansi (Persekutuan) militer telah menciptakan kelompok multinasional yang besar; industri dan perdagangan internasional telah menghasilkan ekonomi global. Komunikasi di seluruh dunia melenyapkan penghalang jarak, bahasa dan ras. Kita juga terseret bersama oleh masalah besar yang kita hadapi yaitu: kelebihan penduduk, menipisnya sumber daya alam, dan krisis lingkungan yang mengancam udara, air, dan pepohonan, serta begitu banyak bentuk kehidupan yang indah yang menjadi pondasi penting keberadaan planet kecil yang kita tinggali bersama ini.
Saya percaya bahwa untuk menghadapi tantangan di zaman kita ini, umat manusia harus membentuk rasa tanggung jawab universal yang lebih kuat. Masing-masing kita harus belajar untuk bekerja  tidak hanya untuk dirinya, keluarga atau bangsanya sendiri, tetapi juga demi kepentingan seluruh umat manusia. Tanggung jawab universal adalah kunci nyata menuju kelangsungan hidup manusia. Ini merupakan pondasi/dasar terbaik untuk kedamaian dunia, penggunaan sumber daya alam yang wajar, dan dengan memperhatikan generasi mendatang, kepedulian terhadap lingkungan.
Itulah mengapa begitu melegakan melihat organisasi-organisasi non-pemerintah seperti kalian. Peran kalian dalam mengasah masa depan yang lebih baik sangat diperlukan. Saya telah melewati banyak organisasi seperti itu yang dibentuk oleh sukarelawan berdedikasi yang memiliki kepedulian yang tulus bagi sesama umat manusia. Komitmen seperti ini menggambarkan “garis depan” proses sosial dan lingkungan.
Terserah kita suka atau tidak, kita telah dilahirkan di dunia ini sebagai bagian dari satu keluarga besar. Kaya atau miskin, berpendidikan atau terbelakang, menjadi milik suatu bangsa, agama, ideologi atau yang lainnya, pada akhirnya masing-masing dari kita hanyalah seorang manusia biasa seperti yang lainnya. Kita semua menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Lagi pula, masing-masing dari kita memiliki hak yang sama untuk mengejar kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Saat anda menyadari semua makhluk adalah sama dalam hal ini, anda akan otomatis merasakan empati dan kedekatan pada mereka. Di luar ini semua, pada gilirannya, muncul rasa tanggung jawab universal sejati, yaitu keinginan untuk secara aktif membantu sesama melewati semua masalah mereka.
Kebutuhan akan rasa tanggung jawab universal muncul di setiap aspek kehidupan modern. Pada masa kini, suatu kejadian yang signifikan (penting) di satu sisi bagian dunia akhirnya memengaruhi seluruh planet. Oleh karena itu, kita harus memperlakukan setiap masalah besar yang bersifat lokal sebagai urusan global, dari saat masalah tersebut dimulai. Kita tidak bisa lagi meminta dinding pembatas nasional, rasial (berdasarkan cirri-ciri fisik, ras, bangsa, suku bangsa, dsb) dan ideologi yang memisahkan kita tanpa reaksi yang merusak. Dalam konteks rasa saling ketergantungan kita yang baru ini, mengingat ketertarikan kita kepada yang lain adalah jelas –jelas merupakan bentuk terbaik dari kepentingan pribadi (self – interest).
Kita perlu menghargai rasa saling ketergantungan akan alam jauh lebih dari yang pernah kita lakukan pada masa lalu. Kekelirutahuan (Ketidaktahuan) kita akan hal ini adalah tanggung jawab secara langsung pada banyak masalah yang kita hadapi sekarang. Contohnya, “menyadap” sumber daya alam yang terbatas di bumi kita — terutama di negara-negara berkembang — hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, adalah bencana. Jika ini berlanjut tanpa perbaikan, pada akhirnya kita semua akan menderita. Kita harus menghormati keseimbangan hidup dan memberinya kesempatan memperbaiki dirinya sendiri.
Ketidaktahuan (Kekelirutahuan) akan sifat yang saling bergantung ini tidak hanya akan merugikan lingkungan alam, tapi juga kehidupan sosial manusia. Bukannya saling menjaga satu sama lain, kita malah banyak menempatkan hasrat kita akan kebahagiaan dengan mengejar materi untuk kepentingan pribadi. Kita menjadi begitu terpikat dalam pengejaran ini hingga tanpa menyadarinya, kita telah lalai mengembangkan kebutuhan paling dasar manusia akan cinta, kebaikan dan kebersamaan. Ini betul-betul menyedihkan. Kita harus mengingat apa  sebenarnya kita sebagai manusia. Kita bukanlah benda-benda yang dibuat oleh mesin. Bagaimanapun, karena kita bukanlah makhluk materi semata, merupakan kesalahan untuk mencari pemuasan  eksternal saja.
Untuk mencapai pertumbuhan yang tepat, kita perlu memperbarui komitmen kita pada nilai-nilai manusia dalam banyak bidang. Kehidupan politik, tentu saja, membutuhkan etika sebagai pondasi, tapi ilmu pengetahuan dan agama, juga sebaiknya, harus dikejar dengan moral sebagai dasarnya. Tanpanya para ilmuwan tidak bisa membedakan antara teknologi yang menguntungkan dan yang memang bermanfaat. Kerusakan lingkungan di sekitar kita adalah hasil yang paling jelas dari kebingungan ini. Dalam hal agama, tentu saja moral diperlukan.
Tujuan suatu agama adalah tidak untuk membuat bangunan yang indah, tapi untuk menumbuhkan kualitas positif manusia seperti toleransi, kemurahan hati dan kasih sayang. Setiap agama di dunia, tidak peduli apa filosofi yang dimilikinya, didirikan pertama kali dan yang terutama atas aturan bahwa kita harus mengurangi keegoisan kita dan melayani sesama. Sayangnya, terkadang dalam nama agama, orang mengakibatkan lebih banyak perselisihan daripada pemecahan masalah. Para praktisi dengan keyakinan yang berbeda harus menyadari bahwa setiap tradisi agama memiliki nilai hakiki yang besar yang dimaksudkan untuk mendukung kesehatan mental dan spiritual.
Saya telah sangat berbesar hati  mengikuti perkembangan terakhir dalam pencarian perdamaian antara warga Israel dan Palestina. Gencatan senjata kedua pihak, dan berbicara secara langsung adalah, pendapat saya, satu-satunya cara untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi. Kita harus belajar hidup bersama dalam jalan tanpa kekerasan yang dapat memelihara kebebasan semua orang.
Ada sebuah syair luar biasa dalam Alkitab tentang mengubah pedang menjadi mata bajak. Itu sebuah gambaran yang indah, sebuah senjata berubah menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, simbolis suatu sikap perlucutan senjata dalam dan luar. Dalam semangat pesan kuno ini, Saya pikir penting bagi kita untuk menekankan sebuah kebijakan mendesak yang telah lama tertunda penghapusan militer di seluruh dunia. Penghapusan militer akan membebaskan sumber daya manusia dalam jumlah besar yang dapat dipakai untuk melindungi lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan keberlangsungan pembangunan manusia.
Saya selalu memimpikan masa depan negara Saya, Tibet, jika didirikan dengan dasar ini. Tibet akan menjadi tempat berlindung bebas militer yang netral, tempat dilarangnya keberadaan senjata dan manusia hidup dalam harmoni dengan alam. Saya menyebutnya Daerah Ahimsa atau tanpa kekerasan. Ini bukan mimpi semata – ini betul-betul cara hidup yang  diambil penduduk Tibet selama ribuan tahun lebih sebelum negara kami diserbu. Di Tibet, kehidupan liar dilindungi mengikuti prinsip Buddhis. Kami membuat peraturan perlindungan lingkungan, tapi lingkungan terlindungi lebih karena paham yang ditanamkan sejak masih kanak – kanak.
Saya akan menutupnya dengan mengucapkan bahwa Saya merasa optimis tentang masa depan. Ada sejumlah tren baru-baru ini yang menunjukkan potensi kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Perubahan yang terjadi secara bertahap dalam sikap kita terhadap bumi ini adalah sumber harapan. Seperti baru saja sekitar satu dekade lalu, tanpa pikir panjang kita menelan sumber daya alam di dunia seakan-akan sumber daya tersebut tidak terbatas. Kita gagal menyadari bahwa konsumsi tanpa pengendalian adalah bencana bagi kedua lingkungan dan kesejahteraan sosial. Sekarang, kedua individu dan pemerintah sedang mencari sistem baru yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Memang benar bahwa hingga akhir tahun 1980-an, banyak orang percaya bahwa perang merupakan suatu keadaan yang tak terelakan oleh umat manusia. Pandangan yang muncul saat itu adalah bahwa orang-orang dengan minat/kepentingan yang bertentangan hanya bisa berhadapan satu sama lain (ctt: bisa jadi berperang). Namun, pandangan ini telah berkurang. Saat ini seluruh dunia lebih berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai, sebagai buktinya ada disini, di kawasan Timur Tengah. Ini merupakan perkembangan yang positif disamping mengherankan.
Setelah selama berabad-abad percaya bahwa suatu masyarakat hanya bisa diatur dengan sikap disiplin yang keras dan kaku, Manusia di seluruh penjuru dunia telah menyadari nilai positif dari suatu demokrasi. Berbicara dari hati mereka, mereka telah menunjukkan bahwa keinginan kuat akan kebebasan dan kebenaran serta demokrasi tumbuh dari sebuah bibit yaitu sifat dasar manusia. Kejadian yang belum lama ini terjadi di dunia telah membuktikan ekspresi kebenaran sederhana, yaitu sebuah kekuatan dahsyat dalam pikiran manusia, dan sebagai hasilnya, ia membentuk sejarah.
Salah satu pelajaran terbesar untuk kita semua adalah perubahan penuh kedamaian di bagian timur Eropa. Pada zaman dahulu, orang yang tertindas selalu mengambil jalan kekerasan dalam perjuangannya mendapatkan kebebasan. Sekarang, revolusi penuh damai tersebut, mengikuti jejak kaki Gandhi dan Martin Luther King, telah memberikan kepada generasi penerus mereka contoh luar biasa, perubahan tanpa kekerasan. Ketika, di masa depan, terjadi peningkatan kebutuhan untuk mengubah masyarakat, anak cucu kita bisa melihat kembali ke tahun 1989 sebagai paradigma perjuangan demi kedamaian: kisah nyata kesuksesan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, melibatkan lebih dari setengah lusin negara dan ratusan juta orang.
Sementara itu, telah tumbuh kewaspadaan tentang hak asasi manusia. Cara kasar tidak akan pernah menundukkan hasrat mendasar manusia akan kebebasan, kebenaran dan demokrasi, yang merupakan hak fundamental kita. Orang sudah tentu tidak suka seseorang atau sebuah sistem yang mengganggu, curang dan memiliki kebohongan. Segala perbuatan ini bertolak belakang dengan jiwa manusia.
Semua tanda-tanda menggembirakan ini mencerminkan sebuah penghargaan baru bagi nilai-nilai dasar manusia. Karena pelajaran yang telah mulai kita ambil, abad berikutnya akan lebih bersahabat, lebih rukun, dan tanpa ancaman. Belas kasihan, bibit kedamaian, akan mampu tumbuh dengan subur. Di waktu yang sama, Saya percaya semua individu memiliki tanggung jawab yang sama untuk membantu memandu keluarga besar kita ke arah yang benar. Keinginan baik saja tidak cukup, masing-masing kita harus memikul tanggung jawab tersebut.
Saya berharap dan berdoa di hari-hari berikutnya,  masing-masing dari kita akan melakukan semua yang kita bisa untuk melihat bahwa cita-cita menciptakan dunia yang lebih menyenangkan, lebih rukun dan sehat akan tercapai.
[dari: Tibetan Bulletin (Maret- April 1994]
[ini adalah pesan yang alamatnya ditujukan kepada Society for the Protection of Nature, Israel, pada Maret 22, 1994]

