Arsip Bulanan: September 2010

Menggali Sebuah Impian



Menggali Sebuah Impian

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Abhayanando




“ATITAM NANVAGAMEYYA, NAPPATIKANKHE ANAGATAM. YADATITAMPAHINATAM, APPATANCA ANAGATAM.”

“Janganlah seseorang menyesali masa lalu, atau melamun tentang masa mendatang. Yang lalu sudah lewat, yang akan datang belumlah tiba.”

A. Wacana

Dulu, ketika kita masih kecil, kita sering ditanya oleh orang tua kita, tetangga, teman dan oleh siapa saja yang bertemu dengan kita. Maklum anak kecil, jawabannya tentu sangat polos. Aku mau menjadi guru, aku mau jadi pilot, aku mau jadi presiden, dan lain-lain jawabannya. Apakah cita cita yang dilontarkan pada masa kecil itu akan menjadi kenyataan? Tidak, tidak semua cita-cita kita bisa tercapai, bahkan cita cita itu terkadang tidak sama dengan kemampuan kia sehingga kandas di tengah jalan. Seperti halnya yang saya alami sekarang. Dahulu saya tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi bhikkhu, namun saat ini saya menjadi seorang bhikkhu. Cita cita hanyalah tinggal cita cita dan hanya menjadi sebuah kenangan.

Masing-masing orang mempunyai kemampuan yang tidak sama, karena pengalaman masa lampaunya yang tidak sama. Dalam Brahma Vihara ada syair yang berbunyi:

Sabbe satta
Kammassaka
Kammadayada
Kammayoni
Kammabhandhu
Kammapatisarana
Yam kammam karissanti
Kalyanam va papakam va
Tassa dayada bavissanti

Semua makhluk
Memiliki kammanya sendiri
Mewarisi kammanya sendiri
Lahir dari kammanya sendiri
Berhubungan dengan kammanya sendiri
Apapun kamma yang diperbuatnnya
Baik atau buruk
Itulah yang akan diwarisinya.

Dari syair di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing orang mempunyai potensi yang tidak sama, tergantung dari proses kammanya dan tentunya kondisi yang ada. Jadi kita tidak bisa iri dengan orang yang sukses dan juga tidak perlu merasa rendah kalau saat ini kita belum berhasil. Orang bisa saja sukses dengan potensi yang ada dalam dirinya, menjadi dokter, teknisi, ekonom, birokrat, dan lain sebagainya.

Sebenarnya ada dua potensi yang ada dalam diri manusia yang jika dikembangkan akan membawa kebahagiaan. Potensi yang dapat dikembangkan oleh manusia itu ada dua macam yaitu:

  1. potensi keduniawian
  2. potensi spiritual

Dua potensi ini jika diarahkan dan dikembangkan akan menuju kepada kebahagiaan duniawi dan batin. Potensi duniawi tentunya hanya mengalrah kepada harta, kehormatan, kedudukan, istri yagn cantik atau suami yang tampan, dan kebahagiaan yang bersifat duniawi lainnya. Dan sifatnya hanya sementara. Potensi spiritual juga akan membawa kebahagiaan dan kebahagiaan spiritual ini terus menerus akan membawa kedamaian batin.

Cita-cita duniawi dan cita-cita spiritual ini tidak mudah kita dapatkan, semuanya memerlukan tekad, usaha, perjuangan dan pengorbanan. Tanpa adanya faktor faktor tersebut adalah tidak mungkin cita cita itu berhasil dicapai. Bolehkah kita bercita-cita? Tentunya yang bersifat positif, tetapi harus kita ingat bahwa berhasil atau mungkin gagal akan kita hadapi.

B. Cara menghadapi masa depan.

Suatu hari ada seorang bapak yang datang ke vihara, orang itu kelihatan seperti orang yang putus asa. Kebetulan waktu itu saya sendiri yang menemui orang itu. Orang tersebut bertanya kepada saya, “Bhante, hidup ini tidak menyenangkan, rutinitas hidup yang saya hadapi hanya itu-itu saja. Pernah orang mengatakan bahwa masa depan saya suram. Tolong Bhante, saya diramal atau dikasih jimat ataupun mantra yang ampuh. Supaya saya hidup mantap menghadapi masa depan.” Tentu saja yang saya berikan bukan jimat sembarangan, tapi jimat Dhamma. Kemudian orang ini saya arahkan sampai memahami benar tentang makna sebuah kehidupan.

Kisah seperti di atas bukan hanya dialami oleg seorang bapak dalam cerita diatas saha, tetapi juga dialami oleh banyak orang. Pada saat dihadapkan pada realita kehidupan muncul benih-benih keraguan, kecemasan bahkan takut menghadapi masa depan. Terkadang masa depan menjadi momok bagi sebahagian besar orang. Mereka pergi ke tukang ramal, ke dukun, ke tempattempat keramat yagn dianggap mempunyai kekuatan gaib dan magis untuk menghadapi realita kehidupan. Seorang pelajar cemas menghadapi masa masa setelah ia selesai sekolah, seorang dewasa cemas menghadapi kehidupan berumah tangga, orang tua cemas menghadapi masa tuanya. Inilah yang sering muncul dalam kehidupan manusia.

Semua orang menginginkan hidupnya sukses, tetapi mereka terkadang hanya berhenti di angan-angan belaka. Sebagian besar orang hanya bisa menghayalkan cita cita, kalau harapan itu tidak disertai tindakan nyata juga memunculkan rasa kecemasan. Karena yang namanya menghayal tentunya tidak menjadi kenyataan. Pada saat hidupnya tidak seperti yang terjadi dalam mimpi-mimpinya, muncul rasa sedih, kecewa, cemas, takut, bahkan putus asa. Jangan hanya sekedar bermimpi karena hidup bukanlah mimpi. Tetapi mimpi adalah bagian dari kehidupan.

Kita juga harus ingat bahwa yang namanya cita-cita itu kadang-kadang bisa sukses dan bisa juga gagal. Oleh karenanya yang terpenting dalam hidup ini adalah usaha meraih cita-cita, tetapi harus disertai kebijaksanaan. Jangan melekat pada cita-cita. Semakin melekat pada cita cita, maka rasa cemas semakin berkembang. Kalau cita-cita itu berhasil kita tidak akan meras cemas. Jika keberhasilan itu berubah menjhadi sebuah kejatuhan maka kita harus tetap tegar dalam menghadapinya. Begitu pula saat menghadapi kegagalan akan timbul rasa putus asa, kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi hidup ini. Iringilah cita-cita atau harapan kita dengan Dhamma, maka saat mengalami apapun yang baik ataupun yang buruk maka rasa cemas tidak akan berkembang.

Jika anda sering ikut meditasi di vihara, cetiya atau pusat pusat meditasi lainnya, maka anda akan mendengar kalimat “hidup saat ini”. Kalimat ini sering diungkapkan guru-guru meditasi kepada siswanya. Kalau kita tidak memahami kalimat itu maka aikan muncul pandangan yang keliru tentang agama Buddha. Hidup saat ini seolah-olah hanya diarahkan untuk hidup pasrah, tidak punya harapan, kosong, hanya menerima apa yang ada. Kalimat ini sering disalah artiklanb oleh orang yang belum memahami ajaran agama Buddha. Sehinga mempunyai pandangan bahwa agama buddha itu pesimis, tidak ada gairah hidup, loyo, hampa. Memang sang Buddha dan para siswa Arya pernah berpesan, “hidup saat ini” tetapi bukan berarti agama Buddha tidak mengajarkan tetang misi dan visi, Pernyataan orang itu salah dan wajar karena mereka belum mengerti. Saat ditanya mengapa makhluk-makhluk mulia yang telah mengembangkan pikiran, mereka kelihatan demikian tentang dan bersinar? Sang Buddha menjawab

“Mereka tidak sedih pada masa lalu, mereka tak mengejar apa yang belum datang.
Saat sekarang cukup buat mereka karenanya mereka demikian bercahaya.
Merindukan masa depan, menyesali masa lalu, dengan cara ini orang dungu merana seperti ilalang yang dibakar.”

Rahasia hidup bahagia dan sukses terletal pada apa yang dilakukan pada saat ini, kita jangan cemas pada masa lalu dan masa depan. Kita tidak dapat kembali ke masa lalu untuk membetulkan apa yang telah kita kerjakan pada masa yang lalu, dan kita juga tidak dapat mengantisipasi apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Karena kondisi dunia yang terus menerus berubah, maka hanya ada satu momen yang bisa dikendalikan secara sadar adalah saat ini.

Salakha punya keinginan? Pertanyaan ini sering muncul dalam diri umat Buddha sendiri. Hal ini wjar karena umat buddha setiap saat mendengarkan ceramah terkadang menduga kalimat “kurangi keinginan”. Mengurangi keinginan yang dimaksud adalah keinginan rendah yang egosi, yang hanya mengumbar keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang tidak membawa manfaat spiritual. Jika cita-cita atau keinginan kita tidak didasari oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin tentunya akan membawa manfaat bagi kehidupan kita.

Seperti halnya Sang Buddha, Beliau sebelumnya juga mempunyai keinginan menjadi seorang sammasambuddha. Keinginan sang Buddha bukanlah keinginan rendah. Tetapi keinginan yang membawa kehidupan spiritual diriNya sendiri dan tentunya bagi semua makhluk. Boleh saja kita mempunyai cita-cita, tentunya cita-cita itu harus membawa manfaat bagi kehidupan spiritual kita. Cita-cita duniawi hanyalah sebagai sarana untuk kesuksesan cita-cita spiritual kita. Jadi jangan sampai potensi dunia ini disalah artikan yang akhirnya membawa kemerosotan batin.

Dalam mencapai keberhasilan tentunya perlu adanya program atau perencanaan. Seperti halnya sang Buddha, setelah Beliau bertekad dihadapan Buddha Dipankara, Beliau kemudian menyempurnakan Dasa Paramita untuk mencapai kesempurnaan dan akhirnya berhadil menjadi Buddha. Cita-cita yang tanpa disertai tindakan hanya akan menjadi impian saja. Untuk sukses duniawi kita perlu kerja keras sesuai dengan profesi masing-masing baik sebagai doketer, birokrat, ekonom, petani dan lainlain sebagainya. Begitu pula dalam hal cita-cita spiritual kita juga harus mempunyai kemauan, usaha, pengorbanan, dan kesabaran. Niscaya dengan faktor-faktor ini cita-cita kita akan tercapai.

Misi dan visi sudah ada, tetapi program ini harus disertai tindakan yang nyata dan jelas. Walaupun programnya bagus tetapi tidak ada tindakan nyata dan jelas, maka program inipun hanya tinggal program, benih-benih kesuksesan tidak akan nampak. Sekarang muncul sebuah pertanyaan, kapan waktunya yang tepat untuk melakukan tindakan yang nyata sehingga program itu terlaksana?

Dalam Samyutta Nikaya I, 227, Sang Buddha bersabda “Sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagiaan dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.”

Dari sabda sang Buddha tersebut jelas disebutkan tentang perencanaan yang matang sehingga membuahkan hasil yang bagus. Kurang hati-hati dalam berencana akan berakibat fatal, bukannya kesuksesan tapi kehancuran yang didapatkan. Kesempatan yang baik untuk berencana adalah pada saat badan ktia sehat, karena dengan fisik yang sehat kita akan dapat menjalankan tugas dengan baik. Sebaliknya, jika kondisi badan kita tidak sehat sangat sulit untuk menjalankan perencanaan hidup. Sewaktu masih ada kesempatan untuk melakukan hal yang positif, maka gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya.

Perencanaan hidup yang matang akan mengakibatkan perubahan yang pesat, oleh karena itu tidak perlu cemas terhadap masa depan. Orang merasa cemas yang berlebihan terhadap kesehatan kelaurganya, penghasilan, nama baik dan harta kekayaan. Mereka berusaha membuat stabil yang malah menjadi tidak stabil. Semakin mereka mecemaskan masa depan, semakin mereka merasa kehiilangan rasa percaya diri dalam hidup ini, dan mulailah mereka mengembangkan keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri. Orang yang terus meneruskan berusaha keadaan hidup, tidak pernah mengenal kata kedamaian pikiran.

Orang yang percaya kepada nasib akan berpikir bahwa ini sudah ditakdirkan, ini sudah ditentukan untukku oleh Makhluk Agung. Karena aku harus berdoa kepada Makhluk Agung untuk memperbaiki nasibku. Ia bahkan akan berdoa dengan mengabaikan kewajibannya setiap hari. Jika yakin terhadap hukum kamma, maka kita akan memahami hal ini sebagai hasil dari apa yang telah kita lakukan pada masa yang silam. Dan kita mestinya memperbanyak perbuatna baik dan menguatkan pikiran kita dengan meditasi. Dengan berbuat demikian, benih-benih kesuksesan akan berkembang.

Segala bentuk keinginan yang positif disertai dengan perencanaan yang matang dan dilaksanakan pada saat yang tepat serta berpegang pada hidup saat ini akan menghasilakan kesuksesan yang mantap. Oleh karena itu kita harus menjaga cita-cita ini sehingga kesuksesan itu berjalan sesuai dengan Dhamma.

C. Hidup saat ini dan perencanaan hidup

Hidup saat ini dan perencanaan hidup kelihatannya bertentangan. Akan tetapi hidup saat ini dan perencanaan adalah hal yang sejalan. Hidup saat ini mengingatkan kita untuk tidak melekat pada keinginan kita, karena segala keinginan itu akan dihadapkan dengan keberhasilan dan kegagalan. Memahami keberhasilan dan kegagalan itu akan membuat pikiran kita damai setiap saat.

Terlalu melekat pada target perencanaan hidup akan mengakibatkan kesedihan, kekecewaan bahkan putus asa. Segala sesuatu kadang-kadang tidak sesuai dengan bayangan kita. Sedih, kecewa, dan putus asa muncul karena kita hanya bisa menerima satu sisi yaitu target kesuksesan, padahal kegagalan juga akan kita hadapi dan harus kita terima kenyataannya. Banyak orang menjadi putus asa mengadapi hidup ini gara-gara tidak bisa menerima kenyataan hidup. Kita harus bisa bersikap realistis dalam menghadapi kenyataan hidup ini.

Hidup saat ini dan perencanaan hidup sebenarnya merupakan dua hal yang selaras dan tidak bertentangan karena keduanya sesuai dengan Dhamma. Hidup saat ini sebagai kontrol perencanaan hidup sehingga jika terjadi kegagalan tidak mudah bersedih. Kecewa maupun putus asa. Sebaliknya jika terjadi keberhasilan tidak mudah sombong, angkuh, dan takabur.

Dengan demikian, tidak perlu cemas menyongsong masa depan hidup kita karena jika kita dapat menindaklanjuti perencanaan hidup dengan prinsip saat ini maka kecemasan itu akan sirna dan kita akan mantap dalam menghadapi masa depan.

Cemas terhadap masa depan adalah hal yang keliru dan harus diluruskan. Kita harus siap menghadapi masa depan dengan perencanaan yang matang disertai dengan prinsip hidup saat ini. Seperti halnya orang mengharapkan tahun baru yang penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Semua orang berharap tahun baru harus lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun yang pasti adalah tindakan yang nyata pada saat sekarang sebab hal ini menentukan hari esok. Semoga sukses selalu ada pada anda semua dan selalu dalam lindungan Sang Tiratana.

Kalagatanca hapeti attham
Orang yang rajin tidak akan kehilangan manfaat pada setiap kesempatan.
(Khuddaka Nikaya, Jataka Chakkanipata)

[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.25/Tahun VIII/2002 ]

Mengatasi Kematian



Mengatasi Kematian

Oleh: Alm. Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera




Memang adalah suatu fakta/kenyataan dari hidup ini bahwa pada suatu saat kita pasti akan berpisah dengan apa yang sangat dicintai, juga akan berpisah dengan jasmani kita sendiri. Apabila seorang yang sangat dicintai meninggal, kita akan merasa sangat sedih dan sangat sukar rasanya mengatasi kesedihan ini. Tetapi ajaran Sang Buddha dapat menolong kita mengatasi kesedihan ini dengan jalan berusaha melihat kenyataan dari apa sebenarnya keadaan hidup dan kehidupan ini.
Dalam kitab Visuddhi Magga, Bab VIII, 39; kita dapat membaca tentang bagaimana pendeknya waktu dari proses hidup dan kehidupan ini. Bahwa menurut kebenaran mutlak atau kebenaran tertinggi, sesungguhnya proses hidup dan kehidupan itu berlangsung sangat pendek dan cepat sekali, hanya persis sesaat dari keadaan satu saat kesadaran yang muncul sekejap dan kemudian segera lenyap. Sama seperti sebuah roda kereta yang berputar, menggelinding hanya pada satu titik demi satu titik dan bila berhenti menggelinding, berhenti hanya pada satu titik. Demikian pula proses dari hidup dan kehidupan ini berlangsung hanya pada satu saat kesadaran yang muncul sesaat dan kemudian segera lenyap.
Dengan demikian berarti kita sesungguhnya telah mengalami kematian/perubahan setiap saat, atau lahir dan mati setiap saat. Apabila kesadaran yang timbul-lenyap timbul-lenyap sangat cepat ini telah berhenti, maka proses hidup dan kehidupan ini dikatakan telah berhenti. Senang, susah, sedih, gembira, dan seterusnya hanya muncul bersama kesadaran yang timbul-lenyap timbul-lenyap sangat cepat ini. Tiada dunia atau hidup dan kehidupan bisa muncul apabila tiada kesadaran muncul. Apabila proses kesadaran muncul, di situ muncul pula proses hidup dan kehidupan. Apabila proses kesadaran berhenti maka proses hidup dan kehidupan disebut berhenti pula.
Apa yang kita namakan mati sesungguhnya tiada berbeda dengan proses timbul-lenyap timbul-lenyap dari satu saat kesadaran. Tiap-tiap saat kesadaran yang muncul, segera lenyap secara utuh, tetapi menyebabkan atau mengkondisikan timbulnya saat kesadaran yang baru, yang segera lenyap pula, demikian seterusnya dan seterusnya. Kesadaran akhir dari kehidupan ini, apa yang dinamakan saat kesadaran kematian atau cuti-citta, begitu ia lenyap segera digantikan oleh saat pertama dari kesadaran akan kehidupan berikutnya yang dinamakanpatisandhi-citta. Di situ tidak terdapat sang aku pada setiap proses hidup dan kehidupan ini, dan betul-betul tidak ada sang aku atau sang roh yang mengembara dari kehidupan yang lalu, sekarang, atau kehidupan yang akan datang.
Adalah semata-mata kebodohanlah yang membuat kita berpikir bahwa badan jasmani dan batin ini adalah kekal. Kita sangat melekat pada badan jasmani dan batin ini dan menganggapnya sebagai aku dan milikku. Kita berpendapat bahwa sang akulah yang melihat, mendengar, merasa, berpikir, dan bergerak ke mana-mana. Melekat pada sang aku inilah yang menyebabkan dukkha. Sang aku menginginkan dan berkhayal akan mengalami awet muda untuk waktu yang sangat panjang, tetapi apabila kita mengalami masa tua, sakit, dan mendekati kematian; kita merasa sedih, takut, cemas, seolah-olah tidak terima sama sekali. Mereka yang bodoh dan tidak mengerti akan fakta dan kenyataan dari hidup dan kehidupan ini, tidak akan bisa mengerti bahwa penderitaan bersumber dan berasal dari kemelekatan, seperti apa yang dijelaskan dalam Kebenaran Mulia Kedua tentang sebab dari derita. Kita seyogyanya berusaha menginsafi secara benar-benar bahwa segala sesuatu yang disebut jasmani dan batin ini adalah anicca, dukkha, anatta, sunnata, tathata, dan idappaccayata. Sang Buddha menunjukkan tentang ketidak-kekalan segala sesuatu (jasmani dan batin) dengan berbagai macam jalan dan cara. Beliau mengajarkan ketidak-kekalan dari jasmani ini untuk menolong kita agar tidak melekat pada pandangan keliru tentang “badanku atau badan ini adalah kepunyaanku”. Beliau mengajarkan cara bermeditasi pada kekotoran, kebusukan, dan keburukan dari jasmani ini, dengan bermeditasi pada mayat dalam berbagai tingkat kehancuran, kita dapat membaca di dalam Maha Satipatthana Sutta, Digha Nikaya: “Dan lagi, O, para bhikkhu, sebagai bhikkhu seharusnya berusaha bisa melihat satu mayat yang ditaruh di kuburan, mati baru sehari atau dua hari, tiga hari, lalu membengkak, warnanya berubah, terpecah-pecah, kemudian merenungkan bahwa jasmani sendiri juga adalah secara alamiah sama, pasti akan mengalami kematian”.
Didalam Visuddhi Magga, Bab VI, 88, dijelaskan bahwa jasmani ini juga sama kotornya, busuknya, buruknya seperti mayat; hanya sifat dari kebusukan, keburukannya, tidak terang jelas dan tampak nyata pada jasmani yang masih hidup ini karena disembunyikan oleh berbagai hiasan alamiah dan hiasan buatan manusia sendiri yang sangat lihay. Untuk membuktikan jasmani yang masih hidup ini penuh dengan kekotoran, kebusukan, kuburukan, Sang Buddha mengajarkan apa yang tercantum pada Maha Satipatthana Sutta sebagai berikut: “Dan lagi, O, para bhikkhu, seorang bhikkhu seyogyanya merenungkan secara teliti bahwa jasmaninya sendiri terbungkus oleh kulit dan penuh dengan bermacam-macam kekotoran, kebusukan, keburukan dari telapak kaki naik ke atas dan dari ujung kepala turun ke bawah. Bahwa pada jasmani ini terdapat rambut kepala, bulu badan, kuku, kulit, daging, sumsum, tulang, ginjal, hati, limpa, dan seterusnya”.
Juga kita harus selalu merenungkan bahwa jasmani ini terdiri atas empat unsur pokok, yaitu:
1. Unsur tanah yang muncul dalam sifat padat/keras dan lembut/halus.
2. Unsur cair yang muncul dalam sifat cair atau perekat.
3. Unsur api yang muncul dalam sifat panas dan dingin.
4. Unsur angin yang muncul dalam sifat gerak dan tekanan.
Keempat unsur pokok ini, apakah mereka berada dalam mayat atau dalam badan yang masih hidup, adalah sama. Itulah sebabnya mengapa perenungan terhadap kekotoran, kebusukan, dan keburukan jasmani, dan merenungkan jasmani ini yang terdiri atas keempat unsur pokok tersebut di atas yang berbeda-beda sifatnya, sangat menolong kita untuk tidak melekat lagi pada jasmani ini dan tidak lagi menganggap jasmani ini sebagai milikku dan kepunyaanku. Memang bukanlah suatu keharusan atau paksaan bagi seseorang untuk selalu sadar akan proses batin dan jasmani yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi kita juga seyogianya mempertimbangkan baik-baik apa sebenarnya yang menjadi tujuan kita. Apakah kita terus-menerus ingin menjadi orang bodoh, penuh dengan kemelekatan dan menganggap secara kokoh dan fanatik bahwa proses jasmani dan batin adalah tergolong aku dan kepunyaanku? Apakah kita tetap menginginkan hidup dalam kegelapan ataukah kita ingin mengembangkan kebijaksanaan untuk bisa mengakhiri dukkha? Apabila kita memilih sang jalan untuk mengakhiri dukkha, kita harus mengembangkan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti apabila kita sedang duduk, berdiri, berjalan, bekerja, dan seterusnya, apabila kita sedang mendengar, membaui, mengecap, menyentuh, merasa, berpikir, senang, susah, rindu, cemas, dan seterusnya; ketahuilah, maklumilah bahwasanya kesemua proses jasmani dan batin ini adalah hanya gejala/fenomena jasmani dan batin yang timbul sekejap, di situ ia timbul, di situ pulalah ia segera lenyap. Ia timbul karena adanya sebab dan syarat dan ia segera lenyap, tetapi menjadi sebab dan syarat pula bagi timbulnya proses batin dan jasmani yang baru.
Inilah satu-satunya jalan untuk bisa merealisasi bahwa segala sesuatu yang disebut batin dan jasmani adalahanicca, dukkha, anatta, sunnata, tathata, dan idappaccayata. Dengan jalan ini kebodohan dan kemelekatan dapat diatasi. Tetapi kebodohan dan kemelekatan itu tidak bisa dihancurkan secara total dalam waktu yang singkat. Ia baru dapat dihancurkan secara total apabila seseorang telah mencapai kesucian tertinggi tingkat Arahat. Pada waktu sang Buddha wafat mencapai parinibbana, para bhikkhu yang masih punya kebodohan dan kemelekatan menangis sedih dan berguling-guling di atas tanah, tetapi para bhikkhu yang kebodohan dan kemelekatannya telah hancur, melihat wafatnya Sang Buddha sebagai peristiwa yang wajar dan alamiah saja. Mereka penuh pengertian.
Marilah kita mengenang kembali sabda Sang Buddha kepada Ananda ketika Sang Buddha mendekati waktu wafatNya mencapai Parinibbana sebagai berikut: “Ananda, jadilah pulau bagi dirimu sendiri, pelindung bagi dirimu sendiri, jangan mencari perlindungan di luar, dengan Dhamma sebagai pulaumu, Dhamma sebagai pelindungmu, tidak mencari perlindungan lain. Dan bagaimana Ananda, seorang bhikkhu menjadi pulau bagi dirinya, perlindungan bagi dirinya, dengan Dhamma sebagai pulaunya, Dhamma sebagai pelindungnya, tidak mencari perlindungan lainnya? Bila ia mengembara merenungkan jasmani di dalam badan jasmaninya dengan sungguh-sungguh disertai dengan pengertian yang jelas, terang, dan dengan penuh kesadaran, setelah mengatasi nafsu keinginan dan duka cita dalam memandang pada dunia, hidup dan kehidupan ini, ia mengembara merenungkan perasaan di dalam perasaannya, pikiran di dalam pikirannya, dan obyek mental di dalam obyek mental”. Ini berarti tidak merenungkan adanya sang aku di dalam badan, perasaan, pikiran, dan obyek mental. Inilah cara satu-satunya untuk dapat melihat kebenaran tertinggi dari apa adanya yang sebenarnya dari proses batin dan jasmani, yaitu Anicca, Dukkha, Anatta, Sunnata, Tathata, dan Idappaccayata; pengertian mana yang dapat mengatasi kebodohan dan kemelekatan, mengatasi dukkha, dan mengatasi kematian.
[Dikutip dari Mutiara Dhamma ]

