Arsip Bulanan: Mei 2010

Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha Yang Bertugas Di Dunia

 Dua Puluh Sembilan Manussa Buddha Yang Bertugas Di Dunia
No
Nama Buddha
Sifat Utama
1
  Tanhankara
  Maha Perwira
2
  Medankara
  Maha Mulia
3
  Saranankara
  Maha Welas-asih
4
  Dipankara
  Cahaya Cemerlang
5
  Kondanna
  Junjungan Manusia
6
  Mangala
  Yang Maha Agung
7
  Sumana
  Pemberani Yang Berbudi Lemah Lembut
8
  Revata
  Penambah Kegembiraan, Kebahagiaan
9
  Sobhita
  Yang Penuh Kebajikan
10
  Anomadassi
  Manusia Utama
11
  Paduma
  Obor Semesta Alam
12   Narada   Pembimbing Yang Tiada Taranya
13   Padumuttara   Makhluk Yang Tiada Taranya
14   Sumedha   Yang Paling Mulia
15   Sujata   Pimpinan Jagad Raya
16   Piyadassi   Maha Junjungan Umat Manusia
17   Atthadassi   Yang Penuh Kasih-sayang
18   Dhammadassi   Penghalau Kegelapan
19   Siddhatta   Yang Tiada bandingnya Didunia
20   Tissa   Pemberi Karunia Yang Utama
21   Phussa   Yang Sempurna Ke Tujuan Akhir
22   Vipassi   Yang Tiada Saingannya
23   Sikhi   Pahlawan Cinta-kasih Tanpa Batas
24   Vessabhu   Penyebar Kebahagiaan Sejati
25   Kakusandha (Krakucchanda)   Penunjuk Jalan Para Musafir
26   Konagamana (Kanakamuni)   Yang Berusaha Tanpa Akhir
27   Kassapa (Kasyapa)   Cahaya Sempurna
28   Gotama (Gautama)   Kejayaan dalam Keluarga Gotama (Gautama)
29
  Matteya (Maitreya)
  Yang Penuh Dengan Cinta-kasih

Hukum Karma

Hukum Karma

Kamma(bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sansekerta) artinya perbuatan. Kamma atau Karma adalah suatu perbuatan yang dapat membuahkan hasil, dimana perbuatan baik akan menghasilkan kebahagiaan dan sebaliknya perbuatan jahat juga akan menghasilkan penderitaan atau kesedihan bagi pembuatnya.

Semua perbuatan yang dilakukan atau disertai dengan kehendak berbuat (cetena) merupakan Kamma. Kehendak dapat berarti keinginan, kemauan, kesengajaan atau adannya rencana berbuat.

Sang Buddha bersabda: “O, Bhikkhu! Kehendak berbuat (cetena) itulah yang kami namakan Kamma.” (Anguttara Nikaya III : 415)

Perbuatan yang tidak mengandung unsur kehendak dengan sendirinya tidak tergolong Kamma yang dapat menimbulkan akibat atau hasil perbuatan:

1.      Perbuatan yang netral murni, misalnya duduk, berdiri, berjalan, tidur, melihat dan lain-lain menurut keadaan yang wajar.
2.      Perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik atau jahat, namun tidak disertai kehendak. Misalnya:
1.      Waktu berjalan, ada semut yang terinjak mati
2.      Tanpa disadari, uangnya jatuh dan dipungut oleh seorang cacat yang amat memerlukan uang

Semua perbuatan akan menimbulkan akibat dan semua akibat akan menimblkan hasil perbuatan. Akibat perbuatan disebut kamma-vipaka, dan hasil perbuatan disebut kamma-phala.

Dari segi perbuatan atau salurannya, kamma dibedakan atas:
Mano-kamma = perbuatan pikiran
Vaci-kamma = perbuatan kata-kata
Kaya-kamma = perbuatan badan jasmani

Sedangkan menurut sifatnya, kamma dapat dibagi menjadi dua bagian:

1.      Kusala-kamma = perbuatan baik
2.      Akusala-kamma = perbuatan jahat

Kusala-kamma berakar dari kusala-mula, 3 akar kebaikan:
     Alobha : tidak tamak
     Adosa : tidak membenci
     Amoha : tidak bodoh

Akusala-kamma berasal dari akusala-mula, 3 akar kejahatan:
     Lobha : ketamakan
     Dosa : kebencian
     Moha : kebodohan

Jadi Hukum Karma adalah hukum perbuatan yang akan menimbulkan akibat dan hasil perbuatan (kamma-vipaka dan kamma-phala), Hukum kamma bersifat mengikuti setiap Kamma, mutlak-pasti dan harmonis-adil.
Klasifikasi Kamma:

·         Kamma menurut fungsinya
·         Kamma menurut kekuatannya
·         Kamma menurut waktunya.

 PEMBAGIAN KARMA MENURUT FUNGISNYA:

1.      Janaka-kamma: Kamma yang berfungsi menyebabkan timbulnya suatu syarat untuk kelahiran makhluk-makhluk.
Tugas dari Janaka-kamma adalah melahirkan Nama-Rupa:
Janaka-kamma melaksanakan Punarbahava, yaitu kelahiran kembali dari makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan (lapisan kesadaran) sebelum mereka mencapai pembebasan Arahat.
2.      Upatthambaka-kamma: Kamma yang mendorong terpeliharannya suatu akibat dari suatu sebab yang telah timbul. Mendorong kusala atau akusala-kamma yang telah terjadi agar tetap berlaku.
3.      Upapilaka-kamma: Kamma yang menekan kamma yang berlawanan agar mencapai kesetimbangan dan tidak membuahkan hasil. Kamma ini menyelaraskan hubungan antara kusala-kamma dengan akusala-kamma.
4.      Upaghataka-kamma: Kamma yang meniadakan atau menghancurkan suatu akibat yang telah timbul, dan menyuburkan kamma yang baru. Maksudnya kamma yang baru itu adalah garuka-kamma, sehingga akibatnya mengatasi semua kamma yang lain.

PEMBAGIAN KAMMA MENURUT KEKUATANNYA:

Garuka Kamma
Adalah kamma yang berat dan bermutu. Akibat dari kamma ini dapt timbul dalm atu kehidupan, maupun kehidupan berikutnya. Garuka kamma terdiri dari:
a.
Akusala-garuka-kamma
b.
Kusala-garuka-kamma
Akusala-garuka-kamma
Kamma yang berat terdiri dari 2 kelompok, yaitu:
1.      Niyatamicchaditthi, yaitu pandangan yang salah. Maksudnya memandang yang salah adalah benar dan yang benar diartikan salah. Terdapat 10 pandangan hidup yang salah:
1.      Tidak murah hati. Tidak pemaaf atau tidak suka menolong kesukaran orang/makhluk lain.
2.      Tidak mengerti faedah berdana. Mengangap bahwa berdana adalah suatu kebodohan yagn tidak ada hasilnya.
3.      Tidak memberikan hadiah pada tamu. Tamu adalah seorang atau sekelompok orang yang kedatangannya membahagiakan kita atau yang kedatangannya kita harapkan. Memberikan hadiah pada tamu yang dewasa ini di kota terutama berarti memberikan minuman.
4.      Perbuatan baik atau perbuatan jahat dianggap tidak ada hasil atau akibatnya. Seorang yang yakin perbuatan baik akan membawa hasil tentu berusaha menambah kebaikan pada setiap kesempatan di manapun ia berada, dan sebaliknya berusaha menghndari perbuatan yang salah setiap kali akan dilakukan.
5.      Tidak percaya pada dunia ini, tidak percaya akan kebenaran Dhamma, hukum-hukum kesunyataan; yaitu kelompok manusia yang penuih dengan kekecewaan, kebencian, ketamakan, dan kebodohan.
6.      Tidak percaya pada dunia yang akan datang; tidak percaya akan tumimbal lahir, kehidupan yang akan datang.
7.      Tidak mengerti fungsi seorang ibu, dan
8.      Tidak mengerti fungsi ayah, menganggap tidak membawa akibat apapun yang dilakukan pada mereka.
9.      Tidak mempercayai adanya makhluk yang mati atau yang dilahirkan kembali.
10.  Tidak melakukan disiplin menyendiri (khusus untuk para Buddha/Arahat)
2.      Pancanantariya-kamma, yaitu 5 perbuatan durhaka.
1.      Membunuh ayah
2.      Membunuh ibu
3.      Membunuh seorang Arahat
4.      Melukai seorang Buddha
5.      Memecah belah Sangha
Mereka yang melakukan salah satu dari 5 perbuatan durhaka di atas, setelah meninggal akan lahir di alam Apaya (duka/rendah), yaitu alam neraka, binatang, setan dan raksasa.
Kusala-garuka-kamma
Adalah perbuatan “bermutu”, yaitu dengan bermeditasi , hingga mencapai tingkat kesadaran jhana. Ia akan dilahirkan di alam sorga atau lapisan kesadaran yang tinggi, yang berbentuk atau tanpa bentuk (16 rupa-bhumi dan 4 arupa-bhumi)  
2.      Asanna-kamma
Kamma yang dilakukan sebelum saat mati seseorang, baik lahir maupun batin, terutama dengan pikiran. Misalnya memikirkan perbuatan baik atau jahat yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi mempunyai pikiran yang baik di kala akan meninggal adalah merupakan hal yang penting, yang akan menentukan bentuk kehidupan berikutnya menjadi lebh baik. Asanna-kamma berlaku apabila tidak melakukan garuka-kamma.
3.      Acinna-kamma atau Bahula-kamma
Apabila seorang dalam hidupnya tidak melakukan garuka-kamma dan di saat akan meninggal tidak pula melakukan Asanna-kamma, maka yang menentukan corak kelahiran berikutnya adalah acinna-kamma. Acinna-kamma atau Bahula-kamma adalah kamma kebiasaan, baik dengan kata-kata, perbuatan maupun pikiran. Walaupun seorang hanya sekali berbuat baik, namun karena selalu diingat, menimbulkan kebahagiaan hingga menjelang kematiannya, hal ini akan menyebabkan kelahiran berikutnya mnjadi baik. Demikian juga seorang yang hanya seklain bernuat jahat, karena selalu diingat menimbulkan kegelisahan hingga akhir hidupnya, sehingga akan lahir di alam yang tidak baik. Oleh karena itu apabila kita pernah berbuat jahat, maka perbuatan jahat itu harus dilupakan; demikian pula sebaliknya kalau kita pernah berbuat baik, perbuatan itu perlu selalu diingat.
4.      Katatta-kamma
Bila seorang tidak berbuat Garuka-kamma, Asanna-kamma atau Acinna-kamma, maka yang menentukan bentuk kehidupan berikutnya adalah katatta-kamma, yaitu kamma yang ringan-ringan, yang pernah diperbuat dalam hidupnya.

Ada Apa Di Balik Mukjizat? Oleh Slamat Rodjali

Ada Apa Di Balik Mukjizat?
Oleh Slamat Rodjali
 



Pernahkah terlintas dalam pikiran pembaca mengapa sebagai seorang beragama Buddha `doa’ saudara tidak `manjur’ namun seseorang yang beragama lain dan pelaku kejahatan justru mengalami kemajuan? Atau pernahkah saudara melihat sesuatu mukjizat tidak terjadi di vihara tetapi terjadi di tempat ibadah agama lain?
 
Pernahkah saudara mendengar atau membaca kitab salah satu paham yang menceritakan ADA yang dapat membangkitkan orang yang telah `mati’; mengubah air menjadi anggur, membuat orang buta dapat melihat kembali?
Seorang perempuan, Tuti (bukan nama sebenarnya) terkena kanker rahim stadium 3, berupaya kuat untuk pergi kepada berbagai dokter bahkan datang ke dalam satu Kebaktian paham tertentu, kankernya tersebut malah meningkat menjadi stadium 4 dan semua dokter yang ditemui `angkat tangan’ tak dapat menolongnya dari kematian, namun setelah bertemu dengan seorang bhikkhu dan setelah melaksanakan sesuatu yang dikatakan oleh bhikkhu tersebut, kondisi kankernya malah menurun berangsur hilang hingga sembuh total.
Seorang ibu mengeluhkan anaknya Dono (bukan nama sebenarnya) yang sakit panas dibawa ke vihara dan didoakan seorang pandita beragama Buddha, tetapi tidak sembuh. Keesokan harinya ketika di bawa ke sebuah tempat ibadah dari paham lain dan didoakan sesuatu, serta diberi minum sesuatu, eh… panasnya tiba-tiba hilang.
Pernahkah saudara mendengar pernyataan salah seorang pemuka paham tertentu bahwa di dunia ini ada dua kuasa, yaitu “kuasa Hyang Agung” dan “kuasa iblis?” Ia tidak menolak bahwa iblis pun memiliki kuasa dan bisa menimbulkan mukjizat. Ia menyatakan bahwa bisa saja seseorang ketika datang ke dalam rumah ibadah-nya tidak akan melihat mukjizat sedangkan ketika ke vihara bisa melihat mukjizat atau sebaliknya. Ia meng-klaim bahwa apabila mukjizat yang timbul di rumah ibadahnya merupakan kuasa “Hyang Agung” sedangkan bila timbul di vihara atau rumah ibadah lainnya disebut bukan kuasa “Hyang Agung”, dan bila bukan kuasa Hyang Agung, pasti saudara tahu yang dimaksudnya, siapa di balik mukjizat tersebut yang berkuasa.
Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa mukjizat memang bukan monopoli agama tertentu. Semua orang dapat mengalami mukjizat. Tuti bisa bersaksi (memberikan kesaksian) atas mukjijat yang terjadi pada dirinya….. Dono juga bisa bersaksi atas mukjizat yang dialaminya. Keduanya bisa meng-klaim bahwa mukjizat tersebut terjadi atas firman/kuasa yang diagungkan pemeluk paham rumah ibadah tempat mereka masing-masing mengalami mukjizat tersebut Cuma…. Siapa yang berkuasa menimbulkan mukjizat bagi kesembuhan Tuti dan Dono pada kasus di atas? Apakah memang benar pada kasus-kasus di atas, mukjizat kesembuhan Tuti ditimbulkan oleh “kuasa Iblis” dan mukjizat kesembuhan Dono ditimbulkan oleh “Firman/Kuasa Hyang Agung?” Membangkitkan yang mati, mengubah air menjadi anggur, membuat orang buta kembali melihat … juga… merupakan hanya mukjizat Firman/Kuasa Hyang Agung paham tersebut?
Budaya iming-iming dengan mukjizat melalui kesaksian salah satu paham di masyarakat kita, dan budaya ancaman halus bahwa mukjizat yang timbul di dalam rumah ibadah/diperantarai pemuka agama paham lain merupakan kuasa iblis yang `bermata kail’, telah lama merebak di Indonesia dan telah mengguncangkan `keyakinan’ banyak umat paham lain tersebut sehingga sangat banyak umat paham lain tersebut (termasuk yang fanatik berat awalnya) `mengorbankan diri’ untuk berganti label paham keagamaannya ke dalam `iman’ paham di atas bahkan hingga bersikap fanatik berat dalam `iman’ baru-nya dan mencampakkan paham keyakinan sebelumnya yang ditunjukkannya melalui kesaksian yang ditayangkan di televisi atau di dalam kesempatan Kebaktian di stadion/hotel tertentu, hanya semata dikarenakan tidak mengetahui proses sesungguhnya yang terjadi di balik mukjizat.
Saudara pembaca, pertanyaannya adalah bagaimanakah proses di balik terjadinya mukjizat? Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuh seseorang? Apa saja faktor-faktor yang menentukan “kemanjuran” suatu “doa” atau “rapalan kata-kata” atau “mantra” yang dianggap suci oleh penganutnya? Apa definisi kematian dalam hakekat yang sesungguhnya? Ini merupakan beberapa topik yang harus kita tuntaskan di dalam tulisan ini sehingga para pembaca dapat mengerti dengan jelas dan tidak terjebak untuk berganti label karena iming-iming mukjizat atau karena takut akan ancaman setelah mengalami mukjizat di vihara umat Buddha. Selanjutnya saudara akan dapat menilai sendiri, apakah mukjizat terkait dengan label salah satu paham atau agama ataukan tidak? Mari kita telusuri dengan seksama…!
Memahami Terjadinya Mukjizat
Saudara pembaca, kalau kita amat-amati dari kitab suci paham lain, perbuatan atau kejadian ajaib (mukjizat) yang diasumsikan dilakukan oleh Hyang Agung mereka, ada 4 jenis, yaitu: (1) penyembuhan orang sakit, (2) pengusiran setan atau roh-roh jahat, (3) penaklukkan kekuatan alam, dan (4) pembangkitan orang mati. Penganutnya mengklaim sebagai monopoli Firman Hyang Agung mereka, dan bila timbul di paham lain, artinya ditimbulkan oleh Iblis, sehingga hal ini menjadi sumber propaganda untuk konversi “label agama/paham” yang dilakukan oleh para pemeluknya dengan memanfaatkan kebodohan dan ketakutan penderita.
Cukup kontras perbedaannya dengan yang dijumpai di dalam Tipitaka (kitab suci umat Buddha), sungguh tak terhitung banyaknya mukjizat yang ditimbulkan baik oleh para Buddha, oleh murid-murid Beliau (Sangha), bahkan oleh umat awam yang mempraktikkan ajaran Buddha tersebut sebagai “conditioning service medication” (layanan mengkondisikan pengobatan untuk penyembuhan) maupun “self-service medication” (layanan mandiri pengobatan untuk penyembuhan), yang tipikal-nya tidak diklaim sebagai monopoli baik oleh para Buddha, tidak juga oleh para murid Beliau (Sangha) dan oleh umat yang melaksanakannya walaupun mengalami kesembuhan yang dinilai sebagai keajaiban (mukjizat). Proses mukjizat yang terjadi sangat reasonable (mengandung alasan yang ilmiah berdasarkan sebab akibat) dijelaskan secara objektif, tanpa mengandung iming-iming untuk konversi label agama, dan tidak mengandung ancaman halus dengan mengkambinghitamkan Iblis yang memberikan duri di dalam umpan.
 