 ==================================================

Universal Responsibility and Our Global Environment
by H. H. the Dalai Lama

As the twentieth century draws to a close, we find that the world has grown smaller. The world’s people have become almost one community. Political and military alliances have created large multinational groups; industry and international trade have produced a global economy. Worldwide communications are eliminating ancient barriers of distance, language and race. We are also being drawn together by the grave problems we face: overpopulation, dwindling natural resources, and an environmental crisis that threatens our air, water, and trees, along with the vast number of beautiful life forms that are the very foundation of existence on this small planet we share.
I believe that to meet the challenge of our times, human beings will have to develop a greater sense of universal responsibility. Each of us must learn to work not just for his or her own self, family or nation, but for the benefit of all mankind. Universal responsibility is the real key to human survival. It is the best foundation for world peace, the equitable use of natural resources and, through concern for future generations, the proper care of the environment.
That is why it is so heartening to see such non-governmental organisations as yours. Your role in forging a better future is absolutely essential. I have come across many such orgaisations built by dedicated volunteers out of genuine concern for their fellow human beings. Such commitment represents the forefront of both social and environmental progress.
Whether we like it or not, we have all been born on this earth as part of one great family. Rich or poor, educated or uneducated, belonging to one nation, religion, ideology or another, ultimately each of us is just a human being like everyone else. We all desire happiness and do not want suffering. Furthermore, each of us has the same right to pursue happiness and avoid suffering. When you recognise that all beings are equal in this respect, you automatically feel empathy and closeness for them. Out of this, in turn, comes a genuine sense of universal responsibility — the wish to actively help others overcome their problems.
The need for a sense of universal responsibility is present in every aspect of modern life. Nowadays, significant events in one part of the world eventually affect the entire planet. Therefore, we have to treat each major local problem as a global concern from the moment it begins. We can no longer invoke the national, racial or ideological barriers that separate us without destructive repercussions. In the context of our new interdependence, considering the interest of others is clearly the best form of self-interest.
We need to appreciate interdependence in nature far more than we have in the past. Our ignorance of it is directly reponsible for many of the problems we face. For instance, tapping the limited resources of our world — particularly those of the developing nations — simply to fuel consumerism, is disastrous. If it continues unchecked, eventually we will all suffer. We must respect the delicate balance of life and allow it to replenish itself.
Ignorance of interdependence has not only harmed the natural environment, but human society as well. Instead of caring for one another, we place most of our efforts for happiness in pursuing individual material consumption. We have become so engrossed in this pursuit that, without knowing it, we have neglected to foster the most basic human needs of love, kindness and cooperation. This is very sad. We have to consider what we human beings really are. We are not machine-made objects. However, since we are not solely material creatures, it is a mistake to seek fulfillment in external development alone.
To pursue growth properly, we need to renew our commitment to human values in many fields. Political life, of course, requires an ethical foundation, but science and religion, as well, should be pursued from a moral basis. Without it scientists cannot distinguish between beneficial technologies and those which are merely expedient. The environmental damage surrounding us is the most obvious result of this confusion. In the case of religion, it is particularly necessary.
The purpose of religion is not to construct beautiful buildings, but to cultivate positive human qualities such as tolerance, generosity and love. Every world religion, no matter what its philosophical view, is founded first and foremost on the precept that we must reduce our selfishness and serve others. Unfortunately, sometimes in the name of religion, people cause more quarrels than they solve. Practitioners of different faiths should realise that each religious tradition has immense intrinsic value as a means for providing mental and spiritual health.
I have been extremely heartened to follow the recent developments in the search for peace between Israelis and Palestinians. Laying down guns on both sides, and talking face-to-face is, in my opinion, the only way to resolve such disputes. We must learn to live together in a nonviolent way that nurtures the freedom of all people.
There is a wonderful verse in the Bible about turning swords into ploughshares. It is a lovely image, a weapon transformed into a tool to serve basic human needs, symbolic of an attitude of inner and outer disarmament. In the spirit of this ancient message, I think it is important that we stress today the urgency of a policy that is long overdue — the demilitarisation of the entire planet. Demilitarisation would free great human resources for protection of the environment, relief of poverty, and sustainable human development.
I have always envisioned the future of my own country, Tibet, as founded on this basis. Tibet will be a neutral, demilitarised sanctuary where weapons are forbidden and the people live in harmony with nature. I have called this a Zone of Ahimsa or non-violence. This is not merely a dream — it is precisely the way Tibetans tried to live for over a thousand years before our country was tragically invaded. In Tibet, wildlife was protected in accordance with Buddhist principles. We enacted decrees to protect the environment, but it was mainly protected by the beliefs which were installed in use as children.
I would like to conclude by stating that I feel optimistic about the future. There are a number of recent trends which show our potential for achieving a better world. The rapid changes in our attitude towards the earth are a source of hope. As recently as a decade ago, we thoughtlessly devoured the resources of the world as if there was no end to them. We failed to realise that unchecked consumerism was disastrous for both the environment and social welfare. Now, both individuals and governments are seeking a new ecological and economic order.
It is true to say that as late as the 1980s people believed that war was an inevitable condition of mankind. The notion prevailed that people with conflicting interests could only confront each other. This view has deminished. Today people all over the globe are more committed to peaceful co-existence, as is evident here in the Middle East. This is an astonishingly positive development.
After believing for centuries that human society could only be governed with rigid authoritarian discipline, people in all corners of the world have woken up to the virtues of democracy. Speaking from their hearts, they have shown that the desire for freedom and truth and democracy stems from the core of human nature. Recent events have proved that the simple expression of truth is an immense force in the human mind, and as a result, in the shaping of history.
One of the greatest lessons for all of us has been the peaceful change in Eastern Europe. In the past, oppressed people have always resorted to violence in their struggle to be free. Now, these peaceful revolutions, following in the footsteps of Gandhi and Martin Luther King, have given future generations a tremendous example of successful, nonviolent change. When, in the future, the need arises to change society, our descendents can look back to 1989 as a paradigm for peaceful struggle: a real success story on an unprecedented scale, involving more than half a dozen nations and hundreds of millions of people.
Meanwhile, there has been a growth of awareness of human rights. Crude power can never subdue mankind’s basic desire for freedom, truth and democracy, which are our fundamental right. People simply don’t like a person or a system that bullies, cheats and lies. These activities are essentially opposed to the human spirit.
All these encouraging signs reflect a renewed appreciation of the benefits of basic human values. Because of the lessons we have begun to learn, the next century will be friendlier, more harmonious, and less harmful. Compassion, the seeds of peace, will be able to flourish. At the same time, I believe that every individual has a responsibility to help guide our global family in the right direction. Good wishes alone are not enough, we each have to assume responsibility.
I hope and pray that in the days ahead, each of us will do all we can to see that the goal of creating a happier, more harmonious and healthier world is achieved.
[from: Tibetan Bulletin (March-April 1994)
[This is the text of the address delivered to the Society for the Protection of Nature, Israel, on March 22, 1994]