Mengapa Harus Di Sini



Mengapa Harus Di Sini

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Vijito




Pada hari ini, kita semua telah hadir di sini untuk mendengarkan Dhamma, mendengarkan Dhamma adalah salah satu berkah utama, sambil mendengarkan Dhamma kita berusaha untuk membuat tubuh tegak dalam sikap duduk dan pikiran berusaha berkonsentrasi. Pada jaman Sang Buddha, orang mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian; duduk bersila sambil memejamkan mata, mengawasi pikiran, mengontrol pikiran, menyadari, bahwa tempat ini sesuai untuk mendengarkan Dhamma, melatih pikiran, dan mengetahui, mengapa kita berkumpul di sini.
Kadang-kadang kita tidak mau menyadari, kita tidak mau tahu, mengapa kita di sini ..?. Kita tidak mengerti apa yang seharusnya dimengerti, dengan kata lain kita tidak tahu benar-benar bagaimana sebenarnya sesuatu itu atau sesuatu itu sebenarnya apa.
Marilah saat ini kita menenangkan diri, jangan resah dan bingung, orang yang telah mencapai pencerahan telah menjelaskan bagaimana sebenarnya mengendalikan pikiran yang terombang-ambing, tujuan kita datang di sini untuk mendengarkan Dhamma, melatih pikiran, mengawasi pikiran, selanjutnya kita berusaha mengembangkan ketenangan batin, cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk hidup.
Mengamati, memeriksa di dalam diri adalah hal yang terpenting, kita harus berjaga-jaga terhadap tindakan, ucapan, dan bentuk-bentuk pikiran. Sebagaimana tindakannya, begitu juga hasil yang akan terjadi, sama seperti benih yang ditanam, begitu pula buah yang akan dipanen, sebagaimana tindakan-tindakan kita, begitu juga buah tindakan kita.Di manakah kita harus berjaga-jaga..?. Pada tindakan fisik ucapan dan pikiran. Dalam kehidupan umum kita begitu banyak mementingkan tindakan fisik ,kita kurang memperhatikan pentingnya tindakan ucapan dan hampir tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap tindakan pikiran. Bila sesuatu muncul dalam pikiran, mau diapakan ..?. Tetapi setelah kita menyadari kebenaran dalam diri, hukum kebenaran itu akan mulai menampakkan dirinya. Hukum kebenaran akan menjadi sangat jelas sehingga tindakan pikiranlah yang menjadi sangat penting. Bukan tindakan fisik dan bukan tindakan ucapan.
Bila kita selalu waspada terhadap tindakan pikiran kita, kita tidak perlu mencemaskan perbuatan fisik maupun ucapan; secara teratur perbuatan fisik maupun ucapan akan menjadi baik karena segalanya dimulai dari dalam pikiran lebih dahulu. Semua tindakan dimulai dari pikiran, ketika pikiran menjadi menguat dan makin menguat maka tindakan itu lalu mewujudkan diri sebagai tindakan ucapan, jika bertambah menguat dan makin menguat maka tindakan itu akan mewujudkan diri sebagai tindakan fisik. Segalanya dimulai dari dalam pikiran, karena itu tindakan pikiran adalah yang paling penting. Pikiran mendahului segalanya. Setiap tindakan dimulai dari pikiran dulu, baru setelah itu ada di tingkat ucapan atau fisik. Oleh sebab itulah maka pikiran itu paling penting.
Pikiran mempunyai arti yang penting. Apapun yang dialami orang dalam kehidupan ini; menyenangkan, tidak menyenangkan, baik, buruk atau apapun sebutannya, apapun yang dialami orang dalam kehidupan, semuanya tidak lain tidak bukan hanyalah produk pikiran. Jika seseorang melakukan suatu tindakan pada tingkat fisik atau ucapan dengan dasar pikiran yang tidak murni, berarti dasarnya salah atau tidak murni maka kesengsaraan akan terus menerus mengikuti kemanapun orang itu pergi, dari tempat ini ke tempat lainnya, dari bumi ini ke bumi lainnya; kemanapun kita pergi tidak ada hal lain kecuali kesengsaraan dan penderitaan. Penderitaan akan selalu mengikutinya seperti roda pedati yang selalu mengikuti kuda yang diiikatkan pada pedati itu karena kuda itu terikat pada pedati maka kemanapun kuda itu lari maka roda itu akan terus mengikuti dan terus mengikuti.
Bila seseorang melakukan tindakan fisik atau ucapan dengan dasar pikiran yang murni, maka hanya kebahagiaan yang akan mengikutinya, kemanapun kita pergi, kebahagiaan ada di sini seperti bayang-bayang yang selalu mengikuti.
 
Pikiran adalah dasar yang paling penting, jika dasarnya murni maka semua tindakan kita apapun bentuknya akan memberikan dan membawa buah-buah yang baik saja, tetapi jika dasarnya tidak murni maka hasilnya atau buahnya pasti jelek, sekarang akan menderita di sini dan terus menderita di masa yang akan datang. Jika melakukan tindakan-tindakan yang baik, seseorang akan bahagia di sini dan di masa yang akan datang.
Tidak ada kekuatan di luar yang dapat melakukan semua hal itu karena hukum kebenaran memang demikian. Semakin dalam kita menyadari hukum kebenaran ini, maka kita semakin mengerti dan tidak akan melakukan apapun yang akan membuahkan kesengsaraan bagi kita. Kita hanya akan melakukan hal-hal yang akan membawa kedamaian bagi kita. Beginilah hukum kebenaran itu, hanya bisa terjadi jika mengamati perasaan yang paling kasar menuju yang paling halus, lalu seluruh hukum itu menjadi jelas.
Kita harus berhati-hati terhadap tindakan-tindakan kita, tindakan-tindakan mental kita, tetapi orang tidak dapat berhati-hati terhadap tindakan pikiran kecuali jika kita memahami apa pikiran itu, dan bagaimana pikiran bekerja. Dengan latihan kesadaran yang bergerak dari kepala ke kaki, kita hanya menjelajahi kebenaran yang berhubungan dengan tubuh, selain itu kita harus menjelajahi kebenaran yang berhubungan dengan pikiran; bila kita sudah lebih maju lagi akan lebih jelas bagaimana seharusnya seluruh fenomena materi-batin itu, dan bagaiamana pengalaman itu bekerja .
Di mana tempatnya dan apa hasilnya ..?. Hasilnya Dhamma muncul, ia muncul bersama pengertian dan pengetahuan kita. Semua orang bisa dan mampu mengerti Dhamma, ini bukanlah sesuatu yang harus dicari di buku, kita tidak harus banyak belajar untuk bisa melihatnya ,renungkanlah sekarang uraian di bawah ini tentang kesadaran ,perasaan, bentuk-bentuk pikiran dan pencerapan. Semua ini ada di dalam diri tubuh kita yang tidak kekal, keinginan yang timbul itu semua telah bekerja dan kontak dengan indria kita; tugas kita sekarang hanya mengamati, menyadari memeriksa, menganalisa, memilah-milah, membagi-bagi, memahami, tidak mengikat, tidak melekat, tetapi ketaka melepas, melepas sesuatu yang muncul, ulangi berkali-kali, sampai kita mampu melihat dengan jelas.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana Edisi 7

Satu Dhamma



Oleh: YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera




Selama ini, kita mengenal adanya 2 tradisi besar dalam agama Buddha yaitu tradisi Theravada dan tradisi Mahayana yang seakan-akan berbeda, padahal keduanya adalah sama, yaitu sama-sama membawa kita mengapai kebahagiaan hingga akhirnya tercerahkan.

Sulitnya menerima perbedaan yang ada kadang justru menimbulkan perselisihan, padahal tanpa disadari kita sebenarnya hidup dalam perbedaan itu sendiri. Sebenarnya bila kita dapat melihat perbedaan itu, maka akan timbul keasikan tersendiri karena justru dari perbedaan itulah kita bisa saling menunjang, saling bekerjasama dimana masing-masing menjalankan tugasnya sendiri-sendiri. Salah satu contohnya adalah tangan kita, bila diamati sebenarnya kedua tangan kita berbeda dan memiliki perannya masing-masing. Bila tangan kanan memang sendok sewaktu makan, maka tangan kiri menjalankan perannya memegang garpu. Bukankah itu adalah suatu hal yang indah? Coba bayangkan apa jadinya bila kedua tangan kita persis sama, misalnya kedua-duanya hanya tangan kanan atau kedua-duanya hanya tangan kiri..?

Begitu juga sebenarnya dengan keanekaragaman aliran agama yang ada. Semestinya kita bisa menerima bahwa aliran agama Buddha ini meskipun berbeda, juga menjalankan peran dan bidangnya masing2, tujuannya sama-sama mengarahkan kita menjadi manusia yang lebih baik hingga tercerahkan. Jika kita memandang perbedaan ini secara seimbang dengan melihat dari saat petapa Gotama mencapai mencapai pencerahan dibawah pohon Bodhi sebagai titik nol, maka tradisi Theravada (dari India ) menggunakan titik dimana Sang Buddha mencapai kesucian sebagai titik nol dan ke depan, sedangkan tradisi Mahayana (dari Tiongkok – dan menyebar lagi ke Tibet sebagai aliran Vajrayana) menggunakan titik Sang Buddha mencapai kesucian sebagai titik nol dan ke belakang.

Oleh karena itulah dalam tradisi Theravada lebih banyak diajarkan khotbah-khotbah Sang Buddha yang dibabarkan setelah Beliau mencapai pencerahan, sedangkan Mahayana lebih menitikberatkan ajarannya tentang Bodhisatta, tentang pengumpulan kebajikan/ menyempurnakan parami-parami. Karena sebelum pangeran Siddharta mencapai Buddha, beliau juga seorang Bodhisatta dan jadi inilah yang diajarkan dalam aliran dari Tiongkok. Dengan kata lain, kedua tradisi yang berbeda ini pembahasannya tetap sama, hanya sudut pandang saja yang berbeda. Tetapi intinya tetap sama, karena keduanya menceritakan riwayat hidup Sang Buddha, hanya saja yang satu lebih banyak mengajarkan waktu sebelum pangeran Siddharta menjadi Buddha sedangkan yang satunya lagi lebih banyak mengajarkan waktu setelah pangeran Siddharta menjadi Buddha.

Meski demikian, anda tidak akan pernah menemukan ada dari kedua tradisi besar agama Buddha yang mengajarkan menurut pribadi-pribadi yang lain selain sang Buddha. Tidak akan pernah ada yang mengajarkan “Kalo menurut Si Budi atau Si Christine…” tetapi pastinya semua yang diajarkan dalam agama Buddha adalah “Menurut Buddha….”

Dengan kata lain, boleh dikatakan bahwa tradisi yang ada sama-sama mengajarkan Satu Dhamma yang tidak mungkin berbeda, yaitu Empat Kesunyataan Mulia , yang isinya adalah Hidup berisi ketidakpuasan, ketidakpuasan itu ada sebabnya, sebab itu bisa dihilangkan sehingga orang bisa mencapai kebahagiaan sejati dan cara mengatasi ketidakpuasan yang disebabkan oleh keinginan yang disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tidak mungkin ada akan mengatakan bahwa Kesunyataan Mulia ada 5, atau pula mengatakan bahwa Jalan Mulia berunsur Sembilan.

Kita memilih tradisi karena kecocokan, jadi janganlah karena memilih tradisi yang satu kemudian mengatakan tradisi yang lain salah. Selama aliran atau tradisi itu mengajarkan Empat Kesunyataan Mulia, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan Hukum Karma, maka itulah Buddha Dhamma. Yang juga harus kita ketahui dengan pasti bahwasannya Dhamma atau ajaran dari semua Buddha adalah Sama, tidak mungkin berbeda dan itulah sebabnya hanya ada 1 Dhamma.

Sekali lagi, inilah yang dinamakan perbedaan yang indah itu, yang dapat menambahkan seni dalam kehidupan kita. Kelihatan beraneka, namun di dalamnya tetap hanya ada 1 Dhamma (Kebenaran). Bagaikan gelas yang dibuat dengan berbagai macam bentuk dan motif, namun sesungguhnya itu tetap sebuah gelas yang fungsinya sama, hanya kita sendiri yang melihatnya sebagai berbeda dan menjadi kompleks. Begitu juga dengan kedua tradisi yang berbeda, pikiran kita sendirilah yang melabelinya dengan berbagai macam merk.

Janganlah puas menjadi umat Buddha yang hanya percaya dengan membaca buku-buku, kitab suci atau mendengar Dhammadesana dari Bhikkhu Sangha. Tetapi setelah percaya kita juga harus EHIPASSIKO dengan mempraktekkan sendiri ajaran Buddha itu sehingga bila terbukti kita baru bisa yakin.

(Dikutip dari B+Magz Edisi 7 Bulan Agust-Sept 2008)

Tentang Kebenaran





Berbicara tentang Kebenaran, itu adalah biasa. Kebanyakan agama mengakui bahwa mereka – hanya kepunyaan mereka masing-masing – yang mengandung Kebenaran (kalau tidak begitu bagaimana mereka bisa mempromosikan keberadaan mereka, dan mendapatkan serta mempunyai pengikut?) Tetapi siapa yang dapat mempertunjukkannya? Ketika ditanyai tentang hal itu, mereka meminta dengan tegas agar kita harus mempercayainya sebelum kita dapat melihatnya.

Banyak dari sekte/aliran kepercayaan yang ada tersebut mengakui bahwa ajaran mereka saja yang benar, sedangkan yang lainnya tidak. Tetapi siapakah yang benar? Apakah mereka semuanya benar, atau apakah mereka semuanya salah? Apakah mereka sebagian benar atau sebagian salah? Bagaimana kita bisa tahu? Mungkin kita bisa tahu dengan mencoba menemukan APA yang benar, dan SIAPA yang benar.

Pertama-tama, Kebenaran haruslah bersifat universal, kalau tidak ia tidak akan menjadi Kebenaran, bukanlah demikian? Sebagai contoh, api adalah panas dan air adalah basah; mereka sudah begitu sebelumnya, juga begitu sekarang, dan akan begitu nantinya; ini tidak dapat disangkal atau dibantah. Kedua, karena mudah menyebar ke semua penjuru, ia tidak dapat digenggam dan dimonopoli oleh tangan-tangan kotor yang sedikit; tidak pula ia dapat diklaim oleh pikiran-pikiran icik yang ekstrim, seperti barang-barang yagn bisa dimiliki. Ia jauh melampaui apapun yang dapat kita sebut sebagai tanda kemilikan, seperti “AKU”, “DIRIKU”. dan “MILIKKU”. Tidak ada kotak, pembatas, dinding, atau nama yang dapat menggapainya. Demikian pula kata “Kebenaran”, adalah bukan kebenaran.

Apakah yang Sang Buddha katakan tentang Kebenaran? Beliau menjelaskan tentang bagaiamna segala sesuatunya, dari sebuah batu kerikil sampai dengan bintang-bintang yang ada di alam semesta yang maha luas ini, yaitu tunduk kepada hukum-hukum. Semuanya terkena oleh hukum ini, yaitu hukum tentang Sebab-Akibat/ Tiada satu pun – baik makhluk hidup maupun benda mati – yang berada di luar jangkauan. Hukum ini, Ini diikuti pula dengan segala sesuatunya selalu dalam keadaan berubah, menjadi sesuatu yang lain, seperti yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan.

Tidak ada sesuatu yan terjadi secara kebetulan di Alam Semesta ini; semuanya adalah akibat dari berbagai sebab. Coba perhatikan segeggam pasir di pantai. dengan berbagai sebabnya. Pikirkan segenggam pasir di pantai, dna apa yang terkait dengannya; satu hal menjadikan hal lainnya, yang merupakan satu mata rantau yang bersambungan; ia tidaklah semata-mata pasir yang sederhana. Jika anda mencoba untuk menelusuri asalnya, anda akan mendapatkan bahwa seluruh semesta ini terlibat di dalamnya, dan tetap belum juga menemukan asalnya. Agama Buddha mengatakan bahwa Semesta ini dapat diketemukannya di segenggam pasir dan di segala sesuatunya juga!

Ini berarti bahwa segala sesuatu adalah saling berkaitan, dan karena itu segala sesuatu adlah saling bergantungan satu dengan lainnya, meskipun kita biasnanya tidak melihat hal ini, karena hal ini membutuhkan insight yang dalam, yang menembus dan jelas. Kita bisa membandingkan semesta ini dengan sebuah jaring ikan mengangkat satu simpulnya, maka anda mengangkat keseluruhan jaring itu. Segala sesuatu adalah suatu bagian kecil dari suatu keseluruhan, karena ia terdiri dari atom-atom, yagn tersusun dari partikel-partikel yang lebih kecil, yaitu elektron-elektron, proton-proton, dan netron-netron, yang selalu dalam keadaan bergerak. Oleh karena itu, apa yang kita sebut’benda padat’ dadalah sama sekali tidak padat, tetapi hanyalah berupa energi. Tiada sesuatupun yang eksis di dalam dirinya dan oleh dirinya sendiri; oleh karena itu, segala sesuatu adalah kosong dari diri.

Akan tetapi, ini adalah sesuatu yang tidak diinginkan sama sekali oleh kebanyakan orang; yang mereka inginkan adalah sesuautu yang dapat mereka pegang, miliki, dan akui sebagai ‘milkki, bukan milikmu’; mereka berharap mampu mengeluarkan yang lain-lain dari Kebenaran MEREKA. Dari sinilah mendorong timbulnya begitu banyak teori tenteng Kebenaran.

Apakah kita mengetahuinya atau tidak, suka atau tidak, percaya atau tidak, itu tidaklah penting; kita semua tunduk kepada hukum-hukum, disapu bersih, menjadi yang lainnya. lebih lanjut, hukum hukum ini bukanlah sesuatu yang suci atau sakral; berdoa kepada mereka untuk meminta belas kasihan atau pengampunan, tak akan mengubah apapun; tidak akan ada jawaban. Bila kita mengerti tentang mereka dan belajar bagaimana menggunakan mereka, bertindak sesuai dengannya dan tidak bertentangan dengannya, kita akan tahu bagaiamna mengarahkan hidup kital kita akan memegang sendiri roda-kemudinya.

Untuk dapat melihat bekerjanya hukum-hukum ini, tidaklah membutuhkjan kepercayaan sama sekali, karena ia selalu terjadi di dalam dan di sekitar kita. Jika kita memilih untuk mengabaikannya, seperti banyaknya dari kita begitu, dan berpura-pura sebagai yang sebalimyua, maka itu bukanlah kesalahan dari apa yang ada, tetapi dari ketidak-dewasaan kita sendiri.

Mengenai banyaknya orang-orang yang mengakui bahwa mereka telah menemukan Kebenaran (atau mengajarkan tentang Ketuhanan), Sang Buddha memberikan sebuah gambaran. Beliau berkata: “Andaikata ada seorang pria yang mengatakan bahwa ia mencintai wanita yang paling cantik di dunia ini, tetapi siapakah itu, ketika ditanya namanya, mengatakan ia tidak tahu. Ketika lebih lanjut ditanya tentang di mana ia tinggal, siapa orang tuannya, berapa usiannya, apa warna rambut dan kulitnya, dan sebagainya, ia juga mengatakan bahwa ia tidak tahu. Dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut, itu telah mengungkapkan bahwa si pria yang mengatakan mencintai wanita yang paling cantik di dunia ini, tanpa sebanyak itu melihat wanita itu atau mengetahui apapun tentang wanita itu, hanyalah bicara omong kosong”.