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan jasmani
Lebih dari 2500 tahun yang lalu, seorang Agung di dalam sejarah peradaban manusia di bumi ini pernah menyatakan bahwa kesehatan jasmani seseorang ditentukan oleh minimal 4 faktor, yaitu:
  1. Faktor perbuatan orang tersebut (istilah di dalam agama Buddha, disebut faktor Kamma)
  2. Faktor pikiran orang tersebut (istilahnya disebut faktor Citta)
  3. Faktor makanan orang tersebut (Âhâra)
  4. Faktor keseimbangan lingkungan hidup orang tersebut (Utu)
Perbuatan seseorang akan menghasilkan materi khusus (kammajarûpâ) yang bereaksi terhadap jasmaninya, demikian pula pikiran seseorang akan menimbulkan materi khusus (cittajarûpâ) yang bereaksi dan berinteraksi dengan materi tubuh orang tersebut, ditambah dengan makanan/âhârajarûpâ (termasuk obat-obatan, vitamin, mineral dan sebagainya) akan menambah kontribusi kombinasi reaksi interaksi materi tubuh orang tersebut. Lingkungan hidup, kelembaban, temperatur, pakaian orang tersebut juga akan menimbulkan efek panas dingin kering lembab (utujarûpâ) tubuhnya yang juga berinteraksi dengan materi-materi sebelumnya. Keempat faktor materi ini saling berinteraksi dan berkorelasi membentuk materi-materi baru yang kompleks yang menjelaskan perbedaan fisik tiap makhluk.
Semakin tinggi kualitas perbuatan (diindikasikan dengan nilai moralitas) dulu dan sekarang, kualitas pikiran, kualitas makanan dan kualitas lingkungan hidup seseorang maka materi-materi yang ditimbulkan oleh keempat faktor itu akan memiliki kualitas yang makin tinggi; dan interaksi keempat materi dengan kualitas tinggi ini serta kontinuitas (kesinambungan) kemunculannya akan memberikan efek prima kesehatan jasmani seseorang dalam kesinambungan pula. Kontinuitas makin baik, maka kesehatan makin berdaya tahan lama. Jika terjadi diskontinyu, maka efek kesehatan pun dis-kontinyu. (lihat uraian kekuatan paritta pada sub judul di bawah).
Saudara pembaca, uraian di atas pada prinsipnya merupakan kombinasi interaksi antara:
  1. Proses sebab akibat berkondisi (tidak muncul tiba- tiba)
  2. Empat faktor (perbuatan, pikiran, makanan, lingkungan fisik)
  3. Waktu (kala) lampau dan sekarang, dalam hal kontinyu atau diskontinyu dengan tenggang waktu tertentu atau putus-putus.
Lalu, apa hubungannya dengan kemanjuran dari pembacaan “doa” bagi agama tertentu dan “paritta” di dalam agama Buddha?
Faktor-faktor kekuatan “doa” atau “paritta” atau “mantra”
Penelitian terkini di dalam pengobatan, di dalam eksperimental psikologi dan apa yang disebut parapsikologi telah melemparkan secercah cahaya sifat alamiah pikiran dan posisinya di dunia ini. Selama empat puluh tahun terakhir pengaruh ini telah secara konstan tumbuh di antara para ahli kedokteran bahwa banyak kasus penyakit organik maupun fungsional secara langsung dikondisikan oleh faktor-faktor batin. Tubuh menjadi sakit karena pikiran mengontrolnya secara tersembunyi (tak disadari langsung oleh penderita) menginginkan tubuhnya sakit, atau karena kegelisahan sehingga tak dapat mencegah tubuh menjadi sakit.
Pikiran tidak hanya menyebabkan sakit, juga dapat menyembuhkan. Pasien yang realistis memiliki kesempatan kesembuhan yang jauh lebih baik dibandingkan seorang pasien yang khawatir dan tidak gembira. Contoh-contoh yang didokumentasikan melalui penyembuhan `keyakinan’ termasuk di dalamnya kasus-kasus penyakit organik dapat disembuhkan hampir secara instan. Di dalam hubungan ini, sungguh menarik kita meninjaunya dari sisi Buddha Dhamma, dari mendengarkan pembacaan Dhamma atau doktrin Buddha untuk mengkondisikan terbebasnya dari penyakit atau mara bahaya, untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh makhluk-makhluk pengganggu yang terlihat ataupun tidak terlihat, untuk memperoleh `perlindungan’ dan kebebasan dari kejahatan, dan untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kebaikan makhluk hidup. Beberapa khotbah yang disebut “paritta sutta” dijadikan sebagai `khotbah perlindungan.’ Namun paritta sutta ini tidaklah sama dengan pembacaan mantra atau doa paham lain, tak ada satu pun yang mistis di dalam paritta sutta.
Kata paritta pertama kali digunakan oleh Buddha Gotama di dalam khotbah yang dikenal dengan “Khandha paritta” di dalam Culla Vagga, Vinaya Pitaka (vol. ii, halaman 109), dan juga di dalam Añguttara Nikâya di bawah judul `Ahi (metta) Sutta’ (vol. ii halaman 82). Khotbah ini direkomendasikan oleh Buddha Gotama sebagai `pelindung’ untuk digunakan oleh para bhikkhu. Di dalam khotbah itu Buddha menganjurkan para bhikkhu untuk mempraktikkan dan mengembangkan metta (cinta kasih universal) kepada semua makhluk.
Saudara pembaca, setiap “doa” ataupun “paritta” atau “mantra” tertentu memiliki nilai kekuatan tertentu. Kekuatan-kekuatan yang saling berkombinasi secara sinergis akan menimbulkan kekuatan baru yang jauh lebih tinggi. Kekuatan-kekuatan itu, sebagai berikut:
1. Kekuatan Kebenaran
Beberapa faktor berkombinasi memberikan kontribusi kepada `kemanjuran’ pembacaan paritta. Pembacaan paritta merupakan sebentuk saccakiriya, yaitu sebuah afirmasi atas kebenaran. Perlindungan dihasilkan dari kekuatan afirmasi kebenaran tersebut. Ini berarti menetapkan diri pembaca di dalam kekuatan kebenaran terlebih dulu sebagai modal utama. Dengan modal utama bahwa dirinya diliputi kebenaran, para pendengar pun diajak untuk berlibat di dalam kebenaran tersebut. Itulah sebabnya di akhir paritta ini, biasanya pembaca memberikan afirmasi `blessing’ kepada pendengarnya dengan mengucapkan kata-kata `etena sacca vajjena sotti te hotu sabbadâ’ yang berarti `dengan kekuatan kebenaran kata-kata ini semoga kamu sembuh/baik. Kekuatan Dhamma atau Kebenaran melindungi pelaksana Dhamma (dhammo have rakkhati dhammacarin) mengindikasikan prinsip di balik pembacaan sutta ini. Apabila semua faktor lainnya sama tingkatnya, maka pembacaan Kebenaran (paritta sutta) akan memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan `doa’ semata yang mengandung hasrat melekat atau kata-kata tak bermakna (mantra).
2. Kekuatan Kemoralan
Tahap pertama pelaksanaan Buddha Dhamma adalah kemoralan (Sila). Dilandasi kemoralan yang baik, seseorang seyogyanya berjuang untuk mencapai batin yang tenang dan seimbang. Apabila ini terjadi, maka orang yang memiliki kemoralan akan terlindung dengan sendirinya oleh kekuatan moralnya tersebut. Orang yang mendengarkan pembacaan paritta dari orang yang bermoral akan muncul inspirasi pikiran yang baik secara reflektif induktif muncul pikiran yang bermoral baik yang dapat mengatasi pengaruh buruk dan akhirnya terlindung dari berbagai bahaya. Moralitas pembaca dan yang mendengarkan saling berpengaruh membentuk kombinasi kontribusi kekuatan paritta tersebut. Makin tinggi moralitas pembaca dan pendengarnya, maka kekuatan paritta tersebut akan menjadi makin tinggi.
3. Kekuatan Cinta Kasih
Khotbah yang dilakukan oleh Buddha tidak akan pernah lepas dari cinta kasih. Beliau berjalan ke manapun dengan penuh cinta kasih untuk semua makhluk, memberikan petunjuk, mengkondisikan pencerahan dan membahagiakan banyak makhluk melalui ajaran-Nya. Oleh karena itu, para pembaca paritta pun diharapkan melakukannya dengan penuh cinta kasih dan belas kasihan kepada para pendengarnya dengan mengharapkan mereka berbahagia, terbebas dari penyakit, kesukaran, penderitaan dan mara bahaya. Semakin tinggi cinta kasih yang dikembangkan dan dipancarkan oleh pembaca paritta, maka kekuatannya akan semakin tinggi.
4. Kekuatan Keyakinan
Keyakinan merupakan hal yang sangat penting di dalam semua tindakan. Pembacaan paritta atau `doa’ atau `mantra’ dengan keyakinan tinggi, akan menimbulkan efek ketenangan yang tinggi bagi batin pembacanya. Tingkat keyakinan yang tinggi dari pendengarnya akan berpengaruh bagi tingkat kemauan pendengar itu mendengarkan dan merenenungkannya. Konflik batin menjadi teratasi, dan ujungnya cittajarupa yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang baik yang berinteraksi dengan materi tubuhnya tersebut sehingga tingkat kesehatan atau radiasi tubuhnya menjadi lebih baik.
5. Kekuatan Konsentrasi
Pembacaan paritta dengan penuh konsentrasi akan memberikan efek sinkronisasi yang baik terhadap pembaca maupun pendengarnya. Kekuatan kebenaran akan tetap terjaga, harmonisasi tetap terjaga, kestabilan faktor batin yang penuh cinta kasih akan tetap terjaga, keyakinan tetap terjaga penuh. Makin tinggi tingkat konsentrasi maka akan makin tinggi pula kekuatan batin orang tersebut (baik pembaca maupun pendengarnya), dan kekuatan batin ini tentu menjadi kontribusi penting di dalam mengalahkan pengaruh-pengaruh yang negatif.
6. Kekuatan perbuatan (kamma)
Setiap makhluk melakukan perbuatan sejak dulu hingga kini, dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Perbuatan tersebut merupakan aksi, dan memiliki potensi untuk menghasilkan akibat. Perbuatan yang dilakukan suatu makhluk terdiri dari perbuatan tidak baik maupun perbuatan baik, dan masing-masing memberikan efek yang setimpal. Tidak baik akibatnya tidak menyenangkan/negatif; baik akibatnya menyenangkan/positif. Di dalam perjalanan bekerjanya, perbuatan ini, saling berinteraksi dan berkombinasi di dalam menimbulkan akibat. Ada perbuatan yang mengkondisikan berbuahnya perbuatan lain yang belum masak menjadi masak atau yang sudah saatnya masak menjadi masak dengan sepenuhnya. Ada pula perbuatan baik yang memotong buah perbuatan tidak baik yang sedang berlangsung hingga selesai. Sebagai contoh, seorang yang sedang sakit…diakibatkan salah satunya oleh akibat perbuatan buruknya yang lampau. Dengan kondisi perbuatan baiknya mendengarkan pembacaan paritta/`doa’/`mantra’ dengan penuh konsentrasi dan keyakinan saat itu, serta merta sembuh diakibatkan perbuatan baiknya ini memotong hasil perbuatan buruknya yang menyebabkan dia sakit. Sebaliknya apabila tidak ada perbuatan baik yang ditimbulkan untuk meng-counter akibat perbuatan tidak baik yang lampau atau akibat perbuatan tidak baik yang lampau terlalu kuat mendominasi, maka pembacaan paritta/`doa’/`mantra’ dan mendengarkan paritta/`doa’/` mantra’ tidak akan serta merta membuahkan hasil, namun bukan berarti sia-sia. Mohon maaf, proses aksi reaksi inilah yang tidak dijelaskan di dalam kitab-kitab para pemeluk firman “Hyang Agung” dalam kasus-kasus di pendahuluan tulisan ini. Proses aksi reaksi dan kombinasi serta interaksinya ini akan menjadi lebih jelas apabila para pembaca menyimak pelajaran `keselarasan perbuatan’ (kamma niyama) yang dijelaskan dengan lugas di dalam Tipitaka kitab suci umat Buddha maupun Visuddhimagga, salah satu kitab komentar. (Untuk pembahasan rinci kasus-kasus melalui sudut pandang kamma ini, silakan membaca buku Dhammasakacca karya Pandit Jinaratana Kaharuddin).
7. Kekuatan Suara
Telah lama diyakini bahwa getaran suara yang dihasilkan oleh pembacaan paritta yang harmonis di dalam bahasa Pali atau bahasa yang mudah dimengerti oleh pendengarnya akan berpengaruh kepada gerakan materi di dalam tubuh seseorang. Apabila semua hal kekuatannya sama, maka semakin harmonis pembacaan paritta, gerakan materi di dalam tubuh seseorang akan menjadi harmonis, dan akan mengakibatkan denyut nadi atau saraf yang harmoni. Secara realistis, hal ini menginduksikan ketenangan dan kedamaian fisik maupun batin.
Saudara pembaca, `keyakinan’ sering kali menjadi kambing hitam yang diluncurkan para penganut Firman “Hyang Agung” di dalam kasus di atas. Mereka sering kali menyatakan bahwa apabila ada beberapa orang yang ber-`iman’ sama tetapi hanya satu yang melihat mukjizat, maka artinya yang tidak melihat mukjizat dipra-anggap “kurang memiliki keyakinan” betapapun `saleh’-nya di dalam kehidupan keagamaannya. Sungguh merupakan kalimat pelarian (escape clause) yang cerdik yang secara halus memaksa seseorang untuk tetap memiliki ketergantungan `keyakinan’ kepada Firman Hyang Agung mereka, selama orang yang tidak melihat mukjizat tersebut belum mengerti proses mukjizat sesungguhnya.
Saudara pembaca, singkatnya, penguncaran paritta, `doa’ atau `mantra’ akan memiliki kekuatan yang tinggi dalam hal kemanjuran, baik untuk mengurangi/menghilangkan efek buruk maupun untuk menimbulkan atau mengembangkan efek baik, dan sepenuhnya sangat tergantung dari kebenaran yang terkandung di dalam kata-katanya, moralitas pembaca dan pendengarnya, keyakinan pembaca dan pendengarnya, konsentrasi pembaca dan pendengarnya, cinta kasih yang ditimbulkan dan dikembangkannya, harmonisasi getaran suara yang dibacakannya, terakhir namun yang terpenting adalah potensi pendengarnya (kamma masing-masing yang pernah dan sedang dipupuknya); jadi tidak tergantung pada label agama/paham tertentu.
Lantas, bagaimana dengan menghidupkan orang mati?
Kematian merupakan satu hal yang pelik, dan terkadang merupakan hal tabu untuk dibicarakan bagi kalangan tertentu. Karena pembatasan-pembatasan tertentu tersebut, penelaahan definisi dan kriteria kematian menjadi beragam sesuai dengan tingkat keterbukaan dan daya tinjau pembahasnya.
Secara kedokteran konvensional, kematian ditetapkan apabila denyut jantung, dan saraf sudah tidak berfungsi total yang dapat ditunjukkan pada alat deteksi monitor denyut jantung/nadi yang secara notabene merupakan deteksi secara fisik.
Di dalam Tipitaka dijelaskan bahwa makhluk masih dikategorikan hidup apabila fisiknya masih terdapat Jivita rûpâ yang merupakan unsur fisik kehidupan. Walaupun jantung dan nadi telah ditetapkan berhenti berdetak dan dianggap oleh orang awam atau kedokteran sebagai “mati”, namun selama jivita rupa masih ada, makhluk itu tidak dikatakan mati dalam konteks Buddhis.
Seseorang yang telah terbujur dingin dan dikatakan mati, namun orang tertentu yang terlatih batinnya dapat mengetahui dengan jelas bahwa jivita rupa orang itu masih ada, maka orang piawai itu pun dapat mengkondisikan `kehidupan’ (sadar kembali) orang yang dikatakan mati tersebut. Jadi orang piawai itu tidak menghidupkan kembali orang yang telah mati, namun ia mengetahui bahwa orang itu belum mati, dan dia mengetahui cara mengkondisikan orang itu agar sadar dan semua materi tubuh lainnya berfungsi.
Tidak heran, para pemeluk “firman Hyang Agung” menganggap “Hyang Agung” mereka, diyakini menghidupkan kembali orang mati, karena di dalam kitabnya tidak ada penjelasan rinci proses dan kriteria kematian dalam hakekat yang sesungguhnya. Semua kasus, seolah terjadi secara “generatio spontanea” (tiba-tiba terjadi), padahal saudara pembaca pasti telah mengetahui dari pelajaran di sekolah bahwa teori generatio spontanea ini telah dipatahkan para ilmuwan jauh sebelum buku pemeluk firman Hyang Agung ini diterbitkan.
Saudara pembaca… kematian merupakan sifat alamiah bagi semua yang berpadu/lahir. Tidak ada satu pun yang lahir tidak mengalami kematian. Bahkan yang dipraanggap Hyang Agung yang menghidupkan orang mati pada kasus di atas itu pun tak luput dari kematian.
Bagi saudara-saudara yang berminat untuk mendalami lebih jauh akan proses Jivita Rupa, proses kematian dan proses kelahiran dalam hakekat yang sesungguhnya, dapat menyimak ringkasan pelajaran hakekat yang sesungguhnya (Abhidhammatthasangaha), yang merupakan pengantar di dalam mempelajari salah satu bagian Kitab suci umat Buddha, Tipitaka, yaitu Abhidhamma Pitaka. Dengan menyimak uraian ini diharapkan para pembaca tidak terjebak oleh keindahan “mukjizat” dan tidak terpincut oleh “kesaksian” para pihak yang “pernah” melihat/mengalami mukjizat.
Epilog
Saudara-saudara… secara menyeluruh dan hampir merata, masyarakat Indonesia sedang dirundung `malang’, kelaparan, kemiskinan, penyakit, gangguan, ancaman, dan sebagainya. Banyak di antara mereka mencari “Mukjizat” instan, dan kemudian memberikan “Kesaksian” bila tercapai atau kadang “direkayasa” untuk bersaksi demi se-onggok kekayaan anicca atau nama harum relatif; tidak terkecuali umat Buddha, banyak juga yang terbawa arus ini. Dengan mengikuti uraian di atas, diharapkan umat Buddha tidak mencari “Mukjizat dan memberikan kesaksian” di luar. Carilah mukjizat di dalam diri sendiri dan bersaksilah kepada diri sendiri …. Mukjizat yang realistis dapat terjadi tergantung kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk munculnya. Kondisi kemunculan mukjizat tersebut, justru berada sangat dekat, di dalam diri sendiri, yaitu perbuatan kita masing-masing, baik perbuatan melalui pikiran, tindakan jasmani maupun perkataan. Faktor-faktor lain hanyalah kondisi pendukung yang harus sinkron dengan perbuatan tersebut. Semoga Dhamma menjadi berkah mulia bagi kita semua di dalam mengarungi lautan kehidupan. Semoga semua makhluk berbahagia. (SR)
Bahan Bacaan:
  • Baptist, E.C. 2001. Abhidhamma Bagi Pemula (Terj. Selamat Rodjali). Tanpa Penerbit.253 hal. Buddhagosa. 1956. The Path of Purification (Visuddhimagga) Terj. Nanamoli. Buddhist Pubblication Society, Sri Lanka. 885p.
  • Clare Prophet, Elizabeth. 1987. The Lost Years of Jesus. Summit University Press, New York. 447p.
  • Kaharuddin, J. 1989. Abhidhammatthasangaha I. Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta. 187 hal.
  • Piyadassi. 1999. The Book of Protection. Buddhist Publication Society, Sri Lanka, 138p
  • Tony, Daud. 2002. Rahasia Kesembuhan Ilahi. Bethlehem Publisher, 86 hal.
  • Tanpa nama. 2002. Mukjizat Bukan Monopoli Orang Kristen. Website terangdunia.com. 1 hal.
 