Perdukunan




Perdukunan
Oleh UP. Dharma Mitra (Peter Lim)



Beberapa waktu yang lalu , masyarakat kota Medan disentakkan dari lamunan , yang seakan akan bagaikan mimpi yaitu dengan ditemukannya 42 korban kebiadaban, dukun Ahmad Suraji (AS) alias Nasib Kelewang (Datuk), di dusun I Aman Damai, Desa Sei Semayang Kecamatan Sunggal Deli Serdang. Semua korbannya adalah wanita, yang dijadikan tumbal untuk kesempurnaan ilmu hitam, yang di dalami (dituntut). Jasa praktek perdukunan, sudah merupakan rahasia umum, yang diharapkan bagi segelintir orang orang, yang tidak tahan di dalam menghadapi rintangan rintangan hidup atau tidak memiliki kepercayaan diri, menatap kenyataan kenyataaan yang telah terjadi. Di daerah daerah yang masih terpencil dan jauh dari jangkauan teknologi, praktek perdukunan sangat dominan mempengaruhi pola hidup masyarakat di sekitarnya. Di saat menghindari rintangan hidup, misalnya untuk mendapatkan kesembuhan, meminta hujan, menolak bencana alam atau mendapatkan kesejahteraan hidup, jasa dukun sangatlah diharapkan, apakah memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, itu adalah nomor dua. Yang terpenting, sang dukun telah berusaha, untuk memenuhi apa yang diminta (diinginkan). Kalau praktek perdukunan terjadi di daerah yang terpencil, itu adalah hal yang sangat lumrah dan umum dijumpai serta rasanya, tidaklah perlu diherankan lagi, karena kondisi masyarakatnya masih lugu, polos dan taraf pendidikannya, masih sangat minim. Tetapi di era teknologi yang serba canggih ini, terutama sekali di perkotaan, ternyata praktek perdukunan, juga tidak mengalami penurunan dalam hal “omzet : pemasukan“, dan tidak sedikit yang dijumpai, baik yang datang secara terang terangan maupun sembunyi sembunyian. Dengan terungkapnya kasus Dukun Ahmad Suraji ( AS), yang telah membantai 42 orang korbannya dengan sadis, nampaklah dengan jelas bahwa praktek perdukunan, sesungguhnya lebih banyak dampak negatifnya, daripada yang diharapkan. Kasus korban dukun Ahmad Suraji (AS), bisa saja hanya merupakan satu, diantara sekian banyak kasus korban, yang dirugikan oleh praktek perdukunan, yang telah berhasil diketemukan (dibongkar) oleh aparat keamanan. Seperti yang telah diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya, seseorang menggunakan jasa perdukunan adalah:
  1. Kurangnya rasa percaya diri, dalam arti kata, tidak memiliki suatu keyakinan bahwa dia mampu, untuk menyelesaikan problema problema yang sedang atau yang telah terjadi.
  2. Tidak sabar dan ingin secepatnya meraih atau menyelesaikan, apa yang diharapkan.
  3. Tidak yakin akan adanya hukum karma, bahwa setiap makhluk pasti akan memiliki, mewaisi dan terlindung oleh perbuatannya masing masing.
Selanjutnya, faktor faktor lain yang menjadi penyebab, sampai terjeremusnya seseorang menggunakan jasa perdukunan, pada umumnya adalah :
  1. MASALAH PERJODOHAN
    Hingga saat ini, masih terdapat anggapan keliru yang menyatakan bahwa hidup berdampingan alias sampai berumah tangga adalah hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan adanya anggapan yang keliru ini, bagi yang masih lajang / gadis, akan berusaha untuk mendapatkan pasangan yang didambakan, baik secara halus maupun kasar. Yang halus misalnya dengan menggunakan jasa dukun, yang salah satu wujudnya adalah dengan cara memasang “pemanis” untuk memikat yg diinginkan. Sedangkan cara yang kasar adalah dengan menculik atau menggunakan kekerasan lainnya. Ada juga pameo yang mengatakan jika “ cinta ditolak maka dukun pun bertindak ” Di dalam sabdanya, Sang Buddha menyabdakan, bahwa kebahagiaan bisa diraih, selain melalui jalur berumah tangga juga “non” berumah tangga, misalnya menjadi anggota Sangha (Bhikkhu / ni). Hidup berpasangan yang katanya “setia sehidup semati” , tidaklah bertentangan dengan Buddha Dharma, sejauh diraih dengan jalur yang benar dan tidak dengan cara cara yang kurang terpuji alias pemaksaan, misalnya melalui jasa perdukunan. Di media massa, hampir setiap hari bisa dijumpai berita berita perceraian, yang pada umumnya terjadi setelah beranak satu atau dua. Mengapa perihal ini sampai terjadi……? Ini merupakan salah bukti yang nyata bahwa jalur percintaan yang diawali dengan ketulusan hingga ke pelaminan, tidaklah menjamin kebahagiaan hingga ke anak cucu dan apalagi jika diraih dengan cara yang tidak benar, misalnya melalui jasa perdukunan (pemakaian “susuk “, ” pemanis ” atau ” guna – guna “) Kalau demikian halnya, untuk apakah hidup berdampingan jika kebahagiaan jauh keberadaannya…? Bukankah setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan…? Bagi pasangan yang mendambakan kebahagiaan yang sesungguhnya, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat empat syarat yang harus dipenuhi.
    Pertama : milikilah samma saddha : keyakinan yang sama ” Jika:
    1. Yakin bahwa setiap perbuatan (baik /jahat), pasti akan berdampak negatif maupun positif bagi si pembuat.
    2. Yakin bahwa ketidak kekalan, pasti akan dialami oleh setiap makhluk.
    3. Yakin bahwa kebahagiaan maupun penderitaan, sumber utamanya adalah diri sendiri .
    4. Yakin bahwa Triratna (Buddha, Dhamma dan Sangha) adalah tiga permata mulia, yang merupakan acuan, untuk mencapai pantai seberang NIBBANA/ NIRWANA dan seterusnya… maka milikilah pasangan yang demikian, agar jalur kehidupan yang dilalui, tidak saling bertentangan.
    Kedua : milikilah “ samma sila : moral yang sama baik“. Kalau pada dasarnya, kita memiliki sifat yang selalu berusaha, untuk menghindari pembunuhan, pencurian, perzinahan, pendustaan dan memakan/ meminum yang menyebabkan, hilangnya kesadaran (bermabuk-mabukkan), maka carilah pasangan yang penuh dengan cinta kasih, jujur, setia,lemah lembut tutur katanya dan senantiasa mawas diri.
    Ketiga : milikilah ” samma caga : keluhuran budi yang sama“. Di kala kita berkenan melepaskan beban derita makhluk lain, hendaknya dia pun menyokong niat mulia ini. Dikala kita beraktivitas sosial, hendaknya dia pun ikut berpartisipasi dan seterusnya.
    Keempat : milikilah “ samma panna : kebijaksanaan yang sama “. Di dalam tutur kata dan tindakan, hendaknya sama sama tidak merugikan, pihak manapun juga.
    Dengan dimilikinya ke empat (berkeyakinan, bermoral, berkeluhuran budi dan berkebijaksanaan yang sama) persamaan ini, maka pasangan (jodoh) yang dijumpai adalah yang abadi, di kehidupan ini maupun mendatang akan senantiasa bersama. Apakah dalam hal ini, jasa perdukunan masih dibutuhkan…?
  2. Masalah Materi
    Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di era yang serba materialistis ini, semua kedudukan dan ada kalanya kehormatan seseorang, ditakar atau diukur dari jumlah meteri yang dimiliki. Tetapi apakah materi yang berlimpah ruah, akan menjamin kebahagiaan bagi si pemilik……? Fakta telah membuktikan bahwa sejumlah hartawan yang hartanya ada dimana-mana , hidupnya berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan, misalnya ketakutan, stress dan bahkan ada yang melakukan bunuh diri agar terlepas dari cengkraman problema problema kehidupan ini. Bagi yang berpengertian benar, harta materi hanya dimanfaatkan sebatas sarana, untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik bagi diri sendiri maupun makhluk lain yang membutuhkan uluran tangannya. Materi yang diraih dengan jalur yang benar, penuh dengan semangat dan kesabaran serta tanpa menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain, juga merupakan salah satu modal awal, untuk dinikmatinya dengan penuh kebahagiaan. Oleh Sang Buddha ditekankan bahwa kelebihan materi yang berhasil diraih juga bisa dijadikan motivasi awal, untuk meraih kebahagiaan apabila diperoleh dengan cara yang benar serta tidak melanggar kesilaan. Akan adakah manfaatnya, jika kelebihan materi yang berlimpah ruah ini, mengisi kehidupan dengan segala perasaan yang tidak menentu, misalnya: “ was was, takut, kecewa dan cemas“? Dan dapatkah dalam hal ini jasa pedukunan membuat orang menjadi kaya bagaikan mie yang serba “ instant : segera “….? Kalau dapat, mengapa realitanya para dukun, kebanyakan dijumpai masih berada dalam kondisi melarat (miskin), sedangkan disisi yang sebaliknya, kelebihan materi adalah dambaan setiap orang….? Adakah dukun yang mengharamkan kekayaan materi bagi dirinya ….? Bukankah ini suatu hal yang cukup ironis….? Sesuai dengan konsep hukum karma yang diajarkan oleh Sang Buddha, sesuai dengan apa yang ditanam maka itulah yang akan dipetik. Jika jagung yang ditanam maka jagung pulalah yang akan dipanen dan tidaklah mungkin tomat dan sebaliknya. Dan jika sering berdana dalam bentuk materi maka akan terlimpahi dengan kelebihan – kelebihan meteri. Mengapa pula harus gelisah dan takut, untuk menghadapi masa mendatang, bukankah kitalah penentuannya….? Ingin kaya, maka rutinlah berdana dalam bentuk materi !, itulah satu satunya cara yg terlogis, yang seharusnya diterapkan agar terbebas dari dampak negatif yg tidak diharapkan.
  3. Masalah Penyakit
    Yang namanya makhluk hidup adalah ladang yang tersubur, untuk diserang oleh bibit bibit penyakit. Kalau berdasarkan “ diagnosa ” dokter disimpulkan bahwa kita menderita sakit A, B atau C, maka alangkah bijaksananya, sesegera mungkin membeli obat – obatan yang telah diresepkan . Tetapi pada kenyataannya, masih ada juga yang telah berobat ke dokter, masih menjumpai dukun untuk memohon penyembuhan. Alhasil apa yang didapatnya….? Umumnya adalah kekecewaan dan diluar dari yang dikehendaki.
    Di alam pemikiran yang logis, apakah mungkin dengan hanya mengumandangkan sejumlah kalimat, yang menurut empunya memiliki kekuatan gaib dan ampuh, serta bisa menyembuhkan beragam penyakit..? Kalau benar adanya, ngapain lagi seseorang mengikuti kuliah yang lamanya, bisa saja puluhan tahun, untuk mengambil spesialis ini dan itu…? Sering dijumpai, kasus yang seharusnya bisa diselamat,eeeeh akhirnya menjadi tamat (mati) karena tidak meyakini, akan hasil diagnosa dokter. Dibawah ini terdapat sebuah kisah nyata, yang pernah terjadi pada seorang usahawan yang cukup sukses. Suatu hari, usahawan tersebut mengeluh kesakitan, di sekitar sebelah kiri dadanya bagaikan ditusuk jarum halus. Setelah di diagnosa oleh seorang dokter spesialis jantung (cardiologist) maka disimpulkan bahwa dia menderita “angina pectoris: penyumbatan pembuluh darah jantung ” dan disarankan agar sesegera mungkin, menjalani “ coronary bypass : operasi jantung ” dan jika tidak, maka kemungkinan hidup hanya 50 % saja. Usahawan yang termasuk kaum “behave : beruang ” ini, , bukannya mengikuti nasehat dokter, malahan mencari dukun. Setelah dikonsultasikan dengan Sang dukun maka disimpulkan bahwa bedah jantung tidaklah diperlukan dan semua keluhan yang dirasakan, tidak lain penyebab utamanya adalah gangguan dari makhluk halus. Setelah dijampi jampi dengan sejumlah kalimat yang sukar sekali dimengerti, si usahawan dinyatakan sembuh. Sebulan kemudian, si usahawan diberitakan meninggal mendadak akibat dari penyumbatan di pembuluh darah jantung. Dan masih banyak lagi kisah kisah nyata, yang tidak sepantasnya terjadi, eeeeh malahan terjadi….Siapakah yang bodoh dalam hal ini…….? Sang Buddha kalau sakit tetap makan obat, mengapa kita sebagai siswanya mau dipengaruhi untuk mempercayai sesuatu yang tak seyogyanya diyakini…..? Inilah yang namanya “moha : kebodohan” ! 
  4. Masalah Kegagalan, Kekuasaan dan Masa Depan
    Kegagalan….. siapa sich yang tidak pernah mengalaminya…? Berawal dari belajar merangkak, berjalan dan berlari, rasanya sudah tak terhitung lagi, kita mengalami jatuh bangun…? Demikian juga halnya, dikala ingin meraih juara satu, tetapi kenyataannya, jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Setelah dewasa, begitu berkeinginan memikat si A, ternyata sudah di booking orang (ada yang punya) dan seterusnya. Berdasarkan pada pengalaman ini, haruskah kita mencari jalan pintas, dengan menggunakan jasa perdukunan agar terbebas dari kegagalan…..? Begitu pula halnya dengan kekuasaan, siapapun pasti mendambakannya. Tetapi jika diraih dengan jalur yang tidak benar, akankah bermanfaat..? Bukankah, alangkah nikmatnya hidup ini jika kita selalu disegani daripada ditakuti…? Dan sudah merupakan hukum alamnya bahwa jika kita disegani maka akan menimbulkan rasa enggan dan simpati, dan tiada niat jahat dari pihak manapun juga, untuk mau menyakiti dan apalagi mencederai diri kita. Tetapi jika kita selalu ditakuti oleh orang lain maka konsekwensinya adalah bersiap sedialah 24 jam non-stop, menyewa seorang tukang pukul agar hidup ini bisa berjalan normal dan selamat. Pada umumnya, unsur ketakutan bisa muncul kepermukaan karena adanya perasaan yang tertekan oleh kekuasaan yang otoriter/diktator, tetapi rasa segan/kagum bisa muncul (timbul) karena adanya rasa simpati yang mendalam disertai oleh unsur kelembutan serta keluwesan. Selanjutnya, berbicara mengenai masa depan…apakah perlu dirisaukan…? Sesuai dengan konsep hukum karma bahwa keberadaan atau kondisi yang dimiliki/dirasakan hari ini, tidaklah terlepas daripada timbunan perbuatan perbuatan yang telah diperbuat. Kalau ingin (mengharapkan) kondisi masa depan yang lebih bahagia dan sejahtera maka kuncinya hanya satu yaitu dengan menimbun kebajikan sebanyak banyaknya.
KESIMPULAN :
Praktek perdukunan tidaklah sesuai dengan Konsep Buddhis. Di dalam ” Vinaya : peraturan kebhikkuan ” ditekankan bahwa seorang Bhikkhu yang meramal – ramal masa depan siapapun juga akan dikenakan sanksi. Untuk terhindar dari jeratan prakter perdukunan, marilah kita tingkatkan;
  1. Rasa percaya diri yang kuat Yakinlah selalu bahwa dia bisa mengapa pula aku tidak…?
  2. Memiliki kesabaran dalam segala hal. Oleh bersabarlah baru kita bisa melatih diri dengan baik.
  3. Yakinlah hukum karma dengan sebaik – baiknya jangan mencari perlindungan diluar dirimu dan berlindunglah dengan kekuatan dari karma (perbuatan baik) yang diperbuat.
    Semoga dengan adanya pengertian yang benar, hendaknya kita tidak lagi terjerumus kepandangan- pandangan salah, untuk meraih sesuatu yang diluar logika…. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu- sabbe satta bhavantu sukhitata…sadhu….sadhu……… .sadhu……