Orang-orang berharap./berandai-andai yang banyak, tetapi memiliki sedikit pengetahuan tentang hal-hal yang mereka harapkan. Apa yang tertulis di satu buku atau di dalam buku-buku yang setinggi gunung, tak akan pernah menjadi bukti untuk meyakinkan tentang Kebenaran, karena Kebenaran haruslah dialami.dirasakan secara langsung oleh diri sendiri. Zen, satu aliran dari agama Buddha, mengajarkan: “Tiada sesuatu yang bisa dipecaya/digantungi dari kitab-kitab suci atau sumber-sumber yang di luar, melainkan hanya melalui penglihatan yang langsung ke dalam batin!” Siapapun bisa menulis sebuah buku – lihat saja seperti buku ini! – tetapi apakah ini berarti isinya adalah benar?

Pendekatan agama Buddha terhadap kehidupan adalah denganmeneilit bagaiaman ia adannya, bukan dengan cara percaya atau perkiraan. Ia tidak berusaha untuk menjelaskan asal mula dari segala sesuatu, dan tersenyum kepada mereka yang melakukan itu, karena tidak seorangpun yang tahu, dan tidak pula bisa diketahui. Lebih lanjut, ia menganggap usaha-usaha untuk menemukannya sebagai hal yang sia-sioa dan buang-buang waktu, karena asal mula pertama dari segala sesuatu tidaklah dapat dilihat/diketahui. Akhir dari sesuatu adalah selalu awal dari sesuatu lainnya, satu benda/hal berubah menjadi benda/hal yang lainnya, dan karenanya tidak ada awal/asal mula atau akhir dari segala sesuatu. Karena masa lalu telah berlalu, dan satu-satunya waktu yang selalu ada hanyalah saat SEKARANG, maka penekanannya adalah pada KEHIDUPAN – bukan hanya pada KEBERADAANNYA – pada saat ini.

Pencarian terhadap Kebenaran adalah suaut kontradiksi, seperti membawa sebuah lilin untuk mencari Matahari. Bukankah matahari selalu bersinar, apakah kita mencarinya atau tidak? Mengapa kita membuat segala sesuatu menjadi sebuah misteri? Kebenaran bukanlah sebuah gagasan; gagasan-gagasan tentang Kebenaran adalah bukan suatu Kebenaran. Setiap orang mempunyai gagasan tentang Kebenaran – yang mentah ataupun yang rumit – tetapi mereka biasannya bersifat subyektif, penggambaran yagn berpusat pada diri./ego.

Kebenaran haruslah terdapat di mana-mana, pada segala sesuatunya. Tetapi kita tidak melihatnya karena kita mencarinya di jalan yang salah – karena, kenyataannya, kita lalai. Pikiran kita biasannya berada di suautu masa lainnya, tidak di saat ini, bermimpi tentang masa lalu atau masa yang akan datang, meragukan tentang Kebenaran atau Pencerahan. Surga atau neraka. Dan mungkin kita tidak ingin melihat Kebenaran, karena itu mungkiun tidak sesuai dengan gagasan dan keinginan kita. Jadi kita berbelok dan mencari Kebenaran-Kebenaran lainnya, dan yang lainnya, dan yang lainnya, dan kita tak pernah menemukan yang sebenarnya / yang sejati.


[
Sumber: Against The Stream, by beachcomber, Malaysia,1998. Alih Bahasa: Lindawati T. Dikutip dari Bk Mutiara Dhamma XIV ]

Nasib, Dapatkah Di Ubah?



Nasib, Dapatkah Di Ubah?

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera

PENDAHULUAN
Kemajuan jaman telah banyak mengubah perilaku manusia. Semakin lama semakin marak penggunaan teknologi canggih untuk mempermudah seseorang menjalani kehidupan. Seseorang yang ingin mengadakan perjalanan jauh, semula hanya mampu mempergunakan mobil, kini ia dapat menggunakan pesawat terbang. Pemanfaatan pesawat TV meningkatkan perolehan arus informasi global yang semula hanya didapat dari surat kabar dan radio saja. Demikian banyak segi kehidupan yang telah dipengaruhi oleh kemajuan jaman. Akan tetapi, meskipun jaman telah banyak berubah, masih cukup banyak sikap dan cara berpikir masyarakat yang relatif tetap. Konsep tentang nasib, misalnya. Sampai saat ini, masih banyak orang yang mempercayai adanya nasib. Mereka menganggap nasib telah ditentukan terlebih dahulu sebelum seseorang dilahirkan ke dunia. Nasib berlaku sejak dilahirkan sampai dengan meninggal. Nasib ini tidak akan dapat diubah walau sedemikian hebat seseorang berusaha memperbaikinya. Konsep ini memang sangat sederhana dan bermanfaat untuk membuat seseorang lebih mudah menerima penderitaan dalam kehidupan. Apabila mereka menjumpai kesulitan hidup yang tidak terpecahkan, maka jalan keluarnya adalah menyalahkan nasib buruknya sendiri dan akhirnya mereka akan tenang. Namun, apakah hal ini ada di dalam pengertian Buddhis?
Umat Buddha yang mengerti sedikit-sedikit Ajaran Sang Buddha menyadari bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini tidak kekal, selalu berubah. Hal ini memang sesuai dengan pengertian yang telah diuraikan oleh Sang Buddha. Oleh karena itu, mereka juga menyadari bahwa nasib pun tidaklah kekal. Artinya, nasib dapat diubah. Namun, cara untuk mengubah nasib inilah yang tidak tepat, tidak sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Banyak orang dalam suasana tahun baru mengunjungi para tukang ramal untuk mengetahui nasib dan masa depan mereka. Apabila sang peramal mengatakan bahwa pada tahun itu nasib mereka baik maka sungguh bahagia mereka. Sebaliknya, bila si peramal memberikan kabar buruk, mereka menjadi gelisah, cemas dan takut. Mereka kemudian bertanya dan memohon kepada si peramal untuk mengadakan upaya atau upacara tertentu yang dapat membebaskan mereka dari nasib buruk. Mereka menghabiskan banyak uang untuk mengadakan upacara tertentu tersebut agar dapat selamat dari penderitaan. Apakah hal ini bermanfaat? Kadang memang dapat memberikan manfaat, tetapi lebih sering mereka menjadi mangsa empuk paranormal gadungan. Justru pada akhirnya si paranormal lah yang lebih bahagia daripada ‘mangsanya’.

Agama Buddha memang melihat kehidupan ini tidaklah kekal, selalu berubah. Dengan demikian, memang benar bahwa nasib seseorang pun dapat berubah. Nasib sesungguhnya adalah merupakan kumpulan buah perbuatan baik maupun buruk yang telah pernah dilakukan seseorang. Salah satu sabda Sang Buddha yang sangat terkenal tentang ini adalah: “Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebajikan dan pembuat kejahatan akan menerima kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan memetik buah-buah dari padanya(Samyutta Nikaya I, 227).Jelas sudah sekarang bahwa suka dan duka adalah buah perbuatan sendiri. Dengan demikian, nasib pasti dapat diperbaiki dengan melakukan suatu tindakan tertentu. Agar lebih jelas memahami Ajaran Sang Buddha yang dapat dipergunakan untuk mengubah nasib maka disusunlah makalah ini. Namun, agar terhindar dari kerancuan pengertian istilah ‘nasib’ yang telah berkembang di tengah masyarakat bahwa nasib tidak dapat diubah maka dalam makalah ini digunakan istilah yang lebih sesuai yaitu Kamma (Pali) atau Karma (Sanskerta). Istilah ‘kamma’ memang telah dipergunakan oleh Sang Buddha sendiri. Dalam pembahasan makalah akan digunakan istilah yang cukup memasyarakat yaitu ‘karma’.

PEMBAHASAN

Pengertian akan adanya Hukum Karma sudah cukup lekat dalam masyarakat kita, baik di kalangan Umat Buddha maupun bukan. Walaupun pengertian itu masih bersifat setengah-setengah. Masyarakat dengan mudah mengatakan bahwa orang jahat yang kemudian tertimpa bencana itulah akibat buah karmanya. Sebaliknya, jarang terdengar bahwa orang baik yang hidup bahagia adalah juga akibat buah karmanya. Kebanyakan orang menganggap bahwa istilah ‘karma’ selalu berarti karma buruk. Padahal dalam pengertian Buddhis, karma berarti segala bentuk perbuatan yang dilakukan dengan niat (Anguttara Nikaya II, 82). Niat melakukan perbuatan ini dapat diwujudkan dengan prilaku badan, ucapan maupun tetap dalam pikiran saja. Perbuatan yang dilakukan dapat merupakan perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
Memperhatikan perumpamaan yang diberikan Sang Buddha tentang Hukum Karma, dapatlah dimengerti bahwa Hukum Karma sebenarnya adalah Hukum Sebab dan Akibat. Apabila ada sebab maka timbul pula akibat; apabila hilang penyebabnya maka hilang pula akibat. Hukum Sebab dan Akibat ini adalah merupakan hakekat kehidupan. Oleh karena itu, ada beberapa kondisi alam yang juga dipengaruhi oleh Hukum Sebab dan Akibat.Kondisi ini diuraikan dalam Abhidhamma Vatara 54 sebagai HUKUM ALAM (Pancaniyama Dhamma) yaitu:
1. Bija Niyama : Hukum mengenai biji–bijian.
2. Utu Niyama : Hukum yang berkenaan dengan temperatur.
3. Kamma Niyama : Hukum Perbuatan.
4. Citta Niyama : Hukum akibat dari kemampuan pikiran.
5. Dhamma Niyama : Adanya gravitasi.
Hukum Karma (Kamma Niyama) ternyata adalah salah satu dari Hukum Sebab dan Akibat. Sesuai dengan prinsip dasar Hukum Sebab dan Akibat berarti setiap suka dan duka yang dialami pasti ada sebabnya. Apabila dapat mengatasi penyebabnya maka akibatnya pun dapat diubah. Jadi, kebahagiaan dapat dimunculkan dan penderitaan dapat dihindari asalkan mengetahui penyebab kebahagiaan dan penderitaan. Untuk dapat menumbuhkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan, cara kerja karma harus diketahui terlebih dahulu. Pada kitab Visuddhimagga 601, cara kerja karma dibagi menjadi:
1. Karma yang menyebabkan kelahiran.
Pada saat kelahiran, seseorang tidak dapat menentukan sendiri agar dapat lahir dengan bentuk tubuh tertentu, jenis kelamin tertentu dan sebagainya. Apa yang didapat pada saat kelahiran adalah mutlak buah karma yang telah pernah diperbuat dalam kehidupan sebelumnya. Lahir sebagai lelaki atau wanita, lahir sempurna atau cacat adalah hasil kerja karma yang melahirkan berdasarkan timbunan karma baik maupun buruk yang dimilikinya.
2. Karma yang mendukung buah karma yang tengah dialami.
Kerja karma jenis kedua ini adalah memberikan tambahan atas karma yang muncul pada saat kelahiran. Apabila seorang anak lahir dengan lebih banyak memiliki karma baik sehingga ia mempunyai bentuk tubuh indah, sehat, ganteng / cantik, dan sempurna maka karma yang mendukung memberikan nilai tambah lagi yaitu, misalnya ia lahir dalam keluarga kaya raya, keturunan yang terhormat, dan seterusnya.
Sebaliknya, anak yang lahir dengan timbunan karma buruk yang cukup banyak sehingga ia memiliki tubuh cacat, wajah buruk maka akan ditambah pula dengan kelahirannya di keluarga pra sejahtera, dan kondisi keluarga yang amburadul.

Inti kerja karma ini adalah jika seseorang lahir bahagia maka akan ditambah kebahagiaannya; bila saat lahir sudah menderita maka ditambah pula menderitaannya.

3. Karma yang mengurangi buah karma yang sedang dialami.
Kehidupan bahagia dan tambah bahagia serta mereka yang menderita semakin menderita ternyata masih dapat diperbaiki. Kebahagiaan dapat ditingkatkan dan penderitaan dapat dikurangi. Inilah yang menjadi tugas karma jenis ini. Namun, tugas tersebut harus dilaksanakan sendiri. Artinya, mereka yang ingin tambah bahagia dan menghindari penderitaan harus mampu melakukan perbuatan baik. Ada banyak perbuatan baik yang dapat dilaksanakan. Dalam bagian lain makalah ini nanti akan dibahas satu demi satu.
Pengertian tentang cara kerja karma jenis inilah yang akan dapat memberikan makna dalam kehidupan. Orang akan terdorong untuk melakukan kebajikan karena menyadari bahwa buah kebahagiaan akan dialami sendiri. Sebaliknya bila ia mengalami kesulitan, ia tidak akan putus asa karena sadar bahwa ia sendirilah yang dapat mengubah tangis menjadi tawa. Dari sinilah semangat hidup dapat dibangkitkan. Dari sini pula dibangkitkan kelebihan manusia sebagai penentu suka duka hidupnya sendiri. Tidak akan ada kekecewaan di kala menderita; tiada kesombongan di kala suka karena orang telah menyadari bahwa segala suka dan duka yang dialami adalah hasil perbuatannya sendiri.
4. Karma yang memotong karma yang menyebabkan kelahiran.
Perubahan yang sangat drastis akibat perbuatan sendiri dapat menimbulkan jalan hidup yang bertentangan dengan karma yang dialami sewaktu dilahirkan. Seseorang yang sempurna tubuhnya dan lahir dari keluarga bangsawan namun ia suka mabuk-mabukan akan dapat mengakibatkan dia menderita selamanya, misalnya apabila ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang berakibat cacat seumur hidup. Dengan demikian, hilang kesempurnaan tubuhnya dan tidak ada lagi arti keturunan bangsawan yang dimilikinya.
Sebaliknya orang yang buruk wajahnya dan lahir dikeluarga miskin, namun ia rajin dan penuh kejujuran maka ia dapat memperoleh kepercayaan dari atasannya untuk jabatan penting tertentu dalam suatu perusahaan, misalnya. Jabatan penting yang dipercayakan kepadanya akan dapat memperbaiki kondisi ekonominya yang semula sulit. Jabatan itu juga menyebabkan ia menjadi orang terhormat yang bertolak belakang dengan keadaan yang dialaminya sewaktu ia dilahirkan.
Dengan mengerti cara kerja karma di atas, maka segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan adalah termasuk dalam jenis karma kelompok ketiga: Karma yang mengurangi buah karma yang sedang dialami. Apabila banyak perbuatan baik yang kita lakukan, maka kebahagiaan dapat terus ditingkatkan dan penderitaan dapat dikurangi. Sedangkan perbuatan jahat harus dihindari karena akan dapat menurunkan kebahagiaan dan meningkatkan penderitaan yang tengah dialami. Inilah kunci penting perubahan karma. Dalam Dighanikaya Atthakatha III, 999terdapat sepuluh jalan berbuat kebaikan (Dasa Puññakiriyavatthu) yaitu:
1. Dãnamaya: Memberikan dana/kerelaan
Dana atau kerelaan dalam Agama Buddha adalah menjadi dasar segala perbuatan baik. Tidak akan ada perbuatan baik yang dilakukan seseorang apabila ia tidak memiliki kerelaan. Dana yang dimaksudkan di sini tidaklah selalu hanya berhubungan dengan uang ataupun materi saja. Dana yang dibicarakan adalah dana yang bersifat materi dan juga dana yang tidak bersifat materi. Dana yang bersifat materi lebih biasa didengar, sedangkan salah satu contoh dana yang bersifat bukan materi adalah kesediaan seseorang memberi maaf kepada orang yang bersalah. Pada tingkat awal, orang memang dianjurkan berdana dalam bentuk materi, misalnya uang, pakaian, makanan maupun kebutuhan yang lain. Sesungguhnya makna dana ini adalah menumbuhkan kebiasaan berpikir untuk membahagiakan mahluk lain. Bahkan, semua mahluk. Ia akan membahagiakan mereka dengan segala macam cara. Menumbuhkembangkan pikiran yang penuh cinta kasih. Dalam Jataka 37 disebutkan bahwa apabila seseorang memiliki pikiran penuh cinta kasih maka ia akan merasa welas asih kepada semua mahluk di dunia. Semua mahluk yang ada di atas, di bawah dan di sekelilingnya, tak terbatas di manapun juga. Apabila sikap ini sudah dapat terbentuk dengan kemampuan materi, maka dapat dilanjutkan dengan memberikan hal-hal yang bukan materi. Mau mendengarkan kesulitan orang lain adalah juga termasuk berdana yang bukan materi.
2. Sîlamaya: Menjaga sila (kemoralan)
Pelaksanaan kemoralan ditujukan agar seseorang selain mampu berbuat baik, ia hendaknya juga mampu mengendalikan dirinya, mengendalikan tingkah lakunya. Dalam pelaksanaan sila, sebagai permulaan, seseorang dapat melatih lima sila atau disebut juga sebagai Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Lima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh dan menganiaya mahluk hidup, tidak mencuri, tidak melanggar kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan (Anguttara Nikaya III, 203). Tujuan dari pelaksanaan sila ini agar si pelaku tidak memiliki kesalahan yang dapat merugikan diri sendiri maupun pihak lain. Dengan pelaksanaan sila, selain si pelaku dapat diterima sebagai anggota masyarakat yang baik, ia pun juga termasuk melakukan karma baik. Dalam Theragatha 608 disebutkan bahwa di sini, di dunia ini, seseorang haruslah melatih dengan cermat untuk menyempurnakan kemoralan, karena kemoralan apabila dikembangkan dengan baik akan menghantarkan semua keberhasilan ke dalam genggaman. Selanjutnya, apabila pelaksanaan latihan lima sila ini ingin ditingkatkan, maka seseorang dapat melatih delapan sila sehari dalam seminggu. Lebih meningkat lagi adalah dengan melaksanakan sepuluh sila yaitu dengan menjadi samanera sementara ataupun tetap. Paling banyak latihan sila adalah dengan melakukan bhikkhu sila yaitu melatih 227 peraturan kebhikkhuan.
3. Bhãvanãmaya: Mengembangkan batin
Berdana dan melaksanakan kemoralan adalah latihan pembentukan kebiasaan yang masih berkaitan dengan unsur fisik seseorang. Kedua latihan ini sudah cukup baik, namun masih harus ditingkatkan. Apabila seseorang hanya melatih diri sampai pada unsur fisik saja, maka ia akan menjadi orang yang munafik, pandai berpura-pura; baik kelakuan tetapi jahat pikirannya. Ia hendaknya juga melatih pikirannya dengan meditasi. Meditasi sebaiknya dilatih setiap hari, pagi dan sore hari paling sedikit 15 menit atau 30 menit setiap latihan. Melalui meditasi orang dibiasakan berpikir yang baik, berkonsentrasi pada segala hal yang sedang dipikirkan, dikerjakan dan diucapkan. Tujuan utama meditasi adalah membentuk kebiasaan berpikir, hidup adalah saat ini. Pikiran seseorang sering melayang ke masa lampau ataupun yang akan datang, akibatnya timbullah perasaan suka dan duka. Suka adalah sebagai akibat tercapainya keinginan di masa lampau atau karena membayangkan kebahagiaan yang akan diperoleh di masa depan. Sebaliknya duka adalah karena keinginan di masa lampau tidak tercapai atau ketakutan membayangan masa yang akan datang. Padahal, keduanya adalah tipuan pikiran belaka. Di masa lampau seseorang pernah hidup tetapi ia sudah tidak hidup di masa itu lagi. Sedangkan masa depan, ia akan hidup tetapi belum tentu hidup. Hidup adalah saat ini. Ketakutan maupun kebahagiaan semu justru akan menyia-nyiakan kenyataan bahwa saat inilah seseorang sedang hidup!
4. Apacãyanamaya: Bersikap rendah hati dan menghormati mereka yang lebih tua
Rendah hati adalah salah satu bentuk latihan mengurangi keakuan. Keakuan menjadikan seseorang merasa sebagai tokoh utama dalam hidup ini. Tanpa dirinya seakan dunia tidak akan berputar lagi. Padahal menurut Buddha Dhamma kehidupan ini sesungguhnya dicengkeram oleh Hukum Sebab dan Akibat. Artinya, seseorang mampu mencapai kondisi seperti saat ini pasti ada sebabnya. Dan dari salah satu penyebab tersebut, pasti juga akan melibatkan pihak lain. Seseorang tidak akan pernah mampu untuk hidup sendirian dalam dunia. Ia pasti membutuhkan pihak lain untuk saling membantu. Oleh karena itu, apabila telah disadari bahwa orang tidak dapat hidup sendirian, maka orang akan mampu mengurangi rasa keakuan, mengikis kesombongan. Orang akan dapat hidup hormat menghormati. Orang akan menghormati mereka yang patut memperoleh penghormatan. Orangtua misalnya, adalah orang yang menyebabkan seseorang ada di dunia ini. Mereka pula yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, sudah selayaknya mereka memperoleh penghormatan. Demikian pula dengan kakak yang mungkin juga telah ikut berperan dalam menjaga dan menghindarkan seseorang dari bahaya. Para guru juga memiliki jasa dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Serta masih sangat banyak pihak lain lagi yang amat berjasa dan berpengaruh dalam kehidupan seseorang.
Penghormatan selain sebagai sarana mengurangi keakuan, juga untuk membiasakan seseorang agar dapat mengenal budi baik orang lain. Dalam Anguttara Nikaya I, 87 dinyatakan bahwa terdapat dua tanda yang dimiliki oleh orang yang sulit dijumpai di dunia ini. Kedua tanda itu adalah, pertama, orang tersebut memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberikan pertolongan kepada pihak lain, tanpa mengharapkan imbalan apapun juga. Kedua, orang tersebut memiliki kesadaran atas kebaikan yang telah pernah diterimanya dan berusaha untuk berbuat baik kepada fihak tersebut dengan lebih besar daripada kebaikan yang pernah diterimanya. Sesungguhnya, adalah satu perbuatan baik yang dapat cepat mengubah karma seseorang apabila ia dapat mengingat jasa kebaikan orang lain, memberikan penghormatan yang selayaknya serta membalas kebaikan mereka.
5. Veyyãvaccamay: Membantu dan bersemangat dalam melakukan hal yang patut
Perbuatan baik tidak berarti hanya berusaha menghindari kejahatan dengan melatih kemoralan. Menghindari melakukan kejahatan adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang dikategorikan kebaikan pasif. Sebutan ini diberikan karena sifat perbuatan baik tersebut dilakukan dengan usaha menahan diri untuk tidak mengerjakan sesuatu (kejahatan). Selain itu, ada pula perbuatan baik secara aktif. Maksud perbuatan baik jenis ini adalah seseorang didorong secara aktif dan terus menerus untuk melakukan kebajikan sesuai dengan tuntunan Ajaran Sang Buddha. Banyak disebutkan dalam Dhamma tentang anjuran melakukan kebajikan. Anjuran untuk menolong mahluk lain, berdana, mengembangkan kejujuran serta masih banyak lagi bentuk perbuatan baik lainnya. Selain melakukan sendiri, seseorang hendaknya juga mau menganjurkan orang lain melakukan kebajikan yang sama dengan yang telah dilakukannya sendiri. Perbuatan ini dapat digolongkan sebagai berdana Dhamma. Bukankah dalam Dhammapada XXIV,21 disebutkan bahwa pemberian Dhamma dapat mengalahkan segenap pemberian lainnya?
6. Patidãnamaya: Melimpahkan jasa baik kita
Walaupun dalam Hukum Sebab dan Akibat disebutkan bahwa si pelaku akan memperoleh buah perbuatannya sendiri, perbuatan baik ternyata dapat dilimpahkan jasanya. Proses ini digambarkan dengan seorang anak yang menuntut ilmu di kota lain memberitakan kabar kelulusannya kepada orangtuanya di kota kelahirannya. Mendengar kabar gembira ini, ayah dan ibunya tentunya akan merasakan kebahagiaan. Padahal apabila direnungkan, si anak yang lulus tetapi mengapa orangtuanya juga merasakan kebahagiaan? Inilah yang disebutmuditã citta atau ikut bergembira atas kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain (Vibhangga 272 & 642).Muditã citta termasuk melakukan salah satu karma baik lewat pikiran. Oleh karena itu, kondisi sedemikian inilah yang dimunculkan oleh seorang Umat Buddha apabila melimpahkan jasa kebaikan yang dilakukannya kepada sanak keluarganya yang sudah meninggal. Sanak keluarga yang meninggal adalah seperti orangtua yang tinggal di luar kota (pada perumpamaan di atas), mereka akan ikut berbahagia atas kebajikan yang dilimpahkan kepadanya. Kebahagiaan ini berarti penimbunan karma baik lewat pikiran. Apabila pelimpahan jasa ini sering dilakukan, berarti makin banyak memberi kesempatan para leluhur menanam kebajikan. Akibatnya, apabila karma baik yang ditimbunnya sudah cukup, meninggallah mereka dari alamnya dan terlahir di alam yang lebih baik. Dengan demikian, pelimpahan jasa ini akan banyak memberikan manfaat. Pertama, manfaat didapat oleh si pelaku kebajikan sendiri. Kedua, para leluhur pun ikut menikmati kebajikannya sehingga memberikan kondisi terlahir di alam yang lebih baik. Ketiga, si pelaku dapat mengurangi keakuan, sebab semua kebajikan yang dilakukan diatasnamakan para leluhur. Keempat, obyek perbuatan baik yang menerima kebajikan juga akan memperoleh kebahagiaan. Minimal empat manfaat itulah yang dapat dirasakan dalam proses pelimpahan jasa. Oleh karena itu, dengan seringnya melakukan pelimpahan jasa akan mengkondisikan penanaman karma baik yang cukup banyak pula untuk semua fihak.
7. Pattãnumodãnamaya: Menerima dan bergembira atas perbuatan baik orang lain
Rasa berbahagia atas kebahagiaan yang didapatkan pihak lain, muditã citta, bukan hanya diperlukan untuk para leluhur yang sudah meninggal saja. Sikap pikiran yang baik ini hendaknya juga dimiliki oleh orang yang masih hidup. Hal ini karena sikap pikir ini jelas-jelas merupakan karma baik. Kebanyakan, orang merasa iri hati dengan kebahagiaan orang lain ataupun tidak senang apabila orang lain mempunyai kesempatan berbuat baik. Perasaan ini muncul karena sebagai orang yang belum mencapai kesucian, seseorang masih diliputi oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Oleh karena itu, agar memperoleh ketenangan hidup dan sekaligus untuk menambah perbuatan baik, perasaan iri ini harus dikendalikan bahkan kalau dapat dimusnahkan. Cara memusnahkannya adalah dengan menyadari bahwa segala suka dan duka yang dialami seseorang adalah buah dari perbuatannya sendiri. Kesempatan berbuat baik dan kebahagiaan yang dialami seseorang adalah karena buah karma baiknya sendiri. Apabila seseorang sering menambah kebajikan, tentu saja kesempatan berbahagia semakin besar diperolehnya. Sebaliknya, penderitaan yang dialami seseorang juga akibat buah karma buruknya. Dengan demikian, seseorang hendaknya menghindari melakukan perbuatan yang tidak benar agar terhindar dari penderitaan. Dengan pengertian akan Hukum Sebab dan Akibat ini maka akan musnahlah iri hati dengan kebahagiaan orang lain; serta merasa sombong ketika melihat penderitaan orang lain.
8. Dhammasavanamaya: Mendengarkan Dhamma
Sebagai seorang Umat Buddha, seseorang wajib datang ke vihara mengikuti puja bhakti. Hal ini perlu ditegaskan di sini karena banyak manfaat yang diperoleh dari mengikuti puja bhakti. Pertama, sewaktu membaca ulang kotbah-kotbah Sang Buddha (Paritta) seseorang harus mempergunakan konsentrasi pikirannya. Dengan konsentrasi, maka ia akan terbebas dari pikiran yang buruk. Selama membaca Paritta pikirannya dapat diarahkan menuju ke kebaikan. Kedua, jika di kemudian hari seseorang dapat mengerti makna Paritta yang dibacanya, ia akan memperoleh pedoman hidup yang tiada taranya. Pedoman yang sederhana, mudah dilaksanakan dan membimbing orang untuk lebih percaya diri. Ketiga, di vihara seseorang diberi kesempatan untuk melatih meditasi yang merupakan salah satu sarana mengendalikan pikiran. Dengan pikiran terkendali, niatan melakukan perbuatan jahat dapat dikikis sedangkan niat berbuat baik dapat dipupuk. Keempat, di vihara seseorang memiliki kesempatan mendengarkan Ajaran Sang Buddha. Seperti yang telah diketahui bahwa Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Buddha adalah merupakan bekal penting dalam kehidupan. Inti sari Ajaran Sang Buddha adalah menumbuhkan sikap yang benar dalam menghadapi perubahan dalam hidup. Sebab orang sering kecewa dengan kenyataan hidup. Segala sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai, sebaliknya hal yang diperoleh justru bukan yang diinginkannya. Mendengarkan Dhamma adalah ibarat memberikan tenaga tambahan pada batin seseorang yang mungkin lelah dalam menghadapi kenyataan hidup. Mendengarkan Dhamma menjadi penting karena banyak manfaat yang diperoleh. Kitab Anguttara Nikaya III, 248disebutkan beberapa manfaat mendengarkan Dhamma, yaitu:
a. Memperoleh pengertian yang belum pernah didengar sebelumnya.
b. Memperjelas hal yang telah pernah didengar sebelumnya.
c. Menghilangkan keraguan tentang hal yang telah pernah didengar.
d. Memberikan pengertian yang benar.
e. Menimbulkan pikiran yang jernih, terang, dan bahagia.
Mengingat cukup banyak manfaat datang ke vihara mengikuti puja bhakti, maka jelas sudah tidak akan ada lagi keraguan untuk melaksanakannya. Bukankah setiap orang ingin meningkatkan kualitas hidupnya? Bukankah orang ingin hidup lebih berbahagia daripada yang tengah dirasakan saat ini? Sering pergi ke vihara adalah merupakan salah satu cara mencapainya. Ikut puja bhakti dan mendengarkan Dhamma adalah cara efektif dan efisien untuk menambah kebajikan dan meningkatkan kualitas diri.
9. Dhammadesanãmaya: Memberikan kotbah Dhamma
Ajaran Sang Buddha yang telah pernah di dapat baik dari vihara maupun dari sumber-sumber lainnya hendaknya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan Dhamma ini jauh lebih penting daripada hanya sekedar menghafalkannya. Dengan mencoba menjalankan Ajaran Sang Buddha, seseorang akan dapat merasakan manfaat langsung. Merasakan manfaat Dhamma secara nyata ini hendaknya menjadi semangat untuk menceritakan dan mendorong orang lain agar melaksanakan Dhamma dengan baik pula. Dalam pengertian Buddhis, seseorang dihargai bukan karena banyaknya Dhamma yang dipelajari dan dimengerti tetapi adalah dari seberapa banyak Dhamma yang telah dilaksanakan dalam hidupnya. i>Dhammapada VIII, 3 menyebutkan bahwa daripada seribu bait syair yang tidak bermanfaat, adalah lebih baik satu kata Dhamma yang dapat memberikan kedamaian kepada pendengarnya. Jelaslah di sini bahwa kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Oleh karena itu, bersedia menceritakan secara sederhana pengalaman sendiri setelah melaksanakan Dhamma akan mendorong orang lain mengikutinya. Menjadikan orang lain memiliki kesempatan mendapatkan pengalaman yang serupa, kebahagiaan. Keberhasilan menganjurkan orang melaksanakan Dhamma adalah merupakan Dhamma dana yang diakui akan memberikan buah terbesar melampaui segala bentuk pemberian lainnya. Banyak cara digunakan untuk membagikan pengalaman melaksanakan Dhamma. Cerita bebas atau ‘ngobrol’ Dhamma, ceramah resmi maupun hanya berupa ‘kesaksian’ Dhamma dalam forum terbatas, cetak buku Dhamma, membiayai anak asuh ke sekolah Buddhis, dsb. Adalah beberapa contoh cara memberikan Dhamma kepada orang-orang di lingkungan sendiri.
10. Ditthujukakamma: Membenarkan pengertian salah
Perbuatan baik yang kesepuluh ini adalah kelanjutan dari uraian yang kesembilan di atas. Seseorang pada saat akan membagikan pengalaman Dhamma, hendaknya memiliki tujuan. Salah satu tujuan pokok adalah untuk memberikan pengertian yang benar akan hakekat kehidupan. Cukup banyak pengertian yang tidak tepat yang beredar dalam masyarakat. Misalnya, tentang pengertian nasib yang tidak dapat diubah sama sekali atau cara mengubah nasib yang kurang sesuai. Akan menjadi tugas bersama para umat Buddha untuk memberikan pengertian benar dengan berlandaskan cinta kasih. Kasihanilah mereka yang masih belum mengerti. Janganlah mereka dimusuhi. Berilah kesempatan kepada mereka untuk meningkatkan kualitas dirinya. Dengan memiliki pola pikir demikian akan membangkitkan semangat para umat Buddha membagikan Dhamma secara bijaksana dan penuh cinta kasih serta kesabaran. Tindakan ini jelas-jelas akan menjadikan peningkatan karma baik kedua belah pihak secara maksimal. Pada akhirnya, mereka yang memupuk karma baik yang terbanyaklah yang akan segera mendapatkan kebahagiaan. Mendapatkan perubahan kualitas kehidupan.
KESIMPULAN
1. Segala sesuatu di dunia tidaklah kekal, selalu berubah.
2. Perjalanan hidup seseorang juga dapat berubah.
3. Perubahan perjalanan hidup ditentukan oleh perbuatannya sendiri.
4. Ada, paling sedikit, sepuluh perbuatan yang dapat mengubah kehidupan