[ Dikutip dari Majalah Dhamamcakka ]

Bodhicitta: Menuju Kesempurnaan Dharma Oleh Yang Mulia Lama Yeshe


Saya pikir, adalah sangat penting bagi kita untuk memiliki cinta kasih kepada semua makhluk. Tak ada yang patut disangsikan mengenai hal ini. Cinta kasih adalah hati dari Bodhicitta, sikap dari Bodhisattva. Cinta kasih adalah jalan yang paling menyenangkan, meditasi yang paling mengasikkan. Dengan adanya Bodhicitta, tak ada lagi pertentangan antara Timur dan Barat. Jalan ini adalah ja;lan yang pliang membahagiakan, seratus persen sederhana, dan tidak akan membawa orang kejalan yang ektrim. Tanpa adanya Bodhicitta, maka tak ada yang bisa berjalan, penyadaran tak akan datang.


Mengapa Bodhicitta diperlukan demi keberhasilan meditasi ? Karena ada kemelekatan yang mementingkan diri sendiri. Jika Anda melakukan meditasi dengan baik, tetapi tanpa ada Bodhicitta, maka Anda akan melekat pada kenikmatan yang sangat kecil sekalipun: “Aku , aku, aku ingin lagi”. Maka pengalaman yang mengasikkan itu pun lenyap sama sekali. Melekat adalah halangan terberat dalam usaha melakukan perhatian yang terpusat dalam meditasi. Dan dengan adannya kemelekatan ini, kita akan selalu mengabdi pada kebahagiaan diri kita sendiri: “”ku, aku, aku merana. Aku ingin bahagia. Karena itu Aku bermeditasi”. Itu bukanlah jalan yang benar, karena beberapa alasan, meditasi yang baik dan hasilnya ketenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang akan muncul.


Tanpa Bodhicitta adalah sangat sukar untuk mengumpulkan kebajikan. Anda hanya akan menciptakannya, yang selanjutnya juga akan memusnahkannya. Sebelum hari menjelang sore, kebajikan yang dikumpulkan di pagi hari telah lenyap. Ini sama halnya dengan membersihkan kamar, dan satu jam kemudian membuatnya kotor lagi. Anda membersihkan pikiran, dan segera menodainya kembali. Tentu saja bukan merupakan hal yang menguntungkan. Jika Anda ingin berhasil dalam mengumpulkan kebajikan, Anda harus menpunyai Bodhicitta. Dengan Boddhicitta Anda menjadi begitu berharga seperti emas atau intan. Anda menjadi benda yang palin sempurna di dunia ini, tak dapat dibandingkan dengan materi-materi yang lain.


Dari Sudut pandang materialisme akan terdengan mengagumkan, jika seseorang berkata “Saya akan berdana, saya akan memberikan seratus dolar kepada setiap orang diseluruh dunia.” Bahkan jika orang itu sungguh-sungguh memberikan dana sebesar itu dengan tulus, kebajikan atau jasannya itu tidak akan berarti apa-apa dibandingkan dengan pikiran, “Saya bercita-cita untuk mewujudkan Bodhicitta demi kebahagiaan semua makhluk, dan saya akan melakukan enam paramita sebanyak mungkin.” Itulah sebabnya, mengapa saya selalu berkata bahwa mewujudkan Bodhicitta merupakan jalan kesempurna yang bisa Anda tempuh.


Ingatkah Anda pada cerita Kadampa Geshe, yang melihat seorang tua yang mengelilingi stupa? Ia bertanya “Apa yang sedang engkau lakukan? Orang tua itu menjawab, “Saya sedang berpuja bakti , Guru.” Lalu Geshe menasehatinya, “Tidakkah lebih baik jika engkau mempraktikkan Dharma?


Berikutnya Geshe melihat orang tua itu sedang bersujud. Ketika ia bertanya apa yang sedang dilakukannya, orang tua itu berkata, bahwa ia sedang melakukan sembah sujud seratus ribu kali. Dan Geshe kembali menasehatinya, “Tidakkah lebih baik engkau mempraktekkan Dharma, saudaraku?”


Demikianlah cerita itu berlanjut. Tetapi maksud dari Kadampa Geshe adalah bahwa melakukan puja bakti atau kegiatan kegiatan keagamaan tidak selalu berarti mempraktekkan Dharma. Yang perlu kita lakukan adalah meninggalkan kemelekatan dan pemujaan diri sendiri. Sebelum kita melaksanakan hal ini, perbuatan-perbuatan yang lain hanya akan merupakan lelucon. Meskipun Anda berlatih meditasi Tantra, sebelum memperbaiki yang ada disebelah dalam, Anda tak akan berhasik. Dharma berarti perubahan sikap secara menyeluruh, yakni yang membawa kebahagiaan sebelah dalam. Itulah Dharma sejati, bukan apa yang diucapkan. Bodhicitta bukanlah pengembangan ego, atau pengembangan kemelekatan, maupun pengembangan samsara. Bodhicitta merupakan pilihan yang luar biasa, jalan yang paling dasar, tegas dan tidak plintat-plintut. Kadang-kadang pikiran Anda buyar saat bermeditasi. Bodhi-citta berarti Anda bersungguh-sungguh ingin mengubah pikiran dan tindakan Anda, dan mengalihkan seluruh hidup Anda.


Kita semua berhubungan satu sama lain. Mengapa kita berkata “Aku mencintaimu.” Dan kadang-kadang pula, “Aku membencimu” Dari mana pikiran yang naik dan turun ini datang?” Dari pikiran yang memujua sendiri (tanpa Bodhicitta). Apa yang kita ucapakan sebenarnya adalah, “Saya benci padamu karena engkau tidak memuaskanku. Engkau melukaiku, engkau tidak memberiku kesenangan.” Itulah keseluruhannya: Aku – egoku, kemelekatanku – tidak mendapatkan kepuasan darimu, karenanya aku benci kamu. Menggelikan! Semua nasalah yang timbul dalam hubungan antar pribadi muncul karena tiadannya Bodhicitta, karena kita belum mengubah pikiran kita.


Jadi, Anda lihatbahwa meditasi saja belum cukup. Jika Kadampa Geshe melihamu bermeditasi, ia akan bertanya “Apa yang sedang engkau lakukan? Tidakkah lebih baik jika negkau mempraktekkan Dharma?” Puja bakti bukan Dharma, bersujud bukan Dharma, meditasi bukan Dharma. Celaka!, lalu Dharma itu apa ? Inilah yang mengusik pikiran orang tua dalam cerita itu. Ia tak bisa memikirkan hal lain lagi untuk dikerjakan. Baiklah…, pratek Dharma yang terbaik, yang paling sempurna, dan yang paling mendasar, adalah tak diragukan lagi, mewujudkan Bodhicitta.


Anda bisa membuktikan secara ilmiah bahwa Bodhicitta adalah latihan terbaik yang bisa dilakukan. Pikiran kita yang mementingkan diri sendiri merupakan akar dari semua masalah kita. Ia membuat hidup kita sulit dan mengesalkan. Penawar pikiran yang mementingkan diri sendiri ini, lawannya, adalah pikiran yang penuh dengan Bodhicitta. Pikiran yang egosentris hanya memikirkan aku atau diri sendiri dengan orang lain.


Bodhicitta membuka ruang dalam pikiran Anda, sehingga teman Anda yang paling dekat sekalipun, jika lupa memberikan hadiah ulang tahun, tidak akan membuat Anda tersinggung,” Ah, tahun ini ia tidak memberiku coklat, tidak apa-apalah.” Bagaimanapun juga, Anda hidup bukan untuk coklat, bukan untuk kenikmatan indria, Sesuatu yang lebih dalam dapat muncul dari kebersamaan kita. Jika Anda ingin benar-benar bahagia, tidaklah cukup hanya dengan bermeditasi. Banyak orang yang telah bertahun-tahun menyepi bermeditasi seorang diri, berakhir dengan hal yang paling jelek. Kembali ke masyarakat, mereka menjadi tidak bisa bergaul. Mereka menjadi tidak dapat berhubungan kembali dengan orang lain. Keadaan damai yang mereka ciptakan merupakan keadaan yang palsu, tetapi merupakan fenomena relatif tanpa sesuatu keutuhan. Dengan Bodhicitta, tidak peduli dimanapun Anda berada, Anda tidak akan pernah asing dan linglung. Semakin sering Anda berhubungan dengan orang lain, semakin bahagia hari-hari Anda. Orang-orang menjadi sumber kebahagiaaan Anda. Andapun hidup untuk orang -orang.Meskipun tetap saja ada orang yaang memperalat Anda, Anda akan bisa mengerti, “Ah, dimasa lalu saya juga mendapatkan manfaat dari mereka.” Dengan demikian, hal itu tidak menggangu Anda.


Jadi Bodhicitta merupakan cara paling sempurna untuk mempraktekkan Dharma. Khususnya diabad modern ini, Bodhicitta sangan bernilai. Dengan berakar pada Bodhictta, Anda pasti akan tumbuh subur.

[ Dikutip dari Majalah Buddhis Sinar Buddha, Edisi II ]

Melakukan Suatu Kesalahan Bukanlah Hal yang Besar Oleh: Ajahn Brahmavamso (Ajahn Brahm)

Melakukan Suatu Kesalahan Bukanlah Hal yang Besar
Oleh: Ajahn Brahmavamso (Ajahn Brahm)
Pencerahan berarti tidak ada lagi kemarahan yang tersisa di dalam dirimu. Tidak ada lagi keinginan pribadi atau kebodohan yang terpendam di dalam diri.

Dalam kehidupan ini, kita sering lupa bahwa melakukan kesalahan bukanlah hal yang besar. Dalam Ajaran Buddha tidaklah menjadi soal apabila seseorang melakukan kesalahan. Tidaklah mengapa menjadi tidak sempurna. Bukankah hal ini luar biasa? Ini berarti kita mempunyai kebebasan sebagai seorang manusia, daripada beranggapan bahwa diri kita sendiri merupakan seorang yang luar biasa dan hebat, yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Alangkah mengerikan bukan, jika kita berpikir bahwa kita tidak diperbolehkan untuk melakukan kesalahan, karena pada dasarnya kita selalu melakukan kesalahan, kemudian kita berusaha menyembunyikannya dan mencoba untuk menutupinya. Sehingga rumah pun bukan lagi tempat yang damai, tenang dan nyaman. Tentu saja kebanyakan orang yang ragu-ragu akan berkata, “Jika kamu memperbolehkan orang untuk melakukan kesalahan, bagaimana mereka akan belajar? Mereka bahkan akan terus melakukan lebih banyak kesalahan lagi.” Tetapi sebenarnya bukan demikian caranya bekerja. Untuk mengilustrasikan hal ini, ketika saya masih remaja, ayah saya berkata kepada saya bahwa ia tidak akan mencampakkan saya maupun menutup pintu rumahnya bagi saya, tidak peduli apapun yang saya lakukan; saya akan selalu diterima di sana, bahkan jika saya melakukan kesalahan terburuk sekalipun. Ketika saya mendengar hal itu, saya memahami itu adalah ungkapan cinta, ungkapan penerimaan. Hal ini menginspirasi saya dan saya begitu menghormatinya sehingga saya tidak ingin menyakitinya, saya tidak ingin menimbulkan masalah baginya dan oleh sebab itulah saya bahkan berusaha lebih keras untuk menjadi lebih bernilai dalam keluarga.