Pelindung Sejati



Pelindung Sejati


Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.  (Dhammapada XII, 160)

Pendahuluan

Hari berganti menjadi minggu, menjadi bulan, tahun dan akhirnya milenium baru akan segera tiba. Banyak kemajuan di segala bidang telah dicapai oleh umat manusia. Segala kemajuan itu ditunjuk agar manusia bisa hidup lebih nyaman. Akan tetapi, sebagaimana kenyataan yang selalu terjadi di dunia bahwa segala sesuatu pasti memiliki, paling tidak, dua sisi, seperti sekeping mata uang. Kemajuan memang dapat memberikan dampak positif atas kehidupan seseorang di samping tentu ada pula dampak negatifnya. Akibat kemajuan jaman, banyak orang, dalam hal ini di Indonesia, telah berada di jalan keliru. Mereka telah menyalahgunakan kemudahan yang didapatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mudahnya menemukan obat untuk mengurangi rasa sakit yang serius malahan digunakan untuk memanjakan diri, seperti dalam penggunaan narkotik, misalnya. Begitu pula dengan obat penenang yang mestinya dibuat untuk menolong mereka yang memperoleh kesulitan tertentu, malahan dikonsumsi oleh orang yang seharusnya tidak perlu menggunakannya. Demikian pula dengan maraknya sarana komunikasi serta transportasi, kadang malah disalahgunakan untuk mempermudah mengkoordinir tawuran massal bahkan pengeroyokan pada seseorang yang disangka sebagai ‘dukun santet.’ Masih banyak kejadian memprihatinkan yang dengan mudah dijumpai di sekitar kita. Kondisi yang memprihatinkan ini jelas mengetuk hati banyak fihak untuk dapat menemukan cara pemecahan atas masalah ini.

Oleh karena itu, dalam usaha menyikapi dan memberikan alternatif pemecahan atas gejala masyarakat yang kurang sehat itulah, maka makalah ini disusun. Alternatif pemecahan masalah tersebut didasari atas adanya syair Dhammapada di awal tulisan ini. Pada syair tersebut, tampak jelas bahwa tujuan beragama Buddha adalah untuk memiliki dan meningkatkan kemampuan pengendalian diri. Karena, seseorang memang tidak akan pernah bisa selalu menggantungkan diri dengan fihak lain untuk dapat memperoleh perlindungan sejati menghadapi segala bentuk kesulitan, termasuk menghadapi dampak negatif kemajuan jaman tersebut. Dalam Ajaran Sang Buddha ada tiga pokok dasar prilaku yang penting yaitu kerelaan, kemoralan dan konsentrasi (Anguttara Nikaya IV, 241). Ketiganya tidak bisa dilepaskan satu dari yang lainnya. Ketiganya secara bersama-sama, apabila dilaksanakan, akan membentuk sikap hidup yang baik lahir dan batin. Secara lahiriah, dia akan dapat melaksanakan kebajikan sesuai dengan tuntutan agama maupun harapan masyarakat, secara batiniah dia tidak akan pernah memiliki dua muka (munafik) yaitu memiliki perbedaan sikap dan pikiran ketika di depan ataupun di belakang seseorang. Adapun makna kerelaan adalah latihan untuk mengurangi kemelekatan yang dimulai dengan menghindari kemelekatan terhadap benda-benda yang dimiliki. Dalam latihan ini, seseorang diberikan kesempatan untuk memberikan benda yang sesuai kepada mereka yang membutuhkan, misalnya dalam perayaan ulang tahun teman sampai pada perayaan Kathina. Tujuan dari latihan kerelaan ini adalah agar seseorang dapat memberikan perhatian demi kebahagiaan fihak lain. Inilah hasil tertinggi dari kerelaan. Kemoralan adalah latihan pengendalian diri agar tidak melakukan, paling tidak, lima perbuatan yang tidak baik, yaitu pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan (Anguttara Nikaya III, 203). Tujuan pelaksanaan latihan ini adalah agar seseorang dapat membebaskan diri sendiri dari rasa bersalah, sehingga ia dapat bepergian ke mana saja, tanpa mempunyai rasa takut maupun kurang percaya diri. Sedangkan konsentrasi adalah latihan menyadari segala sesuatu yang sedang dipikirkan sehingga apabila timbul pikiran baik, bisa segara diwujudkan dalam perbuatan, sebaliknya apabila muncul pikiran negatif, maka dapat segera dikendalikan agar tidak memberikan kesempatan menambah karma buruk. Tujuan memiliki kesadaran pada segala gerak-gerik pikiran ini adalah untuk menyelaraskan antara perbuatan dengan pikiran. Melenyapkan kesempatan menjadi orang munafik.

Permasalahan

Landasan seseorang bersikap dan berperilaku, dalam Ajaran Sang Buddha disebutkan karena adanya tiga akar perbuatan yaitu ketamakan, kebencian dan kegelapan batin (Digha Nikaya III, 273). Ketamakan adalah dorongan untuk selalu berusaha mendekatkan diri dengan obyek yang tidak menyenangkan. Kebencian adalah dorongan untuk selalu menjauhkan diri dari obyek yang tidak menyenangkan. Dan timbulnya kedua dorongan itu disebabkan adanya ketidaktahuan akan kenyataan dunia bahwa segala sesuatu pasti berubah. Kita pasti akan berpisah dengan yang kita sayangi dan cintai; sebaliknya, kita tidak akan mampu menghindari dari bertemu dengan segala sesuatu yang kita tidak sukai. Semua itu karena danya proses dalam segala segi kehidupan ini.

Karena lemahnya pengendalian pikiran yang dimiliki, seseorang dalam kehidupan sehari-hari, cenderung akan lebih mudah memuaskan ketiga akar perbuatan itu daripada mengendalikannya. Oleh karena itu, dalam masyarakat sering terdengar pengertian bahwa berbuat baik lebih sulit daripada berbuat jahat. Hal ini juga telah disebutkan dalam Dhammapada XII, 7 yaitu sunguh mudah untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat, tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Untuk mendidik seseorang agar dapat melakukan perbuatan baik, dibutuhkan waktu lama dan perhatian yang terus menerus, sedangkan untuk mengajarkan dia berbuat jahat, tidak perlu waktu lama dan biasanya seseorang langsung mahir meniru maupun melakukan kejahatan.