[ Dikutip dari Naskah Simposium "Pengaruh Tata Letak Dan Perilaku Dalam Meningkatkan Kebahagiaan ]

Meluhurkan Batin


Meluhurkan Batin

Oleh (Alm) Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera




Saya akan menjelaskan tentang bagaimana kita harus betul-betul berdiri di atas kaki sendiri, untuk mencari Dhamma, mempelajarinya, menghayatinya kemudian mengamalkan, mengembangkan sampai menjadi orang yang sukses melaksanakan Dhamma, yaitu minimal mencapai pannya atau kebijaksanaan.

Saya akan menceritakan suatu masalah. Pada kira-kira 10-15 tahun yang lampau, keadaan masyarakat kita di Indonesia oleh kantor statistik digambarkan bahwa 80% masyarakat kehidupannya masih di bawah standard, masih miskin. Jadi penghidupannya sangat bergantung kepada majikan yang murah hati, untuk memberikan pekerjaan. Hidupnya morat-marit, kadang kerja menjahit, satu minggu kemudian menjadi pelayan, satu minggu lagi menjadi petani, satu minggu lagi tarik becak, dan sebagainya. Jadi kehidupannya di bawah standard, tergantung sekali kepada majikan-majikan. Tetapi sayang sekali, pemerintah belum pernah mengadakan statistik tentang kemiskinan batin, kemiskinan rohani. Mana pernah pemerintah mencatat, oh orang ini miskin rohani, miskin dengan pengetahuan agama; tidak pernah sama sekali pemerintah membuat statistik tentang hal itu. Setelah Lu Shen Yen datang ke Indonesia, baru kelihatan berapa banyak jumlah orang yang berpengetahuan Dhamma amat minim. Hampir seperti perumpamaan saya dengan 80% rakyat Indonesia yang keadaan kehidupannya di bawah standard, yang terpaksa harus tergantung kepada majikan-majikan, bos-bos.

Sekarang saya mengamati ternyata orang yang miskin Dhamma, miskin pengertian yang benar tentang Dhamma itu masih banyak sekali. Kalau ada hal-hal yang baru, mungkin karena dipropagandakan dengan hebat sekali, seperti orang buta kalau diberkahi bisa melihat, yang tangannya bengkok diberkahi bisa menjadi lurus, yang lumpuh diberkahi bisa kembali berjalan seperti biasa, dan sebagainya. Kemudian banyak orang datang untuk meminta berkah rejeki, berkah keselamatan, berkah umur panjang dan sebagainya. Jadi saya nilai hal yang demikian itu tidak beda dengan pengemis. Dalam hal ini yaitu pengemis keselamatan, pengemis keejahteraan, pengemis macam-macam. Saya bandingkan demikian, karena untuk meraih kesejahteraan kehidupan di bidang materi dan rohani, memang jarang sekali orang yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kebanyakan dari mereka itu mau bergantung, minta tolong, minta belas kasihan dari yang dianggap lebih daripada dirinya.

Nah, bagaimana kalau kebetulan hidup saudara sedang susah, menderita kekurangan, dll, lalu ada yang menawarkan atau menjanjikan, “Ah kamu jangan repot-repot, diberkahi saja oleh orang yang hebat ini pasti beres!” Apakah mental saudara akan goyah kalau terjadi yang demikian? Ingatlah bahwa Sang Budha pernah memberikan nasehat kepada kita yang bunyinya, “Atta hi attano natho”, artinya, “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri”. Jadi kita harus berjuang untuk meraih sukses, dengan mempraktekkan Dhamma, berusaha berdiri di atas kaki sendiri, percaya kepada diri sediri. Berusaha berdiri di atas kaki sendiri dan percaya kepada diri sendiri itu dengan apa?

Sang Buddha sudah memberi petunjuk yang jelas sekali agar kita dapat berdiri di atas usaha kita, yang sudah terang dan jelas sekali akan membawa kepada kesuksesan. Apa itu? Yaitu: saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya. Dengan 5 bala atau Panca Bala ini, kita akan berjuang sampai ‘ajimat’ yang akan kita jadikan pelindung yang betul-betul pelindung, tumbuh secara alamiah di dalam batin kita. Bukan dengan menengadahkan tangan meminta berkah keselamatan, berkah rejeki, dll kepada siapa-siapa.

Pada waktu di Muntilan, saya dikunjungi oleh seorang umat dari daerah lain. Katanya, “Bhante, saya rindu sekali dengan Bhante. Sekarang saya minta berkah kepada Bhante”. Saya berkata, “Bagaimana romo?” “Saya minta supaya selamat sepanjang hidup, istri saya juga selamat, anak saya lulus, pekerjaan saya (sebagai tukang las) bisa maju, anak-anak saya semuanya menurut, baik-baik, nanti kalau kawin dapat istri yang baik”, Pokoknya yang serba selamat, serba baik, dan serba tidak kekurangan. Itu yang diminta. Bagaimana saya tidak tertawa cekikikan di belakang panggung saya. tetapi toch saya berkahi juga. Nah, inilah tipe orang menggantungkan diri kepada orang lain, bukan berdiri di atas kaki sendiri. Andaikata romo itu, mengembangkan Panca Bala, yaitu saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya, pasti harapannya akan tercapai; minimal yang disebut “Nekkhamma Sankappa”. Nekkhamma-sankappa itu sudah merupakan wujud permulaan dari ‘ajimat’ pelindung diri kita yang sebenarnya.

Saddha itu akan tumbuh dari melakukan sila dengan baik. Saya kira kalau saudara melakukan sila dengan sungguh-sungguh, keyakinan saudara akan berkembang, karena saddha itu memang harus tumbuh melalui sila. Kemudian Viriya, artinya tidak jemu-jemunya berjuang, melatih diri, tekun, ulet, rajin, tidak putus asa dan bahkan lebih dari itu, berani menghadapi resiko apapun untuk menjalani kebaikan. Kemudian Sati, adalah penuh waspada, berhati-hati sekali, sadar selalu. Kalau ada gejala yang tidak baik jangan cenderung. Itu bisa diatasi dengan kewaspadaan, kesadaran penuh, dan juga tentunya pengertian, sehingga baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam meditasi kita tetap memiliki perhatian, kewaspadaan, dan kesadaran. Itu faktor yang sangat menunjang, menjaga jangan sampai batin melamun, berkeliaran atau berkelana kepada keasyikan gerak-gerik pikiran yang selalu ada pada kita. Yang disebut keasyikan itu adalah ngelantur kepada masa lampau atau ngelantur kepada cita-cita yang akan datang.

Sedangkan kalau samadhi, itu adalah usaha untuk memusatkan batin kepada satu obyek, sehingga kesadaran dengan obyek itu manunggal jadi satu. Ketiga unsur ini yaitu viriya, sati, dan samadhi dikatakan sebagai sarana untuk meningkatkan pikiran kita, meningkatkan batin kita. Bukan dengan minum obat mencerdaskan otak atau vitamin-vitamin, bukan! Tetapi untuk meningkatkan batin, yang paling utama adalah: viriya, sati, dan samadhi. Apalagi kalau kita sudah bisa mengembangkan pannya. Pannya biasanya dikembangkan denngan Vipassana. Dan memang, pannya itu tumbuh dari sila dan samadhi. Kalau saudara-saudara pada lain kesempatan sempat melaksanakan latihan vipassana, ini adalah baik sekali untuk mengembangkan kebijaksanaan. Di sana saudara akan melihat bahwa segala sesuatu, jasmani/materi, batin, perasaan, ingatan, bentuk-bentuk pikiran itu nampak jelas selalu mengalami perubahan. Dia timbul karena ada syarat, sebab, dan kondisinya. Tetapi setelah dia timbul dia tidak bisa bertahan, kemudian memudar dan akhirnya lenyap. Dalam vipassana, kita akan berusaha melihat ini dengan jelas. Ini menjadi syarat tumbuhnya pannya atau kebijaksanaan.

Andaikata kita sudah dapat memiliki viriya, sati, samadhi, pannya, maka di situlah akan tumbuh secara alamiah apa yang disebut Nekkhamma Sankappa. Jadi batin saudara secara alamiah akan mampu bersikap melepaskan kemelekatan kepada benda-benda, kepada jasmani, kepada istri/suami, kepada harta, kepada apa saja. Kemelekatan akan jauh berkurang. Dengan istilah lain, batin saudara sudah mampu melepaskan, tidak lagi terikat. Kalau batin sudah mencapai yang demikian maka saudara akan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak lagi tertarik untuk berebutan minta berkah keselamatan atau berkah apapun. Karena berkah yang sebenarnya itu sudah dapat direalisasi secara alamiah di dalam batin yang sudah dikembangkan hingga mencapai Nekkhamma Sankappa. Kita akan membuktikannya nanti. Kalau belum sampai yang demikian, sulit untuk membayangkan. Nekkhamma Sankappa ini akan muncul secara alamiah sekali.

Memang kalau kita belum mencapai tingkatan yang demikian maka jelas keadaan batin kita masih tetap tergolong dalam kondisi duniawi. Bisa menangis, tertawa, sedih, rindu, cemas, was-was, takut, dendam, sakit hati, tersinggung; bila dipuji senang, bila dicela tersinggung. Itu kondisi duniawi. Kalau kita umpamanya melekat kepada cinta, rindu, benci, sedih, takut, cemas, was-was, kemana pun kita pergi akan selalu direbut oleh semut-semut; semut api, semut yang ganas sekali, semut yang kalau menggigit pedes sekali rasanya. Kalau belum mencapai Nekkhamma Sankappa, apalagi yang lebih tinggi, pikiran kita itu selalu dicengkeram, dikuasai oleh apa yang dinamakan Panca Niwarana, yaitu nafsu menyenangi, nafsu membenci, malas, lesu, emoh rasanya berjuang meningkatkan batin untuk mencapai sukses dalam Dhamma, artinya menyerah kalah. Belum lagi kalau takut-takut, was-was, cemas, bimbang dan ragu. Panca niwarana ini selalu menggerogoti kita, sehingga banyak orang yang angkat tangan, menyerah kalah karena tidak mengerti sarana apa yang harus digunakan untuk mengatasinya. Sesungguhnya, panca niwarana ini dapat diatasi atau bahkan dijinakkan atau dihancurkan dengan meditasi. Maka itu, meditasi memegang peranan yang sangat penting. Apakah itu meditasi ketenangan (Samatha Bhavana) ataukah Meditasi Pandangan Terang (Vipassana Bhavana). Kalau tidak berhasil maka pikiran akan tetap semrawut, tetap memiliki kondisi duniawi. Kalau pikiran sudah semrawut dan tidak bersih, walaupun kita sudah banyak berdana, banyak sembahyang, sudah sering-sering memuja, sudah ciacai (tidak makan daging), bahkan walaupun kita sudah menjalankan sila, 5 sila, 8 sila, 10 sila, 75 sila, 227 sila, mungkin lebih, tetapi kalau pikiran masih semrawut, masih belum bersih, belum tenang, belum stabil, belum damai, belum mantap, masih goyah, kita akan mudah tersinggung, mudah dendam. Itu ciri-ciri orang yang belum stabil, belum bersih. Maka orang-orang yang demikian dikatakan tidak terjamin mutlak mesti masuk surga. Syukur-syukur kalau lahir kembali jadi manusia. Memang kalau banyak berbuat jahat kita akan lahir di neraka, kalau pikiran baik kita akan lahir di surga, tetapi kalau pikiran lebih mantap, itu lain lagi halnya, lebih tinggi! Jadi pesan saya, berusahalah untuk membersihkan pikiran, dengan sarana kewaspadaan, perhatian, dan kesadaran.

Kita harus sadar/waspada, “Oh, kok baru disinggung sedikit, saya marah”. Kita melihat marah itu muncul di dalam batin, lewat di dalam batin. Seperti misalnya kita berada di kamar yang bersih lalu ada ular masuk, kita melihat ular itu, lalu kita usir. Juga umpamanya pada waktu malam hari, secara refleksi kita melihat atau menginjak tali, lalu tali itu bergerak, kita terkejut karena kita pikir itu ular. Nah terkejut itu pun adalah gangguan pikiran. Jadi untuk membersihkan pikiran itu adalah luar biasa banyak usaha yang dikerahkan. Apalagi timbul rindu, kita “sadar”. Oh, ini rindu timbul, ini racun! Benci timbul, wah ini api yang sangat panas.