Sekarang jika kita dapat menerapkan hal demikian terhadap orang-orang yang hidup di sekeliling kita, kita akan tahu bahwa hal ini akan memberikan kebebasan dan ruang untuk menenangkan dan mendamaikan diri, serta menghilangkan semua ketegangan. Dengan kenyamanan demikian, timbullah rasa hormat dan peduli kepada orang lain. Jadi saya menantang kamu untuk mencoba memperbolehkan orang-orang untuk melakukan kesalahan – katakanlah pada pasanganmu, orang tuamu atau anak-anakmu, “Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, tidak peduli apapun yang kamu lakukan.” Katakan juga kepada dirimu, “Pintu rumahku akan selalu terbuka untukku.” Perbolehkanlah dirimu untuk melakukan kesalahan juga. Dapatkah kamu mengingat semua kesalahan yang telah kamu lakukan dalam seminggu terakhir ini? Bisakah kamu membiarkannya, masih bisakah kamu menjadi seorang sahabat bagi dirimu sendiri? Hanya pada saat kita memperbolehkan diri kita sendiri untuk melakukan kesalahan, kita akan merasa nyaman.

Itulah yang kita sebut dengan kasih sayang, Metta, cinta. Sesuatu yang tanpa pamrih. Jika kamu hanya mencintai seseorang karena mereka melakukan sesuatu yang kamu sukai atau karena mereka selalu memuaskan segala pengharapanmu, maka tentu saja cinta itu tidak akan begitu berarti. Hal itu hanya seperti transaksi bisnis cinta, “Saya akan mencintaimu jika kamu memberikan imbalan kepadaku sebagai gantinya.”

Ketika pertama kali saya menjadi seorang bhikkhu, saya beranggapan para bhikkhu haruslah sempurna. Saya pikir mereka tidak pernah boleh melakukan kesalahan; ketika duduk saat meditasi, mereka harus selalu duduk dengan tegak. Tetapi bila kamu pernah duduk pukul 04.30 dini hari, terutama setelah bekerja keras sehari sebelumnya, kamu akan merasakan kelelahan yang teramat sangat, tubuhmu akan menggelongsor, kamu bahkan akan terangguk-angguk karena rasa kantuk. Tetapi itu tidak menjadi masalah. Tidaklah menjadi soal apabila seseorang melakukan kesalahan. Dapatkah kamu merasakan betapa nyamannya perasaanmu, ketika semua ketegangan dan tekanan sirna di saat kamu memperbolehkan dirimu untuk melakukan kesalahan?

Masalahnya kita cenderung membesar-besarkan kesalahan dan melupakan keberhasilan, sehingga menciptakan begitu banyak beban berat dan rasa bersalah. Sebaliknya kita harus mengalihkannya kepada keberhasilan kita, hal-hal baik yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita; kita dapat menyebutnya sifat Buddha dalam diri kita. Jika kamu beralih kepadanya, maka ia akan tumbuh berkembang; sebaliknya jika kamu mengalihkannya kepada kesalahan, mereka juga akan tumbuh berkembang. Jika kamu merenungkan pikiran apapun dalam batin, pikiran apapun itu, ia akan tumbuh berkembang dan berkembang, bukankah demikian? Maka sebaiknya kita mengalihkan pikiran kita dan merenungkan hal-hal positif di dalam diri kita, kemurnian, kebajikan, sumber cinta yang tanpa pamrih – dengan berkeinginan untuk membantu, bahkan mengorbankan kenyamanan kita untuk kepentingan makhluk lain. Ini adalah sebuah cara agar kita bisa menghormati nurani kita, hati kita. Dengan memaafkan kesalahan, kita akan merenungkan kemuliaannya, kemurniannya, dan kebaikannya. Kita bisa menerapkan hal yang sama pada orang lain, kita bisa merenungkan kebajikan mereka dan mengamatinya tumbuh berkembang.

Inilah apa yang kita sebut dengan Kamma – perbuatan; cara kita berpikir mengenai kehidupan, cara kita berbicara mengenai kehidupan, dan apa yang kita lakukan dengan kehidupan. Dan apa yang kita lakukan benar-benar terserah kepada kita, bukan sesuai kehendak suatu makhluk gaib luar biasa di atas sana yang menentukan kamu akan bahagia atau tidak. Kebahagiaanmu sepenuhnya berada di tanganmu, dalam kekuasaanmu. Inilah yang kita maksudkan dengan Kamma. Sama seperti ketika memanggang kue, Kamma menggambarkan bahan-bahan apa yang kamu miliki, apa yang harus kamu lakukan dengannya. Jadi jika seseorang memiliki Kamma yang kurang beruntung, mungkin ini merupakan hasil dari perbuatan lampau mereka, sehingga mereka tidak memiliki banyak bahan. Mungkin mereka hanya memiliki sejumlah terigu yang sudah tersimpan lama, satu atau dua butir kismis, dan sejumlah mentega tengik dan – bahan lain yang diperlukan untuk kue itu? – sejumlah gula… jadi dengan semua bahan itulah kita bekerja. Dan orang lain mungkin memiliki kamma yang sangat bagus, semua bahanbahan yang kamu idamkan: tepung gandum berkualitas, gula merah dan semua jenis buah-buah kering dan kacang. Tetapi pada akhirnya kue itu akan tetap dihasilkan… Bahkan dengan bahan-bahan yang amat kurang sekalipun, ada sebagian orang yang dapat menjadikannya kue yang indah. Mereka mengaduk semua bahan itu, memasukkannya ke dalam pemanggang – hmm.. lezat! Bagaimana mereka melakukannya? Sebaliknya ada orang yang mungkin mempunyai segalanya, malah menghasilkan kue yang rasanya tidak karuan.

Jadi Kamma menggambarkan bahan-bahan, sesuatu yang kita miliki untuk diolah; tetapi tidak menjelaskan apa yang harus kita perbuat dengan bahan bahan tersebut. Jadi jika seseorang bijaksana, tidaklah menjadi soal bahan apapun yang ia miliki untuk diolah.Kamu masih dapat membuat sebuah kue yang indah – asalkan kamu tahu caranya.

Tentu saja hal pertama yang harus diketahui, bahwa selalu mengeluhkan bahan-bahan yang kamu miliki adalah alternatif terakhir dalam membuat kue yang bagus. Kadang-kadang di vihara, jika ada satu bahan yang kurang, orang-orang yang sedang memasak akan mencari ke dapur dan cukup menggunakan apapun yang ada. Bahan itu bisa serba guna dan kamu akan memperoleh kue-kue yang sangat aneh, tetapi semuanya terasa lezat, ini dapat terjadi karena orang-orang telah belajar seni menggunakan apa yang mereka miliki dan menghasilkan sesuatu dengannya.

Jadi ke mana arah Kamma? Apa yang sebenarnya kita lakukan? Apakah menjadi kaya dan berkuasa? Tidak. Meditasi ini, ajaran Buddha ini, arah yang kita tuju, adalah ke arah pencerahan. Kita sedang menggunakan bahanbahan yang kita miliki untuk mencapai pencerahan. Tetapi sebenarnya apa arti pencerahan itu? Pencerahan berarti tidak ada lagi kemarahan yang tersisa di dalam dirimu. Tidak ada lagi keinginan pribadi atau kebodohan yang terpendam di dalam diri.

Suatu ketika ada seorang guru Rusia bernama Gurdjief, yang memiliki sebuah komunitas di Prancis. Didalam komunitasnya, ada seorang pria yang benar-benar menjengkelkan. Ia selalu mengganggu orang-orang dan menyusahkan mereka. Maka komunitas itu mengadakan pertemuan dan mereka meminta Gurdjief mengusirnya, mengeluarkannya, karena dia selalu menciptakan percekcokan dan membuat orang-orang tidak bahagia. Tetapi Gurdjief tidak pernah mau. Akan tetapi kemudian, setelah ia meninggal, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya ia lah yang membayar pria itu untuk menetap di sana! Setiap orang yang ada di sana harus membayar untuk makanan dan tempat tinggal. Tetapi Gurdjief sebenarnya membayar pria itu agar menetap di sana – untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang itu. Jika kamu hanya bisa bahagia ketika kamu hidup dengan orang-orang yang kamu suka, kebahagiaanmu itu sama sekali tidak bernilai, karena kamu belum bergejolak. Sama seperti segelas air berlumpur, ketika belum diaduk, bukankah kelihatannya jernih? Tetapi seketika setelah diguncang, lumpur muncul dari dasar gelas dan air menjadi keruh. Alangkah baiknya kamu menggoyangkan gelasmu untuk melihat apa yang sebenarnya terdapat didalamnya. Maka pada saat masih hidup, Gurdjief  membayar pria ini untuk mengguncang setiap orang untuk melihat apa yang terdapat di dalamnya.

Indikator yang sangat bagus untuk menilai sejauh mana tahap kehidupan spiritual seseorang adalah dengan melihat sebaik apa ia berhubungan dengan orang lain – terutama dengan orang yang tidak menyenangkan. Bisakah kamu merasa damai ketika seseorang menyusahkanmu? Bisakah kamu melepaskan kemarahan dan kejengkelan terhadap seseorang, terhadap suatu tempat atau terhadap dirimu sendiri? Pada akhirnya kita harus bisa melakukannya, jika tidak kita tidak akan pernah mendapatkan pencerahan, kita tidak akan pernah mendapatkan kedamaian.

Bayangkan bagaimana rasanya dengan berkata, “Saya tidak akan pernah merasa jengkel lagi, saya tidak akan menentang atau menolak seseorang maupun kebiasaan-kebiasaan mereka. Jika saya tidak bisa melakukan sesuatu terhadap hal ini, saya akan belajar hidup damai dengan sesuatu yang tidak saya sukai. Daripada selalu mengalihkan diri dari kepedihan dan mencari kesenangan, saya akan belajar menerima kepedihan itu dengan damai.” Bayangkan hal itu!

Kadang-kadang orang berpikir bahwa jika kamu tidak marah maka kamu cenderung seperti sayuran, kamu terus membiarkan orang lain menginjakmu, kamu hanya akan menjadi seseorang yang duduk berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Tetapi tanyakan pada dirimu sendiri, “Bagaimana perasaanmu setelah marah? Apakah kamu merasa berapi-api, penuh semangat?” Kita akan kelelahan ketika marah; kemarahan menghabiskan begitu banyak energi kita. Bahkan ketika kita merasa jengkel atau berpikiran negatif terhadap seseorang atau suatu tempat, itupun sudah menghabiskan energi. Maka jika kita tidak ingin merasa begitu letih dan tertekan, sebagai percobaan, kita bisa mencoba untuk tidak merasa jengkel. Lihat betapa kita akan menjadi lebih sigap dan lebih bergairah. Kemudian kita dapat memancarkan energi itu dalam bentuk kepedulian terhadap sesama dan juga terhadap diri kita sendiri. Kita memiliki kekuatan untuk melakukan hal ini. Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan jalur cepat menuju pencerahan, cobalah dengan menghentikan kejengkelan dan kemarahan.

Jadi bagaimana kita menghentikannya? Pertamatama, dengan menginginkannya berhenti. Tetapi kebanyakan dari kita tidak menginginkan berhentinya kemarahan dan kejengkelan tersebut – dengan alasan yang tidak jelas kita menyukainya. Ada sebuah cerita pendek yang menarik mengenai dua orang bhikkhu yang tinggal bersama-sama di sebuah vihara selama bertahun-tahun, mereka bersahabat karib. Kemudian merekapun meninggal dengan perbedaan kurun waktu beberapa bulan. Salah seorang dari bhikkhu tersebut terlahir kembali di alam surga, sedangkan yang satunya lagi terlahir kembali sebagai seekor cacing di setumpuk kotoran. Ia yang berada di alam surga mendapatkan kehidupan yang menyenangkan, menikmati semua kesenangan surgawi. Kemudian ia mulai memikirkan sahabatnya, “Saya ingin tahu di manakah sahabat lama saya?” Maka ia menerawang semua alam surga, akan tetapi ia tidak menemukan jejak sahabatnya. Kemudian ia menerawang alam manusia, tetapi ia juga tidak menemukan jejak sahabatnya di sana. Jadi ia mencarinya di alam binatang dan kemudian serangga. Akhirnya ia menemukannya, sahabatnya terlahir kembali sebagai seekor cacing di setumpuk kotoran… Wah! Ia berpikir, “Saya akan membantu sahabat saya. Saya akan turun menuju tumpukan kotoran tersebut dan membawanya ke alam surga, sehingga ia juga bisa menikmati kesenangan surgawi dan hidup dalam kebahagiaan di alam-alam yang menyenangkan ini.”

Jadi ia pun turun menuju tumpukan kotoran tersebut dan memanggil sahabatnya. Cacing kecil itu menggeliat keluar dan bertanya, “Siapa kamu?”, “Saya adalah sahabatmu. Kita pernah hidup bersama sebagai bhikkhu pada kehidupan yang lampau, dan saya bermaksud membawamu ke alam surga yang kehidupannya menyenangkan dan penuh kebahagiaan.” Tetapi cacing itu membalas, “Pergilah, menjauhlah!”, “Tetapi saya sahabatmu, dan saya tinggal di alam surga,” dan ia pun menjelaskan alam surga kepadanya. Tetapi cacing itu berkata, “Tidak, terima kasih. Saya cukup gembira di sini, dalam tumpukan kotoran saya. Silakan pergi.” Kemudian makhluk surga ini berpikir, “Jika saya bisa memegangnya dengan erat dan membawanya ke alam surga, ia akan bisa melihat sendiri.” Maka ia pun memegang erat cacing itu dan mulai menariknya, dan semakin kuat ia menariknya, semakin kuat pula cacing itu melekat pada tumpukan kotorannya.

Apakah kamu dapat memetik pesan moral dari cerita di atas? Berapa banyak dari kita yang melekat pada tumpukan kotoran kita? Ketika seseorang mencoba menarik kita keluar, kita terus menggeliat kembali kedalam, karena inilah yang menjadi kebiasaan kita, kita suka berada di dalamnya. Kadang-kadang kita sebenarnya melekat kepada kebiasaan-kebiasaan lama kita, kemarahan kita dan keinginan kita. Kadang-kadang kita ingin marah.

Jadi lain kali ketika kamu marah, berhentilah dan amati. Sadarlah sesaat dengan memperhatikanbagaimana perasaan itu. Ambil keputusan, peringatkan dirimu sendiri. “Lain kali ketika saya marah, saya akan merasakannya, bukannya menjadi sok pintar, menempuh caraku sendiri atau melukai orang lain”. Hanya memperhatikan bagaimana perasaan itu. Seketika setelah kamu memperhatikan kemarahan tersebut dengan hatimu – bukan dengan kepalamu – maka kamu akan menginginkannya berhenti, karena hal ini sangatlah menyakitkan, memedihkan, dan penuh penderitaan.

Hanya jika orang-orang bisa lebih mawas diri, lebih sadar – menyadari bagaimana rasanya, bukan dengan berpikir mengenainya, maka tidak akan ada persoalan lagi. Mereka akan melepaskan kemarahan dengan sangat cepat karena kemarahan itu panas, membakar. Tetapi kita cenderung melihat dunia ini dengan kepala daripada dengan hati kita. Kita memikirkannya, tetapi kita sangat jarang merasakannya, mengalaminya. Meditasi mulai membimbingmu berhubungan kembali dengan hatimu; dan keluar dari pemikiran dan keluh kesah, tempat dimana semua kemarahan dan keinginan berasal.

Ketika kamu memulainya dari hatimu, kamu bisa merasakannya sendiri, kamu bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kamu bisa peduli terhadap dirimu sendiri. Ketika saya memulainya dari hati, saya juga bisa menghargai perasaan orang lain. Demikianlah bagaimana kita bisa mencintai musuh kita, ketika kita menghargai perasaan orang lain pula. Demikianlah bagaimana kita bisa mencintai musuh kita, dengan menghargai perasaan mereka, melihat sesuatu dari mereka untuk dicintai, dihormati.