Dorongan memuaskan secara keliru ketiga akar perbuatan ini akan lebih diperkuat dengan adanya lingkungan yang tidak mendukung. Dalam Dhamma disebutkan bahwa seperti kayu cendana yang dibungkus kertas, maka kertasnya pun akan berbau harum; maka apabila seseorang tinggal di lingkungan yang baik, sikap dan perbuatannya cenderung untuk baik pula; sebaliknya kalau ia tinggal di lingkungan yang tidak baik maka perilakunyapun akan terpengaruh. Hal ini secara jelas disebutkan Manggala Sutta (khotbah Sang Buddha tentang Berkah Utama) bahwa seseorang janganlah bergaul dengan orang yang tidak bijaksana, bergaullah dengan orang bijaksana. Oleh karena itu, salah satu usaha menjadikan diri sendiri sebagai pelindung sejati adalah memiliki kemampuan untuk memilih lingkungan yang baik disamping adanya upaya lain dalam peningkatan moral pada diri seseorang tersebut. Dalam makalah ini akan dibahas tentang kiat meningkatkan kualitas batin agar menjadi benteng kemoralan dalam pergaulan di sepanjang jaman.

Pembahasan

Apabila mengamati kondisi masyarakat dewasa ini, tampaklah bahwa pelanggaran kesusilaan dalam berbagai bentuk kian meningkat frekuensinya. Secara sederhana, pelanggaran kemoralan yang sering terjadi apabila dihubungkan dengan lima pedoman latihan kemoralan yang diberikan oleh Sang Buddha akan seperti tabel di bawah ini :

Nomor Kemoralan Pelanggaran:
1. Tidak membunuh Menyiksa, Membunuh,Tawuran massal, pengeroyokan
2. Tidak melakukan pencurian Mencuri, menjarah, merampok, gendam
3. Tidak melanggar kesusilaan Perkosaan, pelecehan seksual, PIL, WIL
4. Tidak berbohong Penipuan, penggelapan
5. Tidak mabuk-mabukan Narkoba

Berbagai bentuk pelanggaran di atas, jelas sering terjadi bahkan gampang terjadi di sekitar kita. Bahkan mungkin di antara pelakunya justru melibatkan orang yang berhubungan dekat dengan kita. Oleh karena itu, jelaslah bahwa usaha untuk memperbaiki keadaan ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Seluruh anggota masyarakat hendaknya ikut berperan serta melakukannya. Langkah awal usaha ini hendaknya dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Kalau banyak individu yang dapat memperbaiki diri serta mampu mengendalikan diri, maka lingkungan pertamanya, yaitu rumah tangganya akan tenang, tentram dan bahagia. Jika banyak keluarga yang tenang dan bahagia maka masyarakat yang terbentuk oleh banyak keluarga yang tenang dan bahagia maka masyarakat yang terbentuk oleh banyak keluarga bahagia itu akan aman dan tentram. Jika banyak anggota masyarakat yang mampu mengendalikan diri, maka timbullah bangsa yang damai dan bahagia. Sedangkan banyak bangsa yang baik dan damai, maka kedamaian serta keamanan dunia akan menjadi kenyataan. Dengan demikian, sekali lagi, dengan memperbaiki diri sendiri, seseorang akan memberikan bantuan yang besar untuk keamanan dan perdamaian lingkungan maupun dunia.

Dalam usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, ada beberapa hal yang diperlukan. Dimulai dengan mencari dan memiliki kesempatan tinggal di lingkungan yang mendukung. Namun, apabila ada kenyataannya kita tinggal di tempat yang tidak sesuai, maka kita hendaknya berusaha untuk menguatkan mental agar tidak gampang terpengaruh. Ibarat seseorang yang tangannya tidak terluka, tidak akan takut terpengaruh oleh racun yang digenggamnya. Dengan memiliki kualitas mental yang baik, seseorang akan mempunyai benteng yang tangguh, pelindung sejati di manapun ia berada.

Untuk mendapatkan kualitas batin yang baik ini, ada nasehat Sang Buddha yang bisa dilaksanakan. Nasehat ini terdapat dalam Anguttara Nikaya IV, 51 yaitu bahwa seseorang akan dapat meningkatkan kualitas batinnya, apabila ia memiliki :

1. Keyakinan
2. Kemoralan
3. Malu melakukan kejahatan
4. Takut akan akibat kejahatan
5. Banyak mengingat Dhamma dan melaksanakannya
6. Rela membagikan kepada mereka yang membutuhkan
7. Mampu membedakan hal yang berguna dan yang tidak berguna

1. KEYAKINAN
Dalam menjalani kehidupan ini, seseorang hendaknya memilih dan memiliki suatu keyakinan yang sesuai untuk dapat digunakan sebagai dasar perbuatannya. Keyakinan ini dapat berupa ketaatan pada suatu agama atau kepercayaan tertentu atau bisa juga mengikuti petunjuk orang bijaksana yang diseganinya. Perlu keyakinan ini karena didasari pengertian bahwa seseorang memerlukan pengalaman orang yang lain untuk bisa dicontoh dan dikembangkan dalam diri kita masing-masing. Perlunya mempunyai contoh dan pengalaman orang lain adalah karena waktu kehidupan (= usia) manusia sangatlah singkat. Kematian bisa datang setiap saat. Oleh karena itu, dengan mempelajari pengalaman yang baik dari orang lain, seseorang dengan cepat dapat meniru dan mengembangkannya dalam diri sendiri, sehingga akan memperoleh banyak manfaat dari contoh nyata tersebut. Dengan demikian, ia tidak akan menyia-nyiakan kehidupannya. Ia akan segara terbebas dari pengaruh negatif yang ada di sekitarnya.

2. KEMORALAN
Sebagai konsekuensi logis seseorang mengikuti suatu ajaran atau agama, maka ia akan dihadapkan pada kewajiban untuk mengindari kejahatan. Bentuk sederhana penghindaran kejahatan adalah seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu adanya lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan menghindari pembunuhan/penganiayaan, menghindari pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan secara sah, menghindari pelanggaran kesusilaan, menghindari kebohongan serta menghindari mabuk-mabukan atau menggunakan barang-barang yang dapat melemahkan atau bahkan menghilangkan kesadaran. pada mulanya, mungkin hanya sebagian dari kelima latihan ini yang berhasil dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dengan bertambahnya waktu, seseorang akan terbiasa dengan pelaksanaan kelima latihan tersebut. Dengan melaksanakan kelima latihan ini, maka pelanggaran yang telah disebutkan dalam tabel di atas akan dapat dihindari. Dengan demikian, orang yang konsekuen dengan pelaksanaan sila akan terbebas dari rasa bersalah, timbul keyakinan diri dalam pergaulan dan tidak dimusuhi oleh masyarakat sekitarnya.

3. MALU MELAKUKAN KEJAHATAN
Usaha memperbaiki diri, pada tahap awal masih membutuhkan fihak lain untuk mengawasi maupun menegur dan mengkritik. Oleh karena itu, dengan mengikuti suatu keyakinan tertentu serta lingkungan tempat seseorang berada telah mengetahui bahwa ia aktif di lingkungan kepercayaan tertentu, maka orang tersebut akan timbul rasa malu untuk melakukan kejahatan, atau pelanggaran sila. Rasa malu ini, paling tidak, akan menjadi rem yang baik untuk menghindari kesalahan lewat perbuatan maupun ucapan. Dalam Khuddaka Nikaya 409 disebutkan bahwa apabila Anda masih dapat mencela diri sendiri atas suatu hal, janganlah lakukan hal itu. Hanya saja, rasa malu masih belum mampu mengendalikan pikiran seseorang. Hanya dengan memiliki rasa malu, seseorang akan baik di ucapan dan perbuatan, namun belum tentu di pikirannya.