Ada cerita di pulau Bali waktu gunung Agung meletus. Lahar yang panas sekali entah berapa derajat panasnya mengalir ke suatu tempat, sehingga meskipun hewan-hewan menjangan lari ke tempat yang lebih tinggi, lahar yang mengalir di pinggirnya pun dapat membakar menjangan itu.

Api yang kita gunakan untuk memasak tidak seberapa panas, tetapi api yang dikeluarkan oleh lahar gunung Agung itu panas sekali, namun api dari bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik, itu adalah racun api yang tiada taranya. Bila racun yang kasar kita makan, nanti malamnya atau seketika itu juga kita akan meninggal. Tetapi racun yang lebih halus, tidak demikian! Dia memakan sedikit demi sedikit sisa umur kita. Pelan-pelan dia merongrong. Itu racun yang halus. Tetapi pikiran yang jahat ini, yang merasa rindu, sedih, cemas, takut, was-was, benci, dendam, dan sebagainya itu jauh lebih dasyat daripada racun yang paling dahsyat yang kita kenal di dunia ini. Mengapa? Karena dia membuat kita menderita bukan saja pada kehidupan ini, tetapi kita bertumimbal lahir, bentuk-bentuk pikiran yang kotor itu tetap meracuni kita, membuat diri kita panas, menderita, sengsara selama hidup, sepanjang hidup di mana saja kita lahir.

Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh, dengan penuh mengerahkan tenaga, untuk melepaskan segala bentuk-bentuk racun yang paling dahsyat yang paling hebat itu. racun atau api yang paling dahsyat adalah kebodohan dan kemelekatan. Dari situlah asal mulanya. Itulah yang sebenarnya rajanya racun, rajanya magic, rajanya jin, rajanya setan, yang memiliki kekuatan amat dahsyat. Rasanya kita orang tidak mampu menghadapinya. Namun Sang Buddha sudah memberikan petunjuk: kembangkan pannya/kebijaksanaan dengan mencoba melihat bahwa segala bentuk-bentuk pikiran itu hanyalah anicca, dukkha, anatta, sunyata, tathata, paticcasamuppada. Artinya mereka selalu berubah-ubah, mereka hanya problem, hanya masalah yang tiada habis-habisnya. Memang kadang-kadang mereka memberikan kepuasan, tetapi sering sekali tidak memuaskan. Dan bagaimana pun indahnya sesuatu itu, tetap ia tidak bisa dimiliki, karena ia hanya sesuatu yang timbul karena ada sebab, ada kondisi, dan dia tidak mungkin bertahan, ia akan lenyap, lebur.

Kembangkan pandangan ini terus-menerus. Dengan mengembangkan pandangan ini terus menerus, secara alami sang hati kita akan berubah dari aspek yang selalu mengalami perubahan atau lahir & mati (aspek sankhara), menjadi aspek sang hati yang tidak mengalami perubahan atau lahir dan mati (aspek visankhara). Itu bukan ada kekuatan dari langit yang membantu, tidak! Tetapi persisnya berkembang secara alamiah. Jadi usahakan untuk betul-betul mengerti bahwa semua materi, jasmani, bentuk-bentuk pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran; itu sebenarnya adalah termasuk dalam aspek yang pertama. Semuanya itu adalah sankhara. Tetapi kalau kita mengamati terus-menerus, hingga kita tahu jelas bahwa semua itu mengalami lahir-mati, lahir-mati, nanti sang hati yang mengamati itu akan berubah secara alamiah menjadi mencapai aspek visankhara. Artinya, setelah sang hati melihat perubahan-perubahan, anicca, dukkha, anatta, jasmani akan menjadi tua, akan mati, dan itu tidak dapat dipungkiri; sang hati tetap bisa tersenyum, “yach, sekarang saya sudah tua, tidak lagi seperti dulu! Saya maklum bahwa ini adalah kejadian yang alamiah, saya tidak kecewa, saya tidak menyesal”. Badan jasmani ini akan sakit, mungkin mengalami sakit yang kronis, mungkin yang menjengkelkan sekali. Kalau kaki lumpuh tidak bisa berjalan, itu menjengkelkan sekali. Meskipun kaki lumpuh, tetapi sang hati rela menerima lumpuh itu. Mungkin kalau kita sakit, dokter bilang sudah tidak ada harapan bisa sembuh, dokter sudah angk at tangan. Dan kita sadar bahwa sebentar lagi kita akan meninggal, entah besok, entah lagi dua hari. Kita tahu itu, tetapi batin kita tidak takut, tidak gentar, tidak menyesal, tidak menangisi. Itulah aspek sang hati yang lebih luhur yang disebut visankhara atau asankhara. Kalau batin kita sudah dewasa, kita tidak akan mengemis, merengek-rengek, mengemis, minta apa-apa, minta segala-galanya, minta didoakan, minta blessing. Tidak lagi! Saudara akan diam, tenang, tersenyum menghadapi peristiwa apapun yang akan terjadi.

Kebanyakan dari kita umumnya ‘kesengsem’, melekat sekali dengan cara-cara kehidupan duniawi ini, seolah-olah kita tidak bisa lepas dari kondisi duniawi ini. Kita menyenanginya dan kita melekat padanya. Begitulah pada umumnya keadaan kehidupan kita. Tetapi tahukah, sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita tidak akan selamanya hidup di dunia ini? Hidup ini hanya sementara. Orang bijaksana mengatakan bahwa kita ini hanya melancong, hidup ini hanya kesempatan untuk belajar mengerti tentang hidup dan kehidupan. Bukan hidup untuk makan, untuk bersenang-senang, untuk berfoya-foya, untuk plesir, umpamanya kawin terus, mumpung masih hidup, mumpung ada uang, dan sebagainya. Bukan itu tujuannya! Kehidupan ini mempunyai tujuan yang jauh lebih mulia daripada itu. Kehidupan ini bertujuan untuk meningkatkan batin kita, dari bodoh menjadi bijaksana, dari rendah menjadi luhur.

Letak kebahagiaan itu adalah pada lenyapnya kebodohan dan kemelekatan. Di mana sang aku lenyap, di situlah bahagia. Jadi ini harus disadari. Karena itu kita harus bangkit, meningkatkan kehidupan kita agar menjadi luhur. Itu tujuannya.

Untuk mendewasakan batin, jelas adalah dengan sila, samadhi, pannya. Dengan meditasi ketenangan (samatha) atau dengan vipassana. Itu jelas demikian!

Kalau kita bermeditasi dengan obyek pernafasan misalnya, perhatian kita adalah kepada nafas, masuk-keluar, masuk-keluar. Tetapi bila batin kita tidak dijaga dengan sarana-sarana yang ampuh, batin kita akan mengembara. Kalau pernafasan itu diumpamakan sebagai sumbu dari lampu lentera, maka api yang tidak dijaga dengan baik dan ampuh itu akan mudah ditiup angin, goyah, dan bisa mati. Kalau saudara bermeditasi, mengambil perumpamaan sumbu sebagai pernafasan, api sebagai sang hati atau sang batin. Sekarang lampu lentera ini kita tutup dengan kaca sehingga kalau ada angin datang dari Timur, Barat, Utara, Selatan, ia tidak mampu menggoyangkan dan mematikan lampu itu, melainkan tetap menyala dengan tenang. Apakah yang ampuh dan baik untuk menjaga sang hati ini? Yaitu viriya, sati, samadhi. Ia menjaga kalau ada keasyikan pikiran muncul menggoda, sehingga konsentrasi kita bisa berjalan mulus. Semua gangguan-gangguan akan dicegah dengan viriya, sati, dan samadhi. Dengan demikian api sang hati ini menjadi mulus, menyala terang, dengan sangat terang sekali. Lebih-lebih kalau kita kelak bisa melatih Vipassana Bhavana, itu lebih ampuh lagi, yaitu bisa mengembangkan pannya, mengembangkan keseimbangan, sampai bisa mencapai yang disebut Gotrabhu Nyana. Dimana kita bisa melihat Dhamma dalam 2 aspek, yaitu aspek Sankhara dan aspek Visankhara. Itu dapat dilihat dengan jelas, sehingga kita akan dikatakan mempunyai Mata Dhamma. Artinya bisa melihat Dhamma dalam kedua aspeknya.

Pada hakikatnya, Dhamma itu dapat ditinjau dari 2 sudut. Dari sudut yang pertama, dia merupakan makanan atau obat bagi kita untuk menyembuhkan kotoran-kotoran batin, kejahatan-kejahatan pikiran untuk disembuhkan menjadi baik, menjadi suci, menjadi bersih. Alat satu-satunya adalah Dhamma. Ditinjau dari sudut lainnya, Dhamma ini adalah alam semesta dengan segala isinya. Maka oleh karena itu kita perlu mengetahui 4 aspek daripada Dhamma. Aspek yang pertama dari Dhamma adalah Alam semesta dengan segala isinya. Aspek kedua adalah Hukum-hukum Alam. Aspek yang ketiga adalah sikap perbuatan kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum-hukum alam. Aspek yang keempat adalah Buah atau akibat yang terjadi karena tingkah laku tersebut di atas. Kalau sesuai maka buahnya adalah kebahagiaan. Tetapi kalau tidak sesuai atau bertentangan, buahnya adalah penderitaan.

Mengapa kita melakukan sila? Karena sila itu menggiring kita supaya perbuatan kita sesuai dengan hukumalam. Mengapa meditasi? Karena meditasi itu menggiring kita supaya batin kita sesuai dengan hukum alam. Inti daripada Dhamma itu terletak pada sang hati. Jadi walaupun diri kita ini adalah Dhamma, dunia itu adalah Dhamma, tapi inti dari Dhamma itu terletak pada sang hati. Maka oleh karena itu kita harus mengerti tentang sang hati, tentang inti dari Dhamma ini. Seperti apa yang telah saya katakan tadi, sang hati ini mempunyai 2 aspek. Aspek yang pertama yaitu hati yang terombang-ambing oleh perasaan; sekarang girang, sebentar sedih; sekarang benci, nanti hilang kebenciannya, sekarang rindu, nanti bermusuhan. Itu semua diombang-ambingkan oleh kondisi duniawi. Sang hati yang demikian itu tergolong sankhara. Sedangkan satunya lagi adalah sang hati yang tidak diombang-ambingkan oleh keadaan yang berubah-ubah atau kondisi duniawi. Seperti yang saya katakan, jasmani boleh tua, tapi kita tidak sedih karena tua, tidak kecewa, menyesal. Itulah yang disebut aspek visankhara.

Jadi kita harus berusaha meningkatkan sang hati dengan belajar mengerti ketidakkekalan dari bentuk-bentuk jasmani dan bentuk-bentuk batin yang tergolong sankhara, untuk kita kembangkan terus secara alamiah, hingga akhirnya menjadi berstatus visankhara.

Berbicara tentang sankhara, ada 2 macam. Yang pertama adalah yang tergolong duniawi atau Lokiya Sankhara. Yang kedua disebut Dhamma Sankhara. Ini sama halnya dengan apa yang disebut Samutti Sacca dengan Paramatha Sacca. Coba kita perhatikan kayu yang diukir, dibentuk demikian rupa sehingga menjadi meja altar. Meja Altar itu kita yang memberikan nama, membentuknya. Manusia yang membentuk demikian. kayu yang asalnya dari hutan itu sekarang disulap menjadi meja. Kayu hutan itu dikeringkan dulu, atau pohon itu direbahkan dulu, ditebang, digergaji, dibuat papan, dibuat balok-balok kecil, dikeringkan, kemudian dibuat meja. Kayu itu adalah Dhamma Sankhara. Meja adalah Lokiya Sankhara. Tetapi kalau bentuknya begitu disebut papan tulis. Papan tulis adalah sulapan dari manusia, dibentuk oleh manusia, itu Lokiya Sankhara. Bahannya adalah Dhamma Sankhara. Dhamma Sankhara maupun Lokiya Sankhara, dua-duanya berbarengan mengalami lahir-mati, lahir-mati, lahir-mati. Yang disebut Dhamma Sankhara misalnya adalah Dhatu, Panca khanda, Dua belas ayatana, unsur-unsur padat, cair, panas, udara, dan lain-lain. Tetapi kalau sudah disebut air, itu Lokiya Sankhara. Jadi yang telah dibentuk, dibuat, dikhayalkan atau ‘disulap’ oleh manusia.

Kalau Dhamma Sankhara dan Lokiya Sankhara ini kita misalkan film yang diputar di layar putih. Filmnya itu adalah Dhamma Sankhara, gambar yang di layar putih itu adalah Lokiya Sankhara. Jadi kalau diputar, ia kelihatan hidup. Karena kelihatan hidup, kita lupa bahwa film itu sendiri terdiri dari potongan-potongan gambar. Apabila ada yang menyedihkan, kita ikut sedih, kalau ada pemainnya ganas, kita ikut benci, kalau ada yang menyanyi, kita ikut gembira. Kita diombang-ambing oleh gambar yang berputar itu. Padahal kalau kita melihat gambar yang sepotong-sepotong, hati kita tidak akan ikut tergerak untuk sedih, gembira, dan lain sebagainya. Maka berusahalah untuk tidak tertarik, tergiur, atau kesengsem dengan perputaran Lokiya Sankhara itu. Jangan! Itu hanya konsep, itu hanya ide, itu hanya khayalan, itu hanya sulapan.

Masih berkenaan dengan sankhara, ia dapat pula ditinjau dari sudut pandangan lain. Yang pertama adalah sankhara yang diikuti atau disertai dengan kemilikan, keakuan, atau kemelekatan. Dan sankhara dari sudut pandangan lain adalah sankhara yang tidak diikuti atau disertai oleh kemilikan, kemelekatan, dan keakuan. Siapakah itu, sankhara yang masih disertai oleh kemilikan, keakuan, dan kemelekatan? Adalah orang-orang awam. Pokoknya kalau orang awam, apapun selalu disertai dengan “aku”, milikku, kepunyaanku, dan juga kemelekatan. Tetapi bagi orang yang sudah suci seperti para Arahat, apapun yang timbul dan lenyap, yang terjadi berkenaan dengan proses itu, tidak pernah muncul keikutsertaan dari aku, milikku, dan kepunyaanku. Kemelekatannya telah hancur, rasa kepunyaannya sudah hancur, rasa keakuannya sudah terhapus, habis. Itulah pandangan sankhara dari sudut pandangan lain.

Akhirnya, kita harus berjuang untuk belajar Dhamma, untuk menghilangkan sang aku, rasa kemiilikan, dan rasa kemelekatan yang sangat dahsyat itu. Berbicara tentang kemelekatan, ia dapat digolongkan dalam 4 macam. Yang pertama adalah kemelekatan kepada nafsu-nafsu indera, termasuk kemelekatan kepada bentuk-bentuk yang dilihat, kepada suara-suara, kepada makanan yang dikecap oleh lidah, yang dirasakan oleh sentuhan kulit, yang dirasakan melalui kontak pikiran. Yang kedua adalah kemelekatan terhadap pandangan keliru, pengertian salah, teori-teori salah, pendapat keliru, atau kepercayaan keliru. Yang ketiga adalah kemelekatan kepada tradisi-tradisi, baik itu upacara, kebiasaan, atau apa saja yang bersifat takhayul. Yang keempat adalah kemelekatan kepada apa yang kita anggap sebagai “Aku”, seperti: jasmani, perasaan, ingatan, pikiran, kesadaran. Juga kepada benda-benda seperti kekayaan, uang, anak, istri, dan segala sesuatu yang kita anggap sebagai milikku atau kepunyaanku yang mutlak. Kalau kita melekat kepada hal-hal tersebut, inilah kemelekatan yang paling dahsyat. Kemelekatan inilah sumber segala-galanya, sumber derita, sumber malapetaka, sumber kegoncangan, sumber racun, sumber api yang dahsyat, sumber problem, sumber konflik, dan sebagainya. Kita harus berjuang untuk menghapuskan kemelekatan ini. Memang berat sekali, tetapi kita harus berjuang mencapai tujuan kita yaitu kebahagiaan Nibbana.

Sebagai penutup, cita-cita kita untuk mencapai Nirwana atau Nibbana, kelihatannya memang tidak mungkin, apalagi yang sudah berkeluarga dan berkecimpung dalam duniawi, kelihatan sepintas lalu tidak mungkin. Dan ada yang mengkhayalkan bahwa Nibbana itu kosong, tidak ada, seperti kekosongan. Itu pandangan yang keliru. Di dalam Nibbana segalanya masih utuh, saudara masih utuh. Kalau pun Dhamma itu utuh tapi dia bisa mengalami Nibbana sekarang, tidak usah menunggu mati, dan segala sesuatu masih utuh tidak perlu hilang, tapi tentu ada pengecualiannya. Yang hilang hanyalah kebodohan, rasa kemilikan, keakuan, dan kemelekatan tentang keakuan. Sang hati tidak goyah mengalami rugi, mengalami untung, mengalami dipisuhi, mengalami difitnah, hati tidak tergoyahkan. Hati yang tidak tergoyahkan itu sejuk. Kalau kebencian, dendam, dan sebagainya itu hilang maka saudara mengalami Nibbuto. Batin tidak lagi panas membara, tetapi sejuk, damai. Itulah Nibbuto, atau sama dengan Nibbana yang sebentar-sebentar.

Kalau seorang Arahat masih hidup itu disebut Nibbana yang masih dengan sisa hidup, kalau yang sudah meninggal dunia berarti Nibbana tanpa sisa hidup. Ini bukan propaganda/promosi tetapi supaya kita bergiat mencari Nibbana itu setapak demi setapak. Kalau tadinya dengan istri bertengkar saja, tetapi sekarang sudah bisa berhenti bertengkar, itu adalah Nibbuto —Nibbuto dari bertengkar.

Latihan ini bukanlah untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan diri sendiri. Kita sendirilah yang akan mencicipinya. Ingat, berdirilah di atas kaki sendiri, jangan menjadi pengemis Dharma, jangan menjadi pengemis keselamatan, pengemis rejeki, dan sebagainya. Harus bersikap apa adanya. Kalau mengerti bahwa dunia ini fana, tidak kekal, berubah-ubah, ada kalanya muda, sehat, ada kalanya sakit, itu wajar. Terimalah dengan baik. Inilah berkah yang sebenarnya.


[ Dikutp dari Mutiara Dhamma VII ]

Perbedaan Dan Persamaan Antara Theravada Dan Mahayana



Perbedaan Dan Persamaan Antara Theravada Dan Mahayana

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Dr. Sunanda Putuwar




Theravada1 dan Mahayana adalah dua aliran besar dalam agama Buddha seperti halnya Katholik dan Protestan dalam agama Kristen. Di kedua aliran Theravada dan Mahayana tersebut terdapat banyak sub aliran yang mempunyai aneka ragam cara praktek ritual. Setiap aliran mempunyai kitab suci dan banyak pengikutnya. Maka tidaklah mungkin menyebutkan semua persamaan dan perbedaannya secara rinci. Tulisan ini akan menunjukkan ciri yang umum dan mendasar saja. Ciri yang sebaliknya, saya serahkan kepada pembaca mencarinya sendiri.
Pada jaman Sang Buddha, tidak ada aliran Theravada ataupun Mahayana. Semua ajarannya dikenal dengan Buddhasasana (ajaran Sang Buddha). Tetapi menurut sejarah perkembangan agama Buddha, pandangan sekte mulai muncul setelah Sang Buddha Parinibbana. Hingga Pasamuan Agung (Konsili) Kedua yang berlangsung pada abad ke-5 sebelum Masehi, belum ada uraian tentang adanya sekte. Catatan hanya menunjukkan keberadaan ajaran berbahasa Pali saja “Sekitar permulaan era agama Kristen, suatu kecenderungan bentuk baru muncul dalam agama Buddha…”2
Penyebaran kitab Berbahasa Sansekerta akhirnya mencapai puncak dalam pengenalan dua tradisi agama Buddha yang berbeda :

Perbedaan pandangan dari mereka yang menguraikan setiap bagian tulisan itu menggambarkan pandangannya, dan umat menerimanya untuk diakui. Akan tetapi, kedua aliran Theravada dan Mahayana sama-sama menghormati Buddha Gotama dan mempraktekkan ajarannya.

Selama pemerintahan Raja Asoka di India (abad ke 3 SM), agama Buddha menyebar luas dan sampai ke luar negeri, raja Asoka mengirim duta agama Buddha ke Srilanka , Nepal, Suvarnabhumi (Asia Tenggara) untuk menyebarkan agama Buddha berbahasa Pali. Sedangkan yang lain pergi ke daerah Utara (China) melewati Asia Tengah dan menyebarkan agama Buddha berbahasa Sansekerta.
Selama lebih dari 2000 tahun , dua aliran agama Buddha ini tumbuh dengan kokoh secara terpisah satu dengan yang lainnya. Karena pemisahan geografik para penyebarnya, kesempatan untuk saling mempengaruhi antara keduanya sangat sedikit. Keadaan itu menyebabkan tumbuhnya tembok batas ketidaktahuan dan prasangka di antara kedua aliran ini.
Saat ini, orang dapat mengenali secara geografik bahwa China, Hong Kong, Jepang, Korea, Mongolia, Taipeh (Taiwan), Tibet, Vietnam, dan sebagian besar Nepal sebagai negara Buddhis Mahayana. Sedang Birma (Myanmar), Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan sebagian kecil Nepal dan beberapa bagian India sebagai negara Buddhis Theravada. Dalam dekade Belakangan ini, baik agama Buddha Mahayana maupun Theravada menyebar ke Eropa, Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, dan beberapa negara di Benua Afrika.
The World Fellowship of Buddhist, didirikan pada tahun 1940, mengajak semua pengikut Sang Buddha dari berbagai aliran untuk mengadakan konferensi setiap dua tahun sekali.
Pada Halaman W,F.B. Refiew, The Middle Way (sebuah majalah Buddhis yang juga berarti Jalan Tengah, terbit di Inggris), dan penerbitan lainnya, dikatakan bahwa kini umat Buddha dari berbagai negara telah menawarkan pandangan intelektual dan spiritualnya di bawah sistim pendidikan, ilmu pengetahuan, dan tehnologi komunikasi yang modern. Study perbandingan yang obyektif tentang agama Buddha menjadi semakin penting dalam masyarakat akademik di belahan Timur maupun Barat.