Orang-orang marah karena mereka terluka, merasa tidak nyaman, tetapi jika kita bahagia, kita tidak akan pernah bisa marah pada orang lain, hanya jika kita merasa tertekan, lelah, frustrasi, susah, ketika ada rasa sakit dalam hati kita, saat itulah kita bisa marah kepada orang lain. Jadi ketika seseorang marah kepada saya, timbul rasa kasih sayang dan kebaikan saya terhadap orang itu, karena saya menyadari mereka sedang terluka.

Pertama kali saya mengunjungi seseorang yang dianggap telah tercerahkan, saya berpikir, “Wah! Lebih baik saya bermeditasi sebelum saya berada dalam jarak sepuluh mil darinya, karena ia pasti bisa membaca pikiran saya dan hal ini tentu saja sangat memalukan!” Akan tetapi seorang yang tercerahkan tidak akan bertindak kejam dan menyakitimu. Seorang yang tercerahkan akan menerimamu dan memberimu rasa nyaman. Itulah perasaan yang luar biasa, bukankah demikian; hanya dengan menerimamu apa adanya. Kamu hanya perlu menenangkan diri, tidak ada kemarahan dan kejengkelan. Yang ada hanyalah pengertian yang mendalam, pencerahan yang luar biasa, bahwa kamu baik-baik saja. Betapa banyak kepedihan yang bisa disingkirkan dari kehidupan manusia, betapa besar kebebasan yang bisa diberikan kepada orangorang untuk hidup di dunia, untuk melayani dunia, untuk mencintai dunia ini, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka baik-baik saja. Mereka tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk meyakinkan diri bahwa mereka telah bertindak benar, mengubah diri mereka, selalu takut berbuat kesalahan. Ketika kamu merasa nyaman dengan dirimu, kamu akan merasa nyaman dengan orang lain, tidak menjadi soal siapapun mereka. 

 
Ajahn Brahmavamso dilahirkan di London pada tahun 1951. Ia menganggap dirinya seorang Buddhis saat berusia 17 tahun melalui buku-buku Buddhis yang dibacanya ketika masih di sekolah. Ketertarikannya dalam ajaran Buddha dan meditasi berkembang ketika mempelajari Teori Fisika di Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan pendidikan kesarjanaannya dan mengajar selama setahun, beliau mengunjungi Thailand untuk menjadi seorang bhikkhu. Beliau ditahbiskan di Bangkok pada usia 23 tahun oleh Kepala Vihara Wat Saket. Kemudian berturut-turut selama 9 tahun, beliau mempelajari dan berlatih tradisi meditasi hutan di bawah bimbingan Ajahn Chah. Pada tahun 1983, beliau diminta untuk membantu pembangunan sebuah vihara hutan dekat Perth, Australia bagian Barat. Ajahn Brahm sekarang adalah Kepala Vihara Bodhinyana dan Pembimbing Spiritual Buddhist Community di Australia bagian Barat.

Pandangan Agama Buddha Tentang Ekonomi oleh: Y.M. Bhikkhu Suguno

 
 
Pandangan Agama Buddha Tentang Ekonomi
oleh: Y.M. Bhikkhu Suguno

PENGANTAR
 

Dewasa ini, pengertian tentang ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu adalah sangat kompleks. Sehingga tidak jarang kita dapatkan adanya perbedaan pengertian ataupun definisi yang diberikan oleh ekonom yang satu dengan yang lainya. Pada mulanya pengertian ekonomi, cukup sederhana, yaitu pengaturan administrasi sumber-sumber penghasilan di rumah tangga. Selanjutnya para ekonom mendefinisikan ekonomi dalam pengertian “kekayaan”. Sebagai contohnya, Adam Smith dalam bukunya An inquiry into the Nature and causes of Wealth of Nations mendefinisikan ekonomi sebagai disiplin ilmu terapan tentang produksi dan penggunaan kekayaan. Pada saat sekarang definisi dari ekonomi lebih ditekankan pada determinasi dari beberapa permasalahan perdagangan. Sering juga ekonomi didefinisikan dalam pengertian “kesejahteraan” yang mana ekonomi merupakan sarana atau ilmu tentang bagaimana menambah produksi sehingga standard kehidupan atau kesejahteraan masyarakat bisa bertambah. 
Para ekonom yang memperhatikan tentang moral akan memberikan definisi ekonomi dalam pengertian yang cukup berbeda. Sebagai contohnya, Alfred Marshal mendefinisikan ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu yang tidak hanya mempelajari tentang kekayaan materi, tetapi juga suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhannya. Lebih lanjut Milton Spenser dalam bukunya Contemporary Economics mendefinisikan ekonomi sebagai “Suatu cara masyarakat memilih jalan yang tepat untuk memperdayagunakan sumber-sumber kekayaan yang terbatas, yang mana mempunyai beberapa penggunaan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan dan manfaat lain untuk konsumsi saat sekarang dan yang akan datang”. Mengingat sumber-sumber kekayaan yang sangat terbatas dan keinginan manusia akan keyaaan yang tidak terbatas, maka manusia yang bertanggung jawab harus menggunakan sumber-sumber kekayaan yang ada dengan sebaik-baiknya. 
Para ekonom modern menganggap bahwa manusia adalah mahluk berpikir dan motivasi-motivasi yang ada pada dirinya berdasar pada faktor-faktor ekonomi. Tidak seperti hewan yang dalam pemenuhan kebutuhannya sangat sederhana dan pada umumnya terbatas pada keperluannya; manusia memiliki keinginan (wants) yang tidak terbatas. Manusia mempunyai tendensi untuk memenuhi keinginan akan materi yang lebih banyak, dan pada kenyataannya keinginan tersebut tidak ada batasnya. Di jaman modern ini kekayaan materi atau pendapatan pribadi (per capita income) dijadikan sebagai ukuran kemakmuran suatu masyarakat atau suatu bangsa. Produksi dipacu setinggi-tingginya, tanpa memperhatikan harga atau nilai kemanusiaan, kemasyarakatan, dan lingkungan. Tidak jarang materi hanya ditujukan untuk pemuasan nafsu-nafsu indera dari manusia. Suatu hal yang dominan dari para ekonom di dunia barat adalah adanya kenyataan bahwa motif dari tindakan-tindakan yang mereka lakukan adalah untuk mencari keuntungan pribadi dan bukan kemauan mereka untuk menyediakan solusi terbaik untuk beberapa masalah yang berkaitan dengan ekonomi dan politik

PEMBAHASAN

I. Kondisi perekonomian di India pada Abad ke 6 SM

Keadaan perekonomian di India pada abad ke 6 SM dalam masa transisi dari sistem perekonomian yang menitik-beratkan pada sektor pertanian ke sistem perekonomian yang menitik-beratkan pada sektor perdagangan. Bisa dikatakan bahwa kedua sektor, yaitu negara (pemerintah) dan swasta, memegang peranan yang cukup penting dalam usaha menyediakan lapangan kerja dan mengembangkan kesejahteraan rakyat banyak. Pada zaman Sang Buddha, meskipun kedua sektor tersebut memegang peranan penting dalam pengembangan ekonomi, tetapi pengaruh sektor swasta adalah cukup besar. Hal ini bisa dilihat dengan munculnya beberapa multi-milioner (mahasetthi), seperti Visakha, Anathapindika, dan sebagainya, yang menguasai sebagian perekonomian yang ada pada waktu itu. Pada umumnya, tanah yang ada dikuasai oleh para raja atau pemimpin yang berkuasa, sedangkan perdagangan dikuasai oleh sektor swasta. 
 
Tentang jenis-jenis pekerjaan yang ada pada waktu itu bisa dilihat dari Kitab Jataka dan beberapa sutta seperti Tamo-tama Parayana Sutta, Kutadanta Sutta, dan sebagainya. Menurut sumber-sumber yang ada, mereka yang bekerja di bawah raja bisa dikelompokkan menjadi 25 kelompok yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda. Di antaranya para prajurit, tukang masak, tukang potong rambut, pencuci, sekretaris, pembuat barang-barang kerajinan, akuntan, penjaga gajah, dan sebagainya. Sedangkan masyarakat yang bekerja diluar kerajaan bisa dibagi menjadi 18 kelompok, seperti tukang kayu, pandai besi, tukang batu, pengrajin kulit, pot, gading, tukang jagal, pemburu binatang, pelaut, dan masyarakat yang bekerja dalam bidang transportasi, perdagangan, dan sebagainya. 
Pada abad ke 6 SM, perdagangan barter sudah mulai ditinggalkan dan perdagangan dengan cara menilai barang dengan uang sudah mulai populer. Hampir semua transaksi perdagangan dilakukan dengan dengan alat pembayaran yang disebut dengan kahapana, sebuah logam (perunggu) yang beratnya sekitar 146 biji padi. Selain itu para pedagang menggunakan surat kuasa (seperti cek) yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Demikian juga disebutkan bahwa sistem perbankan sudah dikenal. Mereka menggunakan meminjamkan uang kepada mereka yang memerlukan, dan interest (bunganya) ditentukan oleh hukum yang ada pada waktu itu. Sebagai contohnya, menurut hukum tersebut jika seseorang menabung, maka dia akan mendapatkan bunga dengan rate of interest 18 % per tahun. 

II. Tinjauan tentang materi atau kekayaan

Dari apa yang telah kita bahas di atas, kita dapat mempunyai gambaran bahwa definisi ekonomi adalah sangat kompleks. Dalam pengertian yang luas, ekonomi menyangkut semua aktivitas untuk mendapatkan kekayaan dan dalam pengertian yang lebih sempit, ekonomi mempelajari tentang motif yang digunakan oleh setiap orang untuk melindungi dan memuaskan segala keinginannya. Dalam hal ini, ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu mempelajari tentang beberapa sebab di mana adanya ketergantungan materi dan kesejahteraan manusia dan juga beberapa sebab yang mempengaruhi dan mengontrol produksi barang-barang kebutuhan, cara penjualannya, dan sebagainya. 
 
Dikarenakan adanya keterkaitan semua aktivitas dan motif manusia dalam semua aspek ekonomi, maka ekonomi, menurut pandangan Agama Buddha, mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu etika. Pada dasarnya Agama Buddha adalah agama yang mementingkan etika dan perkembangan karakter individu. Menurut Agama Buddha, semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia yang bervariasi, pada akhirnya harus ditujukan pada perkembangan moral dan perkembangan batin. Perlu diingat bahwa Agama Buddha tidak menentang manusia mencari kekayaan untuk memenuhi kebutuhannya. Sang Buddha dalam beberapa khotbah-Nya menerangkan bahwa materi adalah penting dalam kehidupan kita. Tetapi materi bukanlah satu-satunya tujuan yang harus dikejar-kejar dengan semua cara; materi sebaiknya digunakan sebagai sarana penunjang untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual yang lebih tinggi. Jadi, materi atau kekayaan bukanlah satu-satunya tujuan, melainkan sebagai sarana untuk menciptakan kondisi yang menunjang kehidupan spiritual seseorang. Hal ini bisa kita lihat dari kisah yang menceritakan bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepada orang yang kelaparan. Pada suatu ketika Sang Buddha menerima murid yang datang dari jauh, yang kelihatan lelah, sehingga Beliau memerintahkan kepada para Bhikkhu untuk memberi makanan kepada orang tersebut, baru setelah makan Beliau mengajarkan Dhamma. Kelaparan sendiri dikategorikan sebagai salah satu penyakit (dalidda paramam roga). 
Jika pengumpulan kekayaan hanya merupakan suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, maka hasilnya sering kita dapatkan ketidak-puasan. Kita seharusnya menganggap kekayaan sebagai sesuatu untuk dinikmati dengan orang yang lain. Seandainya manusia dapat menyebarkan cinta kasihnya kepada mahkluk lain, tanpa adanya anggapan tentang perbedaan ras, warna kulit, dan sebagainya, maka dia akan mampu mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Dalam hal ini kebahagiaan bukan datang dari tanha, kebahagiaan yang diliputi oleh self-centred idea (untuk dirinya sendiri), tetapi hal tersebut merupakan kebahagiaan yang muncul dari chanda, kebahagiaan yang muncul dengan harapan orang lain juga ikut bahagia. Hal ini sangat penting untuk dijadikan pedoman untuk melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan ekonomi. Sebaiknya semua produksi ditujukan untuk kebahagiaan orang banyak, bukan untuk tujuan pribadi tanpa mementingkan kepentingan masyarakat. 
Kata STQ = artha (Sansekerta) dapat diartikan sebagai barang, uang, kekayaan, dan lain-lain. Dalam bahasa Pali kata attha mempunyai kedekatan arti dengan kata artha Namun kata attha dalam bahasa Pali mempunyai beberapa arti, salah satunya adalah “sesuatu yang didapat”; tentunya kesejahteraan, baik kesejahteraan fisik (dalam arti kekayaan) dan dalam pengertian spiritual, supreme arahantship. Selain itu, kata attha bisa diartikan sebagai sukses, dan pengertiannya dapat dilihat dari dua level, yaitu: sukses yang berhubungan dengan beberapa aspek ekonomi yang merujuk kepada kesejahteraan materi dan sukses dalam pengertian uttamattha atau kesuksesan tertinggi dimana perkembangan bathin seseorang, setelah melalui praktik dan meditasi yang tekun, bisa merealisasi Nibbana.
Menurut Agama Buddha, materi itu sendiri tidak bisa dianggap jahat atau sebaliknya. Memang pada kenyataannya uang (materi) bisa menjadi sumber pertengkaran, pertikaian dan pembunuhan, sehingga banyak orang berpendapat “uang adalah sumber atau akar dari segala kejahatan” (money is the root of all evils). Tetapi menurut pandangan Agama Buddha, materi bersifat netral dan tergantung pada manusia yang memiliki dan menggunakannya. Jika digunakan untuk kepentingan-kepentingan keagamaan, atau sosial – misalnya untuk membantu orang-orang yang memerlukan, maka materi akan membuahkan manfaat, baik dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan yang akan datang. Sebaliknya jika materi digunakan untuk kepentingan pemuasan nafsu indera yang berlebihan, maka materi akan membawa kebahagiaan sementara saja. 
Agama Buddha tidak pernah melarang pengikutnya untuk mengumpulkan kekayaan (materi), tetapi Sang Buddha selalu mengajarkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, hendaknya seseorang melakukannya dengan jalan yang benar. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki materi atau kekayaan merupakan salah satu sumber kebahagiaan (atthi sukha). Demikian juga akan muncul kebahagiaan jika seseorang dapat menikmati apa yang telah diperolehnya (bhoga sukha). Jika seseorang bekerja keras dan dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari, maka dia tidak akan jatuh ke dalam hutang (anana sukha). Ketiga macam kebahagiaan tersebut berkaitan erat dengan materi. Lebih lanjut Sang Buddha menerangkan kebahagiaan yang ke empat, yaitu: anavajja sukha (kebahagiaan yang didapat jika seseorang merasa bahwa dirinya telah berbuat sesuai dengan Dhamma). Dalam hal ini Sang Buddha tidak hanya mengajarkan bagaimana untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, tetapi juga mengajarkan cara-cara yang harus dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan Dhamma, agar setelah ia meninggal bisa terlahir di alam-alam bahagia. Dalam Kitab Suci Tipitaka, tidak disebutkan teori-teori ekonomi secara comprehensif, tetapi Kitab Suci Tipitaka menerangkan beberapa pedoman atau petunjuk yang sangat penting dalam hubungannya dengan ekonomi. Meskipun Kitab Suci Tipitaka memuat nasihat-nasihat yang bersifat kuno, lebih dari 2.500 tahun lalu, tetapi nasihat-nasihat tersebut mempunyai relevansi dengan sebagian besar dari teori-teori yang terdapat dalam ekonomi modern. 
Pengalaman melalui pembuktian merupakan ciri khas pendekatan yang digunakan dalam Agama Buddha untuk melihat suatu masalah, termasuk beberapa masalah yang berhubungan dengan ekonomi. Melalui pendekatan empiris inilah Sang Buddha mengajarkan bahwa “semua mahluk hidup karena makanan” atau “sabbe satta aharatthitika“. Menyadari akan hal ini, Sang Buddha mengetahui bahwa setiap orang harus menempuh beberapa cara yang diperlukan untuk memperoleh makanan. Dalam hal ini Sang Buddha menganjurkan beberapa jalan dan petunjuk yang sebaiknya dijalankan oleh seseorang sesuai dengan norma-norma kemoralan. Misalnya, Sang Buddha menerangkan tentang norma-norma etika, seperti hukum kamma untuk mengontrol dan membimbing manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Hal ini sangat berguna, karena pada kenyataanya, keinginan manusia akan pemuasan nafsu-nafsu indera adalah tidak terbatas. Tidak jarang manusia menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekayaan, sehingga tidak jarang terjadi konflik, kebencian, pembunuhan dan sebagainya. Dengan diterangkan ajaran tentang kamma (hukum perbuatan), maka seseorang menjadi lebih percaya akan dirinya sendiri, dan tentunya dalam dunia perekonomian akan memberi pengaruh pada produksi, distribusi, konsumsi, dan semua aktivitas yang lain. 