4. TAKUT AKAN AKIBAT KEJAHATAN
Kualitas batin yang lebih baik akan dapat timbul jika seseorang mulai menyadari sebab dan akibat dari sikap serta perbuatannya sendiri. Sikap ini bisa muncul apabila orang tersebut memiliki pengertian bahwa orang yang melakukan kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang yang melakukan kejahatan akan mendapatkan penderitaan. Demikian pula, jika seseorang tidak mau disakiti maka hendaknya ia pun tidak menyakiti makhluk lain. Dalam Samyutta Nikaya I, 36 disebutkan bahwa apabila mencintai dirinya sendiri, seseorang tidak selayaknya melibatkan dirinya dengan kejahatan. Inilah perilaku menghindari kejahatan yang muncul karena kesadarannya sendiri. Sikap batin ini akan menyelaraskan perilaku yang baik dengan batin yang baik pula. Ia menjadi orang yang jujur dan tidak lagi munafik.

5. BANYAK MENGINGAT DHAMMA DAN MELAKSANAKANNYA
Telah memiliki rasa takut akan akibat perbuatannya sendiri memang sudah baik, hanya saja belum cukup. Seseorang perlu menambah pengetahuan keagamaanya dan juga melaksanakannya. Agama bukanlah setumpuk teori kebajikan yang hanya dipercaya saja. Agama adalah ajaran kebajikan yang perlu dilaksanakan dan dibuktikan manfaatnya dalam kehidupan ini. Ajaran yang dapat menyelesaikan permasalahan dan menimbulkan kebahagiaan adalah ajaran yang bermanfaat dan layak diikuti.

Agar memiliki banyak pengetahuan akan kebenaran, maka seseorang hendaknya rajin berkunjung ke tempat ibadah. Untuk para umat Buddha hendaknya rajin ke vihara agar dapat mendengarkan dan berdiskusi Dhamma dengan baik. Kejelasan pengertian Dhamma akan memberikan semangat untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hasil pelaksanaan Dhamma adalah kebahagiaan yang bisa dirasakan sendiri maupun lingkungannya. Dengan hasil pelaksanaan Dhamma, seseorang akan timbul keyakinan yang kuat akan manfaat Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya.

6. RELA MEMBAGIKAN KEPADA MEREKA YANG MEMBUTUHKAN 
Kerelaan adalah merupakan salah satu pokok ajaran Sang Buddha di samping kemoralan dan konsentrasi. Latihan kerelaan diperlukan agar seseorang selalu siap menghadapi kesulitan hidup dalam bentuk apapun juga. Sesungguhnya, problem kehidupan muncul karena adanya ketidakpuasan dalam menerima kenyataan. Pikiran kita sibuk membandingkan jarak antara harapan dan kenyataan. Makin jauh jaraknya, makin terasa penderitaannya. Dengan semangat melatih kerelaan, seseorang akan lebih mudah menerima kenyataan, sebagaimana adanya. Ia akan dapat menjembatani jarak antara harapan dan kenyataan itu. Ia akan mampu mengevaluasi dan menentukan sikap untuk meningkatkan kualitas diri ataukah menunggu waktu agar harapan itu menjadi kenyataan. Kemudian, setelah seseorang bisa menerima kenyataan, barulah ia bisa mengevaluasi penyebab kenyataan tersebut. Apabila merupakan kenyataan manis, cobalah dicari penyebabnya dan kembangkanlah di masa mendatang agar kebahagiaan serupa itu akan terus bisa diperoleh. Sebaliknya, apabila mengalami kenyataan pahit, carilah penyebab penderitaan itu agar di masa depan dapat dihindari kondisi untuk munculnya penderitaan serupa. Dengan demikian, maka hidup kita akan selalu bahagia dan terjauhkan dari segala bentuk kekurangan maupun penderitaan yang sering dijadikan alasan atau kambing hitam untuk melakukan pelanggaran latihan kemoralan.

7. MAMPU MEMBEDAKAN HAL YANG BERGUNA DAN YANG TIDAK BERGUNA
Sebagai persyaratan terakhir untuk perbaikan kualitas diri adalah bahwa seseorang hendaknya memiliki kemampuan untuk membedakan dan memilih hal yang bergunda dari hal yang tidak berguna. Kemampuan ini bida diperoleh dari pengalaman mencoba seseorang dengan pkiran jernih akan dapat menjalani kehidupan yang baik. Ia tidak akan gampang tergoyahkan oleh segala bentuk gangguan negatif yang ada di sekitarnya. Ia akan memiliki percaya diri untuk menentukan sikap tanpa harus takut dengan ancaman dari luar. Ia akan menjadikan dirinya sebagai pelindung sejati atas dirinya sendiri. Kebahagiaan akan menjadi hasil dari kebijaksanaannya menentukan langkah hidupnya.

Penutup

Dari penjelasan di atas, tampaklah bahwa sesungguhnya diri kita sendirilah yang menjadi penentu suka dan duka kehidupan kita sendiri. Apabila kita mampu mengendalikan dan meningkatkan kualitas diri maka kebahagiaan akan dapat didapatkan. Kebahagiaan karena memiliki kehidupan yang sehat lahir dan batin, terbebas dari perilaku yang menyimpang dari aturan-aturan kemoralan.



Pernah disampaikan dalam Seminar Demoralisasi dalam Keluarga di Millennium III, pada tanggal 16 Januari 2000 di Semarang. ]

TELAAH MUSIBAH

 
TELAAH MUSIBAH
Oleh Dr. K. Sri Dhammananda Maha Nayaka Thera
 
 
Pembabar adalah bhikkhu asal Sri Lanka yang menjadi Ketua Sangha Malaysia dan Singapura. Artikel ini dituliskan berdasarkan ceramah yang disampaikan dalam “Dewan Berkah Dharma untuk Korban Tsunami”, di Stadium Negara, Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 15 Januari 2005. Sumber: The Buddhist Channel, 24 Februari 2005. Judul asal: The Anatomy of Disaster. Penerjemah: Suheryati, Palembang. Penyunting: Handaka Vijjananda, Yangon. Pelansir: Ehipassiko Foundation.


 
Prahara tsunami yang melanda negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia pada Desember tahun lalu telah mempertontonkan kedahsyatan kekuatan alam dengan berbagai cara. Banyak orang mempertanyakan penyebab terjadinya bencana semacam itu; apakah ini suatu pertanda “murka Tuhan” untuk menghukum umat manusia atas segala kesalahan yang diperbuat di bumi?
 
Sebelum kita melangkah dan membuat asumsi-asumsi bahwa beberapa kekuatan eksternal adalah penyebab kerusakan besar-besaran seperti itu, terlebih dahulu kita harus belajar memahami sifat hakiki keberadaan, khususnya keberadaan manusia.
 
Kata “manusia” diturunkan dari kata Sanskerta “manussa” yang berarti ‘manusia’. Kata “manussa” berasal dari “mana” yang berarti ‘pikiran’. Di antara segenap alam kehidupan, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berkesempatan untuk menjadi Buddha. Manusia mempunyai kesempatan ini karena mereka memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan untuk mempertanyakan keberadaan mereka, bagaimana dan mengapa mereka terlahirkan di dunia ini, dan tentang arti kehidupan itu sendiri.
 
Melalui pengerahan kecerdasan seperti itu, manusia mampu mengembangkan pengetahuan mendalam tentang sifat kehidupan, apa yang membentuk kehidupan manusia, dan sifat makhluk itu sendiri. Melalui penyelidikan seperti ini, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa segenap makhluk hidup dan alam semesta merupakan gabungan berbagai unsur dan energi.
 
Unsur-unsur ini—tanah, angin, air, dan panas—diatur oleh hukum-hukum kosmik alamiah dan universal yang berlangsung dalam siklus abadi pemunculan, pertumbuhan, penuaan, dan pelenyapan. Dunia objek-objek bernyawa dan tak bernyawa ini eksis di atas berbagai dasar kondisi dan keberlangsungan fenomena mental dan fisik yang diatur oleh hukum-hukum alam (dhammaniyama).
 
Buddha berbicara tentang lima hukum alam, salah satunya adalah hukum energi (utuniyama). Energi, dalam kedua wujud panas dan dingin, menyebabkan banyak perubahan di dalam tubuh dan lingkungan. Energi selalu dalam keadaan mengalir, terus berubah, dan selalu mencari keseimbangan. Inilah kaidah yang mengatur perubahan-perubahan di dalam tubuh, seperti usia tua dan sakit, atau dalam konteks ekologis berkenaan dengan hal-hal seperti iklim, musim, dan pergerakan bumi.
 