Seluruh naskah aliran Theravada menggunakan bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai di sebagian India (Khususnya daerah Utara) pada zaman Sang Buddha. Cukup menarik untuk dicatat, bahwa tidak ada filsafat atau tulisan lain dalam bahasa Pali selain kitab suci agama Buddha Theravada, yang disebut kitab suci Ti Pitaka, oleh karenanya, istilah “ajaran agama Buddha berbahasa Pali sinonim dengan Agama Buddha Theravada. Agama Buddha Theravada dan beberapa sumber lain berpendapat, bahwa Sang Buddha mengajarkan semua ajarannya dalam bahasa Pali, di India, Nepal dan sekitarnya selama 45 tahun terakhir hidupnya, sebelum Beliau mencapai Parinibbana.
Seluruh naskah aliran Mahayana pada awalnya berbahasa Sansekerta dan dikenal sebagai Tripitaka. Oleh karena itu istilah Agama Buddha berbahasa Sansekerta sinonim dengan agama Buddha Mahayana. Bahasa Sansekerta adalah bahasa klasik dan bahasa tertua yang dipergunakan oleh kaum terpelajar di India, selain naskah agama Buddha Mahayana, kita menjumpai banyak catatan bersejarah dan agama, atau naskah filsafat tradisi setempat lainnya ditulis dalam bahasa Sansekerta.
Secara umum, para Bhikkhu dari aliran Theravada maupun Mahayana tidak menyediakan waktunya untuk mempelajari ajaran di luar ajaran yang dianutnya. Namun demikian walaupun mereka mengetahui sedikit ajaran yang lain, mereka rupanya menghafalkan ajaran yang terdapat dalam kitab suci yang dianutnya (terutama Theravada). Alasan untuk tidak mempelajari ajaran yang lain, karena isi setiap kitab suci satu aliran amat banyak. Jika kitab suci kedua aliran tersebut dikumpulkan menjadi satu, kira-kira tiga set buku Encyclopedia Britannica.
Alasan lain, jelaslah berkenaan dengan pandangan psikologi bahwa seseorang akan lebih memperhatikan ajaran yang dianutnya. Tujuan utama sebagian besar bhikkhu dari kedua aliran ini adalah praktik, bukan pemujaan.. Dari semua alasan di atas, hanya sedikit bhikkhu yang menyediakan waktu dan tenaganya untuk membuka mata pada ajaran yang lain selain ajaran yang dianutnya.

Para penganut aliran Mahayana menghormati Buddha Sakyamuni dan berbagai Boddhisattva (seperti Maitreya, Avalokitesvara atau Kuan Yin). Mahayana (khususnya di Tibet) memuja semua Buddha terdahulu atau Adi Buddha, Amitabha, Vairocana, Askyobhya, Amoghasiddhi, dan Ratnasambhava, Tantra dan Mandala adalah termasuk praktik dalam Mahayana Tibet.
Sedangkan Theravada tidak mengabaikan adanya berbagai makhluk spiritual di jagad raya ini. Para penganutnya hanya memuja Buddha yang disebutkan dalam Tipitaka, khusunya Buddha Sakyamuni, yang dikenal juga sebagai Buddha Gotama. Theravada tidak memuja para Bodhisatva walaupun mereka memberikan rasa hormat karena kebijaksanaan dan kasih sayangnya yang besar.
Semangat bakti terlihat sangat menonjol di vihara-vihara Mahayana, khususnya di negara-negara yang sangat di pengaruhi oleh kebudayaan China. Hal ini tidak terpopuler di negara-negara Buddhis Theravada kecuali Thailand.
Di Vihara-Vihara Mahayana, para pemuja menggunakan gambar dan relik (termasuk abu kremasi) dari anggota keluarganya yang sudah meninggal. Relik ini kemudian digunakan sebagai obyek sembahyang dan pemujaan. Umat Buddha Mahayana mempersembahkan bunga, dupa, lilin, buah dan makanan, yang secara harfiah untuk menghormati roh dari orang yang telah meninggal. Tradisi ini tersimpan dalam ingatan para anggota keluarga yang telah meninggal.
Pali Sutta diucapkan di Vihara-Vihara, Theravada sedangkan syair-syair suci Sansekerta diucapkan di Vihara-Vihara Mahayana. Sebagai Tambahan dalam Bahasa Pali dan Bahasa Sansekerta logat seperti Birma, China, Jepang, Newari, Thai dan sebagainya dipergunakan tergantung pada kebudayaan setiap penganutnya.
Secara keseluruhan, Vihara-Vihara Mahayana terkesan meriah dan indah, dihiasi dengan gambar beraneka warna, patung dan hiasan lainnya. Vihara-vihara Theravada biasanya tampak sederhana dan miskin dekorasi dibandingkan dengan vihara-vihara Mahayana. Hal yang sama, ritual Mahayana jauh lebih meriah susunannya daripada praktik ritual Theravada.

Semua Vihara berisi berbagai macam simbol yang sakral, sebagian besar adalah patung Buddha Sakyamuni. Ditambah lilin, bunga, dan dupa yang biasa dipersembahkan, sebagai simbol-simbol ajaran (seperti bunga untuk anicca atau ketidakkekalan).
Juga umum dari kedua aliran tersebut simbol bendera Buddhis, gambar Sang Buddha, pohon Bodhi, dan Patta. Di Vihara-vihara Mahayana orang mendapatkan bermacam-macam simbol sakral lainnya yang juga dipandang sebagai perlengkapan spiritual termasuk ikan terbuat dari kayu, kepala naga, kendi, genta, tambur, dan sebagainya.
Kecuali genta dan tambur, yang kadang-kadang juga terdapat di vihara-vihara Theravada di Thailand. Orang sulit memperoleh perlengkapan keagamaan yang bermacam-macam di vihara Theravada, karenanya praktik ritual Theravada tidak begitu sulit dibandingkan dengan Mahayana.
Bhikhu-bhikkhu Tibet mengenakan jubah berwarna coklat tua atau merah hati, disesuaikan dengan tubuhnya. Di China, Korea, Taipeh (Taiwan) dan sebagainya, para Bhikkhu mengenakan jubah berwarna kuning jingga (kuning kunyit).
Para Bhikkhu Mahayana Vietnam setiap harinya menganakan ao trang (jubah coklat) dan ao luc binh (jubah tidak resmi atau untuk bekerja), dan dalam kesempatan resmi mereka mengenakan ao hau (jubah upacara bagian luar). Para Samanera mengenakan ao nhut binh (jubah berwarna coklat atau warna langit/pelengkap pakaian). Itulah jubah berwarna kuning kunyit dengan sedikit perbedaan bentuk.
Bhikkhu-bhikkhu Theravada selalu menggunakan civara dan antara vasaka dua kain panjang, yang dikenakan sebagai jubah. Pada kesempatan resmi, sanghati, kain panjang jubah yang dilipat dengan rapi dikenakan dibahu kiri (seperti memakai selendang). Jubahnya dapat berwarna kuning kunyit, kuning kulit kayu, kuning kemerahan atau merah hati.
Di Jepang, para bhikkhu menggunakan jubah berwarna putih dengan sedikit jubah lapis berwarna kuning kunyit di luar jubah warna putih.

Para penganut agama Buddha Theravada bertujuan mencapai Nirvana (Nibbana) dengan menjadi Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi, juga disebut Savaka Buddha). Theravada menekankan bahwa pencapaian Arahat adalah tujuan terakhir hidup ini, setelah itu tidak ada kelahiran lagi.
Sedangkan Mahayana menekankan bahwa terdapat kelahiran kembali bagi seorang Arahat, seperti Sariputra, Moggalana, dan orang-orang suci lainnya, dan juga menekankan bahwa benih-benih Kebuddhaan ada pada semua orang. Aliran Mahayana bertujuan untuk mencapai Kebuddhaan (menjadi Sammasambuddha) dengan mengikuti jalan Bodhisatva. Mahayana memandang Bodhisatva sebagai makhluk yang telah mencapai penerangan sempurna , sedang Theravada menyatakan bahwa Bodhisatva adalah makhluk yang belum mencapai penerangan sempurna.
Untuk para penganutnya, Theravada lebih menekankan pada penanaman kebijaksanaan, pengertian dan pengamalan daripada kepercayaan dan cinta kasih. Sebaliknya, Mahayana lebih banyak menekankan pada kepercayaan dan kasih sayang daripada pengamalan, pengertian, dan kebijaksanaan. Walaupun adanya perbedaan penekanan tersebut, kedua aliran sama-sama menerima semua kebajikan (paramita) tersebut dan berbagai ajaran Sang Buddha yang penting lainnya.

Pureland Buddhist (Sekte Sukhavati, salah satu aliran Mahayana) mempercayai adanya penyelamatan kerena keyakinan. Sutra Bunga Teratai (Saddharma Pundarika Sutra) mendukung ajaran ini. Orang sulit menemukan adanya penekanan pada kepercayaan dalam aliran Theravada.

Para bhikkhu hidup tidak menikah, baik dalam Theravada maupun Mahayana. Menurut catatan sejarah Theravada, Sangha Bhikkhuni tidak ada lagi karena berbagai macam sebab di India dan di berbagai belahan dunia lainnya kira-kira 500 tahun setelah Sang Buddha Parinibbana. Tidak ada bhikkhuni lagi dalam Theravada kecuali mereka yang menjalani sepuluh sila atau Anagarika, yang tidak menerima penahbisan secara penuh.
Sebaliknya, Mahayana mempertahankan bahwa Sangha bhikkhuni tidak pernah lenyap dari dunia ini. Pada aliran Mahayana terdapat Samaneri (calon bhikkhuni dan Sangha Bhikkhuni adalah pasamuan para bhikkhuni). Sebagian orang berpendapat bahwa Mahayana lebih mengutamakan pengikutnya, sedangkan Theravada lebih menekankan pada pertapaan atau kebhikhhuan.
Sejumlah sesepuh Mahayana( yang menyatakan dirinya sebagai seorang yang menjalani kehidupan pertapa dari aliran Mahayana tertentu dan berjubah ala bhiksu). Di Tibet, dan banyak pula sesepuh-sesepuh Mahayana demikian di Jepang yang menikah dan menjalani kehidupan berkeluarga.
Sebagian besar kependetaan Mahayana diberbagai bagian dunia seperti China, Korea, Vietnam dan Taiwan dan sebagainya adalah para bhikkhu oeh karenanya mereka membujang. Semua Bhikkhu Theravada juga membujang.
Dalam praktek yang nyata sedikit perbedaan diantara keduanya. Selain, sebagian besar bhikkhu-bhikkhu Mahayana menjalani vegetarian, tetapi pada umumnya mereka makan setelah tengah hari. Sebaliknya, sebagian besar bhikkhu Theravada tidak menjalani vegetarian baik sarapan dan makan siang akan tetapi mereka tidak makan setelah tengah hari.
Keduanya mempunyai alasan berakar dari sejarah tradisi dan kebudayaan dari penganutnya untuk melakukan atau tidak melakukannya.

Di kedua Nikaya atau sekte, umat awam suka berdana meteri untuk kepentingan vihara. Dalam Theravada, umat awam membungkukkan diri di depan para bhikkhu atau beranjali dan para bhikkhu memberkahi mereka dengan berkata “Semoga anda berbahagia” dan seterusnya. Akan tetapi bhikkhu Theravada tidak membalas kembali salam umat dengan cara yang sama, juga tidak dengan beranjali.
Di dalam Mahayana pun, umat awam menghormatinya dengan membungkukkan diri kepada para bhiksu atau dengan beranjali bersama. Tetapi dalam kebiasaan ini (khusunya Vietnam dan Jepang) para bhikkhu membalas kepada umat awam dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh pemberi hormat. Begitulah, perbedaan kebudayaan para penganut yang ada di berbagai negara dari yang jelas nampak dalam praktek religius masyarakat.
Sesungguhnya, sepanjang mengenai pelaksanaan praktek moral, sedikit sekali perbedaan kedua aliran agama Buddha ini. Sebagai contoh, menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berbohong dan mabuk-mabukan (Pancasila Buddhis) adalah prektek utama bagi umat Buddha dari kedua aliran ini. Sebagian besar Vinaya lainnya hampir serupa. Dimana ada perbedaan di antara mereka, itu dikerenakan mereka menambah kekayaan filsafat agama Buddha dan atau kerena perbedaan budayanya.
Sebagian besar umat Buddha baik dari Theravada maupun Mahayana merupakan para dermawan yang tulus. Dan keduanya berpendapat bahwa para bhikkhu adalah guru spiritual mereka. Namun, karena keakraban mereka dengan para bhikkhu sesuai dengan aliran yang dianutnya yang mereka kenali dengan bentuk dan corak jubahnya, umat awam merasa lebih dekat dengan bhikkhu dari aliran mereka sendiri.
Selain itu, ada beberapa contoh dimana umat awam yang saleh dalam hal menyampaikan kedermawanannya kepada para bhikhhu, setidak-tidaknya dalam tertentu tingkat ;

Kadang-kadang, dermawan dari salah satu aliran itu mengundang para bhikkhu dari Mahayana dan Theravada ke rumahnya, berdana makanan dengan hidangan yang terbaik dan setelah itu memohon berkah. Perwujudan dan kesalehan demikian menunjukkan praktek teladan seorang umat awam, tanpa mengabaikan atau mempunyai prasangka terhadap aliran lainnya.

Demikianlah, pernyataan persatuan dan kemurnian itu terwujud sesuai dengan ajaran Sang Buddha yang sesungguhnya.

KESATUAN DAN SERASI

Baik umat Buddha Theravada maupun Mahayana merupakan umat yang penuh damai dan terbuka pikirannya, menganut metta atau cinta kasih dan kebijaksanaan. Untuk memperkuat kesatuan yang lebih serasi di antara penganut ke dua aliran besar itu, kita harus mengerti dan mau mempelajari satu sama lain. Dengan cara ini, kita dapat melarutkan jurang pemisah dalam pengetahuan kita.
Para bhikkhu dan pandita serta pemimpin dari kedua aliran itu harus meluaskan pengertian dan kemauannya untuk bekerja sama (baik dalam hal material maupun spiritual), mempelajari atau mendengar lebih banyak pengetahuan selain dari kebiasaan yang mereka miliki. Di jaman sekarang ini, penting artinya agar kita dapat bekerja sama, mengatasi persoalan bersama, dalam mencapai Kebuddhaan atau Nibbana.
Tidak ada masalah, apa aliran agama Buddha yang dianut seseorang. Jika ia mempraktekkan ajaran dengan baik, dia akan mendapat hasil yang baik, pengetahuan akan kesunyataan. Melihat kebenaran, menembus makna Kebuddhaan.
Barang siapa mempraktekkan ajaran-Ku, dia telah melihat aku, demikian sabda Sang Buddha.

Dunia terasa semakin kecil sehubungan dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Sebagai akibatnya, umat mulai bersama-sama mencari segi-segi ilmiahnya. Banyak di antara mereka yang mengadakan diaalog tentang paham ajaran mereka dengan baik bersama-sama semua aliran, tidak hanya aliran khusus yang mereka anut.
Jika kita, baik penganut/umat Mahayana maupun Theravada tidak cukup mengetahui kebiasaan aliran lainnya, kita akan ketinggalan. Kita juga tidak siap ambil bagian dalam dialog antar agama. Persatuan di antara aliran-aliran agama Buddha akan bermanfaat bagi semua umat Buddha.
Jika kita menambah pengetahuan dan menghargai aliran lain, serta jika kita benar-benar mulai melihat semua umat Buddha sebagai satu kesatuan umat beragama, kemungkinan untuk bekerjasama, belajar bersama, dan saling menopang akan bertambah.
Oleh karena itu, baik perorangan maupun kelompok, kita seharusnya berusaha untuk saling mempelajari satu sama lain dan mencapai kesatuan, baik spiritual dan sosial.
Resiko dalam mendiskusikan dan mempelajari aliran lain adalah anda mungkin dapat merasa goyah terhadap kebiasaan dan praktik aliran yang anda anut. Pandangan itu mungkin akan mempengaruhi keyakinan dan praktek anda.
Sebagai akibatnya, pandangan konservatif pada aliran yang anda anut mungkin akan membuat anda tidak memilih Mahayana saja ataupun Theravada saja. Bagi mereka ini mungkin tidak tahu di mana tempat yang sesuai baginya.. Kebebasan anda mungkin menyebabkan anda gelisah dan merasa sukar. Akan tetapi, baik Theravada maupun Mahayana tentu akan menyambut anda dengan sepenuh hati sebagai rasa cinta kasih dan hormat pada saudara. Dalam hal ini, diri anda adalah guru bagi keputusan dan pertimbangan anda sendiri.
Kebesaran hati dinyatakan dengan perbuatan yang benar, bukan dengan kata-kata yang tinggi. Kebijaksanaan diwujudkan dengan perbuatan bijak, bukan dengan kesombongan. Sebagai pengikut Sang Buddha yang maha welas asih, kita perlu menunjukkan cinta kasih dan kasih sayang yang sama kepada umat Buddha, umat agama lain bahkan kepada semua makhluk hidup lainnya.
Sebagai umat atau penganut Buddha, kita adalah orang yang menunjukkan tentang kebijaksanaan Sang Buddha yang universal, akan tetapi karena adanya pandangan sekte, hal tersebut kadang-kadang menjadi berkurang nilainya.
Kita harus lebih mengembangkan cinta kasih, kasih sayang, dan kebijaksanaan di antara kita sebagai umat Buddha, sebelum kita dapat memberikan teladan cinta kasih kepada dunia.
Vietnam memberikan sebuah contoh yang bagus dalam pembauran antara tradisi Mahayana dan Theravada. Di Vietnam, terdapat kesan saling tidak tertarik dan keanekaragaman di antara kita, dengan pengetahuan empiris dan saling menghargai. 
SARAN

Dengan tujuan seperti tersebut di atas, saya menganjurkan kepada para bhikkhu Mahayana dan Theravada untuk saling mempelajari dan memahami tradisi masing-masing dengan baik. Dan menjelaskan kepada para umatnya bahwa Mahayana dan Theravada hanya merupakan dua aliran yang berbeda, bukan sekte yang asing bagi agama Buddha. Keduanya berasal dari Sang Buddha, Yang Maha Bijaksana dan Maha Welas Asih, yang tak terbatas bagi semua makhluk.
samagganam tapo sukho”. Persatuan merupakan kebahagiaan demikianlah Sang Buddha menyabdakan.
Untuk melengkapi bagian akhir tulisan ini para bhikkhu dan umat awam Theravada di Burma, Sri Lanka, Thailand dan lainnya hendaknya memperluas programnya dalam pertukaran pelajaran dengan para bhikkhu dan pemimpin umat Mahayana dari China, Korea, Jepang, Mongolia, Taiwan, Tibet, Vietnam, dan sebagainya. Demikian pula negara-negara Mahayana seperti China, Jepang, Korea, Vietnam, dan lainnya harus memberi kesempatan lebih banyak kepada para bhikkhu dan pemimpin umat Theravada untuk mempelajari agama Buddha Mahayana.
Para Bhikkhu Mahayana dan Theravada hendaknya mendorong untuk mempelajari, mengajar , bertemu, dan juga hidup bersama sedikitnya dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian mereka dapat mengembangkan rasa persaudaraan yang lebih besar dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dengan cara ini, setiap aliran mempunyai kesempatan untuk menjelajahi ajaran lainnya dan menguji pandangannya secara kritis tentang kebiasaan, teori dan paraktiknya.
Secara pribadi, saya pernah mempelajari dan mengajar Theravada dan Mahayana dan saya hidup bersama dengan para bhikkhu dari kedua aliran itu cukup lama. Saya melihat bahwa keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam praktik yang saya saksikan sendiri maupun dari para bhiksu kenalan saya. Dari pengalaman yang menguntungkan itu, saya memberikan saran-saran ini.
Haruskah seseorang mempelajari ajaran lain lebih banyak daripada ajaran yang dianutnya sendiri? Tidak perlu! Jika seseorang ingin mencurahkan dirinya semata-mata untuk praktek spiritual dan mencapai Nibbana atau Kebuddhaan, masing-masing ajaran mempunyai petunjuk yang cukup untuk mencapai tujuan itu.
Memepelajari ajaran lainnya penting bagi mereka yang ingin memperluas pengertian atau pengetahuannya dan jika ia berhadapan dengan penganut ajaran lainnya. Seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang ajaran lainnya dapat menyakitkan hati orang lain, walupun tanpa ada maksud melakukan hal itu. Seseorang dapat berbuat demikian melalui tingkah laku atau ucapan tertentu dengan suatu lelucon atau sindiran. Jika seseorang ingin dirinya dan keyakinannya dihargai, dia juga harus menghormati dan menghargai orang lain.

Di satu sisi, Theravada dianggap lebih konservatif daripada Mahayana, dimana Theravada memelihara ajaran Sang Buddha tanpa banyak menambahkan pandagnan atau pendapat pribadi. Sebaliknya, Mahayana dianggap lebih terbuka daripada Theravada dalam menginterpretasikan ajaran-ajaran Mahayana membuat pembagian yang besar dalam filsafat Buddhis, seperti filsafat Madhyamika dan Yogacara. Keduanya baik yang konservatif ataupun yang terbuka mempunyai nilai tersendiri dan harus dihormati satu dan yang lainnya.
Yang penting, bahwa hal-hal tersebut di atas lazim diakui dan ditekankan dalam Theravada dan Mahayana secara agama dan filsafat, Theravada dan Mahayana menerima;
Hukum Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan (Paticcasamupada)

Dan doktrin atau ajaran inti lainnya, meskipun perluasan komentarnya berbeda-beda.
Sesunguhnya hanya ada satu yana atau kendaraan. Tujuan terakhir sesungguhnya yang dari semua umat Buddha adalah sama, apakah itu disebut Nibbana atau Kebuddhaan. Sang Tathagatha pernah bersabda “Semua makhluk adalah anak-anak-Ku.”3
Di zaman kemajuan dunia sekarang ini hak asasi, kesamaan dan perbedaan antara yang satu dengan yang lain harus diakui dan dihormati dengan bertindak sebagai seorang Buddhis yang baik dan mau bekerjasama.
 

Menghadapi Stress Dengan Agama Buddha



Menghadapi Stress Dengan Agama Buddha

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera




Kemajuan jaman ibarat pisau bermata ganda. Di satu sisi ia memberikan kemudahan hidup bagi masyarakat yang telah siap sehingga dapat memanfaatkannya. Di sisi yang lain sesungguhnya ia pun dapat memberikan akibat negatif untuk mereka yang belum siap mental menghadapi perubahan lingkungan yang sedemikian cepat. Ada tuntutan-tuntutan jaman dan konflik-konflik yang harus dihadapi seseorang untuk memenuhi tuntutan jaman itu akhirnya dapat menjerumuskan orang yang lemah pengertian batinnya pada kondisi stress.
Hakekat dari pengertian batin sebagai bekal yang paling pokok dalam menghadapi dampak negatif kemajuan jaman ini adalah memiliki kemampuan melihat hidup sebagaimana adanya, bahwa hidup tidak kekal dan hanyalah proses belaka. Pengertian ini biasanya telah dimengerti oleh hampir setiap orang secara teoritis tetapi pada kenyataannya orang jarang siap mental bila menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya.
Dalam usaha menyesuaikan antara pengertian batin (baca: teori) yang dimiliki dengan penerapannya pada kehidupan yang sesungguhnya inilah peranan Agama Buddha diperlukan. Agama Buddha adalah gabungan antara tradisi penghormatan kepada Sang Guru Agung, Buddha Gotama, dengan Ajaran Luhur Sang Buddha yang berisikan kiat-kiat untuk menghadapi kenyataan hidup yang kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan tujuan Agama Buddha secara umum adalah agar orang yang mengikuti dan melaksanakan Ajarannya akan memperoleh kebahagiaan duniawi, surgawi dan sebagai tujuan tertinggi adalah tercapai kebebasan mutlak yaitu Nibbana (=Nirwana) sebagai Tuhan Yang Mahaesa dalam pengertian Agama Buddha.