III. Negara dan perekonomian

Agama Buddha menunjukkan bahwa kekurangan atau ketidak-beresan dalam pengaturan ekonomi akan menyebabkan perbedaan yang besar antara si kaya dan si miskin. Cakkavattisihanada Sutta dan Kutadanta Sutta, Digha Nikaya menyebutkan bahwa kerusuhan, pencurian, dan permasalahan lain dalam masyarakat disebabkan salah satunya dari kemiskinan, dan kemiskinan disebabkan karena ketidak-beresan dalam pengaturan sistem ekonomi. Sang Buddha menyadari adanya ketergantungan antara faktor fisik dan psikis, yang secara umum mempengaruhi perilaku kemasyarakatan. Menurut sutta tersebut, perlindungan atau penyediaan keamanan kepada masyarakat, tanpa memperhatikan ekonomi negara adalah belum cukup untuk mencapai kesejahteraan suatu bangsa. Sang Buddha menceritakan bagaimana Raja Maha Vijita yang mempunyai tentara yang kuat, tetapi kerajaaanya hancur karena dia gagal menyediakan pengaturan ekonomi yang baik bagi masyarakatnya. Kemiskinan akan mendorong seseorang untuk mencuri, sebab mereka yang kelaparan memerlukan makanan untk memelihara tubuhnya. Sehingga Sang Buddha menasihatkan bahwa untuk menciptakan masyarakat yang bermoral dan berakhlak, kondisi ekonomi yang ada dalam suatu masyarakat harus juga ditingkatkan. Oleh karena itu, jika dalam suatu masyarakat atau suatu bangsa terjadi kerusuhan, tingkat kejahatan meningkat, maka raja atau pemerintah mempunyai kewajiban untuk membangun ekonomi kerajaan atau negara. Raja atau pemerintah sebaiknya memberi atau menyediakan kapital kepada masyarakat yang memerlukan bantuan. 
 
Dalam hal penyelesaian suatu masalah negara, misalnya kerusuhan, pencurian, perampokan dan sebagainya, tidak dapat dilakukan dengan jalan pemberian secara acak-acakan. Lebih lanjut Sang Buddha menyatakan bahwa jika pemberian kapital kepada masyarakat dilakukan dengan jalan yang tidak tepat, maka akan menimbulkan kemalasan dan kejahatan tidak semakin berkurang. Orang akan malas dan cenderung melakukan kejahatan dengan dalih kelaparan agar mendapat simpati dari raja. Semula Raja Maha Vijita membagi-bagi kekayaannya dengan bebas kepada mereka yang melakukan pencurian, dengan harapan agar mereka menghentikan tindakan hina tersebut. Tetapi pada kenyataannya pencurian berlanjut dan semakin banyak. Menyadari hal ini, Raja Maha Vijita tidak lagi membagi-bagi kekayaannya secara bebas, tetapi melalui hal tersebut harus dilakukan dengan cara dan pengarahan yang benar. Bagi mereka yang terbukti melakukan pencurian sebagai suatu pekerjaan, maka hukuman akan dijatuhkan kepadanya. Tindakan tegas ini dilakukan oleh Maha Vijita demi kebahagiaan rakyatnya. 
Menurut Sang Buddha, penyediaan kapital kepada masyarakat harus dilakukan secara terarah dan terpadu dan diberikan kepada mereka yang betul-betul membutuhkan (ye janapadesu adana tesam dhanam anuppadeyasi), sedangkan pengaturan ekonomi yang tidak adil akan menyebabkan kemiskinan (adananam anuppadeyamana daliddam vipula gacchati). Kembali seperti apa yang telah disebutkan di atas, kemiskinan akan mendorong seseorang untuk melakukan penjarahan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya. Jika hal tersebut terjadi, maka raja atau pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyelesaikannya, yaitu dengan jalan membangun sistem perekonomian yang cocok di suatu kerajaan atau negara tersebut. 
Kutadanta Sutta dan Cakkavattisihanada Sutta juga menerangkan bahwa kerusuhan, penjarahan, pencurian, perampokan dan sebagainya (dhassu-khila), yang disebabkan karena kemiskinan, tidak dapat diselesaikan dengan jalan menjatuhkan hukuman kepada para pelaku. Dalam kedua sutta tersebut, dijelaskan “… jika di dalam lingkungan kerajaaan, masyarakat menjadi gelisah, tidak aman, karena adanya perampokan atau kerusuhan di desa, di kota, di pasar, di jalan-jalan dan di seluruh lingkungan kerajaan, maka raja akan berpikir untuk menyelesaikanya dengan jalan menghukum, memenjarakan atau membuang mereka (…etam dhasukhilam vadhena va bandhena va janiya va garahaya va pabbajanaya samahanissami)”. Cara ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dalam masyarakat. Mereka yang lolos dari hukuman akan menyusun kekuatan untuk melawan raja atau pemerintah dan akan berlanjut melakukan penjarahan, pencurian, perampokan dan sebagainya. 
Selanjutnya, kedua sutta tersebut juga menerangkan bahwa dalam kondisi, di mana keadaan ekonomi masyarakat yang tidak stabil, raja atau pemerintah tidak dibenarkan untuk menaikkan pajak dengan alasan apapun (…janapade sa-upapile balim uddhareyya, akicca-kari). Tidak dibenarkan pula jika keadaan ekonomi suatu negara masih dalam keadaan kurang stabil, diadakan pesta besar (berfoya-foya), yang akan menghabiskan kekayaan negara. 
Melalui sistem pengaturan kekayaan yang tepat, suatu negara atau kerajaan bisa menjamin kemakmuran rakyatnya. Kedua sutta di atas menyebutkan bahwa bagi masyarakat yang memerlukan bantuan untuk melanjutkan usahanya, maka raja sebaiknya mengarahkan dan memberi bantuan kepada mereka. Bagi masyarakat yang mempunyai pekerjaan sebagai petani, maka sebaiknya raja memberi bantuan berupa biji-bijian dan makanan (ye janapade ussahanti kasi-gorakkhe tesam bhavam raja bija-bhattam anuppadetu), bagi mereka yang berdagang, kepadanya sebaiknya diberikan modal atau kapital (…vajijjaya tesam bhavam pabbatam anuppadetu), sedangkan kepada mereka yang bekerja sebagai pegawai, kepadanya sebaiknya diberikan nasi dan gaji (…janapadesu raja-porise tesam bhatta-vettanam pakappetu). Jika semua lapisan yang ada di masyarakat mempunyai usaha dan bekerja sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, maka kemakmuran dan kesejahteraan bisa di dapat. Diceritakan bahwa setelah menerapkan nasihat-nasihat tersebut di lingkungan kerajaan Maha Jivita tidak ada orang yang menggangu orang lain dengan dalih kelaparan, sehingga masyarakat bisa hidup bersama keluarga mereka dengan bahagia, tenang, sejahtera (khematthita) dan aman meskipun tinggal dengan pintu terbuka (aparuta-ghara). 
Dalam hal ini sangat penting kiranya untuk diperhatikan bahwa menurut Agama Buddha sistem ekonomi harus ditujukan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat dan bukan seballiknya. Oleh karena itu, penyediaan lapangan kerja kepada masyarakat merupakan faktor yang penting dalam usaha peningkatan kesejahteraan rakyat. Kutadanta Sutta menerangkan adanya keterkaitan antara pengangguran, kemiskinan, kelaparan dan tindakan kriminal yang ada dalam masyarakat, seperti pencurian, perampokan, dan sebagainya.

IV. Beberapa petunjuk Sang Buddha tentang cara mengumpulkan kekayaan

Pattakamma Sutta, Samyutta Nikaya menyebutkan bahwa terdapat empat hal di dunia ini yang dicita-citakan, diagung-agungkan, dan diharapkan oleh setiap orang, tetapi sangat susah untuk mendapatkannya. Empat hal tersebut adalah harapan untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma, cita-cita agar menjadi orang terpandang dalam masyarakat, harapan agar mempunyai umur panjang dan selalu sehat, serta setelah meninggal bisa terlahir di alam-alam bahagia, yaitu terlahir di alam surga. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataanya keempat hal hal tersebut memang diharapkan oleh setiap orang. Perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kekayaan adalah cukup mudah didapat, tetapi untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma merupakan hal yang sulit didapat. Demikian juga setelah mendapatkan kekayaan kita mempunyai harapan agar kita menjadi orang yang terpandang. Jika seseorang mengumpulkan kekayaan dengan jalan yang benar, maka dia akan dihormati masyarakat, dan tentunya akan membawa efek kepada keluarga dan juga para gurunya. Perbuatan baik yang telah kita tanam menyebabkan orang bisa mendapatkan kesehatan dan umur panjang, tetapi menurut Agama Buddha tidak ada sesuatu yang terbentuk bersifat kekal. Oleh karena itu, setelah mendapatkan hal-hal tersebut di atas, maka harapan terahkir adalah kelahiran di alam-alam yang membahagiakan. Jadi, sudah jelas bahwa Sang Buddha menasihatkan kepada kita bahwa kekayaan atau materi bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidup kita, dan dalam mengumpulkan materi seseorang diharapkan untuk memperhatikan norma-norma etika dan norma-norma keagamaan, sesuai dengan Dhamma. 
 
Lebih lanjut, sutta tersebut menerangkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, sebaiknya seseorang mengumpulkannya dengan usaha dan semangat yang tinggi (utthanaviriyadhigatehi), dengan keringat sendiri (sedavakkhitehi), dan dengan jalan Dhamma (dhammikehidhammaladdhehi). Hal ini diterangkan lebih lanjut oleh Sang Buddha dalam Vyagghapajja Sutta, di mana setelah seorang milyuner yang bernama Dighajanu bertanya kepada Sang Buddha untuk mendapatkan beberapa nasihat agar dia bisa berbuat untuk kebahagiaan di dunia ini dan dunia berikutnya. Kemudian Sang Buddha mengajarkan bahwa hendaknya untuk mendapatkan kemajuan materi atau kekayaan, seseorang diharapkan melakukan segala pekerjaan dengan penuh usaha (utthana sampada), menjaga kekayaan yang telah ia dapat (arakkha sampada), hidup seimbang (samajivikata), dan bergaul dengan para sahabat yang bisa hidup bersama baik dalam keadaan susah dan senang. 
Sedangkan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia-dunia berikutnya, Pattakamma Sutta dan Vyagghapajja Sutta menerangkan empat syarat yang diperlukan agar seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan di alam-alam berikutnya, yaitu:
  1. Saddha: seseorang mempunyai keyakinan kepada penerangan sempurna yang telah dicapai oleh Sang Buddha (Tathagatassa bodhi saddha), dimana Sang Buddha adalah seorang yang mendapat sebutan Bhagava, Arahat, Sammasambuddho, sempurna dalam pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, Sugato, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya untuk mencapai pembebasan, guru para dewa dan manusia, dan Beliau adalah seorang Buddha.
  2. Sila: seorang yang telah menyatakan dirinya sebagai upasaka atau upasika diharapkan untuk melaksanakan Pancasila, yaitu menghindari diri dari pembunuhan, pencurian, perzinaan, berbohong, dan minum-minuman keras yang memabukkan.
  3. Caga: praktik kemurahan hati, misalnya dengan jalan berdana yang ditujukan untuk mengurangi kemelekatan kepada materi.
  4. Pabba: pengembangan kebijaksanaan yang ditujukan untuk pembebasan dari penderitaan. Dalam hal ini seseorang akan bebas dari nafsu-nafsu keserakahan akan materi, keinginan jahat, kelambanan, kemalasan dan keragu-raguan.
Keempat hal ini adalah sangat penting, di mana seseorang tidak hanya mengejar materi belaka atau memandang materi sebagai tujuan yang harus dikumpulkan untuk pribadi, tetapi seseorang akan berpikir bahwa materi seharusnya digunakan sebagai salah satu sarana untuk melenyapkan penderitaan. 
Dalam usaha mengumpulkan kekayaan, hendaknya seseorang harus melakukan segala kegiatannya dengan jalan yang benar. Misalnya, kepada para pedagang, Sang Buddha telah menasihati untuk menghindari penipuan dengan jalan menipu alat pengukur timbangan (tulakuta), dan menipu dalam dengan memalsu uang dan sebagainya. Selanjutnya, Angguttara Nikaya menjelaskan seseorang seharusnya menghindari diri dari lima macam perdagangan yang bisa membahayakan bagi dirinya sendiri dan juga mahkluk lain, seperti satta vanijja (perdagangan perbudakan), sattha vanijja (perdagangan persenjataan), mamsa vanijja (perdagangan mahluk hidup), majja vanijja (perdagangan minum-minuman keras), dan visa vanijja (perdagangan racun, termasuk ganja, morfin, dan sebagainya). Ambalatthika Rahulovada Sutta menegaskan kriteria tentang pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh para pengikut Sang Buddha. Jika suatu pekerjaan yang dilakukan adalah menimbulkan manfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat untuk orang lain serta bermanfaat untuk kedua-duanya maka pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang terpuji. Beberapa jenis pekerjaan seperti kerajinan, pertanian dan sebagainya merupakan pekerjaan yang terpuji.