Buddha telah menerangkan dengan sangat gamblang bahwa kerja hukum ini tidak terbatas pada dunia fisik ini saja, tetapi juga di segenap alam semesta. Hukum ini mempengaruhi setiap tata surya dan semua bentuk metafisika kosmik, baik berupa materi maupun non-materi. Semua unsur ini mengalami perubahan, mengalami ketidakseimbangan dari waktu ke waktu.
 
Begitu pula kehidupan, kehidupan manusia dan bumi dikendalikan oleh hukum-hukum alam. Mereka menjadi renta, mati, dan lahir, lagi dan lagi, tunduk pada suatu siklus kosmik nan tak berkesudahan. Bencana terjadi dari waktu ke waktu karena unsur-unsur dasar seperti air, tanah, angin, dan api senantiasa dalam perubahan konstan dan perlu mencari keseimbangan. Karena itulah Buddha mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah tidak memuaskan (dukkha), karena manusia juga mengalami perubahan semacam itu. Dikarenakan perubahan universal ini, tanpa pandang status atau spesies, setiap makhluk mengalami dukkha.
 
Di satu sisi, ajaran Buddha mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri dan bahwasanya sebagai manusia pada akhirnya kita dapat mengendalikan kekuatan kamma kita, namun demikian, umat buddha tidak menganut kepercayaan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma belaka. Umat Buddha tidak mengabaikan peran yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan lain dari alam. Seperti yang kita lihat, kamma hanyalah salah satu aspek dari hukum alam. Oleh karena itu, paham yang menggampangkan bahwa semua pengalaman hidup hanya disebabkan oleh kamma adalah tidak benar.
 
Pemahaman adanya berbagai unsur yang bersemayam di alam fisik dan mental ini akan membantu kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih jernih mengenai bagaimana suatu kejadian tunggal bisa diakibatkan oleh lebih dari satu penyebab dan bagaimana berbagai faktor penentu bisa serempak terlibat dalam pengondisian peristiwa atau pengalaman tertentu. Biasanya, ketika ada lebih dari satu kaidah yang bekerja, kaidah yang lebih dominanlah yang akan berlaku.
 
Sebagai contoh, suhu (utuniyama) yang ekstrem dapat mempengaruhi kondisi pikiran (cittaniyama) dan mengakibatkan seseorang gampang merasa tidak nyaman; atau kekuatan tekad membaja (cittaniyama) mungkin untuk sementara waktu mengatasi pengaruh lingkungan (utuniyama) negatif dan buah kamma (kammaniyama). Dalam kasus bencana alam, energi kamma menjadi non-aktif karena dahsyatnya daya pergerakan tanah dan air, seperti gempa bumi dan tsunami. Pemusnahan akibat bencana tsunami Asia adalah suatu perunjukan tak berdayanya hukum kamma terhadap hukum alam (utuniyama).
 
Gelombang pemusnah yang merenggut ratusan ribu kehidupan berlangsung tanpa pandang kebaikan para korban. Mereka yang punya kamma baik dan punya kamma buruk sama-sama menderita. Tak seorang pun, dan apa pun, mampu melarikan diri dari kekuatan seperti ini, yang menunjukkan bahwa ketidak-kekalan adalah sesuatu yang kekal adanya. Ajaran Buddha dilandaskan pada penerimaan akan kebenaran universal ini. Memiliki pemahaman mendalam mengenai pengetahuan tersebut akan memungkinkan kita untuk menerima dengan batin seimbang apa yang tidak dapat diubah, dan oleh karena itu memungkinkan kita menyalurkan energi positif untuk penggunaan yang lebih produktif, lebih spiritual.
 
Mengembangkan belas kasih dan mempertahankan kebaikan adalah hal yang penting bagi manusia sebagai cara untuk belajar hidup dengan perubahan yang terus-menerus seperti itu. Untuk hidup tenang tidak berarti kita harus menaklukkan alam. Kita perlu memiliki pemahaman dan penghargaan mendalam terhadap kekuatan-kekuatan alam. Inilah alasan yang tepat; menyalahkan kekuatan-kekuatan eksternal (seperti Tuhan) atas petaka besar akibat bencana tsunami adalah hal yang keliru. Tak perlu menyalahkan siapa pun, dan tak ada apa pun yang perlu dipersalahkan.
 
Tidak perlu mencari-cari alasan tindakan Tuhan karena bencana tsunami dengan jelas telah menunjukkan kefanaan unsur-unsur bumi. Hal ini telah nyata-nyata membuka mata kita terhadap keterkondisian alam, kefanaan, dan ketiadaan inti yang ajek. Inilah pula alasan bahwa kita perlu belajar untuk tidak mengembangkan nafsu keinginan terhadap hal-hal duniawi. Kemelekatan terhadap diri fisik kita sendiri dan terhadap lingkungan pasti akan membuat kita lebih menderita karena kelahiran kembali pada masa mendatang bisa membuat kita mengalami kekuatan-kekuatan hukum alam yang tak terduga seperti itu. Kita bahkan dapat menggunakan peristiwa ini sebagai suatu pelajaran demi keselamatan, yaitu untuk berusaha terlahir di “tempat yang sesuai” (patiropadesavaso, dari Mangala Sutta, Ceramah Tentang Berkah), bebas dari penderitaan yang disebabkan oleh hukum-hukum alam seperti itu.
 
Bencana ini juga merupakan pengingat tepat waktu bagi kita untuk mengkaji kembali bagaimana kita hidup, dan untuk meninjau kembali hubungan kita dengan alam. Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (paticcasamuppada) menjelaskan tentang kejadian pikiran dan tubuh dalam suatu ikatan saling interaksi dan ketergantungan. Apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan membawa dampak jauh melampaui keberadaan jasmani kita ini. Jika kita mencemari tanah, dampaknya akan datang menghantui kita melalui air yang tercemar. Jika kita mengambil sikap selalu ingin menaklukkan alam, berpikir bahwa kepandaian kita adalah yang paling unggul, kita harus siap-siap menghadapi konsekuensi kemurkaan alam.
 
Bencana adalah suatu pengingat bagi kita untuk kembali menyikapi kebenaran silam akan kebersahajaan. Ini terasa benar dalam masa-masa dewasa ini, ketika pembangunan yang berlebihan telah menyebabkan menganganya ketidakseimbangan ekologis. Studi menunjukkan bahwa jika gosong karang di lepas pantai Sri Lanka masih utuh, itu akan berperan sebagai penyangga untuk mengurangi dampak ombak yang menghantam pantai. Sepanjang pantai India, keberadaan rawa bakau telah menunjukkan dengan jelas bahwa karya alam semacam itu dapat membantu mencegah musibah yang lebih besar.
 
Hidup bersahaja dalam masyarakat dewasa ini tidak berarti menyerah pada kemiskinan. Hal ini berarti memiliki kemampuan dan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam sekitar. Itu berarti tidak merusak alam dan menciptakan llingkungan buatan untuk memuaskan selera kita. Hidup dalam kebersahajaan berarti saling mendorong untuk menjadi baik dan berbelas kasih, sehingga nilai-nilai kemanusiaan mengungguli hasrat-hasrat keduniawian.
 
Tatkala dunia berduka untuk para korban, marilah kita memupuk rasa belas kasih dan melimpahkan jasa bagi mereka yang meninggal. Kita dapat melakukan hal ini dengan berbagai cara. Satu, kita berbuat jasa dengan kita sendiri memberikan usaha pertolongan, sehingga kita dapat memberikan bantuan langsung bagi mereka yang menderita. Yang kedua, kita memancarkan energi batin positif untuk orang-orang yang meninggal agar mereka terlahir kembali dengan lebih baik. Yang ketiga, mari kita juga memancarkan pikiran cinta kasih untuk para relawan penolong yang pada saat ini tengah berbuat yang terbaik untuk menyokong para korban.
 
Semoga kita semua belajar untuk menjadi sadar dan lebih peka terhadap diri kita dan alam sehingga kita dapat hidup selaras dengan alam dan semesta.

Tuhan dalam Agama Buddha


Tuhan dalam Agama Buddha

Oleh Bhikkhu Kemanando
                
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke sorga ciptaan Tuhan yang kekal.
“Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tipitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana batin manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa – dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.