PEMBAHASAN
Pengertian batin untuk melihat hidup sebagaimana adanya ternyata lebih mudah diucapkan dan dinasehatkan kepada orang lain daripada untuk membantu diri kita sendiri dalam mengatasi kenyataan hidup yang kadang tidak sesuai dengan harapan. Bila menjumpai orang lain yang sedang menderita, kita akan lebih mudah menjadi penasehat yang tampaknya amat bijaksana untuk membantu orang tersebut agar mampu menerima kepahitan hidup. Sebaliknya, bila tiba giliran kita yang menerima penderitaan akibat perubahan yang tidak diinginkan, kadang nasehat tulus dari seorang kawan dapat dianggap sebagai pelecehan atas kondisi yang sedang kita alami.
Untuk mengubah pengertian benar yang masih teoritis menjadi praktis itulah Sang Buddha dalam berbagai kesempatan sepanjang hidup Beliau telah menjelaskannya kepada para umatNya tentang tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Bila tahapan ini diikuti sungguh-sungguh maka hasil nyata yang dapat dialami sebagai awal pencapaian adalah hidup bahagia dan bebas dari stress. Kebahagiaan awal ini kemudian dapat dilanjutkan untuk dapat mencapai bentuk-bentuk kebahagiaan yang lebih tinggi sehingga akhirnya tercapailah kebahagiaan tertinggi yaitu Tuhan Yang Mahaesa (=Nibbana/Nirwana).
Secara ringkas, tahapan-tahapan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
TAHAP PERTAMA :
SUMBER STRESS ADALAH KEINGINAN
Manusia hidup pasti tidak akan pernah terlepas dari keinginan. Memiliki keinginan adalah wajar sejauh kita tidak menjadi budak keinginan kita sendiri. Oleh karena itu, keinginan dapat menjadi salah satu sumber stress. Stress dapat timbul bila orang bersikap terlalu kaku pada keinginannya sendiri tanpa memiliki kesadaran bahwa kadang orang harus menyesuaikan diri antara keinginan dengan kenyataan yang dihadapi. Dengan kata lain, orang sering tidak siap dan tidak berkeinginan menghadapi perubahan. Padahal, setiap saat dan di setiap tempat ada kemungkinan orang akan mengalami perubahan. Perubahan dalam hidup ini dapat merupakan perubahan ke arah yang menggembirakan ataupun sebaliknya. Menghadapi perubahan yang menggembirakan, orang tidak akan mempermasalahkan seperti bila sedang menghadapai perubahan yang tidak menyenangkan. Dalam masalah ini, perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang membuat orang tidak bahagia karena tidak sesuai dengan keinginannya. Perubahan dapat dirasakan mengarah pada hal yang tidak membahagiakan karena disebabkan oleh niat orang untuk tidak ingin berkumpul dengan yang tidak disenangi dan berpisah dengan yang dicinta. Perubahan ini terjadi dalam bentuk yang seluas-luasnya, misalnya dalam hubungan dengan sesama manusia, dengan benda maupun dengan suasana serta masih banyak yang lainnya. Stress muncul karena orang tidak ingin melihat perubahan ke arah yang tidak menggembirakan itu terwujud sebagai kenyataan. Orang bahkan ingin memaksakan kenyataan seperti keinginannya. Tentunya hal ini tidaklah mungkin dapat terjadi.
Pada dasarnya terdapat dua macam keinginan yang dominan dalam kehidupan ini yaitu ingin selalu bersama dengan hal-hal atau kondisi yang menyenangkan dan yang lainnya adalah ingin tidak pernah menjumpai hal-hal atau kondisi yang tidak menyenangkan. Tentu saja bila kedua macam keinginan ini dapat terpenuhi maka bahagialah kehidupan orang tersebut. Namun, karena hidup selalu berubah maka orang kadang, kalau tidak dapat dibilang sering, mengalami kekecewaan. Bila kekecewaan ini bertambah banyak kuantitas maupun kualitasnya maka stress dan akibat-akibat negatif lainnya akan muncul.
Dewasa ini masalah stress dan akibatnya serta juga cara-cara menanggulanginya telah ramai dibicarakan di seluruh dunia. Banyak ahli menuliskan pendapatnya tentang stress. Salah satu diantaranya adalah Peter G. Hanson. Menurut hasil penelitian Hanson, beberapa di antara sumber stress dalam masyarakat adalah terutama karena memiliki kondisi yang tidak seimbang pada bidang-bidang keuangan, pribadi, kesehatan dan pekerjaan. Hanson mengartikankeuangan sebagai kondisi memiliki ketrampilan kerja yang dapat dijual, memiliki cukup uang untuk mencapai tujuan, dan jaminan keuangan jika nanti terserang penyakit, resesi, atau kehilangan pekerjaan. Pribadi adalah berarti memiliki teman sejati (tidak perlu banyak) dan keluarga, misalnya perkawinan atau hal yang serupa. Kesehatan yang dimaksudkan adalah kesehatan lahir batin yang dinyatakan oleh dokter dan bukan pendapat pribadi. Sedangkanpekerjaan berarti adalah tampil efisien dengan integritas dan mendapatkan rasa hormat dari lingkungan, dalam hal ini apabila sebagai seorang pelajar berarti segi pendidikan.
Bila orang mengalami perubahan atau kegagalan pada salah satu atau lebih dari keempat hal di atas maka ia memiliki potensi untuk mengalami stress, kecuali bila pengertian batinnya telah matang.
TAHAP KEDUA :
KEINGINAN DAPAT DIKENDALIKAN
Apabila sumber stress diketahui maka sesungguhnya jalan untuk mengatasinya telah terjawab setengahnya. Telah disadari bahwa keinginan yang tidak fleksibel justru akan menjerumuskan seseorang ke dalam jurang stress. Semakin kukuh keinginan seseorang, semakin besar pula kemungkinan stress yang akan dihadapinya. Untuk itulah, orang perlu memiliki wawasan berfikir bahwa dalam hidup ini sering keinginan tidak dapat menjadi kenyataan sedangkan kenyataan tidak jarang amat berbeda dari keinginan yang dimiliki. Wawasan ini berguna untuk melunakkan keinginan sehingga akhirnya dapat diubah dan disesuaikan dengan kenyataan. Bila keinginan telah sesuai dengan kenyataan maka stress pun akan dapat dihalau jauh-jauh dari hidup ini.
TAHAP KETIGA :
CARA MENGENDALIKAN KEINGINAN
Untuk mengendalikan keinginan agar stress dapat diusir dari kehidupan ini, ada beberapa langkah dalam Agama Buddha yang harus ditempuh, yaitu:
a. Kerelaan
Dalam Agama Buddha, kerelaan atau keikhlasan meliputi dua macam yaitu kerelaan materi dan non-materi. Kerelaan materi akan lebih mudah dilakukan karena lebih kelihatan secara indriawi. Kerelaan materi juga menjadi awal untuk mencapai tahap yang lebih tinggi lagi. Kerelaan materi dapat berbentuk bantuan sandang, pangan, papan, obat-obatan maupun keuangan.
Kerelaan non-materi atau kerelaan batin agak lebih sulit dilakukan. Kerelaan non-materi dapat dikatakan sebagai bentuk kerelaan yang lebih tinggi daripada kerelaan materi. Kerelaan ini membutuhkan sikap mental untuk tidak mementingkan diri sendiri. Memiliki sikap mental mengharapkan semoga semua makhluk hidup berbahagia. Memperhatikan sekeliling dan siap membantu mereka dengan tenaga, ucapan maupun pikiran yang dimiliki. Beberapa bentuk kerelaan non-materi adalah nasehat, pengendalian diri dan peka pada kondisi lingkungan.
Melaksanakan kedua bentuk kerelaan di atas secara bersama-sama akan menumbuhkan kebahagiaan dalam hati si pelaku. Perasaan menjadi lebih ringan dan bahagia karena mempunyai ingatan bahwa dirinya telah mampu mengisi kehidupan ini dengan sesuatu yang berguna yaitu ‘melakukan perbuatan baik’ kepada fihak lain secara aktif. Kebahagiaan yang muncul karena orang telah mampu mengatasi dirinya ataupun keinginannya sendiri untuk mengembangkan rasa kebersamaan di jaman orang tidak lagi terlalu memperhatikan lingkungannya. Perasaan ini akan menambah semangat hidup dan ketenangan batin serta dapat membebaskan diri dari stress.
b. Kemoralan
Kemoralan adalah usaha mencegah berkembangnya bahkan -kalau dapat- menghilangkan perbuatan atau kebiasaan buruk yang telah dimiliki dan berusaha agar diri sendiri tidak melakukan keburukan yang telah dilakukan oleh orang lain.
Kemoralan juga akan memberikan ketenangan batin karena kemoralan menjaga segala perbuatan yang dilakukan lewat badan, ucapan dan pikiran agar ‘terbebas dari kesalahan’. Manusia pada dasarnya berhasrat untuk melaksanakan segala bentuk keinginannya baik keinginan luhur maupun tidak baik. Namun dengan pengertian akan kemoralan maka orang kemudian akan mampu memilih perbuatan yang pantas dilakukan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan maupun ukuran kemoralan yang lainnya. Semakin tepat pilihannya, semakin diterima pula seseorang dalam lingkungannya, semakin besar pula keyakinan pada dirinya sendiri bahwa ia ‘terbebas dari kesalahan’.
Bila keinginan telah terbiasa dikendalikan, maka bila dalam kehidupan ini orang menjumpai kenyataan yang bertentangan dengan keinginannya, ia akan dengan lapang dada dan penuh pengertian akan mampu menerima kenyataan tersebut. Ia tenang menghadapi kenyataan.
Dalam pengertian Agama Buddha, apabila kerelaan adalah unsur aktif untuk berbuat kebaikan maka kemoralan adalah unsur negatif yaitu mencegah kejahatan. Kedua unsur ini masing-masing bekerja aktif untuk mengendalikan keinginan seseorang, menundukkan keinginan seseorang. Kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena mereka bekerja saling melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama, hidup bahagia dan bebas dari stress sebagai awal pencapaian yang lebih tinggi. Dengan demikian, umat Buddha selalu dianjurkan untuk melaksanakan kedua hal pokok ini.
Dalam menyimpulkan hasil penelitiannya Dr. Claire Weekes menyatakan bahwa menganut salah satu agama tertentu dapat mencegah serta mengatasi stress disamping memiliki pekerjaan yang sesuai dan keberanian dalam menghadapi resiko hidup.
c. Ketenangan batin
Langkah yang ketiga ini digunakan untuk mengatasi stress langsung dari sumbernya yaitu pikiran. Dalam pikiran itulah terletak bermacam-macam keinginan. Ketenangan batin dicapai melalui latihan meditasi. Meditasi dapat digunakan untuk mengendapkan dan menyusun segala bentuk keinginan dalam latihan berpikir dengan benar. Manusia mampu melatih setiap gerakan badan dan ucapan sesuai dengan kemauan, demikian pula terhadap pikiran. Sarana melatih pikiran itulah yang disebut dengan meditasi. Meditasi mengarahkan batin seseorang untuk dapat menyadari bahwa hidup adalah saat ini, bukan masa lalu maupun masa yang akan datang. Pada masa lalu orang pernah hidup tetapi sudah tidak hidup, di masa datang orang akan hidup tetapi belum hidup; di masa ini, saat inilah orang hidup dan sedang hidup. Bila batin telah mencapai tahap ini, batin akan mampu memisahkan antara keinginan yang diperlukan saat ini dari keinginan yang dapat ditunda atau bahkan keinginan yang perlu dihilangkan. Dengan demikian, maka orang akhirnya dapat menundukkan keinginannya sendiri dan terbebaslah ia dari stress.
Pada hakekatnya meditasi adalah menyadari segala sesuatu yang sedang dilakukan, diucapkan dan terutama segala yang dipikirkan. Meditasi bukanlah berdoa, mengatur pernafasan maupun mengosongkan pikiran. Dalam melaksanakan meditasi dibutuhkan beberapa persyaratan dasar yaitu posisi tubuh yang benar, waktu meditasi yang sesuai, tempat meditasi yang memenuhi persyaratan, obyek meditasi yang cocok dan juga guru yang mampu mengarahkan meditasi sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Bila ketenangan batin tercapai maka stress pun tidak mempunyai kesempatan muncul dalam kehidupan ini. Dr. Vernon Coleman juga mengarahkan para pasien stress-nya untuk melakukan relaksasi terutama dengan meditasi walaupun tidak harus mengikuti satu bentuk institusi tertentu.
d. Kebijaksanaan
Kemampuan meditasi bukan hanya untuk menghasilkan ketenangan batin saja tetapi dapat dikembangkan ke arah pengertian batin yang hendak dicari sebagai obat tertinggi dalam menanggulangi stress.
Menurut Sang Buddha, ada dua macam kebijaksanaan yaitu kebijaksanaan duniawi yang berupa teori dan kebijaksanaan mutlak yaitu tercapainya tujuan tertinggi dalam Agama Buddha, Nibbana/Nirwana. Kebijaksanaan duniawi adalah pengertian dasar bersifat filosofis dan teoritis untuk mendorong pelaksanaannya agar orang dapat membuktikan kebenarannya. Apabila telah dilaksanakan maka setahap demi setahap orang akan mendekati tujuan akhir yaitu kebijaksanaan mutlak.
Pencapaian kebijaksanaan mutlak dengan melatih ketenangan batin berpandangan terang. Sasaran latihan ketenangan batin tahap akhir ini adalah agar orang setelah mampu memisahkan antara keinginan yang pokok dan sampingan, kini di arahkan untuk menyadari bahwa keinginan itulah yang menjadi dasar ketidakpuasan dalam hidup ini. Keinginan itu pulalah yang menjadi salah satu sebab munculnya stress dalam hidup ini. Sedangkan sumber keinginan adalah karena tidak menyadari bahwa hidup akan selalu berubah dan hanyalah proses. Tahap ini menjadi tahap akhir dan menjadi tahap tertinggi dalam Agama Buddha. Untuk menguraikan tahapan ini membutuhkan suatu latihan dasar dari ketiga tahap sebelumnya, oleh karena itu dalam kesempatan ini tahap terakhir ini hanya diuraikan secara singkat untuk memberikan gambaran sepintas dahulu. Dalam kesempatan lain, mungkin akan dibicarakan secara khusus dan mendalam.
Sesungguhnya bila hanya untuk mengatasi stress saja ketiga tahap di atas sudah lebih dari cukup. Bila hendak mengatasi masalah hidup yang sesungguhnya yaitu untuk mencapai Tuhan Yang Mahaesa (=Nibbana/Nirwana) maka tahap keempat adalah tahap yang harus dilaksanakan.


PENUTUP
Istilah ‘stress’ kelihatannya baru muncul dalam beberapa dekade belakangan ini, tetapi sesungguhnya sejak jaman Sang Buddha hidup bahkan mungkin jauh sebelumnya itu kondisi stress ini telah dialami umat manusia. Oleh karena itu, Ajaran Sang Buddha bukan hanya berisikan petunjuk untuk mengembangkan kebahagiaan yang telah dimiliki, namun juga berisikan kiat-kiat untuk memperbaiki situasi lahir batin yang sedang dihadapi. Apabila kondisi lahir batin dapat diselaraskan dengan kenyataan hidup, maka terbebaslah orang dari stress.
Kini, pengertian untuk mengatasi stress sebagai fenomena era globalisasi dan teknologi telah diberikan, tinggal dilaksanakan. Sesungguhnya menurut Sabda Sang Buddha:
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat timbul dan tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul dan tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.
( DHAMMAPADA VIII, 14 )
[Dikutip dari website Samaggi-phala WWW.samaggi-phala.or.id ]

Peranan Orang Tua Menentukan Masa Depan Anak



Oleh: Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera



“Orang bijaksana mengharapkan anak yang meningkatkan martabat keluarga,
dan mempertahankan martabat keluarga,
dan tidak mengharapkan anak yang merendahkan martabat keluarga;
yang menjadi penghancur keluarga”
(Khuddaka Nikaya, 252)
PERMASALAHAN

“Anakku sulit diatur!”
“Anakku tidak berbakti.”
“Anakku semaunya sendiri !”
“Anakku benci orangtuanya sendiri.”


Inilah beberapa pernyataan bernada negatif yang sekarang amat sering diucapkan oleh para orangtua dalam menghadapi sikap anak-anaknya. Bahkan dengan pesimistis Bette Davis menulis dalam karyanya The Lonely Life,jika engkau belum pernah dibenci oleh anakmu maka engkau berarti belum pernah menjadi orangtua (INFOPEDIA). Kelihatannya sebagian besar orangtua jaman sekarang seakan telah kehilangan segala akal dan ilmu untuk dapat memahami tingkah laku anak-anak mereka. Mereka sering menanyakan pada diri sendiri maupun pada para penasehat, karma buruk apakah yang sedang mereka jalani saat ini. Pertanyaan ini terus menggema tanpa menemukan jawabnya. Sedihnya, mereka kadang memperoleh jawaban yang menuduh bahwa semua bentuk kesalahan dan kenakalan anak-anak adalah akibat ketidakmampuan orangtua mendidik anak. Benar, mungkin memang mereka tidak mampu mendidik anak tetapi tentunya ada jalan keluar untuk mengatasi hal ini. Tentunya ada cara atau pedoman untuk memperbaiki sekaligus melatih orangtua untuk menghadapi situasi kurang menyenangkan ini.
Sesungguhnya, mendidik anak memang lebih sulit daripada melahirkan anak. Oleh karena itu, sebagai calon orangtua ataupun yang telah menjadi orangtua, hendaknya dibekali dengan pengetahuan yang memadai tentang pendidikan anak. Pada masa sekarang sebenarnya telah banyak buku diterbitkan membahas tentang pendidikan anak. Hanya saja, mungkin para calon orangtua maupun para orangtua belum sempat membacanya. Dalam agama Buddha, Sang Buddha juga telah mengajarkan para orangtua cara mendidik anak dengan baik.
Dalam kaitan dengan pembahasan ajaran Sang Buddha tentang pendidikan anak itulah maka makalah ini disusun.
PEMBAHASAN
Dalam masa serba materi ini persaingan untuk memenuhi kebutuhan hidup terasa semakin bertambah. Akibatnya, kesibukan setiap orang juga semakin bertambah. Pada pagi hari, mereka sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja dan kelelahan pada sore hari sepulang kerja. Bahkan kini juga ada kecenderungan suami istri bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sehari-hari. Akibat perubahan gaya hidup ini, waktu untuk berkomunikasi dalam keluarga, termasuk komunikasi antara orangtua dan anak, menjadi kurang diperhatikan. Anak kebanyakan hanya bertemu orangtua pada pagi hari ketika akan berangkat sekolah dan malam hari menjelang tidur. Sepanjang hari di rumah, anak hanya bersama dengan pembantu dan pengasuh yang akan memberikan pengarahan sesuai dengan kemampuan mereka, tentunya. Padahal Brian Tracy menyebutkan bahwa peranan tunggal sebagai orangtua yang paling penting adalah mencintai dan memelihara anak-anak, serta membangun dalam diri mereka perasaan harga diri dan keyakinan tinggi (hal. 318). Peran penting ini jelas tidak dapat digantikan oleh pembantu rumah tangga maupun pengasuh. Agar dapat melaksanakan peran sebagai orangtua yang bermanfaat bagi anak-anaknya dibutuhkan sikap saling pengertian antara orangtua dan anak. Sikap penuh pengertian ini adalah salah satu tonggak keharmonisan rumah tangga. Sikap ini dapat dicapai dengan meningkatkan kelancaran komunikasi setiap individu pembentuk rumah tangga tersebut. Merintis hubungan baik dalam keluarga dapat dimulai dengan menyediakan waktu untuk makan bersama minimal sekali dalam satu hari, misalnya. Acara makan ini sebaiknya terbebas dari berbagai macam gangguan, misalnya pembicaraan yang rumit tentang pekerjaan maupun acara televisi. Dengan demikian, kegiatan makan ini akan memberikan banyak kesempatan kepada seluruh anggota keluarga untuk saling bertukar pikiran dan berbagi rasa. Kelihatannya memang sepele, namun apabila dilaksanakan akan dapat menghasilkan keharmonisan keluarga yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Jika acara makan bersama telah dapat dijadikan tradisi dalam keluarga maka selanjutnya orangtua dapat berperan sebagai teman yang baik bagi anak-anaknya. Teman yang mampu dan mau mendengarkan segala keluh-kesah maupun kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Pada saat itulah orangtua dapat mengarahkan anak dengan memberikan nasehat dan bimbingan moral yang diperlukan sebagai bekal dalam menghadapi masa depan mereka yang mandiri dan penuh percaya diri. Hal ini tentu membutuhkan sedikit pengorbanan waktu orangtua yang amat berharga. Hanya saja, bila kita tidak ingin berkorban untuk anak saat ini, di masa depan kita akan banyak mendapatkan kesulitan hidup karena masalah yang disebabkan oleh anak-anak. Bila tiba saat seperti demikian, maka penyesalan orangtua terhadap kegagalan hasil pendidikan anak barulah muncul. Segala cara ditempuh, semua biaya dikeluarkan dengan hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan. Tampaknya, sungguh sulit hidup ini.