V. Penggunaan kekayaan

Setelah seseorang mengumpulkan materi atau kekayaan, maka dia mempunyai kewajiban yang sangat penting, baik bagi dirinya sendiri dan orang lain. Pattakamma Sutta menjelaskan adanya empat hal yang harus di perhatikan bagi seorang perumah tangga dalam hal kekayaan yang telah dikumpulkanya (cattari kammani katta). Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Dia sebaiknya mempergunakan kekayaannya untuk kepentingan diri sendiri dan untuk pemenuhan kewajiban keluarga. Secara singkat dia harus menggunakan kekayaanya untuk dinikmati sebagai hasil jerih payahnya (attanam sukheti pineti sammasukham pariharati), sebagian kekayaan digunakan untuk merawat orang tua (matapitaro sukheti pineti sammasukham pariharati), dia juga harus merawat putra-putrinya, pembantu-pembantunya dan para pekerja yang telah membantu dalam usaha (puttadaradasakammakaraporise sukheti pineti sammasukham pariharati), serta dia mempunyai kewajiban untuk menjamu teman dan para pendatang dengan cara yang benar (mittamacce sukheti pineti sammasukham pariharati). Perlu diperhatikan bahwa istilah “sammasukham pariharati” atau “penggunaan secara benar” adalah sangat penting. Jadi sudah jelas bahwa kekayaan menurut Pattakamma Sutta sebaiknya digunakan untuk kepentingan diri sendiri dan juga untuk kebahagiaan orang lain.
  2. Dia mempunyai kewajiban untuk menjaga kekayaan yang telah dikumpulkanya dari bahaya-bahaya yang mungkin terjadi, seperti kebakaran (aggito), kebanjiran (udakato), pencurian (corato), dan dari pewaris yang tidak diinginkan (dayadato), serta orang-orang lain yang tidak diinginkan (tatharupasu apadasu bhogehi pariyodhaya vattanti).
  3. Dia mempunyai lima kewajiban yang lain (pabcabalim), yaitu: kewajiban kepada raja, misalnya membayar pajak (rajabali), kewajiban untuk menjamu tamu-tamu yang datang (atithibali), kewajiban kepada para deva (devatabali), dan kewajiban kepada para leluhur yang telah meninggal (pubbapetabali).
  4. Seorang perumah tangga juga mempunyai kewajiban kepada para samana dan brahmana yang telah melenyapkan kekotoran bathin, penuh perhatian, dan kesabaran (samanabrahmana madappamada pativirata khanti soracce vivattha attanam damenti). Dana, jika diberikan kepada para samana dan brahmana yang berpraktik sila dan penuh perhatian serta kesabaran akan membuahkan hasil yang baik, akan membuahkan kebahagian dan menghantarkan seseorang terlahir ke alam-alam yang bahagia (sukhavipakam saggasamvattanikam). Dana yang demikian, menurut agama Buddha, dikatakan sebagai kekayaan yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Kekayaan yang digunakan dengan cara tersebut di atas dikatakan sebagai kekayaan yang telah menuju ke tempat yang tepat (thanam gatam hoti pattagatam ayatanaso paribhuttam).
Dari apa yang telah diterangkan di atas, sudah jelas bahwa meskipun seseorang menggunakan kekayaan miliknya sendiri, dia diharapkan agar mempergunakannya untuk kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan orang lain secara benar.
Pengaturan tentang kekayaan yang telah kita dapat, dapat dilihat di dalam Sigalovada Sutta yang terdapat dalam kitab Digha Nikaya sebagai berikut:
ekena bhoge bhubjeyya (satu bagian untuk dinikmati) dvihi kammam payojaye (dua bagian untuk ditanamkan kembali ke dalam modalnya) catutabca nidhapeyya (bagian ke empat disimpan) apadasu bhavissanti (untuk menghadapi masa depan yang sulit)”.
Menurut kitab ini bahwa kekayaan yang telah kita dapatkan dengan jalan yang benar, sebaiknya dibagi dalam empat kelompok, yaitu seperempat bagian untuk dinikmati sebagai hasil jerih payah, duaperempat bagian untuk diinvestasikan ke modalnya, dan seperempat bagian lagi disimpan sebagai cadangan jika mengalami kesulitan di masa yang akan datang. Mengenai bagian yang keempat, kata “nidhapeyya” dapat diartikan sebagai “disimpan” dalam pengertian yang lebih luas, misalnya disimpan di bank ataupun digunakan untuk menanam pubba kamma (kebajikan), misalnya untuk diberikan kepada tempat ibadah, para pertapa, dan sebagainya. Nasihat yang demikian ditegaskan dalam beberapa sutta yang ada dalam Tipitaka, misalnya Sangarava Sutta menyebutkan adanya tiga jenis orang, yang dikelompokkan berdasarkan pada tindakan mereka dalam penggunakan kekayaan yang telah ia dapatkan. Jenis pertama adalah mereka yang tidak menggunakan kekayaannya, baik untuk dirinya sendiri dan tidak membagi-bagi kekayaanya kepada orang lain untuk mendapatkan kebajikan (na attanam sukheti pineti na vibhajati na puññakaroti). Jenis orang yang kedua adalah ia yang menggunakan kekayaan untuk kebahagiaan dirinya sendiri, tetapi tidak untuk memanam kebajikan (attanam sukheti pineti na samvibhajati na puññam karoti). Sedangkan jenis orang ketiga adalah ia yang bisa menggunakan kekayaan untuk dinikmati bagi dirinya sendiri dan untuk kepentingan orang lain, demi memanam kebajikan (attanam sukheti pineti samvibhajati puññam karoti). Jenis orang yang ketiga adalah orang yang dipuji, karena ia tidak melekat pada kekayaan (adinnavadassanani) dan tahu penggunaan kekayaan untuk jalan kebebasan (nissaranapabba). Tentunya nasihat yang telah diberikan oleh Sang Buddha lebih dari duaribu limaratus tahun yang lampau ini, masih berguna bagi kehidupan yang kita sekarang. Pembagian tersebut adalah cara pembagian yang sangat sederhana, tetapi memiliki daya guna yang sangat efektif untuk mengembangkan ekonomi. Menurut kitab ini, separuh (duaperempat) bagian digunakan untuk pengembangan usaha, yang berarti bahwa Sang Buddha menekankan bahwa dalam dunia bisnis, faktor modal adalah sangat penting. 
Sebagai seorang perumah tangga yang baik, sebaiknya dia harus bisa hidup dengan seimbang, tahu akan berapa banyak uang atau kekayaan yang telah didapatkan dan tahu berapa banyak kekayaan yang bisa digunakan (samajivikata). Hendaknya dia tidak hidup dengan kikir (ajjadumarika) dan juga sebaliknya, dia tidak jatuh dalam gaya hidup yang bersifat konsumerisme, hidup dengan glamour, dan penuh dengan foya-foya (udumbarakhadika). Seseorang yang hidup dalam dunia konsumerisme yang berlebihan, diibaratkan oleh Sang Buddha sebagai seseorang yang ingin memetik sebuah apel untuk dimakan, tetapi menyebabkan jatuhnya semua apel yang ada di pohon tersebut. Sebaiknya, orang yang terlalu kikir diibaratkan sebagai seekor ayam yang hidup di timbunan padi, tetapi mati kelaparan dikarenakan kekurangan makanan. Jadi, penggunaan dan konservasi yang tepat dari kekayaan individu yang telah di dapat akan mempengaruhi kualitas hidupnya dan juga mempengaruhi ekonomi nasional. 
Dalam kaitannya dengan penggunaan kekayaan, Sang Buddha memuji mereka yang mengetahui berapa banyak uang yang didapat oleh seseorang dan mengetahui berapa banyak uang yang harus dikeluarkan, baik untuk kepentingan diri sendiri dan untuk kepentingan orang lain. Andha Sutta; Anguttara Nikaya menyebutkan bahwa orang yang tidak tahu cara mengumpulkan kekayaan dan juga cara menggunakan kekayaan diibaratkan sebagai orang buta (andha), orang yang hanya tahu cara mengumpulkan uang, tetapi tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan sebagai orang yang mempunyai mata satu (ekacakkhu) dan seseorang yang mengetahuhi cara menggumpulkan dan menggunakan kekayaan yang telah didapatkannya dengan jalan yang benar diibaratkan sebagai orang yang bisa melihat dengan kedua matanya (dvecakkhu).
Menurut Agama Buddha peningkatan ekonomi suatu masyarakat ditujukan untuk menciptakan kondisi di mana mereka bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Sang Buddha juga menyadari sepenuhnya bahwa setiap orang mempunyai peranan yang besar dalam peningkatan perkembangan ekonomi negara. Oleh karena itu untuk mencipatakan kondisi ekonomi yang baik, Beliau memberikan tuntunan untuk mengatur secara tepat tentang ekonomi, terutama di rumah tangga, sehingga tingkat kehidupan masyarakat semakin baik. Mengingat adanya kecenderungan dari setiap orang untuk mengumpulkan kekayaan dengan segala cara, maka sering terjadi persaingan yang tidak sehat, pertengkaran, berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan dan sebagainya. Oleh karena itu, maka Sang Buddha menasihatkan untuk mengumpulkan dan menggunakan kekayaan dengan jalan yang benar, sesuai dengan Dhamma. Hal ini semua ditujukan demi kesejahteraan manusia, baik di alam ini dan alam-alam berikutnya. 
Tamotama Parayana Sutta menjelaskan bahwa orang yang kaya, bisa mengerti akan kegunaan kekayaan dan menggunakannya dengan jalan yang benar akan terlahir di alam-alam yang membahagiakan (joti joti parayano). Demikian juga Sang Buddha memuji seseorang yang meskipun tidak kaya, tetapi menggunakan kekayaannya dengan benar akan terlahir di alam-alam yang membahagiakan (tamo joti parayano). Sebaliknya, seseorang yang menggunakan kekayaannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, misalnya untuk berfoya-foya, maka setelah meninggal akan terlahir di alam-alam yang menyedihkan (joti tamo parayano). Tentunya jenis orang yang keempat yaitu “tamotama parayano” atau orang yang pergi dari tempat yang gelap menuju ke tempat yang gelap tidak dianjurkan. Memang orang yang miskin cenderung untuk melakukan kejahatan, tetapi seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha, dia bisa menjadi orang yang selamat dan bahagia di alam-alam berikutnya dengan berusaha dan berjuang keras. Menurut Agama Buddha kondisi ekonomi dan status sosial seseorang bisa berubah-ubah sesuai dengan usaha dan tindakan yang telah dilakukannya. 
Seorang perumah tangga, juga diharapkan untuk menghindari dari beberapa sebab yang membuat hilangnya kekayaan (apayamukha). Sigalovada Sutta menjelaskan adanya enam alasan yang menyebabkan hilangnya harta kekayaan, yaitu kecanduan akan minuman atau obat-obatan yang memabukkan, pergi ke jalan-jalan pada waktu yang tidak sesuai, terlalu sering pergi ke tempat-tempat pertunjukan, berjudi, bergaul dengan teman-teman yang tidak baik, dan kebiasaan bermalas-malasan. Lebih lanjut Anguttara Nikaya menerangkan bahwa pergi ke tempat-tempat pelacuran adalah salah satu sebab hilangnya kekayaan dan nama baik seseorang. Demikian juga Parabhava Sutta menjelaskan bahwa hal-hal tersebut di atas merupakan sebab-sebab keruntuhan seseorang.

Penutup

Dalam situasi perkembangan perekonomian yang semakin memuncak, di mana para pengusaha real estate, pemegang saham, pedagang dan hampir setiap orang bersaing untuk memenangkan pertandingan perebutan uang, manusia cenderung semakin serakah dan menjadi mahluk yang mementingkan kepentingannya sendiri (egois). Banyak perusahaan dan para konglomerat menguasai perekonomian dan memainkan permainan serta menentukan ataupun menjatuhkan pihak-pihak lain yang dianggap menghalangi kemajuan mereka. Tidak jarang pula terjadi penindasan kepada orang-orang kecil (si miskin) yang menyebakan jurang pemisah antara mereka semakin tinggi. Bagi mereka yang berhasil menjadi kaya, cenderung untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan lingkungan dan orang-orang lain di sekitarnya. Sebagian masyarakat kaya, karena produksinya melimpah, untuk menjaga kestabilan harga yang ada, mereka harus memusnahkan apa yang dianggapnya tidak perlu. Padahal sebagian dari masyarakat yang lain hidup kelaparan. Orang yang kurang berhasil cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal yang demikian menyebabkan masalah-masalah sosial yang harus kita pecahkan bersama. Setelah mengetahui bahwa kekayaan yang ada bukanlah satu-satunya tolok ukur kebahagiaan, maka sebagian masyarakat mulai berpikir melalui cara pandang yang lain. Seperti yang telah diterangkan di atas, Sang Buddha setelah melihat akan bahaya dari paham materialisme, menerangkan tentang berbagai cara untuk mendapatkan kekayaan dan setelah itu menggunakannya dengan jalan yang benar demi manfaat kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Boleh dikatakan bahwa Sang Buddha adalah seorang ekonom yang mementingan rakyat banyak, terutama rakyat kecil. 
 
Agama Buddha memberikan anjuran kepada para umat untuk mengembangkan kesejahteraannya, baik kesejahteraan materi maupun kesejahteraan batin. Seorang ekonom barat bernama E.F. Schumacher dalam bukunya “Small is Beautiful” setuju dengan Agama Buddha yang mengajarkan bahwa lobha (keserakahan) dan dosa (kebencian) akan menghambat seseorang untuk mengembangkan pandangan yang menitik-beratkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Demikian juga Kuji Nakano dalam bukunya “Seihin no Shiso” atau “The Philosophy of Honest Poverty” menekankan bahwa hidup sederhana (apicchata), yang disebut “seihin” atau “kejujuran dalam kesederhanaan (honest poverty)” akan muncul jika seseorang menjalankan kehidupannya dengan hidup bersih tanpa adanya keinginan-keinginan pribadi. Pandangan hidup yang demikian membuat orang tidak lagi berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan dan akan menyadari akan pentingnya hidup bersama. Pandangan yang tidak menitikberatkan tujuan-tujuan pribadi, membuat rakyat Jepang bisa saling membantu. 
Dalam pandangan Agama Buddha, manusia bukanlah sebagai penguasa alam yang berkuasa untuk mengatur alam ini sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kedudukan manusia di alam semesta ini tidaklah tertinggi (supreme), tetapi manusia adalah bagian dari alam; sehingga dia harus berusaha menyesuaikan diri dengan alam dan berusaha untuk menggunakan sumber-sumber kekayaan alam dengan sebaik-baiknya. Pandangan yang demikian tentunya cukup berbeda dengan teori yang mengatakan bahwa binatang dan segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia; dan kedudukan manusia di dunia adalah tertinggi (supreme). Pandangan yang demikian membuat manusia lebih agresif untuk menguras sumber-sumber kekayaan alam dan menaklukkan alam. Tetapi pada kenyataannya mereka mulai menyadari bahwa di satu sisi manusia boleh merasa bangga atas kemenangan dalam perang melawan alam, tetapi di sisi yang lain, setelah terjadi penipisan lapisan ozon, adanya berbagai jenis polusi, musnahnya beberapa spesis binatang dan tumbuhan dan sebagainya, mereka semua termasuk mahluk yang tidak berdosa harus menanggung akibat dari kemenangan tersebut. Oleh karena itu, introspeksi dan evaluasi diri adalah sangat penting. 
Seperti yang telah diterangkan di atas, bahwa menurut Agama Buddha, kekayaan bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu: kekayaan materi yang bisa dicuri dan kekayaan batin yang tidak bisa dicuri oleh siapapun. Sangiti Sutta menyebutkan kekayaan yang tidak bisa dicuri adalah kekayaan ariya yang disebut “satta ariya dhana” atau “tujuh kekayaan ariya” yaitu keyakindan (saddha), kemoralan (sila), malu untuk berbuat jahat (hiri), takut untuk melakukan perbuatan jahat (ottapa), pengetahuan Dhamma atau pendidikan (suta), kemurahan hati (caga) dan kebijaksanaan (pabba). Ketujuh macam kekayaan ariya tersebut jauh lebih baik daripada kekayaan materi dan satta ariya dhana merupakan kekayaan yang terbaik dan tertinggi (anuttaram uttamam dhanaggam

Mendut, June 1, 1998

Penjelasan Mengenai Dana Oleh : Bhikkhu Ledi Sayadaw (almarhum)

Penjelasan Mengenai Dana
Oleh : Bhikkhu Ledi Sayadaw (almarhum)
 
Penggolongan Menurut Pasangan Dua
  1. AMISA DANA dan DHAMMA DANA

    Amisa Dana : Pemberian dalam bentuk materi (termasuk uang)
    Dhamma Dana: Pemberian berupa pengetahuan Dhamma, misalnya: mengajar, memberikan khotbah, menulis, menerbitka dan memberi buku-buku Dhamma.

    Dari keduanya, Dhamma Dana memberikan hasil atau vipaka yang lebih tinggi dan berguna. Karena “SABDA DANAM DHAMMA DANAM JINATI”, artinya: dari semua pemberian, pemberian DHamma-lah yang tertinggi. Amisa Dana menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan materi. Dhamma Dana menghasilkan timbulnya kebijaksanaan dan pengetahuan.

  2. SAKKACA DANA dan ASAKKACCA DANA
    Sakkacca Dana: Pemberian dengan hati-hati, sopan dan penuh hormat.
    Asakkacca Dana : Pemberian tanpa sifat-sifat tersebut di atas. Misalnya memberikan makanan kepada hewan, tanpa memperhatikan segi-segi kebersihan dan sebagainya.

    Jika Asakkacca Dana menghasilkan buah maka seseorang akan mendapatkan sikap yang kurang hormat atau kasar dari teman-teman, anak-anak atau pelayan-pelayannya.

  3. PUJA DANA dan ANUGGAHA DANA
    Puja Dana : Pemberian kepada orang-orang yang menjalankan sila dan orang-orang mulia. Atau orang yang mempunyai status lebih tinggi sebagai tanda hormat.
    Anuggaha Dana : Pemberian kepada orang yang lebih rendah.

    Puja Dana menghasilkan buah yang lebih banyak dan tinggi. Anuggaha Dana-pun jika dilakukan dengan tepat, dapat juga membawa hasil buah akibat yang besar. Seorang Bodhisattva, Raja Vessantara memberikan seorang anaknya kepada seorang Brahmana rendahan yang bernama Jujaka. Tetapi karena Cetana (kehendaknya) demikian kuat, maka hasil yang diterimanya sangat besar.

  4. SAHATTHIKA DANA dan ANATTHIKA DANA

    Sahatthika Dana : Pemberian dengan tangan sendiri atau secara pribadi.
    Anatthika Dana : Pemberian dengan menggunakan perantara, misalnya dengan melalui seorang pelayan.

    Bila Anatthika Dana menghasilkan buah, mungkin disertai dengan tiadanya pengikut atau teman. Raja Rajanna dilahirkan di Alam Dewa Catumaharajika dengan menerima istana yang besar (atas dana yang dilakukan selama hidupnya  sebagia manusia. Tetapi karena dana yang diberikan dilakukan melalui pelayannya, maka ia tinggal sendirian di dalam istana Dewa tersebut, tanpa adanya pelayan atau pendamping.