Oleh karena itu, masalah komunikasi antara orangtua dan anak adalah sangat penting dalam meningkatkan peranan orangtua terhadap masa depan anak. Dengan bekal komunikasi dalam keluarga yang baik, orangtua dapat mengarahkan anak-anak menuju tercapainya sikap mandiri dalam masyarakat dan memiliki kebaikan serta kebijaksanaan sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Pada saat memberikan pengarahan hendaknya orangtua memperhatikan lima kondisi ideal yaitu berilah pengarahan pada saat yang tepat, bahaslah masalah yang sesuai dengan kenyataan bukan mengada-ada, katakanlah nasehat dan pengarahan itu dengan lemah lembut dan berbicaralah tentang tujuan bukan metoda serta bicaralah dengan pikiran penuh cinta kasih (Anguttara Nikaya III, 195).Sedangkan pengarahan orangtua dalam membimbing anak-anaknya adalah dengan berpedoman pada Ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam Digha Nikaya III, 189 yaitu:
1. MENCEGAH ANAK BERBUAT JAHAT
Kejahatan anak dimulai dari kebiasaan buruk anak sejak kecil yang dibiarkan oleh orangtuanya. Anak kecil sejak umur awal (kira-kira 18 bulan) telah berusaha memaksakan kehendak pada orangtuanya (Dobson, hal. 133). Pemaksaan ini dapat dilakukan misalnya pada saat menentukan makanan yang disukai dan menggunakan saat istirahatnya. Anak sering rewel karena tidak suka dengan makanan yang telah disediakan oleh orangtuanya. Menghadapi pemaksaan semacam ini seringkali orangtua kemudian mengalah. Inilah awal kekerasan anak pada orangtua. Inilah awal ketidaktaatan anak kepada orangtua. Seharusnya orangtua dengan tegas namun bijaksana dan penuh kasih sayang berusaha menyadarkan bahwa anak harus makan makanan sesuai dengan yang telah disediakan orangtuanya. Caranya adalah dengan mengajak anak bermain-main dahulu sampai datang rasa laparnya dan selanjutnya dihadapkan kembali pada makanan yang telah disediakan tadi. Pertamanya mungkin anak tetap tidak menyukainya, namun lama-kelamaan karena lapar tentu akhirnya ia mau juga. Tidur pun ternyata dapat menjadi alat yang efektif anak memaksa orangtua. Ketika anak diingatkan waktu tidur telah tiba, sering anak beralasan untuk menentang orangtuanya. Untuk menghadapi masalah ini, anak dapat diberikan cerita-cerita menarik sebelum tidur sehingga anak merasakan bahwa kegiatan tidur adalah kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Cerita menarik itu dapat diambil dari cerita Buddhis yang dapat dibaca dari buku maupun didengar dari sekolah minggu Buddhis di vihara-vihara terdekat. Memang untuk mempersiapkan hal itu membutuhkan perhatian dan pengorbanan orangtua, namun mengingat besar manfaatnya dimasa datang, kenapa masih ada orangtua yang tidak ingin melakukannya?
Apabila anak sejak dini sudah dapat didisplinkan sehingga menurut kehendak orangtua, kini tiba saatnya orangtua mengisi batin anak-anak dengan kemoralan. Ajarkan pada mereka hal-hal yang perlu dihindari. Pokok dasar pendidikan ini adalah dengan menerapkan pengertian bahwa bila kita tidak ingin dicubit maka janganlah mencubit orang lain. Sebagai seorang umat Buddha maka pengenalan Pancasila Buddhis sejak awal adalah langkah terbaik menuju masa depan anak yang bersusila. Pancasila Buddhis adalah lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan untuk mengurangi pembunuhan dan penganiayaan; latihan untuk mengurangi mengambil barang-barang yang tidak diberikan secara sah / mencuri; latihan untuk mengurangi tindakan yang melanggar kesusilaan; latihan untuk mengurangi mengucapkan kata-kata yang tidak benar/berbohong; serta, latihan untuk mengurangi makan dan minum barang-barang yang memabukkan (Anguttara Nikaya III, 203). Pengenalan ini dapat diberikan selain pada saat acara makan bersama juga pada saat orangtua menemani anak-anak menonton televisi. Arahkan mereka sehingga dapat menentukan tokoh mana yang tidak baik agar perbuatannya dapat dihindari dan tokoh mana yang baik untuk ditiru. Jadikanlah televisi sebagai alat pelajaran kemoralan. Oleh karena itu, sering-seringlah menemani anak bila ia sedang menonton televisi. Jangan terlalu sering membiarkan anak menonton televisi sendirian. Sebab, acara televisi kadang kurang sesuai untuk pertumbuhan batin anak-anak bila tanpa bimbingan orangtua. Sesungguhnya, televisi bila digunakan dengan benar akan dapat memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan.
Disamping menganjurkan anak melaksanakan Pancasila Buddhis, anak hendaknya juga dikenalkan dengan berbagai bentuk perbuatan buruk selain perbuatan yang disebutkan dalam Pancasila Buddhis, misalnya memaki, memfitnah, berjudi dlsb. Terangkanlah bahwa perbuatan-perbuatan tersebut dapat merugikan atau tidak menyenangkan lingkungan. Pengenalan ini dapat menggunakan media surat kabar ataupun cerita-cerita Buddhis sederhana dan mudah diterima anak-anak. Tujuannya jelas, agar mereka tahu dan berusaha tidak melakukannya.
2. MENGANJURKAN ANAK BERBUAT BAIK
Selain mencegah kejahatan sebagai bentuk aktif negatif, kita juga harus mengarahkan anak melakukan tindakan aktif positif yaitu mengembangkan kebaikan. Tentu saja untuk hal ini juga dibutuhkan beberapa alat bantu. Salah satunya adalah dengan kembali memanfaatkan televisi seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu, usaha membacakan atau menceritakan cerita-cerita Buddhis setiap malam sebelum tidur kepada anak-anak akan menumbuhkan konsep berpikir positif yang sesuai dengan Buddha Dhamma dalam diri anak-anak. Anak-anak, menurut Dr. Charles Schaefer, cenderung meniru orang-orang lain yaitu orang yang mereka kagumi dan hormati serta orang-orang yang mereka sayangi yaitu para tokoh masyarakat dan pahlawan dari cerita yang mereka baca atau ketahui (hal. 19). Cerita-cerita Buddhis yang banyak mengambil suasana alam binatang akan lebih mudah diterima dan ditiru anak-anak. Memang, dalam usia tertentu anak akan lebih mudah meniru nasehat yang diberikan oleh tokoh-tokoh binatang. Suatu bukti nyata, tokoh kartoon yang disukai anak-anak kebanyakan adalah tokoh binatang. Selain itu juga, ajarilah anak-anak menyanyikan lagu-lagu Buddhis sehingga Ajaran Sang Buddha secara sederhana dapat mereka hafalkan melalui lagu yang mereka nyanyikan. Hafal syair lagu ini diharapkan akan membantu anak untuk memiliki keyakinan yang kuat dan pedoman hidup sesuai dengan Buddha Dhamma.
Pokok-pokok perbuatan baik yang perlu dikenalkan kepada anak-anak terutama adalah pengembangan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Sebagai contoh dalam mengembangkan sikap kerelaan pada anak dapat dilakukan dengan membiasakan anak memberikan uang atau makanan kepada pengemis yang datang ke rumah. Dapat juga anak dibiasakan berbagi barang-barang kesukaannya dengan saudara-saudaranya, misalnya saja, mainan ataupun makanan kesukaannnya. Bila hal ini telah dilatih sejak dini maka anak akan memiliki watak penuh welas asih dan akan lebih mudah memaafkan orang lain, lebih-lebih lagi, anak akan lebih menyayangi orangtuanya. Sebagai contoh latihan menyayangi orangtua dapat dibangkitkan dengan jalan membiasakan anak mengingat ulang tahun ayah dan ibunya. Pada hari ulang tahun ayah dan ibunya, anak hendaknya diminta, misalnya menyediakan sebuah bingkisan hadiah atau mungkin memberikan sebagian uang sakunya. Perlu ditekankan di sini, bukan nilai materinya yang penting melainkan nilai perhatian dan kasih sayangnya. Semakin banyak hari dalam setahun yang digunakan untuk mengingat jasa ayah dan ibunya, akan semakin dekat hubungan orangtua dengan anak, begitu pula sebaliknya. Hal ini akan menjadikan anak selalu ingat jasa kebajikan yang telah orangtua berikan kepadanya. Dengan demikian, sampai orangtua pikun dan renta pun anak-anak masih sayang dan ingin merawat mereka. Anak-anak akan selalu teringat bahwa dalam Dhamma telah disebutkan bahwa anak yang tidak merawat ayah dan ibunya ketika tua; tidaklah dihitung sebagai anak (Khuddaka Nikaya, 393).
Kemoralan yang pada intinya pelaksanaan Pancasila Buddhis pada hari-hari biasa dan pelaksanaan Atthasila atau Delapan Sila pada hari-hari Uposatha dapat dikenalkan pada anak-anak sedikit demi sedikit. Tentu saja contoh dan teladan orangtua amatlah diperlukan. Artinya perbuatan orangtua yang sesuai dengan sila akan lebih mudah ditiru anak daripada nasehat belaka tanpa contoh nyata. Sang Buddha juga bersabda, sebagaimana ia mengajar orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat (Dhammapada XII, 3). Hal senada juga dikatakan oleh Mr. Sigourney, jika Anda menginginkan anak Anda untuk sesuatu …berusahalah menunjukkan sesuatu itu dalam hidup Anda dan dalam pembicaraan Anda sendiri. Sesungguhnya, tenaga yang paling potensial untuk membuat anak menjadi mahluk sosial adalah dengan mengamati perbuatan oranglain, terutama orangtuanya. Dengan demikian, usahakan setiap hari Uposatha (tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut penanggalan bulan) di cetiya di rumah diadakan pembacaan paritta khusus oleh ayah, ibu dan anak-anak pada pagi hari dan dilanjutkan dengan tekad melaksanakan Delapan Sila pada hari itu. Karena orangtua ikut aktif bersama dengan anak-anak, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak-anak untuk tidak melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak akan berbahagia memiliki orangtua yang bijaksana dan penuh kasih. Dengan demikian, mereka akan memiliki panutan hidup yang jelas. Mereka akan hormat dan kagum pada orangtuanya. Dan Dr. J.C. Dobson pun menuliskan, jika anak-anak dibawa untuk menghormati serta mengagumi orangtuanya, maka banyak kenakalan anak-anak dan kecerobohan dapat dihindari (hal. 105).
Konsentrasi dapat dikenalkan dengan melatih anak bermeditasi sejenak (kira-kira 15 menit) setiap hari. Sebaiknya dua kali sehari yaitu pagi sore setelah membaca paritta bersama ayah dan ibu. Ajarkan anak duduk bersila sesuai dengan petunjuk meditasi yang pernah didapat kemudian anjurkan anak mengucapkan kata “Bud-dho” sebanyak dua puluh kali, misalnya. Karena diucapkan, maka apabila pikiran anak menyimpang kita akan lebih gampang mengawasinya dan kemudian membenahinya. Tunjukkanlah manfaat meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bila anak telah bersekolah, meditasi akan dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak. Tentunya jika prestasi sekolah anak meningkat maka orangtua pun akan merasa bangga. 
3. MEMBERIKAN PENDIDIKAN
Pendidikan yang dimaksudkan di sini meliputi pendidikan lahir dan batin. Pendidikan anak sesungguhnya diawali dari rumah artinya diperoleh dari orangtua si anak sendiri. Disebutkan dalam Buddha Dhamma bahwa ayah dan ibu adalah guru yang pertama (Khuddaka Nikaya, 286). Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan anak sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Tentu saja pendidikan sejak dalam kandungan lebih bersifat batin daripada badan. Pendidikan batin di sini, salah satunya adalah pendidikan agama yaitu Agama Buddha. Ketika perkawinan sepasang suami istri telah diresmikan di sebuah vihara maka pada saat itulah mereka mulai mempersiapkan diri untuk memberikan pendidikan kepada calon anak-anaknya. Pasangan yang baru hendaknya selalu berusaha menjaga segala bentuk pikiran, ucapan dan perbuatannya agar ditujukan pada kebaikan. Dengan kata lain, mereka mendidik diri mereka sendiri dahulu sebelum memulai mendidik anaknya. Mereka hendaknya berusaha memiliki sebuah cetiya / altar di rumah. Setiap pagi dan sore sediakanlah waktu khusus untuk membaca paritta dan bermeditasi bersama. Pada hari Minggu atau hari kebaktian lainnya, suami istri kiranya dapat meluangkan waktunya untuk pergi ke vihara untuk melaksanakan puja bhakti serta mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. Apabila kebiasaan ini terus dilanjutkan pada saat telah terjadi kehamilan, maka sesungguhnya kedua calon orangtua tersebut telah siap mengawali tanggung jawab pendidikan anak yang amat penting. Dalam usia kehamilan tertentu, tujuh bulan misalnya, dapat mengundang teman-teman maupun para bhikkhu untuk membacakan paritta agar anak dalam kandungan memperoleh keselamatan begitupula ayah dan ibunya hendaknya memperoleh kebahagiaan. Menjelang kelahiran dan kemudian beberapa hari setelah kelahiran, alangkah baiknya bila juga mengundang teman maupun bhikkhu untuk membacakan paritta untuk keselamatan ayah, ibu dan anak. Demikian pula ketika ada peringatan-peringatan penting lainnya, ulang tahun misalnya, maka sungguh amat bermanfaat orangtua mengundang rekan vihara dan juga para bhikkhu untuk membaca paritta di rumah. Dengan demikian, anak telah dikenalkan tradisi Buddhis sejak usia dini. Disebutkan Dobson, hendaknya latihan kerohanian sudah dimulai sebelum anak-anak bisa memahami apakah artinya semua itu (hal. 123). Hal ini menyebabkan dimasa datang anak akan tetap menjadikan Buddha Dhamma sebagai pedoman hidupnya. Karena, meskipun anak-anak akhirnya akan membuat pilihan mereka sendiri dan menentukan arah kehidupan mereka, tetapi keputusan-keputusan itu akan dipengaruhi oleh dasar-dasar yang telah diletakkan oleh orangtuanya (Dobson, hal. 125).
Selain mengundang teman membaca paritta, hal yang jelas tidak boleh dihentikan apalagi dilupakan adalah kegiatan membaca paritta serta meditasi pagi-sore di cetiya di rumah oleh seluruh anggota keluarga. Dalam kegiatan membaca paritta bersama ini dapat pula dilakukan pembahasan Dhamma oleh ayah atau ibu atau mendengarkan pembabaran Dhamma yang terdapat di kaset-kaset rekaman.
Apabila telah tiba saatnya seorang anak masuk sekolah, maka anak akan memperoleh pendidikan ganda. Anak akan tetap memperoleh pendidikan di rumah namun sekaligus juga di sekolah yang telah ditentukan oleh orangtua. Penentuan sekolah ini merupakan hal penting pula. Perlu dijadikan dasar pemikiran pada saat memilih sekolah adalah faktor lingkungan, pergaulan, agama yang dominan di sekolah tersebut di samping masalah jarak rumah ke sekolah dan juga mutu sekolah tentunya. Perlu diingat, bahwa pergaulan anak amat menentukan corak watak anak dimasa depan. Ibarat kayu cendana yang wangi akan memberikan keharuman bagi kertas yang membungkusnya, sebaliknya daging busuk juga akan menyebarkan kebusukannya pada daun yang membungkusnya. Oleh karena itu, sekali lagi, berhati-hatilah memilihkan teman bergaul anak-anak agar tidak menjadikan penyesalan bagi semua fihak nantinya.
Dengan demikian jelas di sini bahwa yang dimaksudkan dengan pendidikan bukan hanya di sekolah saja. Sekolah selain sebagai tempat pendidikan sebenarnya lebih cenderung menjadi tempat pengajaran. Namun, rumah dengan kondisi rumahtangga yang damai dan harmonis antara setiap individu pembentuk rumah tangga adalah menjadi tempat pendidikan anak yang baik sekali.
4. MENYETUJUI CALON PASANGAN HIDUP ANAK
Satu hal wajar dalam proses kehidupan setelah anak beranjak dewasa adalah menentukan teman hidup. Di masa sekarang, pada umumnya anak memilih sendiri calonnya, tinggal tugas orangtua menyeleksi dan memberikan persetujuannya. Apabila calon menantu telah memenuhi persyaratan tertentu dari orangtua maka anak dapat meneruskan hubungan mereka ke jenjang perkawinan. Namun, apabila orangtua kurang berkenan dengan pilihan anak maka hendaknya anak disarankan untuk mencari lagi calon pasangan hidup yang lebih sesuai. Di sinilah peranan orangtua dalam menentukan masa depan anak menjadi amat penting. Orangtua hendaknya dengan bijaksana dan penuh kasih menyelesaikan tugas mulia ini. Orangtua dapat menghindarkan diri dari kebingungan di belakang hari karena masalah memilih calon menantu dengan cara seperti yang telah disinggung di atas, yaitu dengan memilihkan anak lingkungan yang sesuai. Bila anak telah terarah pada lingkungan yang benar, maka tentunya calon pasangan hidup pilihannya pun cenderung akan sesuai dengan harapan orangtua. Pilihan yang sesuai tentu saja harus memenuhi kriteria kepantasan dasar yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat tempat keluarga tersebut tinggal. Kriteria kepantasan ini bersifat relatif. Sedangkan kriterian memilih menantu yang terdapat dalam Buddha Dhamma sebagai yang telah disebut dalam Maha Manggala Jataka bahwa pedoman memilih menantu perempuan, ia hendaknya ramah tamah, usia sepadan, setia, baik hati dan mampu memberikan keturunan, memiliki keyakinan, memiliki kemoralan serta berasal dari keluarga baik-baik (Jataka X, 453). Sedangkan kriteria memilih menantu laki-laki, ia hendaknya setia tidak tergolong lelaki hidung belang, pemabuk, penjudi dan pemboros(Parabhava Sutta, 16).
Selain kriteria di atas ada beberapa persyaratan penting lainnya yang perlu diketahui orangtua dalam memilih dan menentukan calon menantu. Persyaratan ini penting karena memperoleh menantu yang sesuai akan dapat menumbuhkan kebahagiaan untuk anak. Sedangkan kebahagiaan anak adalah pasti merupakan kebahagiaan orangtua pula. Pada kitab Anggutara Nikaya II, 59 Sang Buddha memberikan minimal empat kesamaan sebagai persyaratan agar rumah tangga berbahagia. Persyaratan itu adalah memiliki kesamaan dalam keyakinan yaitu yakin dengan Agama Buddha, kemoralan, kedermawanan serta kebijaksanaaan sesuai dengan Dhamma. Bila keempat kesamaan ini dapat dipenuhi maka kebahagiaan pasangan tersebut akan dapat tercapai.
5. MEMBERIKAN WARISAN PADA SAAT YANG SESUAI
Masalah memberikan warisan sering dihindari dalam pembicaraan masyarakat sehari-hari padahal urusan ini banyak menimbulkan perkara antar anggota keluarga bila orangtua telah meninggal. Oleh karena itu dalam tradisi Buddhis, memberikan warisan sebaiknya ketika orangtua masih hidup. Hal ini mempunyai maksud, bila anak ternyata tidak mampu memenuhi harapan orangtua maka orangtua masih dapat memberikan dukungan maupun nasehat yang diperlukan sehingga anak akhirnya akan mampu memperoleh kemajuan sesuai harapan orangtua.
Warisan dapat diartikan peninggalan orangtua pada anak baik yang bersifat materi maupun bukan. Warisan yang bukan materi misalnya pendidikan, sopan santun, sikap hidup dan sebagainya. Sedangkan warisan yang dimaksudkan di sini lebih cenderung pada warisan yang bersifat materi. Hal yang penting ditekankan di sini adalah bukan besarnya nilai materi warisan yang diberikan tetapi kegunaan dan kemampuan anak memanfaatkan warisan yang diterimanya. Kemampuan ini tentunya merupakan hasil pendidikan orangtuanya pula. Oleh karena itu, peranan orangtua dalam mengarahkan anak agar memiliki ketrampilan tertentu untuk mempertahankan kehidupan dan menjadi mandiri setelah dewasa adalah menjadi salah satu tanggung jawab utama orangtua. 
KESIMPULAN
Masa depan anak, kesuksesan maupun kegagalan banyak dipengaruhi oleh peranan orangtua di masa kecil anak. Komunikasi yang dibina dengan semaksimal mungkin akan memberikan dasar terpenting dalam pendidikan anak. Dasar pembinaan komunikasi adalah dengan menanamkan pengertian pada diri orangtua bahwa bayi adalah manusia sepenuhnya sejak kelahiran (Dobson, hal. 32). Hal inilah yang sering dilupakan oleh orangtua. Orangtua cenderung menganggap anaknya tidak tahu apa-apa. Orangtua merasa tidak perlu memberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan pikirannya kepada anak-anaknya. Mereka menganggap anak-anaknya belum saatnya berbicara dan berdiskusi tentang sesuatu masalah dalam keluarga tersebut. Padahal mungkin masalah itu berkaitan dengan anak tersebut. Sikap inilah yang akan menghambat komunikasi orangtua dengan anak. Namun apabila hal ini dapat disadari dan diperbaiki maka komunikasi akan dapat terjalin baik. Apabila komunikasi telah terbina, maka nilai-nilai apapun yang hendak orangtua tanamkan pada anak akan lebih gampang diterima. Penanaman watak yang penting adalah meningkatkan mutu kebajikan dalam segala bentuk tingkah laku, ucapan dan cara berpikir anak yang benar dan sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Cara penanaman watak baik ini dapat menggunakan beberapa dorongan sebagai pertolongan. Jeremy Benthan, seorang ahli filsafat abad 19, mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua tenaga pendorong yaitu kesenangan dan kesakitan. Oleh karena itu, sistem memberikan hadiah dan hukuman bila diperlukan dapat diterapkan dengan bijaksana dan penuh kasih pada anak-anak. Perlu ditambahkan di sini bahwa hukuman atau pengendalian secara fisik haruslah merupakan metoda terakhir dalam usaha mengendalikan anak. Dr. Charles Schaefer menegaskan bahwa paksaan secara fisik bukanlah merupakan hukuman tetapi suatu pencegahan agar anak tidak berbuat hal-hal yang berbahaya dan merusak bagi dirinya sendiri, orang lain, atau benda-benda di sekitarnya (hal. 117).
Dr. Charles Schaefer pernah membuat survey terhadap 2000 orang anak yang menanyakan mereka tentang perubahan apakah yang mereka kehendaki atau inginkan terjadi dalam kehidupan keluarga mereka. Jawaban terbanyak bila diurutkan adalah pelajaran agama lebih banyak, kemudian komunikasi yang lebih baik dan ketiga adalah waktu yang lebih banyak untuk bersama-sama sebagai satu keluarga (hal. 160).
Menyadari sedemikian rindunya anak-anak generasi penerus kita pada kebersamaan dan komunikasi dengan orangtuanya yang telah hilang ditelan kebutuhan, maka renungkanlah sebuah slogan yang mulai sering terdengar:SUDAHKAH ANDA PELUK ANAK ANDA HARI INI ?

RENUNGAN

Anak-anak Mempelajari Hal yang Mereka Hayati dalam Hidup

Kalau seorang anak hidup dengan kritik,
Dia akan belajar mengecam.
Kalau seorang anak hidup dengan kebencian,
Dia akan belajar berkelahi.
Kalau seorang anak hidup dengan ejekan,
Dia akan belajar menjadi pemalu.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa malu,
Dia akan belajar merasa bersalah.
Kalau seorang anak hidup dengan toleransi,
Dia akan belajar sabar.
Kalau seorang anak hidup dengan dorongan,
Dia akan belajar memiliki keyakinan.
Kalau seorang anak hidup dengan pujian,
Dia akan belajar menghargai.
Kalau seorang anak hidup dengan kejujuran,
Dia akan belajar adil.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa aman,
Dia akan belajar mempunyai iman.
Kalau seorang anak hidup dengan persetujuan,
Dia akan belajar menyukai dirinya sendiri.
Kalau seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Dia akan belajar menemukan cinta di dunia.

(Dorothy Noltie, dikutip Brian Tracy hal. 328-329)

SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA. 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.