  5. THAVARA DANA dan ATHAVARA DANA

    Thavara Dana : Pemberian yang bersifat tahan lama, misalnya stupa, rumah peristirahatan, vihara, sekolah, jembatan, sumur, menara air, tanah dan sebagainya.
    Athavara Dana : Pemberian yang sifatnya tidak tahan lama, misalnya,   makanan, pakaian dan uang.

    Thavara Dana menghasilkan buah yang lebih kuat. Athavara Dana dapat menghasilkan buah yang sama kuat dengan Thavara Dana, bila Athavara Dana dilakukan dengan teratur dan terus menerus (dalam jangka waktu tertentu).

  6. SAPARIVARA DANA dan APARIVARA DANA

    Saparivara Dana : Pemberian yang disertai dengan tambahan-tambahan lain yang lengkap.
    Asaparivara Dana : Pemberian yang tidak disertai dengan tambahan-tambahan lain.

    Pemberian nasi saja adalah Aparivara Dana, bila disertai dengan lauk pauk dan kue-kue, termasuk Saparivara Dana. Sama juga halnya dengan pemberian roti saja, adalah Aparivara Dana. Sedangkan bila disertai dengan mentega atau selai adalah Saparivara Dana. Bila Aparivara menghasilkan buah, biasanya akan cenderung untuk tidak lengkap, misalnya seseorang menerima rumah, mungkin tak ada dindingnya.

  7. NICCA DANA dan ANICCA DANA

    Nicca Dana : Pemberian yang dilakukan secara teratur dan tetap.
    Anicca Dana : Pemberian yang dilakukan kadang-kadang saja. Dalam Anggutara Nikaya dikatakan bahwa jika seseorang melakukan Nicca Dana dan Thavara Dana adalah seperti seorang Sotapana. Dia tidak akan dilahirkan di alam Apaya (Alam menyedihkan / neraka).

  8. SANKHARA DANA dan ASANKHARA DANA

    Sankhara Dana : Pemberian Dana setelah mendapat dorongan atau anjuran dari orang lain.
    Asankhara Dana : Pemberian yang dilakukan atas kehendak sendiri, tanpa dorongan dari orang lain.

    Sankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadi seseorang lamban berpikir dan bodoh, dan buahnya sendiri terbatas sekali. Asankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadikan seseorang cerdas dan pandai, buahnya tidak terbatas.

  9. JANA DANA dan AJANA DANA

    Jana Dana : Pemberian yang dilakukan dengan sepenuh pengertian (mengerti akan akibat-akibatnya).
    Ajana Dana : Pemberian yang dilakukan dengan tidak mengerti / mengetahui apa akibatnya.

    Ajana Dana menghasilkan Dvihetuka Patisandhi. Mereka yang dilahirkan dengan Dvihetuka Patisandhi tidak banyak yang dapat mereka capai dalam kehidupan spiritual, sebab mereka tidak mempunyai Amoha (kebijaksanaan). Jana Dana membawa kea rah Tihetuka Patisandhi. Mereka yang lahir dengan Tihetuka Patisandhi dapat mencapai tingkat Arahat dalam kehidupan sekarang ini.

  10. VATTA NISSITA DANA dan VIVATTA NISSITA DANA

    Vatta Nissita Dana : Pemberian yang dilakukan untuk mengharapkan keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi. Keuntungan Duniawi melipyti keinginan untuk dilahirkan di alam-alam dewa, dilahirkan sebagai anak orang kaya.
    Vivatta Nissita Dana :Pemberian dengan tujuan untuk membebaskan diri dari Samsara (kesengsaraan) dengan tercapainya Nibbana / Kebebasan.

    Perbedaan antara Vatta Nissita Dana dengan Vivatta Nissita Dana ini merupakan keistimewaan dalam ajaran agama Buddha. Vatta Nissita Dana tidak membentuk Paramita; sedangkan Vivatta Nissita Dana dapat membentuk Paramita. Vatta Nissita Dana dapat pula membentuk Paramita, tetapi cenderung untuk memperpanjang Samsara (roda perputaran hidup dan mati).

  11. DHAMMA DANA dan ADHAMMA DANA

    Istilah Dhamma di sini lain dengan istilah Dhamma dalam nomor 1. Dhamma di sini berarti “sesuai dengan hokum alam (Dhamma)” atau “tidak melanggar hokum alam (Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha)”

    Dhamma Dana : Pemberian berupa nasi, pakaian dan sebagainya.
    Adhamma Dana : Pemberian berupa minuman keras, senjata, mesiu dan sebagainya barang-barang yang berbahaya, yang mungkin menjadikan seseorang melanggar Panati atau Surameraya Sila.

    (Untuk daftar lima macam Adhamma Dana lihat pada penggolongan Pasangan Lima)

  12. DHAMMIKA DANA dan ADHAMMIKA DANA

    Dhammika Dana : Pemberian yang betul diberikan kepada seseorang atau Yayasan yang dituju sejak dari semula.
    Adhammika Dana : Pemberian yang sebetulnya akan diberikan kepada seseorang atau suatu Yayasan, tetapi orang itu merubah pikirannya dan memberikannya kepada orang lain atau Yayasan lain.

  13. VATTHU DANA dan ABHAYA DANA

    Vatthu Dana : Pemberian barang materi.
    Abhaya Dana : Pemberian berupa suatu kebebasan kepada suatu makhluk dari bahaya atau dari kematian, misalnya membebaskan hewan-hewan dari kurungan (yang telah ditangkap), larangan untuk berburu di hutan, melatih / mematuhi Lima Sila (Pancasila) dan sebagainya.

  14. AJJHATIKA DANA dan BAHIRA DANA

    Ajjhatika Dana : Pemberian berupa anggota badan, misalnya mata, badan jasmani dan mengorbankan jiwa sendiri untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
    Bahira Dana : Pemberian biasa, tidak berupa anggota tubuh sendiri.

    Ada tiga macam Paramita (Kesempurnaan)

    1. Paramita biasa.
    2. Upa Paramita, yaitu pemberian anggota tubuh, tetapi tidak memberikanjiwa (hidup) seseorang.
    3. Paramattha Paramita, yaitu pemberian jiwa / hidup seseorang.

  15. SAVAJJA DANA dan ANAVAJJA DANA

    Savajja Dana : Pemberian yang disertai kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup (binatang-binatang).
    Anavajja Dana : Pemberian yang tidak disertai denga kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup.

    Savajja Dana bila menghasilkan buah, cenderung disertai dengan adanya bahaya-bahaya, atau dapat pula hilangnya jiwa seseorang.

  16. AGGA DANA dan UCCHITA DANA

    Agga Dana : Pemberian sesuatu yang terbaik dan terutama.
    Ucchita Dana : Pemberian berupa sesuatu yang bernilai rendah (barang sisa).

    Jika si penerima Ucchita Dana menghargai dan menyukai pemberian itu, maka Dana yang diberikan itu tetap akan membawa hasil yang besar. Yang paling penting adalah Cetana (kehendak) yang baik dan Sakkacca (sikap pikiran yang hormat dan sungguh-sungguh) dari si pemberi, misalnya orang kaya memberi orang miskin, pemberian tersebut nampaknya nilainya rendah di mata orang kaya, tetapi dalam pandangan si orang miskin, barang tersebut sangat diharagai. Demikian juga dengan pemberian kepada hewan-hewan.

  17. HINA DANA dan PANITA DANA

    Hina Dana : Pemberian yang bernilai rendah.
    Panita Dana : Pemberian yang bernilai tinggi.

    (Penjelasan sama dengan penjelasan nomor 16)

Penggolongan Menurut Pasangan Tiga
  1. HINA DANA, MAJJHIMA DANA dan PANITA DANA.
    1. Hina Dana : Pemberian yang dilakukan dengan harapan mendapat kemasyhuran.
    2. Majjhima Dana : Pemberian yang dilakukan dengan tujuan untuk dapat dilahirkan sebagai manusia yang kaya.
    3. Panita Dana : Pemberian yang dilakukan dengan harapan untuk mencapai kebebasan (Nibbana).
     
  2. DASA DANA, SAHAYA DANA dan SAMI DANA.
    1. Dasa Dana : Pemberian yang bernilai rendah, misalnya sesuatu yang biasa diberikan kepada seorang budak.
    2. Sahaya Dana : Pemberian yang mempunyai tingkat yang sama dengan apa yang biasa digunakan seseorang yang sama kedudukannya, misalnya sesuatu yang diberikan kepada seorang teman.
    3. Sami Dana : Pemberian yang bernilai tinggi, misalnya sesuatu yang bisa dipakai oleh para majikan atau raja-raja.
     
  3. LOKA DANA, ATTA DANA dan DHAMMA DANA
    1. Loka Dana : Pemberian yang dilakukan karena tradisi setempat (takut dipandang rendah  bila tidak ikut berdana).
    2. Atta Dana : Pemberian yang dilakukan untuk menjaga kewibawaan / pangkat seseorang.
    3. Dhamma Dana : Pemberian yang dilakukan karena ingin mempratekkan ajaran agama.
     
Penggolongan Menurut Pasangan Empat
  1. CATTU PACCAYA DANA
    Penggolongan ini meliputi empat macam kebutuhan seorang Bhikkhu :
    1. Civara Dana : Pemberian jubah kepada bhikkhu.
    2. Pindapatta Dana : Pemberian makanan kepada bhikkhu.
    3. Bhesajja Dana : Pemberian obat-obatan kepada bhikkhu.
    4. Senasana Dana : Pemberian tempat tinggal atau kuti kepada bhikkhu.
    Senasana Dana memberikan buah jasa yang paling tinggi. VIHARA DANAM SANHASA AGGAM BUDDHENA VANNITAM. Artinya: Sebuah tempat tinggal bhikkhu yang diberikan kepada Sangha dipuji oleh Sang Buddha sebagai pemberian hadiah tertinggi. SOCA SABBADODA HOTI, YO DADATI UPASSAYAM, yang berarti : seseorang yang mendirikan tempat tinggal bhikkhu sebagai hadiah kepada Sangha, sama nilainya dengan segala macam hadiah.
     
  2. DAKKHINA VISUDDHI DANA

    Penggolongan ini didasarkan atas:
    1. Sifat si pemberi yang berbudi luhur (menjalankan sila).
    2. Sifat si pemberi yang tidak berbudi luhur (tidak menjalankan Sila)
    3. Sifat si penerima yang berbudi luhur (menjalankan Sila).
    4. Sifat si penerima yang tidak berbudi luhur (tidak menjalankan Sila)
Bila keduanya berbudi luhur, pemberian tadi akan menghasilkan buah yang banyak; jika salah satunya tidak berbudi luhur, hasil yang diperolehnya hanya sedikit.
Penggolongan Menurut Pasangan Lima
ADHAMMA DANA (lihat nomor 11 dari Penggolongan Menurut Pasangan Dua), ada lima macam Adhamma Dana, yakni :
  1. Pemberian makanan minuman yang memabukkan, dan senjata dengan mesiunya.
  2. 2. Pemberian boneka-boneka untuk pertunjukkan, alat tari-tarian.
  3. Pemberian berupa hewan-hewan untuk maksud seksual.
  4. Pemberian berupa wanita-wanita untuk maksud seksual.
  5. Pemberian gambar atau karya-karya yang dapat menimbulkan Kilesa (kekotoran bathin).
Bila Seseorang memberikan racun, tali pengikat, pisau atau senjata-senjata lain secara sadar kepada seseorang yang ingin bunuh diri (juga cara-cara bunuh dirinya ikut diterangkan), hal itu termasuk Panatipata Kamma, bukan Kusala Kamma. Hal ini juga berlaku bagi seseorang yang sedang berusaha untuk membunuh orang lain. Tetapi, seandainya racun diberikan untuk tujuan penyembuhan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma.
Jika senjata-senjata dan mesiunya pertama-tama dibuat tak berbahaya, kemudian dapat digunakan di Vihara, maka hal itu adalah Kusala Kamma (perbuatan baik).
Pemberian berupa alat untuk menari, pertunjukkan dan sebagainya yang dapat menyebabkan timbulnya Kilesa (kekotoran bathin) adalah Akusala Kamma. Tetapi bila alat-alat seperti seruling, tambur, bedugdan sebagainya digunakan untuk menghasilkan suara-suara yang cocok dan sesuai untuk vihara, maka pemberian barang-barag tersebut tidak termasuk Akusala Kamma.
Bila barang-barang/obat-obatan yang memabukkan diberikan tidak dengan maksud untuk mabuk-mabukkan, tetapi untuk obat (dengan ditelan atau untuk dipakai diluar) dengan tujuan utama untuk menyembuhkan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma.
Pemberian hewan-hewan dan manusia (wanita) untuk menjalankan Kusala Kamma, dan tidak untuk maksud seksual atau perbuatan tidak bermoral lainnya, dapat dikatakan sebagai Dhamma Dana.
Di Dalam Velamaka Sutta, urutan daripada buah jasa yang diperoleh sesuai dengan tingkat-tingkat si penerima dan sesuai dengan hakikat / sifat perbuatan Dana tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan makanan kepada seseorang yang telah mencapai kesucian tingkat Sotapanna (tingkat pertama), akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada memberikan Dana ke-empat jurusan, yang dilakukan oleh Brahmana Velamaka selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari.
  2. Memberikan makanan sekali kepada seorang Sakadagami (Kesucian kedua) akan lebih banyak menghasilkan buah daripada 100 orang Sotapana.
  3. Kepada seorang Anagami akan menghasilkan buah jasa lebih banyak daripada 100 orang Sakadagami.
  4. Kepada seorang Arahat (Kesucian terakhir) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Anagami (Kesucian ketiga)
  5. Kepada seorang Pacceka Buddha (Buddha “Diam”) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Arahat.
  6. Kepada seorang  Samma Sambuddha (Buddha “Sempurna”) akan menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak daripada 100 orang Pacekka Buddha.
  7. Pemberian kepada Sangha (Pesamuan para Bhikkhu), akan menghasilkan buah jasa jauh lebih banyak daripada Samma-Sambuddha.
  8. Pemberian sebuah Catudisa Sanghika Vihara menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak. Ini adalah pemberian berupa dana materi yang tertinggi.
  9. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah Berlindung kepada Sang Tiratana.
  10. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah mematuhi / melaksanakan Pancasila Buddhis.
  11. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Samatha Bhavana untuk beberapa saat.
  12. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Vipassana Bhavana / Meditasi Pandangan Terang.
Seseorang dapat mencapai Nibbana dengan salah satu dari lima cara berikut ini :
  1. Sebagai seorang Savaka Buddha atau seorang Arahat, Pengikut Ariya biasa dari Sang Buddha.
  2. Sebagai seorang Mahavasaka atau pengikut sang Buddha dengan disertai suatu kemampuan istimewa. Di zaman Sang Buddha ada 80 Mahasavaka.
  3. Sebagai seorang Aggasavaka atau Pengikut Utama Sang Buddha. Setiap Buddha selalu mempunyai 2 orang Aggasavaka, yaitu Pengikut Utama Sebelah Kiri dan Pengikut Utama Sebelah Kanan.
  4. Sebagia seorang Pacceka Buddha atau Buddha Diam (Tak mempunyai kemampuan untuk membimbng orang lain menuju pencapaian Tingkat Kesucian).
  5. Sebagai seorang Sammasambuddha atau seorang Buddha Yang Maha Sempurna. Mencapainya dengan usaha sendiri, dan dapat membimbing orang lain menuju Pencapaian Tingkat Kesucian.
Untuk mencapai tingkat Sammasambuiddha, seseorang harus memenuhi syarat melakukan tiga macam Paramita. Untuk menjadi seorang Pacceka Buddha dan Aggasavaka, seseorang harus melakukan dua macam Paramita. Sedangkan untuk menjadi seorang Arahat biasa (Savaka Buddha atau Mahasavaka), dibutuhkan satu macam Paramita saja.
Penjelasan singkat ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana cara melakukan pemberian yang baik. Sangat diharapkan agar penjelasan tersebut dapat membantu kita dalam menerapkan dasar-dasar Kamma yang baik.
 Sumber: Kalyanadhammo (Bodhi Buddhist Centre http://www.reocities.com/bbcid1/ad/ajaran14.htm)
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.